
Bila malam-malam sudah terasa sepi dibanding masa sebelumnya.
Bila hangatnya persahabatan tak lagi cukup untuk mencurahkan isi hati.
Bila hati merindukan belaian kasih sayang di kala ia resah.
Bila hati mendambakan pelindung dan pemberi motivas disaat dirinya lemah.
Bila hati mulai cenderung dan merasa tenteram di sisi lawan jenisnya.
Maka apalah yang akan kita cari selain pernikahan?
(Mas Udik Abdullah, Bila Hati Rindu Menikah)
-------------
Entah apa yang terjadi, kabut itu pekat namun malam masih mampu mengalahkan gelap. Di balik gelap sang malam masih ada secerca sinar hangat sang rembulan. Malam ini terasa berbeda, entah apa yang membuat berbeda. Seperinya memang ada dan kalaupun tidak ada pasti akan tercipta.
Mutia tak lagi berkutat dengan berbagai pekerjaan seperti biasanya, sejak selesai sholat isya dia hanya membaringkan tubuhnya di ranjang yang seperti terasa nyaman.
Dia diam, namun benarkah dia benar-benar diam?
Matanya memang fokus, tapi benarkah kini dia benar-benar fokus?
Helaan napas berat sudah keluar berulang-ulang sedari tadi, tapi sepertinya Mutia masih belum menyadari perbuatannya yang membuat pasokan udara bersih menipis.
Sekali sentakan dia langsung menarik selimut yang menutupi tubuhnya. Dia mengusap kasar wajahnya dan bergegas menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu. Setelah mengeringkan wajahnya dia bercermin dan melihat secara pasti wajahnya.
"Kapan mau menikah?" pertanyaan itu terniang kembali dalam ingatannya. Pertanyaan keramat yang sering dia dengar, meski dia abaikan.
Namun pertanyaan itu tak bisa lagi dia abaikan, kala pertanyan itu keluar dari bibir seseorang yang pernah dia harapkan menjadi nahkoda dalam perjalanan hidupnya.
Dia menghela napas, kemudian melangkah menyalakan murrotal dan membaringkan tubuhnya kembali ke kasur. Dia memejamkan matanya, ingin mengistirahatkan tubuh dan pikirannya sejenak. Namun sepertinya pikiran dan niat hatinya dak bersinambung sehingga membawa dia kembali pada kejadian tadi siang.
"Miss, saya bereskan halaman ya. Soalnya saya lagi halangan." Riana berkata dengan cepat, acara parenting memang sudah selesai namun masih ada beberapa wali murid yang masih belum beranjak pulang.
"Iya," jawab Mutia lirih meski dia tahu kalau Riana tidak akan mendengar.
"Ada yang bisa dibantu, Miss?" tanya Anandi yang sudah mengganti pakaiannya. Dia sudah selesai sholat dzuhur sepertinya.
"Tidak ada Bu, saya mau izin sholat." Mutia menganggukan kepala hormat kemudian melangkah ke arah Nana berdiri.
Sebenarnya Mutia hanya sedang tidak ingin banyak berbicara dengan Anandi, entah apa alasannya. Oleh sebab itu dia menghindarinya. Meski di dalan otaknya banyak pertanyaan yang ta mampu dia cari jawabannya di beberapa buku, namun di enggan untuk bertanya.
Siapa Anandi?
Apa hubungannya dengan Abi?
Mengapa dia tinggal di sini dan Abi bisa sesuka hati bersentuhan?
Bukankah Anandi sepupu Bagas?
Mutia mulai menghempaskan pikiran yang membuatnya tidak tenang. "Bun, letak tempat sholatnya di mana?" tanya Mutia kepada bunda Abi.
"Di sana." Nana menunjuk teras belakang.
"Belum sholat?" tanya Nana sedikit heran.
"Belum Bun, tadi masih beresin peralatan." Mutia menjawab dengan nada tidak enak hati, kemudian Nana tersenyum.
"Ya sudah ambil wudhu dulu, bunda juga belum sholat." Nana menggiring Mutia ke kamar mandi sebelah tempat sholat.
Mutia masuk ke kamar mandi dan mengambil air wudhu. Saat keluar kamar mandi dia sedikit terkejut karena melihat Nana memakai mukena dan memberikan sesetel mukena untuknya.
"Bunda belum sholat?" tanya Mutia, dia ingin menghilangkan rasa penasarannya. Soalnya tadi waktu wali murid yang lainnya hendak sholat Mutia melihat Nana juga berangkat sholat.
"Tadi udah mau jamaah, tapi dicegah sama Abi." Mutia menghentikan gerakan tangannya yang memasang mukena, dia menoleh ke arah Nana yang duduk di sebelahnya.
