Berawal Dari Abu-abu

Berawal Dari Abu-abu
Study Tour


__ADS_3

Dingin,


Bak bongkahan es yang tersuguhkan.


Dingin,


Sedingin salju merambati hatiku.


Dingin,


Tubuh ini menggigil setiap saatku mengingatmu.


---------------------


Aku berjalan keluar dari hotel, saat di Lobby aku bertemu dengan Kamil, aku jadi mengingat sesuatu aku kembali ke kamar.


Aku mengambil jaket yang aku lipat di atas ranselku, "Lo mau kemana?" tanya Shinta saat aku hendak melangkah keluar.


"Aku lihat ada penjual gorengan di kanan hotel, pingin beli mau ikut," jawabku sambil menawarinya, dia mengangguk dan menyambar jaketnya.


"Yuk," kami melangkah keluar.


"Gue nitip ya," kata Salsa dan Dini bersamaan dan dijawab oleh Shinta.


"Jaket lo gak lo pakai," kata Shinta, kemudian kami menoleh ke jaket yang ada di tanganku.


"Ini jaket Kamil," jawabku pelan dan kami masih berjalan.


"Kok bisa?" tanya Shinta.


"Iya, semalam dia minjemin jaketnya pas aku bilang jaketku ketinggalan." Shinta hanya ber'oh' ria, mungkin dia sudah mengerti maksud ku. Kami berjalan mendekati Kamil yang tengah ngobrol dengan teman-temannya.


Kami mendekatinya dan ngobrol sejenak, sebelum kami pamit untuk pergi. Selain itu aku tidak lupa mengembalikan jaketnya, dia sebenarnya bilang suruh makai aja dulu sebelum aku membeli yang baru, akan tetapi aku menolak karena merasa tidak enak.


"Mau kemana?" tanya pak Ismail yang sepertinya juga baru dari luar.


"Itu pak mau jalan ke depan, kita ke Jatim parknya jam berapa?" Shinta melanglah mendekati pak Ismail.


Beliau adalah pembina OSIS, jadi Shinta sebagai anggota OSIS sudah mengenal dan cukup dekat dengan guru seni budaya itu.


"Mau ngapain?" tanya pak Ismail sambil menoleh ke arahku, aku cukup heran dengan sorot matanya, aku merasa ada yang janggal.


"Mau cari angin," jawab Shinta santai, sedang pak Ismail hanya mangut-mangut sambil sesekali melirik ke arahku, bukannya tak sopan dengan menuduh yang tidak baik namun aku tak nyaman dengan lirikan itu.


"Aku sepertinya familiar dengan kamu," kata pak Ismail menunjuk ke arahku, aku mengerutkan dahiku tanda aku berpikir.


"Dia kan siswi bapak, pantas saja bukan jika bapak familiar dengan wajahnya," Shinta menjawab mewakili diriku, kami sepertinya memiliki camistery. Aneh, bukankah kalian juga berpikir seperti itu. Selain pak Ismail adalah pembina OSIS, aku juga pernah ada di kelasnya selama satu semester di pelajaran seni budaya.


"Bukan wajah nyatanya, tapi seperti suatu gambar," kata pak Ismail sambil berpikir. Mungkin dia tengah mengingat sesuatu. Sebentar, tadi beliau mengatakan 'gambar' bukan.


Apa maksudnya?


Apa beliau melihat fotoku?


Bukankah wajar jika suatu ketika seorang pernah melarang melihat fotoku.


Tapi di mana?


Ah, pikiranku jadi mendobrak ingatan beberapa bulan yang lalu, tepatnya saat meeting event menulis. Bukankah salah satu editor yang bertugas langsung menyampaikan ke sekolah juga berkata mengenalku dan melihat dari fotoku.


Apakah ini kasusnya sama?


"Ah aku ingat, lukisan di ruang ketrampilan." Pak Ismail tersenyum cerah saat mengatakannya, beliau nampak lega bisa menemukan potongan puzzel ingatannya. Namun hal itu bukan membuat kami berdua ikut tersenyum, akan tetapi membuat kami memandang kaget tak percaya ke arah beliau. Meski dalam hati aku bersyukur karena beliau melihatku bukan karena ada niatan sesuatu akan tetapi karena beliau seakan mengingat wajah familiarku.


