Berawal Dari Abu-abu

Berawal Dari Abu-abu
Kunci, Kartu Peserta PSB


__ADS_3

Ketika sang raja siang mulai menampak pancaran kekuatannya, maka hal itu sudah menjadi pertanda bahwa waktu sudah menunjukan bahwa siang telah datang. Dengan senyum mengembang seorang gadis berjilbab tipis berjalan memasuki gerbang sebuah sekolah yang nampak sederhana di depan, jangan menilai dari depan sebaiknya mari kita masuk ke dalam supaya mengetahui sesederhana apa sekolah itu.


Syarifa Mutia


Aku tersenyum menyapa seorang paruh baya yang sedang duduk di posnya,


"Assalamualaikum pak satpam," sapaku dengan riang dan memamerkan senyum manis kebanggaanku.


"Waalaikumsalam, cah ayu. Ada yang bisa dibantu?" tanya satpam yang memiliki nama Rahmad.


"Saya mau daftar pak, kira-kira dimana ruang PSB?"


"Wow, ini lurus terus belok kanan, di dekat laboratorium bahasa." Bapak ini begitu ramah menjawabnya membuat aku dengan mudah menyukainya, aku berjanji akan mudah akrab dan bersahabat dengan beliau nanti jika aku diterima di sekolah ini.


"Terima kasih pak, oh ya kenalin pak saya Mutia." Aku mengulurkan tanganku dan disambut ramah oleh beliau dengan menyebut nama beliau yang sudah aku ketahui dari papan nama yang terpasang di baju dinas beliau. Setelah sedikit berbasa-basi aku berpamitan dan melangkahkan kakiku menuju ruangan yang dituntukkan oleh pak Rahmad.


Saat aku di depan laboratorium bahasa aku melihat sebuah ruangan yang nampak ramai dibanding yang lainnya, dan ada sebuah papan bertulisan 'ruang pendaftaran' kemudian akupun ikut mengantri untuk masuk keruangan itu.


Setelah menunggu cukup lama, aku pun tiba di waktu dan tempat yang aku harapkan yaitu di depan seorang lelaki yang usianya tidak jauh dari usiaku, ya ini hanya penilaian secara fisik saja dariku.


"Mana berkas pendaftarannya?" tanya cowok bernama Hasan. Dari mana aku tahu? aku membaca di kertas yang dia kalungkan dengan pita yang menggantung indah di lehernya. Nama lengkapnya Muh. Nur Hasan, panggilannya Hasan.


"Ini kak," kataku sambil memberikan map yang sedari tadi aku peluk. Wah, map itu pasti terasa hangat, karena sudah aku hangatkan dengan pelukanku. Aku hanya geleng-geleng kepala dengan pemikiranku barusan, dasar mesum batinku.


Saat aku kembali fokus ke arah cowok itu, ternyata dia juga tengah memandangku dengan bibir tersenyum geli, membuatku malu dan ingin menenggelamkan wajah cantikku ke sumber telaga kaustar yang ada di surga. Karena merasa salah tingkah aku pun segera memandang diriku dari bawah dan aku merasa tidak ada yang salah.


"Ada apa kak?" tanyaku membuat dia sadar dan kembali membaca berkasku, meski bisa aku tebak bahwa cowok yang ada di depanku ini pasti tidak fokus dengan apa yang dia baca.


"Baiklah, berkas sudah completed. Tolong isi data ini," kata Hasan dengan tenang. Waw, ternyata cowok di depanku ini memiliki pengendalian diri yang baik, cukup membuatku terpesona. Setelah mengisi data aku diberi selembar kertas yang sudah dipasang fotoku dan ada ke terang nama dan nomor ruangan di dalamnya.


"Ini kunci untuk mengikuti tes tulis, jadi jangan sampai hilang. Kamu bisa melihat denah kelas di papan depan." Cowok itu menjelaskan dengan tenang, kemudian aku hanya menganggukan kepala dan tak lupa mengucapkan terimakasih dan mulai beranjak. Belum sampai aku melangkah, baru membalikkan tubuh aku kembali berbalik karena merasa ada yang memanggil. "Mutia."


"Iya kak," jawabku pelan dan heran.


"Semoga berhasil," kata cowok itu dengan senyum indah tercetak di bibirnya, membuat kadar ketampanan meningkat seketika, membuat sosok berwibawa tambah mempesona. Karena aku terkena virus yang namanya terpesona, aku hanya bisa menganggukan kepala dan segera melangkah keluar, sebelum aku mempermalukan diriku dengan bertingkah yang tidak semestinya.


