
Air beriak tanda tak dalam.
Terimakasih sudah memberi.
Meski tak bisa aku terima dengan hati.
Meski aku juga tak mampu memahami.
-------------------
"Mirza, gue pinjam teman lo," kata kak Dilan nunjuk ke arahku. Dan karena aku gak menyadari apapun aku langsung menengok ke belakangku ada siapa, soalnya aku yakin yang dia maksud bukan diriku. Namun anehnya aku merasa tanganku ditarik paksa, meski tidak sakit tapi membuatku cukup terkejut dan tersangkanya adalah Abi.
What???????
Ada apa ini, mengapa Abi menarik ku dan kini dia mendudukan diriku di kursi sporter kelas XII-IPA2.
"Jangan biarkan dia berpindah," kata Abi kepada kak Sisi, cewek yang pernah menduga bahwa aku adalah adik sepupu Abi. Sedangkan senior itu hanya bergumam dan tersenyum penuh arti.
"Tapi kan--" kata-kata yang akan aku lontarkan tertelan kembali saat melihat sorot tajam dari kak Dilan dan Abi, apa yang terjadi dengan dua sahabat ini sungguh mengherankan dan mengerikan, membuatku mengurungkan niat protesku.
Saat mereka sudah memasuki lapangan aku merasa kak Sisi menepuk bahuku,
"Lo bakal aman di sini." Aku mengerutkan dahiku, aku bingung dan benar-benar bingung dengan segala yang terjadi. Aman? Emang aku bakal celaka gitu kalau aku gak di sini. Aneh, dan ini sungguh mengherankan bin aneh.
Aku mendesah pasrah, mungkin memang harus seperti ini takdirku, duduk terdampar di antara kakak senior yang memandangku dengan senyum yang ramah namun penuh arti. Mengapa dengan diriku? Adakah yang salah? Atau mereka yang aneh?
"Kak, aku ke sana ya gak enak sama anak-anak. Aku seperti penghianat saja, temannya main malah duduk di bangku sporter lawan."
"Sorry Mut, tapi lo harus duduk di sini. Gue gak mau Abi marah gara-gara gue nentang permintaannya."
"Entar biar aku deh yang ngomong," kataku memelas, aku sudah tidak konsen dengan permainan. Masa bodo mau menang atau kalah.
"Gue gak berani," kata kak Sisi dengan tegas ditengah hiruk pikuk suara teriakan sporter.
Saat aku memandang ke arah lapangan ternyata kak Dilan tengah mencetak tripoint, pantas saja rame banget.
Aku memandang ke arah Mirza, dia seolah-olah bicara dalam pandangannya, dia memberi kode kepadaku, aku sudah cukup mengenal Mirza jadi aku paham arti tatapan itu tapi yang tak aku mengerti dia menyuruh diriku ngapain.
Aku mandang ke arah papan point dan aku begitu terkejut, bagaimana bisa belum juga seperempat permainan point sudah 6 : 47.
Aku memandang ke arah kak Dilan yang kini tengah tersenyum ke arahku. Permainan macam apa ini, ini bisa mempermalukan kelasku. Aku memandang ke Abi yang tengah menyusun strategi saat break sebentar.
Aku merasa handphoneku bergetar,
X-5 Mirza
Lo ngapain masih di situ?
Lo bisa diamuk anak-anak entar.
Aku gak tahu Za, mereka menahanku di sini.
Sent
X-5 Mirza
Okey deh gue jelasin ke anak-anak.
Thanks ya, tapi ini aku juga mau pulang aja. Mendung
Sent
X-5 Mirza
Ya. Hati-hati
Aku hanya membaca pesan dari Mirza dan memandang ke arah Abi, ternyata dia keluar dari lapangan dan mendekat ke arahku.
"Thanks udah jagain dia," kata Abi ke kak Sisi, membuatku mengerut. Aku melihat kak Dilan mendekat.