"Sudah kalian jalan, nanti jam 7 harus sudah ada di sini," kata beliau sambil berlalu, meninggalkan kami dengan sejuta penasaran yang menggerogoti rongga pikiran.


"Lukisan? Ruang ketrampilan?" Shinta mengeluarkan suaranya saat kami masih sama-sama diam memikirkan hal yang sama sepertinya.


"Menurutmu aneh gak sih?" tanya Shinta kepadaku, dia menyenggol lenganku berulang kali karena aku tak merespon. Aku diam bukan berarti aku tidak merasakan atau mendengar ucapannya, namun lebih ke aku bingung mau merespon bagaimana.


"Sudah lupakan dulu, entar kita buktikan," kata dia sambil menarik tanganku menuju gerbang keluar hotel yang tak jauh hanya sekitar 100 meter.


"Tapi sumpah gue penasaran banget," kata Shinta yang masih tetap saja membicarakan masalah itu.


"Tadi katanya suruh lupain sejenak," sindirku.


"Iya juga ya, kita ke sana Yuk," ajaknya sambil menunjuk ke sebuah rombong di pinggir jalan. Di rombong itu ada tulisan 'gorengan'


"Beli apa mbak," kata pedagang gorengan saat kami mulai mengamati daganganya.


Di rombong itu ada berjajar jenis gorengan. Ada roti goreng, ote-ote atau orang malang sering bilang weci, menjes, tahu isi, mendol, cakue, pisang goreng, molen bukan molen buat adonan bangunan ya, molen yang ini itu molen gorengan yang pisang dibaluti tepung yang rasanya manis.

__ADS_1


"Saya mau weci, tahu isi, dan menjes." Aku berkata sambil nunjuk yang aku inginkan, padahal kalaupun tidak menujuk aku tahu dengan pasti bahwa sang penjual mengerti yang aku inginkan.


Dengan cepat dan terampil sang penjual itu masukannya ke dalam plastik kantong berwarna putih bening. Ingat, putih bening ya jangan sampai mau kalau dikasih warna yang lain soalnya gak baik buat kesehatan.


Aku tahu sih jika gorengan ini juga tidak baik, akan tetapi sesekali mencoba kan tidak masalah, jugaan gorengan yang tidak boleh itu kan yang tidak heghinis dan menggorengnya dengan minyak yang dicampur bahan yang gak selayaknya dicampurkan.


Seperti minyaknya dikasih lili atau plastik supaya gorengan nampak bersih dan mengkilap. Tapi aku rasa pedagang yang satu ini InsyaAllah gak berbuat curang kok, tadi sebenarnya aku sudah mengintip ke arah penggorengannya dan terbukti gak ada lilin atau plastiknya dan gorengannya warnanya juga tak berwarna cantik. Hehehe....


Kemudian Shinta menyebutkan keinginanya juga, kami dipersilahkan duduk dulu karena ternyata wecinya masih menunggu yang digoreng.


"Asli Malang, Mbak?" tanya sang pedagang yang menggoreng, pedagangnya ada dua yang satu menggoreng terus dan yang satu melayani pembeli.


"Bukan kok Mas, dari kota S." Shinta menjawab dengan santai.


"Oh, saya juga pendatang kok Mbak," kata mas yang melayani sambil menoleh dan tersenyum.


"Asli mana mas?" tanyaku buka suara.


"Blitar Mbak," katanya sambil melayani pembeli.


"Berati dekat dengan makam bung Karno dong mas," kata Shinta antusias. Ya, Shinta berharap bisa ke sana dia begitu penasaran dengan perpustakaannya. Dan juga dia penasaran dengan lukisan yang katanya memiliki detak jantung.


"Gak mbak, Blitarnya aja deket perbatasan Kediri."


Kami berdua hanya mengangguk-angguk seolah tahu tempatnya, padahal sih aku yakin kami gak tahu sama sekali.


"Wah, orang Blitar berarti tahu buah Melwo dong," kataku dengan nada riang, masnya noleh dan memandangku dengan pandangan tak percaya, seolah aku menumpahkan minyak ke dalam adonan wecinya saja.


"Dlo Mbaknya kok tahu istilah buah itu?" tanya mas yang sedang mbolak-balikkan weci di penggorengan.