Aku melangkah menuju papan pengumuman yang nampak begitu ramai, saling berdesakan dan saling mendorong, hingga aku yang berjarak lumayan jauh saja menjadi korban, aku tidak tahu apa yang terjadi yang ku tahu tiba-tiba seorang cowok yang memakai seragam biru putih sepertiku tiba-tiba berjalan mundur dan menabrakku, hingga membuatku terpental ke belakang, aku berpikir akan menikmati duduk di atas paving yang keras dan mungkin ada beberapa batu menghiasi. Namun dugaanku salah, karena aku merasa ada tangan yang menopang tubuhku sehingga aku tidak bersentuhan dengan paving. Aku merasa ada sesuatu yang terlepas dari genggamanku.


"Hati-hati," kata seseorang yang menyangga tubuhku, aku salah tingkah dan langsung berdiri, namun belum sempat aku mengucapkan apapun cowok berpostur tinggi itu sudah berjalan meninggalkanku, bau yang khas nampak berbeda dengan bau yang pernah masuk kedalam indera penciumanku. Baunya segar  tidak menusuk rongga hidung atau membuatku mual. Ya aku memiliki sedikit alergi dengan bau harum, entahlah jika mencium bau harum bawaannya mual dan pusing namun kali ini aku menyukainya, dan aku yakin jika bertemu kembali aku pasti bisa mengenalinya.


Kemudian aku memandang ke arah cowok yang menabrakku yang masih di posisinya yaitu duduk meringis di dekat pohon, karena merasa kasihan akupun mendekatinya dan mengulurkan tangan kearahnya untuk membantu dia berdiri.


"Maaf, gue gak sengaja," kata cowok itu sambil nyengir.


"Gak papa kok. Kamu gimana ada yang luka?" tanyaku pengamati tubuhnya, aku heran mengapa banyak sekali orang yang aku temui hari ini rata-rata memiliki tinggi di atasku. Aku yang pertumbuhannya lelet dan bermasalah atau mereka yang terlalu bersemangat untuk tumbuh.


"Gue gak papa kok. Oh ya, gue Mirza nama lo siapa?"


"Mutia," jawabku dan menjabat tangan yang sudah dia ulurkan di depanku.


"Lo teman pertama gue," kata Mirza dengan senyum manisnya.


"Kamu juga." Aku melepas jabat tangannya.


"Lo mau liat pengumuman?" tanyanya dan aku menganggukan kepala.


"Gak usah, terlalu berjubel."


"Tapi aku perlu tahu ruanganku."


"Ujiannya lusa hari Rabu. Dan untuk ruangan mungkin lo bisa lihat lusa aja, berangkat lebih awal gitu."

__ADS_1


"Rabu, ok thanks infonya. Kalau begitu aku pulang dulu, senang bisa kenalan sama kamu." Aku beranjak dari tempat itu tanpa mengucapkan salam, bukan karena aku tak tahu adab, akan tetapi kita harus mengenal lebih dahulu bukan lawan bicara kita, iya kalau dia Islam, kalau bukan apa mau dikata coba. Kalau gak Islam tapi tahu jawab salam gak jadi masalah, tapi kalau dia gak tahu jawabnya kan kasihan. Hehehe takutnya entar dia malu lagi.


Aku berjalan keluar gerbang dan saat sudah di luar aku teringat seseorang, saat aku memandang ke arah pos satpam aku tidak melihat sosok pak Rahmad, aku hanya melihat seorang cowok yang berdiri menghadap ke arah sekolah.


Cowok berpostur tubuh yang bagus, dia cocok jadi atlet. Hemm.... Aku tersenyum dengan pikiranku sendiri dan berjalan melangkah menuju halte bus. Sebaiknya aku pulang dan datang kembali ke tempat ini lusa.


————Happy Reading———


Sesuatu yang pertama itu selalu memberi kesan baik untuk beberapa kejadian yang akan terjadi kedepannya.


Dan pertemuan pertama adalah kesan pertama yang selalu mudah diingat.


————Happy Reading———


Jam menunjukkan pukul 06.15 ini bertanda aku memiliki waktu 5 menit lagi, aku sudah berseragam lengkap bahkan aku sudah menggunakan jilbab dan  sepatuku. Namun, ada satu hal yang membuatku kalang kabut 'kunci ujian' yang entah ada di mana?


Kunci ujian, kalian masih ingatkan bahwa aku diberi kunci ujian dalam bentuk kertas kecil, ini bukan kunci ujian yang ada dipikiran kalian. Kunci ujian yang aku maksud bukan jawaban dari tes yang akan aku jalani hari ini, akan tetapi sebuah kartu yang bisa membawaku masuk ke ruang ujian. Bukankah kak Hasan, cowok yang aku temui di ruang PSB memberikannya kepadaku dua hari yang lalu.