"Tadi Abi ke masjid, tapi dia sakit perut jadi pulang. Anak itu tidak berubah dia tidak bisa buang air besar sembarangan tempat."
"Ya kan kalau di sembarangan tempat dimarahi orang dong, Bun." Nana menoleh heran. Kemudian terkekeh ringan.
"Iya, tapi anak itu aneh. Masak iya tinggal ke kamar mandi aja apa susahnya. Kenapa coba harus dibawa pulang." Mutia ikut terkekeh mendengar penuturan Nana.
"Terus aja, Bun. Tunjukin semua aib Abi." Mutia langsung memasang wajah datar saat Abi sudah ada di depan pintu tempat sholat.
__ADS_1
"Kan, Bunda cuman cerita Bi. Iya kan Mut." Nana mencari pembelaan. Mutia menoleh ke arah Abi yang menampakkan wajah datarnya, tak ada senyum sekecil apapun.
"Ya sama aja, Bun. Kalau yang diceritakan itu Aib." Abi sepertinya masih tidak mau kalah.
"Ya sudah, maafkan Bunda." Mutia tersenyum indah. Mungkin dulu dia akan merasa jengah dan iri melihat dan mendengar pertengkaran kecil keluarga seperti ini. Tapi kini tidak lagi, karena dia juga merasakan kedekatan tersendiri saat beradu argumen sederhana dengan keluarga. Kini dia juga memiliki keluarga yang utuh.
"Sudah, ayo sholat." Akhirnya tiga orang itupun sholat berjamaah. Ini bukan kali pertama Abi menjadi imam sholat Mutia. Karena dulu waktu masih SMA, Abi sering menjadi imam sholat dzuhur di masjid sekolah. Atau kalau waktu ada kegiatan KRI dia juga sering jadi muadzin atau imam.
Setelah sholat berjamaah, tiga orang itu masih enggan untuk beranjak. "Mut, Bunda denger kamu dulu pindah?" kata Nana.
"Gak pindah permanen kok, Bun."
"Terus?"
"Ya, abis SMA Mutia kuliah di Malang, abis itu tinggal di rumah ibu yang ada di ibukota."
"Ayah kamu juga gak ada di rumah itu lama?"
"Oh, ayah habis nikah tinggal di rumah istrinya, Bun. Terus balik lagi setahun terakhir ini, saat Mutia memutuskan untuk kembali ke kota ini."
"Memangnya di kota besar kamu gak betah?
"Bukan masalah betah gak betah sih bun, hanya saja---" Mutia menggantung ucapannya. Abi yang sejak tadi hanya menjadi pendengar menoleh heran.
"Hanya saja apa?" tanya Abi tidak sabar.
"Ih, kamu nguping ya, Bi?" tuduh sang bunda, sedang Abi hanya tersenyum masam.
"Bun, Abi sejak tadi di sini. Terus kalau denger pembicaraan Bunda apa iya dibilang nguping." Mutia terkekeh, dia tidak merasa terganggu dengan kehadiran Abi.
"Udah abaikan dia," kata Nana sambil menarik bahu Mutia supaya menghadap ke arahnya. Mutia tersenyum, ingatannya kembali ke 9 tahun yang lalu, saat dia menilai bahwa ibu Abi itu anggun dan lemah lembut.
"Terus, apa alasan kamu pindah?" tanya Nana masih penasaran.
"Apa ya Bun, banyak alasan Bun." Mutia tersenyum melihat antusias Nana.
"Kak Rifa, kakak Mutia pindah ke sini karena suaminya di mutasi ke kota ini, terus kak Rouf kakak sepersusuan Mutia juga tinggal di sini karena dia dimutasi ke kantor yang ada di kota ini. Waktu mutasi mereka hampir bersamaan hanya jeda sekitar dua pekan. Selain itu ayah sudah semakin tua, gak mungkin aku membiarkan ayah setiap akhir pekan nganterin adik lelakiku ke Jakarta. Karena entah kenapa adik lelakiku itu sangat lengket denganku." Senyum indah Mutia terbit dengan sendirinya saat mengucapkan kata adik.
"Hanya itu alasannya?" tanya Nana dengan penasaran, sesekali dia menggerakan matanya.
"Terus, bagaimana bisa kamu ngajar di sekolah Arsa dan dekat dengan Arsa?"
"Aku dapat rekomendasi dari sekolah yang ada di Jakarta. Kalau masalah dekat aku kurang tahu, Bun. Terjadi begitu saja." Mutia tersenyum mengingat saat Arsa begitu memusuhinya karena dia benci pelajaran matematika. Namun siapa sangka, dalam waktu dua pekan persepsi Arsa berubah dengan cepat bahkan dia juga mempengaruhi teman-temannya.
