
Bukan keberhasilan yang membuat kita bahagia. Akan tetapi menikmati setiap proses menuju keberhasilan adalah kebahagiaan yang tak terkira.
----------------
Aura tak suka tertutup dengan nada menggoda. (Kru kepo)
-----------------
"Aku kemarin sempat lihat daftar formulir pendaftaran KRI, kok ada nama kamu?"
"Iya kak, aku masuk ke KRI."
"Kenapa? Kan aku udah bilang kalau mau masukin kamu ke OSIS lewat jalur independent." Ya, disekolahku ini ada OSIS yang masuk karena rekomendasi dari anggota, jadi dia hanya mengikuti seleksi bakat saja untuk menentukan jabatan. Untuk jabatan biasanya ditentukan dengan bakat yang dimiliki, hal itu ditentukan dengan tes tulis dan lisan. Dan yang menentukan adalah dewan guru OSIS.
"Tapi aku gak ada minat ikut OSIS, takutnya nanti jiwaku gak bisa menyatu sehingga membuat aku ngelakuin sesuatu dengan terpaksa dan menghasilkan sesuatu yang tak memuaskan." Aku melihat kak Hasan hanya menganggukan kepala.
"Ya sudah, aku ke kelas dulu." Katanya saat kami ada persimpangan jalan, jika ke kelas kak Hasan harus ambil jalur kiri dan ke kelasku ambil jalur kanan.
"Iya kak."
"Hati-hati dan selamat belajar," katanya sambil tersenyum dan aku hanya menggerakan kepalaku ke atas dan bawah.
----------------
Saat ini aku berada di depan sekertariatan KRI di dalam sana hanya ada kak Bagas dan Abi yang saling berdebat dengan serius, samar-samar aku mendengar bahwa kak Bagas menyuruh Abi untuk bersikap gantelman dan menujukan mukanya. Perasaan Abi gak pernah nyembunyiin mukanya, mukanya tetap terlihat begitu aja. Kalau transparan bukankah itu menakutkan?
Aku heran, benar-benar heran dengan apa yang mereka berdua bicarakan, sunggu otaklu tak bisa mencerna maksud di baliknya. Jadi, dari pada aku ketahuan menguping lebih baik aku segera beranjak pergi atau mengetuk pintu dan menyadarkan keberadaanku kepada dua orang itu.
Tok...tok....tok....
"Assalamualaikum," salamku membuat dua orang itu menoleh ke arahku.
"Waalaikumsalam Warohmatullah," jawab mereka berdua.
"Kak Bagas nyari saya?" tanyaku pelan.
"Iya, masuklah," kata kak Bagas ramah.
"Lo sengaja ngelakuin ini?" tanya Abi membuatku bingung. Dan aku melihat Abi berlalu dari hadapan kami tanpa menunggu jawaban dari kak Bagas.
"Kak, lo mau kemana?" teriak kak bagas namun diacuhkan oleh Abi.
"Segitu gak sukanya denganku sehingga dia bersikap seperti itu," kataku pelan.
"Sorry ya Mut," kata kak Bagas,
"Kenapa minta maaf?" tanyaku bingung.
"Kamu bisa ke kelas aja dulu, nanti saja aku sampaikan. Gak enak kita cuman berdua aja," kata kak Bagas, aku paham maksudnya jadi aku berpamitan untuk beranjak menuju kelas.
----------
"Perpus yuk!" ajak Madina saat aku memasuki kelas.
"Yuk, kebetulan aku mau ngembalikin buku." Aku menjawab dengan cepat, aku juga sudah berniat ke perpustakaan.
Kami pun berjalan menuju ke perpus, sudah dua hari ini kami bebas dari pelajaran, itu disebabkan karena ada pemilihan OSIS dan ada perayaan lomba agustusan.
Saat masuk ke dalam perpustakaan aku masih biasa saja, namun saat aku mengantri untuk mengembalikan buku aku merasa ada yang aneh. Rasanya tidak nyaman, entah kenapa aku sendiri juga heran.
"Aku ke sana dulu ya," kata Madina menunjuk ke arah rak novel. Aku hanya menganggukan kepala kemudian kembali mengantri.
"Loh Bi, gak jadi pinjam?" tanya petugas perpus, ternyata orang yang ada di depanku tadi adalah Abi, ah aku tidak menyadari kehadirannya. Tapi, kenapa aku harus menyadarinya?
"Nanti dulu, ada yang ketinggalan." Abi hendak beranjak menuju rak yang ada di sebelah kananku namun agak belakang.
"Kamu duluan aja." Aku mengangguk.
Setelah proses pengembalian buku aku bertanya-tanya berbagai hal kepada bu Lyli––penjaga perpus.