Argggh....


Bagaimana aku bisa lupa?


"Mutia...." teriak suara tegas terdengar dalam gendang telingaku, itu adalah suara ayahku.


"Iya yah, sebentar." Aku segera melangkah meninggalkan tempat tidurku yang sudah berubah menjadi kapal pecah karena barangku yang berserakan di mana-mana.


"Yah, lihat kartu peserta ujiankukah?" tanyaku lesu dan duduk di kursi dekat dapur.


"Mana Ayah tahu, kamu kan gak kasih liat ke Ayah waktu Ayah pingin lihat kemarin." Ayah menjawab dengan cuek.


"Ayolah Yah serius, aku benar-benar membutuhkannya hari ini. Janji deh setelah hari ini kartu itu aku kasih ke Ayah. Boleh Ayah miliki."


"Buat kenang-kenangan."


"Gak butuh," jawab ayah cuek,


"Ayolah Yah," bujukku lagi, kenapa aku membujuk ayahku, karena dia adalah orang yang memiliki tingkat keisengan yang hampir seimbang denganku, dia suka sekali menyembunyikan barang yang aku letakkan di tempat yang tidak semestinya. Aku sih yang teledor, tapi ayahku selalu menyembunyikannya bukannya membiarkan di tempat itu dan aku akan dengan mudah menemukannya jika aku ingat.


"Ayah gak lihat, dan Ayah gak tahu." Ayah bergabung duduk di kursi kebanggaannya, entah karena apa ayahku begitu menyukai duduk di kursi yang kini dia tepati. Pernah suatu ketika aku bertanya, mengapa ayah suka duduk di kursi itu? Beliau menjawab bahwa beliau merasa nyaman dan memudahkan berjalan menuju depan atau ke dapur karena kursinya segaris lurus dengan dapur dan ruang tamu.


Back to topic,


"Yah," panggilku pelan, menyaratkan akan kesedihan.


"Ujian pukul 8 dan sekarang pukul 6.30, jadi kamu bisa minta ke panitia dan menjelaskan bahwa kunci ujian kamu hilang."


"Jadi Ayah beneran gak tahu?" tanyaku penuh antusias dan mendesah kecewa saat melihat ayah menggelengkan kepala ke kanan dan ke kiri.


Aku hanya diam dan meminum susuku dalam diam, kemudian setelah selasai aku mengatungkan tanganku meminta uang jajan setelah mendapatkan apa yang aku inginkan, aku mencium pipi dan menjabat tangan ayahku dan berpamitan.


Pasti pada bingung ya, kenapa di rumah hanya ada aku dan ayah. Jangan berpikir aku tidak memiliki ibu atau ibuku sudah meninggal, karena aku masih memiliki orang tua yang lengkap, meski mereka tidak tinggal dalam satu rumah. Ya, aku bukan tepatnya adalah kami adalah anak dari orang tua yang sudah bercerai orang bilang broken home, karena aku memiliki seorang kakak perempuan yang saat ini tinggal bersama ibuku.


Jika menceritakan tentang keluargaku, akan membutuhkan waktu yang sangat panjang dan mungkin tak akan ada ujungnya. Jadi lebih baik kembali ke topik dan kegelisahanku karena kunci ujianku tidak ketemu. Tapi perlu aku pertegas meski aku dari keluarga yang tidak lengkap tapi aku tetap bersyukur dan tidak akan menuntut macam-macam dari ayah dan ibuku seperti yang ada di cerita ftv atau novel-novel. Karena aku beruntung memiliki mereka dan aku berpikir pasti ada hal baik dari setiap keputusan yang mereka ambil, meski aku tidak tahu apapun itu.


Aku mengembuskan napas berat saat membaca spanduk bertulis 'Selamat datang peserta ujian tulis masuk SMA 31 Kota' kegelisahan yang sudah aku coba sembunyikan kini melingkupi setiap langkahku kembali.


Dengan mengucap basmalah dan membenarkan jilbab putih yang aku pakai aku melangkah memasuki gerbang, nampak banyak orang menyambut kedatanganku dengan seragam bertulis 'panitia PSB' juga ada yang menggunakan almamater OSIS dan organisasi lainnya.