"Terus kamu udah nikah? Sebenarnya Bunda sudah tahu dari para ibu-ibu. Tapi bunda ingin memastikan saja."
"Bagaimana mau nikah Bun, kalau semua calonnya pada lari." Mutia berkata dengan santai, melupakan keberadaan Abi yang ada di sekitarnya.
"Maksudnya?"
"Penjaga Mutia itu posesif, Bun." Mutia tersenyum saat bayangan Ayah, Fahri, Rouf dan Dilan bergantian dia ingat. Pasti pada heran kenapa ada bayangan Dilan. Ya Dilan, sang senior tengil itu selalu mengacaukan semua acara perjodohan yang dibuat teman Mutia. Dia selalu menggunakan cara yang menurut Mutia terselubung namum ketara.
"Terus kapan kamu mau nikah?" pertanyaan Abi bak sebuah pisau belati yang menancap di dadanya.
Entah kenapa, padahal itu pertanyaan yang sering dia terima. Namun, rasanya berbeda sekali jika yang menanyakan adalah dia.
Mutia tersadar, kemudian mengucapkan istighfar dan menutup seluruh tubuhnya dengan dengan selimut. Dia berharap rasa kantuk segera datang dan menghapus segala ingatan itu. Sebelum dia terlena dan kembali terbuai dengan ingatan yang terpampang di dalan bayangan.
Apa yang diingikan Mutia terkabul, setelah membaca tasbih dia terlelap dalam belaian sang mimpi.
-----------
Apa yang kita lihat dan kita dengar itu membekas dalam ingatan. Namun apa yang kita rasakan dan kita alami itu tumbuh dan berakar dalam pikiran. (Kru Kepo)
-----------
Tidur Mutia malam ini benar-benar tidak lelap, dia gelisah tak tahu apa penyebabnya. Yang dia yang dia tahu dan dia rasa adalah perasaan tak nyaman.
Dia menoleh ke arah jam yang ada di dinding, samar-samar dia dapat melihat karena kamar dalam keadaan remang-remang hanya dibantu sorot lampu dari luar.
Mutia menyalakan lampu kemudian dia duduk di kursinya, dia membuka korden kemudian mengintip ke luar. Dia menatap ke langit yang ditaburi berjuta bintang, dia tersenyum tipis melihat sang rembulan.
Mutia merasa haus, dia melihat ke arah mejanya dan mendapati gelasnya kosong. Dia menghela napas kemudian meraih gelas dan beranjak menuju pintu keluar.
Mutia melepas alas kakinya dan merasakan dingin menyergap merayap melalui aliran darahnya. Dia membuka pintu dengan pelan, sebelumnya dia sudah mengenakan jilbab yang biasa dia gunakan saat di rumah.
__ADS_1
Dia melangkah pelan supaya tak mengusik istirahat anggota keluarga lainnya, dia menuruni tangga dengan pelan-pelan. Di tengah tangga dia merasa heran saat di ruang keluarga masih ada cahaya yang bersumber dari layar televisi. Dia yakin masih ada orang yang tengah nonton tv.
Dia berjalan menuju meja makan dan bergegas menuangkan air, dia duduk berjongkok seraya menuntaskan rasa keringnya tenggorokan yang membutuhkan aliran air untuk menyembuhkan dahaga.
Setelah menyelesaikan minumnya, dia samar-samar mendengar sebuah suara. Dia beranjak dan berjalan pelan ke arah ruang keluarga. Dia diam beberapa langkah dari pintu menuju ruang keluarga kala mendengar perdebatan itu.
"Aku sudah katakan, jangan bermain dengan pernikahan."
"Aku tidak bermain, aku hanya mencoba mencari solusi untuk Mutia."
"Mutia tidak memiliki masalah yang harus di pecahkan. Dia baik-baik saja. Putriku baik-baik saja."
"Di usianya saat ini dia sudah matang untuk menikah. Apa kamu tak sedih jika mendengar kata orang."
"Aku tidak perduli kata otang, bagiku putriku tetap putri ku apa yang baik baginya adalah seperti ini."
"Kenapa kamu keras kepala, dia harus segera menikah sebelum dia tak laku."
"Kamu tahu bukan keputusan ku, aku tidak akan menikahkan putriku dengan sembarangan orang. Putriku harus mendapatkan yang lebih baik dari calon-calon yang selama ini kamu kenalkan. Dan kamu juga jelas tahu bahwa aku sudah mengambil keputusan untuk putriku."
"Dia putriku juga sekarang, Mas. Aku juga sama ingin yang lebih baik untuknya, tapi tak ada salahnya kita mencoba tak menunggu yang belum pasti."