"Hehehe, kebetulan bibi yang bantu pekerjaan rumah ayahku itu orang Blitar mas, mana ya lupa nama wilayahnya." Bik Sum itu asli orang Blitar, akan tetapi beliau menikah di kota tempat tinggalku dan menetap di sana. Tapi beliau kelahiran dan besar di Blitar. Jadi tidak salah kan kalau aku bilang bik Sum asli orang Blitar.


"Owh, berarti mbak tahu dong buah melwo?" tanya mas itu lagi dengan santai.


"Memangnya Melwo apaan, Mut?" sebelum sempat aku menjawab Shinta sudah bertanya lebih dulu.


"Buah Melwo itu Serikaya Shin, itu lo buah bulat yang kayak Delima tapi luarnya gak halus ada menonjol-menonjolnya." Aku menjelaskan dengan tenang, sedang dua pedagang itu masih sibuk dengan kegiatanya.


Setelah kami mendapatkan apa yang kami inginkan, kami berdua kembali ke hotel dengan santainya sambil menenteng dua kantong plastik gorengan, tidak memperdulikan sama sekali penilaian orang saat melihatnya. Bukankah kadang kala kuta harus bersikap egois seperti itu, kita tidak selamanya dan segala hal bukan dalam mengikuti kata orang kadang kita juga memiliki saat menjadi diri kita sendiri.


------------------------


Pagi yang cerah, namun panasnya tak seberapa menyengat seperti di kota tempat tinggalku. Mungkin karena suhu yang dingin membuat kita merasa biasa saja dengan sinar sang mentari, justru seolah kita membutuhkan sinarnya untuk menghangatkan tubuh.


Tapi aku tidak memakai tas dan sepatu yang senada karena aku hanya membawa yang aku pakai saat berangkat kemarin, pakaianku yang kemarin sudah aku laundrikan jadi bisa buat ganti untuk besok, dan untuk yang nanti sore aku berencana membeli di Jatim park.


"Ayo kita ke sana," ajakku kepada Shinta dan tak lama aku melihat Marta, Erly, Zahwa dan Madina juga berjalan sama tujuannya dengan kami.


Aku mengalungkan kamera milik ayahku di leher, sesekali aku mengambil gambar mereka yang berjalan di depanku. Mulai dari anak-anak yang tengah menunggu karcis masuk, juga beberapa pengunjung yang tengah mengantri masuk.


Aku kembali mengarahkan lensa kameraku ke segala arah secara random, hingga aku terfokus pada satu titik. Di dekat pintu masuk aku melihat sosok yang sudah lama aku tak jumpai juga sosok yang begitu aku hindari. Aku langsung mengambil fotonya dan segera bergabung bersama yang lainnya untuk menyembunyikan diri.


Aku berharap tak bertemu dengan mereka lagi. Ah, masa lalu itu sungguh mengganggu. Apa lagi jika masa lalu itu hal yang tidak menyenangkan, bukan hanya mengganggu jadinya namun bak mimpi buruk yang menyeramkan.


Aku masuk ke dalam setelah memasang karcis berupa panjang di pergelangan tangan kiriku, setelah berbaris dan dicek kamipun masuk secara bergantian.


Kami berkumpul dan mendapat satu tutor gaude, kami diberi selebaran yang berupa denah, juga beberapa tempat wisata di sekitar wilayah ini juga.


Kami berjalan memasuki sebuah ruangan yang seperti musium, di sana kami sebagai anak IPA beruntung karena ada beberapa pelajaran bisa kami ambil.


Tidak lupa juga ada beberapa cermin, cekung, cembung, ada yang membuat kita tampak kecil, gemuk, tinggi, kurus, dan masih banyak lagi saat kita bercermin di depannya itu membuatku merasa lucu dan menyenangkan.


Kemudian kami memasuki kawasan patung dengan kebudayaan pakaian ala adat Indonesia, setelah beberapa kali berfoto kami masuki sebuah kumpulan penemuan purba yang ada di dalam kotak kaca semacam aquarium. Kami terus berkeliling dan melihat-lihat, kemudian kami berjalan dan aku melihat ada sebuah sungai dan ada juga pengunjung yang naik di atasnya.