"Bi, bilang juga sama Hasan, entar dia bingung nyariin lo lagi," kata kak Dilan tanpa memandang ke arah Abi, karena dia malah memandangku dengan sorot geli, hal yang tak pernah dia tunjukkan kepadaku. Aku melotot tidak suka ke arahnya seolah berkata, "ngapain lihat-lihat?"
"Lo aja yang kasih tahu," kata Abi sambil memasukan handuk kecil ke tasnya dan mengeluarkan jaket.
"Oke deh," kata kak Dilan sambil lari ke lapangan karena terdengar peluit tanda permainan akan segera dimulai.
"Lo mau tetap duduk di sini atau gabung sama temen-temen kelas lo?" tanya Abi kepadaku dan membuka telapak tangannya, aku dengan suka rela memberikan benda yang aku pegang ke tangannya.
"Memang boleh?" tanyaku antusias. Dia hanya mengangguk dan berjalan lebih dulu ke arah tempat duduk sporter kelasku.
Aku hanya berpikir apa yang dia lakukan, mengapa dia ikut duduk denganku?
Aku duduk di bagian belakang, dipaling ujung tidak begitu ujung sih masih ada Abi di samping kiriku.
"Lo ngapain tadi duduk di sana?" tanya Zahwa yang ternyata duduk di sebelah kananku.
"Tadi ada perlu," jawabku pelan takut Abi dengar.
"Ow, terus kenapa kak Abi ngikutin lo?" tanyanya sambil melirik ke Abi yang tengah memainkan ponsel. Tunggu dulu, ponsel? What???? Itu ponselku, bagaimana bisa Abi membawanya.
Aku merasa sikutan dari Zahwa, aku lupa menjawab pertanyaannya,
"Aku gak tahu Wa," jawabku jujur. Dan saat Zahwa hendak bertanya lagi sudah lebih dulu dihardik oleh Shinta. Supaya Zahwa tidak kepo dengan urusan orang lain dan kini aku bisa tenang dari introgasi Zahwa.
Aku menghembuskan napas, aku merasa bosan dengan pertandingan kali ini, entah kemana perginya semangat yang biasanya ada di dadaku saat menonton pertandingan olahraga.
Aku melirik ke Abi yamg masih asik memainkan handphoneku.
"Kenapa, bosen?" tanya Abi tanpa mengalihkan perhatiannya dari ponsel. Aku hanya mengangguk, tidak perduli dia melihat atau tidak, sepertinya dia tidak melihat karena dia masih tetap fokus ke layar.
Aku berpikir, apa yang dilakukan Abi dengan ponselku, perasaan aku tidak memiliki game di sana karena aku memang tidak suka bermain game di ponsel. Ah, mungkin game bawaan ponsel pikirku. Aku memang gak suka main game di ponsel tapi bukan berarti aku tidak menyukai game, aku suka dan kadang memainkannya juga tapi di laptop.
"Bagaimana bisa ponselku di tanganmu?'' tanyaku.
"Kan tadi kamu yang kasih."
"Benar kah?" tanyaku heran, jika memang demikian kenapa aku tidak menyadarinya. Saat aku hendak bertanya lagi aku melihat Madina dan Erly berdiri di samping Abi. Dan mereka berdua memandang heran ke arah kami berdua.
"Kok kak Abi di sini?" tanya Madina, membuat Abi mengangkat wajahnya. Hebat, aku bicara dari tadi dia tetap fokus ke arah layar ponsel, giliran yang lain yang ngajak bicara langsung ninggalin layar ponsel. Ah kenapa aku jadi berpikir bahwa aku ini seperti kekasih yang diacuhkan pasangannya.
"Iya, kenapa?"
"Gak papa sih, aneh aja. Kok kak Abi gak main?"
"Tadi udah."
"Mut, lo kok ambil duduk di belakang sih?" tanya Erly,
"Di depan udah penuh," jawabku sambil senyum.
"Iya juga sih," jawab Erly pelan dan nampak kecewa.
"Bukannya tadi lo datang awal ya Mut, kok dapat duduk di belakang?" kini giliran Madina yang bertanya.