"Sudahlah, keputusan ku sudah bulat."
Mutia terpaku, dia seolah dimasukkan ke sebuah dimensi kehidupan di dunia lain. Dia bak melihat sebuah tayangan video yang diputar di depannya.
Di mana sesosok gadis kecil terdiam terpaku melihat orang tuanya bertengkar.
Ada sesosok gadis kecil dipeluk sang kakak saat ayah dan ibunya saling cek-cok.
Ada seorang gadis kecil yang menangis, saat ayah dan ibunya membuat rumahnya berantakan.
Ada seorang gadis kecil yang tengah dipeluk sang ayah saat sang ibu melempar beberapa barang di dekatnya.
Ada seorang gadis kecil menunduk dipojokan menangis histeris saat sang ayah menggeret kopernya keluar kamar.
Gadis malang itu adalah Mutia. Gadis kecil itu kini tumbuh dewasa. Gadis kecil itu tak lagi menangis. Dan gadis kecil itu kini terdiam terpaku.
Ayah Mutia mematung saat hendak ke kamarnya, dia melihat Mutia hanya diam dengan mata fokus ke depan tapi tatapan hampa, kosong.
Dia baru menyadari jika putrinya itu mendengar semuanya, ayah Mutia berjalan mendekati sang anak yang nampak tak bernyawa.
"Sayang," panggil sang ayah pelan. Namun Mutia masih diam terpaku, dia masih belum keluar dari dimensi lain yang sudah menarik jiwanya.
"Mutia," panggil sang ayah sambil menepuk pelan bahu sang anak.
"Ayah," Mutia langsung memeluk sang ayah dan menangis histeris, sang ayah memeluk tak kalah erat sambil menghujani kecupan di puncak kepala sang anak. Ada rasa bersalah merambati hat dan pikiran Dhimas. Di sadar hal yang dulu pernah terjadi membuat putrinya tersakiti. Dia menyesal dan sungguh menyesal.
"Jangan lagi ayah, jangan lagi." Mutia merancau membuat rasa bersalah sang ayah merayapi tubuhnya.
"Ini bukan pertengkaran, Sayang. Kami hanya berdiskusi." Mutia menggelengkan kepalanya. Akankah dia percaya jika diskusi dilakukan dengan suara lantang bak orasi? Tidak, Mutia bukan anak kecil yang bisa dibohongi.
"Iya, Mutia. Lihat kami baik-baik saja." Sang mama ambil suara saat melihat raut wajah ketakutan di mimik Mutia.
"Jangan tinggalkan kami, jangan." Mutia melepas pelukan sang ayah kemudian memeluk kaki sang mama.
Lia, mama Mutia berjongkok dan meluk erat anak gadisnya. Dia kini menyadari apa yang menjadi pertimbangan suaminya. Ternyata Mutia memiliki tekanan batin tersendiri dengan kata bernama pernikahan. Anak gadisnya memiliki sebuah ketakutan akan kata perpisahan. Rasa iba merambati dadanya, dia sadar perpisahan Dhimas dengan ibu Mutia memberi bekas yang sangat tajam hingga seorang Mutia yang tegar saja masih terpuruk dalam bayang-bayang.
Dia membelai lembut punggung Mutia, kemudian mengurai pelukan dan menghapus jejak air mata di pipi Mutia.
"Lihat mama, jangan berpikir mama akan meninggalkan kalian. Itu tidak akan terjadi. Meskipun mama diusir sekalipun, mama akan tetap di sini." Mutia kembali memeluk sang mama dengan erat dan berguman akan sebuah janji. Dia berharap sang mama menepati janjinya.
"Kamu mau tidur dengan Mama?" tanya Lia mereka duduk di ruang makan. Setelah menuntaskan drama kehidupan.
"Apa boleh?" tanya Mutia menoleh ke arah sang ayah. Sang ayah tersenyum miring sambil menaikan satu alisnya, melihat wajah sang putri dia mengangguk.
Mutia tetaplah putri jagoan bagi keluarganya, seberapapun dewasa dia, tetap saja ada sisi manja yang perlu dia isi.
"Baiklah, malam ini kita akan tidur bertiga. Sebelum Mamamu akan ke Magelang selama sepekan." Sang ayah, Dhimas berkata seraya meminum air putih di tangannya.
"Kayak ayah gak pergi-pergi aja," sahut Mutia mewakili sang mama.
"Kan ayah hanya tiga hari, sedang mamamu," kata sang ayah seraya melirik sang mama.
Kemudian malam itupun mereka habiskan dengan saling menyindir, mengejek dan tertawa bersama.
__ADS_1
----------------