"Lo pingin?" tanya Shinta yang ada di sampingku, aku mengambil gambar secara random.


"Enggak, aku mah takut sama air mengalir," kataku sambil kembali jalan. Ya, entah kenapa arus air yang deras dan air yang dalam itu membuatku sering berpikir negatif hingga membuat diriku memiliki rasa takut merayapi pikiran. Tapi beda lagi saat melihat laut dari jarak yang cukup jauh, entah kenapa aku merasakan sebuah ketenangan.


"Lo takut air, wah kalau bang Abi mah suka tantangan, apalagi arum jerami dia suka banget," kata Shinta antusias, mungkin dia tidak menyadari akan ucapannya, aku mendengar nama itu di sebut menurunkan lensa kameraku dan menoleh ke arahnya.


"Kenapa?" tanyanya heran melihatku, aku hanya diam dan memandangnya.


"Lo kenapa sih? Gue gak salah ngomong kan?" tanya Shinta menatap heran.


"Kamu mau aku foto di dekat pohon itu," kataku sambil tersenyum tipis. Mengalihkan pembicaraan mungkin adalah keputusan yang bijak, begitu lah pikirku.


"Gue gak minat jadi model, tapi kalau lo maksa bayaran gue mahal lo," katanya dengan nada becanda. Aku tersenyum kemudian mengarahkan kameraku saat Shinta sudah mulai berpose dengan riangnya, tak selang beberapa saat banyak anak yang ikut berpose, membuat Shinta menggurutu kesal.


Setelah berfoto, aku melangkahkan kakiku ke mushola,


"Ngapain ke sini?" tanya Kamil yang ternyata mengikuti kami.

__ADS_1


"Aku mau istirahat, kalian main aja aku gak ikutan," kataku sambil memersilahkan mereka, aku melihat wajah kecewa mereka.


"Terus siapa yang foto kita kalau lo semedi di sini," Kamil ikutan duduk di teras.


"Nih, bawa aja kameranya," aku memberikan kameraku kepadanya. Kemudian mereka melangkah menjauhiku seorang diri.


Aku menghembuskan napas dan memandang ke arah pengunjung yang tengah bermain, kalian tahu apa yang aku pikirkan? Sebuah keluarga bahagia. Mau bagaimana pun aku juga ingin memilikinya, akan tetapi sepertinya takdir tak mengizinkannya, kadang aku ingin marah rasanya kepada sang takdir yang memberiku kesulitan, namaun apalah dayaku sebagai pemain peran.


Aku membuka tasku dan mengambil air mineral yang ada di dalamnya. Aku meminumnya tak lupa baca basmala sebelumnya dan kemudian aku merasa ada yang duduk di sampingku.


"Loh gak ikutan main?" tanyaku ke arah Feby, ya dia yang duduk di sampingku.


"Gue capek banget," kata Feby sambil mengatur napas. Aku hanya tersenyum kemudian kembali memandang pengunjung lainnya. Menerawqng kebahagiaan yang tercipta di aura dan wajah mereka.


"Ke sana yuk," aja Feby sambil menunjuk ke arah jembatan kecil, aku tersenyum, "bentar ya." Dia mengangguk tanda setuju.


-------------------------


Aku dan Feby berjalan menelusuri setiap kawasan di jatim park tanpa ada sedikit niatan untuk mencoba wahana permainan yang ada.


Bukan gak ada nyali, tapi entah karena apa aku enggan sekali. Pikiranku seolah terpecah, aku tak bisa fokus dan malas melakukan hal-hal seperti itu.


"Itu bukannya Madina dan Erly ya main yang di atas itu," aku mendongak menuju wahana semacam roll coster tetapi berbentuk persegi yang ada di atas. Ah, permainan itu sungguh menantang anderline.


"Iya kayaknya," jawabku kemudian kami masuki sbuah wahana tampoline. Kami hanya melihat saja beberapa pengunjung seusia kami tengah lompat-lompat.


"Lo tahu gak kalau Madina deket sama Bimo anak IPS, katanya sih di bus mereka duduk bareng," kata Feby, aku menoleh kemudian mengingat nama Bimo. Namun sepertinya aku tak tahu yang mana orangnya.