"Tadi udah duduk di depan, tapi aku ditarik pergi sama seseorang dan saat aku kembali tempat duduk udah ditempati." Mereka hanya mengagguk.
"Kalian mau duduk?" tanya Abi kepada mereka berdua.
"Udah gak ada tempat kak," jawab Erly. Tiba-tiba Abi menarik tanganku dan membawaku berdiri.
__ADS_1
"Kalian duduk di sini, aku ada perlu," katanya dan berjalan meningalkan dua temanku yang memandangku heran.
Abi sudah melepas tangannya dan berjalan di depanku, jika kalian bertanya mengapa aku tetap mengikutinya, itu semua karena ponselku yang masih dia bawa.
"Pakai ini," kata Abi sambil menyodorkan helm berwarna hitam.
"Kenapa aku harus memakai helm? Yang ada perlu kan kamu jadi berikan ponselku dan silahkan menyelesaikan masalah kamu."
"Jangan banyak tanya, ambil dan pakai." Dia memakai helm serupa dengan helm yang dia berikan kepadaku. Mau tidak mau aku menuruti perintahnya.
-----------Happy Reading----------
Rindu di dalam jiwaku masih menghiasi malam purnama penuh gemilang.
Mengecup kebisuhan dan membungkam hati dengan sejuta pertanya, tanpa ada sebuah jawaban ditemukan.
Mengapa kamu masih termenung dalam diam?
--------------------------
Aku berdiri di balkon kamarku sambil memandang ke arah langit, entah mengapa pikiranku melayang, mengingat kejadian tadi sore. Saat senyum yang nampak tercetak di bibir kak Dilan. Apa yang terjadi dengannya. Mengapa dia tersenyum kepadaku? Bukankah ini hal langka?
Aku melihat ponselku menyala, ada notifikasi dari whatsapp,
Mirza
Kekalahan bukan segalanya, yang terpenting kekompakan dan usaha.
Idris
Gue bangga jadi anak X-5
Erly
Thank you guys usahanya.
Tiara
Semangat dan kompak selalu
Idris
Ciye nyai kasih semangat!
Madina
Gue kok heran ya?
Erly
Kenapa?
Mirza
Kenapa? (2)
Liana
Kenapa? (999+)
Irfan
Kenapa? (18+)
Tiara
Apaan tu si Irpan.
Erly
Madina
Sama si Mutia.
Erly
Kenapa sama Mutia?
Mirza
Kenapa dengan mutia
Liana
Kenapa dengan mutia
Irfan
Kenapa?
Woe, banyak banget yang cuman read
Madina
Kok bisa sama kak Abi.
Irfan
Owh, tadi kak Dilan yang meminta.
Madina
Japri pan.
Tiara
Ciye PCan sama ipan
Irfan
Kenapa cemburu?
Tiara
Week pingin mutah gue
Irfan
Belum gue apa-apain kok dah mutah aja sih lo.
Erly
Najis banget sih kalian.
Aku menutup aplikasi whatsapp, aku jadi keingat Abi tadi sore.
"Kita mau kemana?" tanyaku kepada Abi yang melajukan motornya keluar gerbang sekolah.
"Pulang."
__ADS_1
Aku hanya diam sepanjang jalan, dan aku tidak memberitahu alamat rumahku, jika kalian berpikir Abi menggunakan motor sport seperti di sinetron-sinetron kalian salah, dia mengendarai motor bebek dari merek yang lumayan terkenallah.
"Gak mau turun?"
"He?"
"Udah sampai." Abi membuka kaca helmnya dan memandang ke spion. Aku tergagap sejenak dan memandang ke kiri, ternyata rumahku sudah ada di depan mata, buru-buru aku turun dan membenarkan jilbabku yang kusut karena aku melepas helm.
Aku masih terdiam, aku heran dari mana dia mengetahui alamat rumahku.
"Sebuah ikatan itu yang membuat sesuatu sulit terpisahkan."