Aku tidak menyadari keberadaan Abi yang sedang berdiri di sampingku. Kalau dia tidak meletakan buku yang cukup tebal ke meja. Setelah sadar akupun langsung meminta maaf dan hendak beranjak pergi, namun berhenti saat mendengar suara,
"Terkadang teman bisa menjadi lawan, jadi lebihlah selektif mencari teman. Bukan berarti pilih-pilih tapi harus bisa menilai orang yang kita percaya."
Aku membalikkan badan dan melihat Abi yang tengah memandang dan tersenyum tipis ke arahku, sedang bu Lyli tersenyum manis sekali.
"Terimakasih." Dia tidak menjawab dan langsung pergi begitu saja.
"Aku baru lihat Abi cuek sama cewek," kata bu Lyli.
"Mungkin karena dia tidak seberapa menyukaiku." Bu Lyli hanya mengangkat alisnya dan tersenyum aku pun segera pergi mencari keberadaan Madina. Namun pikiranku masih berkecambuk dengan apa yang dikatakan Abi.
Mengapa dia mengatakan hal demikian? Ini sebenarnya sudah kali keduanya dia berkata dan menasehatiku.
__ADS_1
Kalian pasti bertanya-tanya kenapa aku tidak sopan manggilnya dengan sebutan nama tanpa embel-embel. Entah mengapa lidahku terasa nyaman dengan memanggil Abi tanpa embel-embel kak, mas atau bang. Entahlah aku merasa dekat aja kalau panggilnya 'Abi'.
-----------Happy Reading------------
Sudah sepekan aku selalu pulang terlambat karena persiapan lomba, mulai dari lomba kelas, lomba mading, lomba deklamasi dan banyak lomba lagi.
Meski aku tidak termasuk dalam perangkat kelas, tetapi aku sempat mencetuskan beberapa ideku. Dan aku mewakili kelas untuk mengikuti lomba deklamasi atau membaca puisi dengan gerakan tertentu sesuai dengan isi dari puisi tersebut. Selain itu aku juga jadi sie kreatif di lomba mading.
Hari ini ada lomba olahraga dan kaligrafi, jadi hari ini kegiatan akan ada di luar kelas.
"Mut, lo gak ke lapangan belakang?" tanya Mirza yang duduk di bangku Mira, sedang anak-anak sedang finishing mading dengan memasang artikel dan mewarnai beberapa bagian.
"Memang kenapa?" tanyaku heran dan memandang ke arah Mirza.
"Kelas kita kan mau lawan anak XII-IPA 2 masuk final." Mirza berkata sambik memandang aneh ke arahku. Aku memang orang yang tidak peka, namun aku tidak terlalu bodoh untuk mengartikan gerak-gerik tubuh dan mimik wajah.
"Owh, kan keloter ke empat, terus ini tadi masih keloter dua."
"Lo dukung siapa?" tanya Mirza dengan nada menggoda.
"Maksudnya?" tanyaku masa bodo.
"Alah, begaya gak paham." Aku kembali melipat kertas lipat di meja.
"Apaan sih," kataku sambil mukul bahunya, karena origami buatanku sudah jadi. Origami ini akan digunakan untuk menghias mading.
"Udah deh ngaku, kemarin gue lihat lo ditemenin kak Hasan di halte bus," kata Mirza naik turunkan alisnya.
"Terus?" tanyaku santai. Aku hanya heran saja memangnya ada yang salah dengan hal itu. Namun aku sembunyikan rasa heranku dengan berlagak santai menanggapi ucapannya.
"Ya gitu deh, jujur deh lo ada apa hubungan apa?" tanya dia dengan serius.
"Kamu kalau aku jujur percaya apa gak?" tanyaku santai.
"Kalau jujur gimana?"
"Gak ada hubungan."
"Kalau bohong?" tanya Mirza heran.
"Ya gak ada hubungan," kataku kemudian beranjak dari dudukku dan bergabung dengan yang lainnya. Aku memyerahkan origamiku kepada Husain supaya dipasang.
Sebenarnya mulutku ini ingin sekali bertanya tentang masalahnya yang kemarin namun aku urungkan karena aku tak ingin memaksa, aku berpikir jika memang dia ingin berbagi pasti akan bercerita dengan sendirinya.
"Temenin gue ambil print out yuk," ajak Shinta tanpa menunggu jawaban, dia sudah meletakan kuasnya dan menarik tanganku keluar kelas menuju koperasi sekolah yang ada di dekat bangunan kelas XII IPS.
"Memangnya tadi belum diambil semua?" tanyaku sambil jalan di sampingnya. Karena setahuku tadi beberapa artikel sudah dipasang.