"Memangnya boleh ya cewek-cowok duduk bareng?" Kami mulai melangkah lagi, entah kenapa Feby tetap mengikuti diriku. Tadi sih aku sudah bilang bahwa jika dia mau bermain maka tak apa meninggalkanku sendiri dan bergabung dengan yang lain, namun sepertinya dia enggan melakukannya.


"Ya curi-curi waktu mungkin," kata Feby acuh.


"Gue kira lo bakal ikutan yang ke Ibukota, tapi kok lo malah milih yang ke Malang sih, Mut?"


"Gak tahu juga sih, hanya saja aku ingin suasana baru. Jugaan aku berniat kuliah di kota ini." Kami berjalan melewati sebuah kawasan permainan yang disebut rumah kaca, terdengar teriakan dan juga air yang memuncrat. Aku tersenyum melihat kehebohan mereka.


''Lo mau kuliah di Malang?" tanya Feby dengan nada tidak percaya. Aku mengangguk tanda membenarkan ucapannya.


"Kenapa?" tanya Feby heran, aku tak tahu kenapa bisa dia begitu heran dengan keputusanku.


"Memangnya ada yang salah ya?" tanyaku sambil meringis.


"Gak sih cuman heran aja," kami memasuki sebuah ruangan gelap dan banyak kotak kacanya, dan kalian tahu di dalamnya apa apa?


Ular, ya ada berbagai macam jenis ular di dalamnya. Ada yang berwarna hijau dengan tubuh kecil dan panjang, ada yang bertubuh besar dan panjang dan masih banyak lagi macamnya.


Entah karena apa, aku sempat terlonjak saat melihat ular-ular itu hingga aku tak sengaja menabrak segerombolan pengunjung.


"Maaf," kataku pelan kemudian menarik tangan Feby untuk keluar dari ruangan itu.


"Lo gak papa, Mut?" tanya Feby khawatir. Aku menggeleng kemudian duduk di sebuah plataran semen dan meminum airku. Aku merasakan dadaku berdebar kencang dan buliran keringat keluar di dahi dan beberpa bagian lainnya, bahkan tanganku terasa dingin.


"Lo takut sama ular?" tanya Feby sambil mengamati wajahku.


"Bukan takut sih hanya semacam gak enak gitu melihatnya," jawabku membuat bergidik ngeri sediri. Aku membayangkan ular yang tadi aku lihat.


"Mau jalan lagi?" tanya Feby, sambil menunjuk segerombolan pengunjung yang ternyara serombongan dengan kami.


"Gak deh kayaknya, aku mau istirahat aja," kataku hendak beranjak.


"Di dalam sana ada jenis unggas, ada burung-burung cantik. Yakin gak mau?" tanya Feby dengan nada menggoda.


"Gak deh," aku melangkah keluar kawasan itu dan ternyata Feby masih mengikutiku.


"Kamu kalau mau masuk gak papa Feb," kataku merasa tak enak.


"Gak kok, aku udah pernah kemari jadi menemani kamu keliling kayaknya jauh lebih menyenangkan." Kami berdua melangkah menuju kawasan kolam renang. Ternyata kawasan itu cukup ramai, kemudian kami duduk di restoran sambil minum jus sambil menunggu yang lainnya berkumpul.


----------------------


Mungkin ucapan bisa berbohong, namun mata dan raut wajah tak bisa membohongi. (Kru Kepo)


-----------------------


Setelah lelah berjalan-jalan mengelilingi pasar menuju jalan keluar wisata, aku dan Shinta sudah menenteng beberapa kantong plastik hasil dari kami berburu. Dan jika kalian bertanya tentang Feby, dia sudah kembali bergabung dengan trman sekelasnya.


Aku menaruh hasil belanjaanku di atas dan kemudian duduk di samping Shinta. Saat ini dia tengah bercerita banyak hal bersama dengan teman yang lainnya.


Aku membuka ponselku dan membawas pesan yang ada. Aku juga melihat ada 3 panggilan tak terjawab.


Ah, ayah sepertinya beliau mengkhawatirkan putri jagoannya. Aku tersenyum membalas pesan yang ada, hingga tanpa terasa semua menuju kursinya dan duduk seperti semula. Karena bus akan berjalan dan kami akan menuju ke tempat wisata selanjutnya eco grand park dan musium angkot.

__ADS_1


-------


__ADS_2