"Eh, maksudnya?" tanyaku heran.
"Sudah masuklah," katanya menyalakan motornya kembali. Sebelum motor berjalan aku menyodorkan helm yang aku pakai dan mengucapkan terimakasih.
"Sama-sama, helmnya kamu aja yang pegang." Abi menjalankan motornya meninggalkan diriku yang masih bingung. Selang beberapa saat aku melihat dia balik lagi. Apa dia berubah pikiran mau mengambil helmnya?
Ternyata salah teman-teman, dia balik lagi hanya memberikan ponselku dan tanpa bilang apapun dia pergi begitu saja.
"Apa sebenarnya maksud dengan semua ini?" aku bertanya pada diriku sendiri, sebab tidak ada siapapun di sini.
Mungkin aku harus menyiapkan beberapa jawaban untuk besok, aku yakin anak-anak pasti akan mengitrogasi diriku.
Aku masuk ke dalam kamar, dan aku melihat paperbag berwarna ungu, aku tahu apa yang ada di dalamnya, karena aku yang memasukkan barang itu ke dalamnya.
Aku masih bingung dengan segala teka-teki ini.
----------Happy Reading-----------
Aku berdiri di depan gerbang rumahku dengan ragu, apa lagi saat melihat mobil yang kini tengah terparkir rapi,
"Masuklah," sebuah suara yang nampak begitu datar.
"Kak Dilan?"
Dia hanya mengangkat bahu acuh dan mendorong punggungku masuk ke dalam mobil. Aku masih termenung dan mencerna apa yang sebenarnya telah terjadi. Mengapa orang ini bisa bersikap seperti ini kepadanya. Dan apa yang dilakukan orang ini? Menjemput dirinya?
''Ada apa wajah aneh itu?'' tanya kak Dilan tanpa mengalihkan pandangan dari handpone miliknya.
Aku menggelengkan kepala dan aku melihat kak Dilan terkekeh geli, ada apa dengan senior satu ini apa dia salah makan sehingga bersikap seperti saat ini.
Tanpa terasa perjalanan menuju sekolah begitu cepat terlewatkan,
"Aku turun di dekat halte saja Kak," kataku saat memasuki gang menuju sekolah.
"Mengapa?" tanya kak Dilan heran, aku hanya menggelengkan kepalaku. Dan aku merasa mobil berhenti, saat aku turun dan mengucapkan terimakasih kak Dilan juga mengikuti diriku turun.
"Mengapa kakak mengikutiku?"
"Aku tidak mengikutimu, apa kamu sudah pikun, bukankah sekolah kita sama?" Dia berkata dengan cuek.
"Bukan itu yang aku maksud," kataku jengkel, bukan karena aku tidak sopan atau kurang ajar namun entah mengapa melihat ekspresi wajah datarnya membuat emosiku naik. Dia hanya mengedikkan bahu dan tetap berjalan dengan santai dan angkuhnya.
"Assalamualaikum," kata kak Dilan tiba-tiba.
"Waalaikumsalam," jawab suara itu, dari mana asalnya? Mengapa aku tidak menyadari kehadirannya. Apa sebegitu berpengaruhnya keberadaan kak Dilan hingga membuat tak melihat sosok cowok tinggi itu di depan mata. Ya Allah sepertinya diriku benar-benar perlu diperiksakan.
"Mengapa lo jalan?" tanya Abi kepada kak Dilan.
"Ngikutin kemauan," kata kak Dilan menunjuk ke arahku.
"Kemauanku?" tanyaku heran dan masih mencerna perkataan senior judes itu.
"Aku gak nyuruh Kakak ya, aku cuman bilang mau turun di halte, gak minta Kakak ikutan turun." Aku berkata dengan nada agak naik, karena aku tidak terima dengan tuduhan itu. Entahlah emosi ini mudah sekali naik tiap kali ngomong sama cowok songong bin gak mau ngalah satu ini.
"Pagi-pagi udah galak aja," kata Abi dengan geli, aku tahu dia menyembunyikan tawanya.