"Kurang dua lembar, tadi masih dipinjam dan dibaca kak Bimbim." Inilah Shinta, dia jarang sekali berbicara. Dia hanya menjawab seperlunya dan kamipun terdiam karena tidak ada yang memiliki bahan pembicaraan.
"Shin," panggil seseorang dari samping kanan, aku melihat kak Lisa dan kak Bimbim mendekat.
"Iya kak," jawab Shinta lembut.
"Ini artikel lo, keren." Kak Bimbim memberikan kertas itu kepada Shinta kemudian dia memandang ke arahku dengan senyum penuh arti yang tidak bisa aku tebak.
"Lo Mutia kan?" tanya kak Lisa dengan nada santai, sepertinya seniorku yang satu ini termasuk kedalam katagori senior ramah.
"Iya kak," jawabku pelan.
"Lo tahu, aku penasaran banget sama lo," kata kak Lisa antusias. Aku mengerutkan dahi.
"Memangnya kenapa kak?" tanya Shinta, sudah mewakili diriku untuk bertanya. Dan sepertinya aku terkena virus bernama heran akut.
"Lo gak tahu?" tanya kak Lisa penuh teka-teki. Aku dan Shinta kompak menggeleng.
"Gue juga gak tahu," kata kak Lisa santai dan langsung mendapat jitakan dari kak Bimbim.
"Sialan lo, gue dah terlanjur penasaran. Eh lo malah cuman main kata," kata kak Bimbim sewot dan berpamitan kepada kami diikuti oleh kak Lisa yang langsung ngacir pergi.
"Kayaknya ada yang dirahasiakan kak Lisa deh," kata Shinta saat aku masih melihat interaksi konyol kak Lisa dan kak Bimbim. Mereka nampak begitu akrab, ada bisikan dalam rongga hati untuk merasa iri.
"Apaan?"
"Ya mana gue tahu," kata Shinta beranjak meninggalkanku dan aku segera menyusulnya.
Sesampainya di kelas artikel itu langsung dipasang meski membuat sedikit keributan karena keisengan Husain dan Tiara. Aku senang melihat kekompakan ini, rasanya kayak punya banyak saudara.
---------------------
"Ke lapangan belakang yuk," ajak Shinta saat kami baru kembali dari kamar mandi mencuci tangan yang terkena cat air yang digunakan untuk mewarnai mading.
"Boleh," jawabku singkat. Hari ini anak-anak yang anggota OSIS, PMR, Pramuka dan organisasi besar lainnya menjadi panitia perlombaan, jadi karena aku tidak termasuk panitia membuatku bisa sedikit bernapas lega tidak ikut dalam kesibukan.
__ADS_1
"Mutia," teriak Erly lebai dan langsung memelukku.
"Kangen tahu," kata Erly manja mempererat pelukannya.
"Woe, Mutia gak bisa napas kalau lo dekep kayak gitu." Suara Madina melerai pelukan Erly.
Kemudian dengan gaya lebaynya dia meminta maaf dan melihat seluruh tubuhku meyakinkan bahwa tubuhku baik-baik saja.
Setelah kami bercanda sebentar, Madina dan Erly pamit untuk ke ruang osis untuk mengambil tasnya dan berjanji akan segera menyusul. Sedang kami bergegas menuju ke lapangan belakang.
Namun saat kami berjalan melewati koridor IPS tanpa sengaja kakiku menyenggol kaki dari salah satu gerombolan senior yang sedang duduk dan bersanda-gurau, padahal tadi aku sudah menghindari, ah mungkin aku kurang fokus. Ternyata Allah menyayangiku, karena aku tidak dibiarkan jatuh aku hanya terjengkal sedikit. Kejadian itu membuat teman-temanku histeris tidak jelas.
"Lo gak papa?" tanya Tiara dengan raut wajah cemas.
"Gak papa kok." Kemudian aku memandang ke arah segerombolan senior yang mengerumpuni satu senior yang kakinya mungkn sakit, saat Shinta hendak melangkah dengan wajah datarnya aku mencegahnya dengan menarik seragamnya dan menggelengkan kepala.
"Maaf kak, saya tidak sengaja," kataku lirih dan berjongkok di depan senior itu.
"Apa ada yang terluka?" tanyaku lagi, aku melihat ekspresi meringis di wajahnya, nampak sekali senior itu menahan rasa sakit.
"Lo gak punya mata ya, jalan mbeleng." Seorang senior berkuncir kuda berkata dengan kasarnya dan membantu senior itu untuk berdiri.
"Maaf saya tidak sengaja." Aku menundukkan kepalaku. Aku merasa bahuku ditarik untuk berdiri.
"Lo gak seharusnya minta maaf, gue lihat si Desi mang sengaja lakukin itu supaya lo jatuh." Shinta berkata dengan datar.
