
Bahagia itu sederhana. Menerima, bersyukur dan tersenyum.
-------
Mutia terkekeh melihat ekspresi datar sang suami, dia heran dengan kelakuan yang menurutnya aneh. Bagaimana tidak? Dia menggali lubang untuk dirinya sendiri. Padahal biasanya yang bersikap seperti itu adalah perempuan akan terasa aneh bukan lelaki bersikap seperti itu.
Mutia memberanikan diri untuk menggeser duduknya lebih dekat ke arah Abi duduk. Sudah sejak beberapa saat yang lalu Abi hanya menghela napas dan enggan menatap Mutia.
"Mas," panggil Mutia sambil mencolek bahu Abi. Namun tidak ada respon yang berarti, Mutia mengulang hingga berulang kali. Karena dia merasa kesal diacuhkan dia pun berinisiatif memeluk Abi dari samping sambil menyandarkan tubuhnya. Abi sempat menegang kemudian dia tersenyum samar.
"Mas," panggil Mutia tertahan karena wajahnya terbenam di bahu Abi. Dengan sekali gerakan Abi merengkuh tubuh sang istri.
"Apakah terlambat jika aku berkata bahwa aku mencintaimu?" tanya Abi dengan nada tegas kepada Mutia. Abierasa pergerakan mata dan bibir Mutia di dadanya dia tersenyum kemudian mengeratkan pelukan. Seolah dia tengah menyalurkan perasaannya dalam rengkuham hangat dan diam.
-------
Mutia memasuki kafe Bagas bersama dengan Abi, tangan keduanya tak lepas sejak tadi. Mutia heran dengan apa ya g dilakukan oleh Abi namun dia hanya diam saja.
Tadi saat Mutia keluar ruangan bersama Abi, dia bisa melihat karyawan Abi yang melotot sambil terbengong, namun dengan santainya suaminya itu malah melingkarkan lengan tangannya di pinggang Mutia yang beberapa kali diberi peringatan oleh Mutia namun diacuhkan.
"Di mana yang lainnya?" tanya Mutia yang melihat ke sekeliling namun tak menemukan satupun yang dia kenal.
"Di lantai atas," jawab Abi mengiring sang istri untuk menuju tangga.
"Siapa saja yang diundang?" tanya Mutia.
"Beberapa teman lama, ini bisa dibilang semacam reonian kita anak IPA2." Abi melingkarkan tangannya di Pinggang Mutia.
"Desain kafe ini bagus ya, selera yang cukup tinggi," kata Mutia membuat Abi tersenyum miring.
"Assalamualaikum," salam Abi berlajalan lebih dulu meninggalkan Mutia. See, selalu seperti ini jika sudah bertemu dengan sahabat.
"Waalaikumsalam," jawab beberapa suara dengan bersamaan.
"Wah, ini dia kapten kita," kata Tatang sambil menjabat tangan Abi.
"Sendiri Aja, Bro?" tanya Riswan, salah satu anggota basket Abi meski mereka beda kelas.
"Gaklah," kata Abi masih menjabat tangan teman-temannya. Setelah semua berjabat tangan, mereka langsung bersorak gembira dan menggoda saat Abi menoleh ke arah Mutia yang hanya duduk.
"Wiih, baru lagi gandenganya," kata Riswan mengamati Mutia dari atas hingga bawah.
__ADS_1
"Siapa yang gandngannya baru?" tanya Hasan yang baru dari toilet.
"Kapten pak Ketos," kata Tatang, Hasan menoleh ke Abi dan berjabat tangan.
"Kelihatan bahagia banget, Bi." Hasan menyapa sahabatnya.
Abi hanya tersenyum penuh arti, kemudian mendekati Mutia yang berdiri canggung. "Kenapa?" tanya Abi udah di depan sang istri.
"Aku pulang aja ya," kata Mutia tak enak hati. Abi menaikan satu alisnya. "Gak ada yang cewek Mas. masak aku gabung sama cowok." Abi terkekeh ringan.
"Duduk aha dulu, ada ceweknya kok." Abi meraih pinggang Mutia mbuat Hasan yang sejak tadi mengamati melotot tidak percaya.
"Kenalin, dia Mutia, istriku." Abi berkata sambil memgambil duduk jauh dari teman-temannya. Semua yang disana tercenang ada yang menyemburkan minuman ada juga yang tersedak. Sedang Hasan hanya melongong syok.
Bagas dan Ve yang baru datang bingung melihat meja dan keadaan orang yang berantakan. "Kenapa?" tanya Bagas heran hingga membuat semua orang yang sibuk merapikan diri menoleh ke sumber suara.
"Baru saja ada badai," jawab Abi sambil terkekeh.
Ve mendekati Mutia sambil berjabat tangan, kemudian melirik ke arah Abi penuh arti.
"Kamu junior 'kan?" tanya Ve kepada Mutia membuat semua mata tertuju ke Mutia.
"Ve, kamu nakutin dia," kata Hasan mengambil duduk di depan Abi.
"Sorry," kara Ve sambil nyengir.
"Mana yang lainnya?" tanya Abi mengalihkan mata yang tertuju ke Mutia.
"Masih di jalan."
"Kalian kalau masih natap istriku, ku colok mata kalian pakai garbu." Abi berkata denga nada ketus, dia tidak suka dengan pandangan teman-temannya.
"Wiiih, posesif," kata Bagas menggoda. Dan mendapat hadiah lemparan sendok dari Abi.
"Kapan nikah?" tanya Hasan mengalihkan pertengkaran Abi dengan Bagas.