"Kalau mau ketawa mah gak perlu ditahan." Dua cowok di depanku langsung membuang muka.
"Dasar," kataku pelan dan melanjutkan jalan.
"Kamu tu Bi suka sekali goda anak gadis orang," keluh lembut suara seorang perempuan, membuatku langsung membelakakkan mata saat melihat ibu Abi ada di samping Abi. Dari mana aku mengenal ibu Abi itu sederhana, karena aku sering melihat dia diantar jemput.
"Gemes sih Bun," jawab Abi dengan nada santainya.
"Lihat aja wajah horornya saat lihat Bunda," kata kak Dilan dengan geli. Sedang aku hanya bisa menggerutu gak jelas. Dan alanglah kagetnya aku, saat tiba-tiba ibu kak Abi turun dari motornya dan menghampiriku.
"Selamat pagi," sapanya lembut dengan senyum hangat.
"Selamat pagi tante," kataku sambil tersenyum malu.
"Jangan diambil hati ya perkataan Abi, maklum dia kesepian gak ada yang digoda." Ibu Abi berkata dengan halus-keibuan. Ah jadi kangen sama ibu.
"Iya tante, saya bisa mengerti."
"Oh ya, panggil saja bunda, sama seperti mereka."
"Hah?" aku melongo, beliau begitu cantik dan mempesona dengan segala gerak-geriknya. Ibu Abi tersenyum dan berpamitan. Aku hanya bisa menganggukan kepalaku tanda mengerti.
Kemudian kami melangkah memasuki gerbang sekolah,
"Heh," panggil kak Dilan berulang-upang namun aku acuhkan.
"Heh, dipanggil juga," kata kak Dilan menarik jilbab belakangku.
"Aku punya nama dan namaku bukan 'heh'," jawabku sambil melepas tangan kak Dilan.
"Ada Hasan di atas," kata kak Dilan pelan, "jangan menengok dodol." Sambungnya lagi saat aku hendak mendongak ke atas.
"Terus kenapa?" tanyaku heran.
"Kamu tu ya, gak peka banget."
"Apa lagi coba salahku," kataku gak terima dan aku menyadari sesuatu, kemana perginya Abi?
"Kenapa? Nyari Abi?" tanya kak Dilan menggoda dan dengan polosnya aku mengangguk.
"Dia udah jalan duluan, jauhi Abi itu lebih baik."
"Wee, kak apa maksudnya?" tanyaku setelah sadar dari pikiranku sendiri, dan aku melihat kak Dilan hanya melambaikan tangannya acuh.
"Jauhi Abi itu lebih baik."
"Jauhi Abi itu lebih baik."
"Jauhi Abi itu lebih baik."
"Jauhi Abi itu lebih baik."
"Jauhi Abi itu lebih baik."
Kalimat itu begitu menggema di dalam pikiranku. Apa yang sebenarnya terjadi?
Aku tidak mengerti, mengapa kak Dilan tiba-tiba berkata seperti itu, aku tidak pernah mencoba mendekati Abi, akan tetapi tidak dipungkiri bahwa aku merasa ada sedikit dorongan untuk mendekatinya.
Aku selalu berada di zona aman selama ini, selalu berjalan dengan mengikuti garis yang ditentukan. Bukanlah tidak ada salahnya jika aku mengambil jalanku sendiri?
Aku berjalan menuju ke kelas, dan di depan perpustakaan ada Abi, kak Bagas, Mira dan Madina sedang ngobrol, apa yang harus aku lakukan? Menyapakah atau tetap berjalan pura-pura tidak melihat. Aku masih berdiri, bingung dengan semua yang terjadi. Mira, aku jadi ingat bahwa temanku itu menyukai kak Hasan. Apa sebaiknya aku comblangin aja ya sama kak Hasan?
__ADS_1
Aku merasa ada seseorang yang tiba-tiba menarik tanganku, karena kaget aku hanya diam dan mengikuti langkah kakinya.
••••••••••••