"Mutia," panggil seorang cewek memakai kemeja putih dan rok pensil di bawah lutut. Sepertinya dia adalah salah satu pengawas ujian, melihat dari pakaian rapinya. Tapi untuk apa dia memanggilku, aku hanya diam dan menilai di sekitarku siapa tahu ada orang lain dengan nama yang sama, namun tak ada satupun diantara mereka yang menunjukkan bahwa dia tengah dipanggil kecuali diriku.


Kemudian aku memandang ke arah cewek itu, yang kini tengah berpamitan kepada orang yang berdiri di sampingnya dan berjalan menuju tempatku berdiri.

__ADS_1


"Hai Mutia 'kan?" tanyanya meyakinkan, dan aku hanya menggerakkan kepalaku ke atas dan ke bawah sebagai jawabannya.


"Kamu saudaranya Abi-kan?" tanyanya lagi membuatku mengerutkan dahi karena merasa asing dengan nama yang disebutkan cewek di depanku ini. Sungguh, sepertinya aku tidak memiliki kosa kata nama itu dalam memoriku.


"Gak perlu takut dan khawatir, di sini gak ada sistem bully kok. Jadi meskipun kamu dekat dengan pangeran sekolah."


"Aku gagal paham deh Kak," kataku setelah cukup heran dengan semuanya.


"Gak perlu diumpetin identitasnya, ini tadi Abi nitipin buat lo." Katanya seraya memberikan kartu ujian yang membuatku kalang kabut sejak pagi. Kemudian dia beranjak pergi dan melambaikan tangan ke arahku setelah aku menerima kunciku.


Setelah tersadar dari keterkejutan aku pun hanya mampu menggumamkan ucapan terima kasih karena sosok itu sudah hilang dari pandangan mataku.


Aku melangkah menuju papan pengumuman yang ternyata sudah ramai, ah sial ternyata aku kalah cepat.


"Ruang 28 ada di koridor sebelah kanan dekat sanggar PMR." Sebuah suara dari samping kanan aku dengar, saat aku menoleh aku menemui sosok itu, cowok yang memeriksa berkas pendaftaran, namanya siapa ya? Aku lupa.


"Eh, iya terima kasih." Kataku kemudian hendak beranjak.


"Mutia," panggil cowok itu lagi,


"Iya kak," jawabku dan memandang ke arahnya yang tengah tersenyum.


"Aku menunggu kehadiranmu di MOS. Jadi kamu harus lulus tes."


"Aku anggap itu sebuah doa," kataku sambil nyengir.


"Semoga berhasil dan selamat berjuang."


"Terima kasih." Aku kembali berjalan meninggalkan cowok sok kenal itu tanpa menoleh kembali ke belakang.


Melihat keramahannya mungkin aku akan memasukkannya ke list teman kelak saat aku sudah memakai seragam sekolah ini. Ah, aku begitu optimis bahwa akan diterima di sekolah ini. Aku yakin karena kepandaian yang diwariskan oleh ayahku mampu membawaku masuk sekolah swasta yang menjadi favorit di kota ini.


'Abi' nama itu tiba-tiba terlintas saat aku melihat sosok bak malaikat yang berjalan di koridor seberang, cowok berpakaian rapi cocok sekali dia jadi pengusaha sukses, lihat masih SMA saja dia nampak berwibawa dan karismatik terlebih dia nampak ramah dengan sesama.


Abi, siapa Abi?


Bagaimana bisa kartu ini ditangannya?


Banyak pertanyaan bergelantungan di depan mataku, hingga tanpa aku sadari sosok yang aku amati tadi kini sudah berdiri di depanku dengan ekspresi tak terbaca dan melangkah berlawanan arah denganku.


Aneh,


Kata itulah yang aku gumamkan.


"Wow," seru seseorang menepuk bahuku,


"Mirza," panggilku dan dia memasang senyum riangnya.


"Ayo masuk, kita satu ruangan." Dia berjalan dan aku mengikuti langkahnya, dia berjalan menuju kaca dan melihat denah tempat duduk.


"Sayang sekali, kau duduk di nomor dua dari depan sedang aku ada dipojok kiri belakang."


"Oh ya," kataku dengan senyum dan menganggukan kepala.


"Padahal aku sangat membenci duduk di belakang," gerutunya sambil berjalan menuju tepat duduk, aku hanya tersenyum melihat tingkahnya.


Mirza, dia nampak seperti anak mami tapi dia baik, aku suka berteman dengannya. Kemudian tak lama tiga orang pengawas masuk dan sebagai mana mestinya mereka seolah menjadi guru yang mengawasi muridnya padahal aku tahu betul bahwa mereka adalah para senior.


Bismillah, ya Allah berikan yang terbaik untuk hambamu yang cantik ini.


————Thank You-———

__ADS_1


__ADS_2