"Seminggu yang lalu," jawab Bagas.
"Kok gak ada undangan," kata Hasan dengan nada tak suka.
"Mereka ketangkap hansip makannya dinikahin." Bagas menjawab dengan sesuka hatinya.
__ADS_1
"Woe kalau ngomong yang bener, dosa lo mengada-ada." Abi tidak terima dengan ucapan sang adik sepupu.
"Sorry kak," jawab Bagas cengengesan.
"Entar kalau mau ngadain resepsi InsyaAllah aku undang." Abi berkata dengan tenang. Mutia hanya diam sambil menunduk.
"Wiih, udah sah ni," kata Azlan yang baru datang, Mutia mendongak kemudian memutar bola matanya, dia cukup dekat dengan Azlan karena sering ketemu kalau lagi pergi-pergi dengan Dilan.
Kemudian mereka saling beradu argumen dan berbicara banyak hal. Mutia hanya sesekali menimpali jika dimintai pendapat.
"Mbak yang waktu itu di rumah pak Dhimas, 'kan?" tanya Vina adik dari Azlan, Mutia tersenyum sambil mengangguk.
"Wah, kita ketemu lagi Mbak. Zila pasti seneng kalau aku bercerita ketemu sama Mbak. Di fans banget loh," kata Vina dengan antusias. Membuat Abi dan Mutia yang memperhatikan terkekeh.
"Kamu kenal Dek?" tanya Azlan menatap heran adiknya yang awalnya cemberut menjadi antusias.
"Kenal Mas, mbak Mutia itu perempuan yang diceritakan Zila itu loh Mas." Azlan mencoba mengingat.
"Yang mana sih?" tanya Azlan bingung, karena yang diceritakan adiknya tidak terlihat dalam ingatannya.
"Perempuan yang mau dijadiin kakak itu loh. Yang dia seneng banget diskusi karena merasa nyambung dan banyak ilmu yang ditangkap. Yang didoakan semoga jadi jodoh Mas Azlan waktu itu." Abi dan Mutia menatap takjub, dia berusaha mencerna ucapan Vina kemudian tertawa renyah.
"Wah dunia benar-benar sempit. Tapi bilang sama temanmu kalau Mutia sudah menemukan bodohnya jadi maaf Allah tidak mengabulkan doanya." Abi berkata dengan tenang dan tersenyum manis. Di dalam hati Vina bergumam bahwa dia begitu menyukai senyum Abi. Kata orang dia terpesona.
-------
Mutia dan Abi saat ini tengah berbaring di atas ranjang dengan posisi saling berpelukan, memberi kehangatan satu sama lainnya. Hujan di luar ibarat nyanyian alam yang merdu menghiasi malam syahdu. Mutia mendongak dan Abi menunduk, mereka berdua saling berbicara dalam diam dan dalam kerlingan mata memandang. Senyum bahagia tercetak di bibir keduanya seolah tak surut sedikitpun pertandan bahagia dan rasa syukur terus ada dalam benak keduanya.
"Aku mencintaimu karena Allah, dan aku tidak menjadikan kamu cinta satu-satunya. Tapi aku menjadikan kamu teman hidupku selamanya." Abi berkata dengan nada ringan seringa kapas yang akan bertembaran kala angin berhembus. Abi menatap wajah cantik sang istri yang tengah merona entah karena malu atau karena marah kepadanya. Tapi satu yang pasti istrinya masih tersenyum dan menatapnya.
"Aku juga mencintaimu, Mas. Sebesar cintaku pada ciptaan Allah yang paling tinggi kedudukannya." Mutia langsung membenamkan wajahnya ke dada Abi karena malu akan jawabannya.
"Hai kenapa?" tanya Abi gemas dengan tingkah sang istri. Dia terkekeh pelan karena ternyata sang istri malu sendiri dia juga heran, mereka sudah bersama hampir dua bulan namun sang istri masih mempertahankan malunya. Ya malu memang sebagian dari iman namun ini den suami dia juga tetap malu.
Abi membelai lembut kepala sang istri, membuat Mutia nyaman dan mendongak kembali sambil tersenyum. "Aku bersyukur atas takdir ini. Jika di awal Mutia Mengenalaa Abi Mutia sempat bingung memberi warna hitam atau putih dan akhirnya Mutia beri warna abu-abu. Sekarang dengan yakin dan tak akan mau mengubahnya lagi, Mutia memberi warna Putih. Karena sekarang Mas Abi adalah salah satu warna putih yang aka membawa Mutia menuju surga. Karena Mas Abi adalah salah satu kunci surga milik Mutia." Abi tersenyum kemudian memeluk erat sang istri.
"Mas yakin, jalan kita tidak mulus tapi berjanjilah kita akan berjalan beriringan dan bergandengan tangan hingga nyawa yang memisahkan. Akan banyak kerikil, semak belukar, juga lubang. Namun tetaplah berada bersama Mas untuk menghadapi itu semua bersama." Mutia mengangguk haru. Dia benar-benar terharu dengan takdir uang diciptakan oleh sang Penulis dan Penentu hidupnya. Dia bahagia meski ini bukan akhir cerita namun paling tidak dia menemukan pengokong hidupnya yang menurutnya sempurna karena sesuai dengan apa yang sudah dikehendaki Oleh-Nya. Benar kat orang sabar itu berbuah manis. Tidak tahu di depan, di tengah atau di belakang. Tapi yang pasti sabar berbuah manis jadi jangan sungkan-sungkan untuk bersabar.
End.
---------------
__ADS_1