"Lo jangan asal nuduh dan mana sopan santun lo terhadap senior?"
"Gue bakal sopan pada orang yang gue anggap layak dan lo sepertinya gak layak." Shinta menjawab dengan lantang dan mendapat dukungan dari yang lainnya.
"Udah Shin, jangan diperpanjang." Aku berbisik ke Shinta berharap dia mengerti, dia hanya memandang datar dan menarik tanganku sambil berkata."Des kayaknya hari ini lo gagal. Sorry kayaknya gak ngaruh ekspresi lo."
Aku hanya melongo saat mendengarnya dan segera menyeimbangkan tubuhku yang ditarik oleh Shinta. Dan samar aku melihat Shinta menarik sudut bibirnya, membuat dia nampak kejam dan dingin membuatku bergidik ngeri.
"Terimakasih Shin," kataku lirih dan nampaknya dia mendengar.
"Bukan masalah." Dia kembali menjadi Shinta yang ku kenal tenang dan tak banyak bicara, dia tiba-tiba berhenti dan mandang ke arahku, berhubung kami berdua berjalan di bagian depan membuat semua ikut berhenti.
"Kenapa?" tanya Tiara.
"Kalian duluan aja." Shinta berkata dengan santai dan di'iya'kan oleh semua terbukti dari mereia yang berjalan terlebih dahulu.
"Ada apa?" tanyaku heran melihat gelagatnya.
"Koridor XII-IPA," bisiknya pelan.
"Ada apa di sana?" tanyaku berbisik mengikuti cara berbicara Shinta.
"Lihat aja, tapi jangan terlalu ketara!"
"Ayo jalan," kataku santai, membuat kerutan di dahi Shinta. Aku tahu dia nampak sedang berpikir keras, mungkin dia heran kenapa aku tak mencoba curi pandang ke arah koridor IPA. Tapi sepertinya dia tidak mengetahui saja bahwa sebenarnya dengan berjalan dengan mudahnya dia bisa melihat ke sana tanpa yang ada curiga.
Alangkah kagetnya diriku saat memandang ke arah koridor aku melihat kak Dilan yang memandangku dengan sinis seolah berkata 'lo baru aja buat masalah' membuatku melotot dan menghentakkan kakiku.
"Lo kenapa?" tanya Shinta menyusulku yang tiba-tiba berjalan lebih cepat.
"Gak papa, lagi kesel aja ama kak Dilan."
"Memangnya kenapa?"
"Dia itu nyebelin banget, tiap kali ketemu bawaannya gondok deh."
"Kenal banget sama kak Dilan?" tanya Shinta nampak curiga aku jadi tidak enak hati.
"Itu kita seing datang bareng dan sering kali kak Hasan mengikutkan dia dalam pembicaraan gitu dan kerap kali kita selalu debat karena pendapat kita yang berbeda." Aku melihat Shinta mengangguk, itu berarti dia paham dengan apa yang aku katakan.
Sampai di lapangan kami langsung bergabung dengan yang lainnya, di sana sudah banyak siswi yang mau melihat, karena pertandingan kali ini adalah kelasku melawan kelas sang kapten basket.
Aku duduk di bangku depan, sedang Shinta mengambil duduk di bangku belakang, dia bilang dia tidak terlalu menyukai pertandingan olahraga. Kami bercanda bersama dan saling memberi dukungan untuk para pemain.
Mirza duduk di sebelahku sambil berkata, "guys kalah menang bukan tujuan kita, tapi usaha kuat dan membangun kekuatan kebersamaanlah tujuan kita."
"Setuju," kata mereka mengomentari.
"Tumben bijak, abis makan apa sih?" tanyaku menggoda.
"Gue abis bakar buku quote terus abunya gue kasih air dan gue minum." Mirza menjawab dengan serius hingga membuat kami semua terdiam kemudian langsung mencerca Mirza karena ucapan yang sungguh mengesalian itu.
Suara riuh nampak membuat kelas kami terlihat begitu kompak, kami saling melempar lelucon yang kadang terasa garing, namun tak mengurangi keceriaan dan kebahagiaan.
Hingga beberapa saat tiba-tiba hening menghampiri, dan hal itu membuatku heran saat aku memandang ke arah Tiara dia memandang satu titik yaitu ke arah Mirza, meski Mirza duduk di sebelahku namun aku memiringkan dudukku ke arah kanan jadi nampak membelakanginya. Aku membenarkan dudukku dengan tujuan melihat apa yang membuat mereka diam, dan ternyata yang membuat diam adalah sosok tinggi tegap dan memakai seragam basket yang tengah berdiri di depan Mirza. Aku heran apa yang membawa dia kemari.
°°°°°°°°°°°°°°
__ADS_1