
Dalam hidup ini,
Kita butuh kerikil supaya kita berjalan hati-hati.
Kita butuh semak belukar supaya kita mawas diri.
Kita butuh persimpangan supaya kita bijaksana dalam memilih jalan.
Dan kita butuh petunjuk arah supaya kita punya harapan dalam menentukan arah masa depan.
----------------
Mencoba memahami meski tak bisa ku pahami. Mencoba mengerti di tengah kegelisahan hati.
Aku melangkah memasuki gerbang, aku merasa ada yang salah dengan tubuhku, tapi aku acuhkan hal itu.
Hari ini adalah hari di mana akan dilaksanakan debat OSIS. Debat yang dilakukan untuk mengenal calon ketua OSIS.
Dan setiap kelas ada beberapa perwakilan saja, jadi bisa dipastikan bahwa hari ini pasti bebas jam belajar.
Selain itu hari ini adalah hari sabtu yang hanya ada dua mata pelajaran dan empat jam lainnya adalah pengembangan diri. Ya pengembangan diri adalah semacam kelas tambahan atau muatan lokal.
Ada musik, kriya tekstil, otomotif, sastra, lukis, dan boga. Dan jika anak yang tidak mengikuti pengembangan diri ada lelas tambahan yaitu laboratorium IPA, Labolatorium Komputer dan Labolatorium Bahasa.
Dan untuk hari ini akan ada kegiatan sampai jam 11, mulai dari debat OSIS, pemilihan dan perhitungan suara.
Aku merasa tubuhku amat letih, untuk naik ke lantai dua saja sepertinya aku tak mampu, aku melangkah pelan menuju ke atas tiba-tiba tubuhku terasa ringan. Aku hampir terjatuh jika tidak dipegangi dua tangan.
"Lo gak papa?" tanya dua orang itu bersamaan saat aku menoleh disebelah kananku ada Ryan dan di sebelah kiriku ada Marta. Aku langsung melepas tangan Ryan, dia pun sepertinya sadar dan langsung salah tingkah.
"Terimakasih, aku gak papa kok tadi cuman rasanya ringan banget tubuhku."
"Lo pucet banget Mut?" tanya Erly yang juga mau naik ke atas.
"Iya kah?" tanyaku balik dan disetujui oleh yang lainnya.
"Aku gak papa kok," jawabku, kemudian kami berjalan bersama.
"Lo beneran gak papa?" tanya Ryan lagi, meski dengan raut datar tapi ada nada perhatian di dalamnya.
"Gak papa kok."
"Entar kalau mau kemana-mana lo harus minta ditemenin ya, takutnya kenapa-napa." Kata Ryan lagi dengan perhatian, hingga dapat godaan dari yang lainnya.
"Ciye perhatian amat sih calon ketos kita yang satu ini. Ciye...." goda Erly membuat telinga Ryan memerah.
"Woe, dilarang kampanye," seru Dwi yang berlari mengikuti langkah kami.
"Sapa juga yang kampanye," sergah Ryan membuat Dwi terkekeh.
"Lo sakit Mut?" tanya Dwi saat melihatku. Aku hanya menggelengkan kepala sebagai jawabannya.
"Pucet banget," gumam Dwi. Kemudian Erly dan teman-teman-temannya pamit ke kelas saat sudah mencapai depan kelasku dan aku pun melangkah ke tempat duduk ku sambil menjabat tangan siswi yang aku temui.
Aku duduk dan memasukan tasku ke laci, setelah itu aku merasa kepalaku amat berat, jadi aku taruh kepalaku tengkurap di meja.
Aku berdiam diri, hingga tanpa terasa semuanya gelap dan aku tidak merasakan apa-apa. Biarlah aku terlelap sejenak, toh hari ini tidak ada pelajaran.
"Kenapa sama Mutia?" samar-samar aku dengar bertanya.
"Dia sepertinya sakit. Tadi mukanya pucat banget."
"Kok lo gak bawa ke UKS?"
"Dia mana mau, deket cowok aja dia jaga jarak."
"Mana Mutia?" tanya suara yang aku kenal. Itu suara Erly terdengar.
"Tu, dia masih meletakkan kepalanya di bangku."
"Mut, Mutia...." panggil lirih Erly, aku mendengarnya namun aku tak memiliki tenaga untuk mengeluarkan suara bahkan untuk meresponpun aku gak mampu.
"Gimana Er?" tanya Shinta ya itu suara Shinta.
"Lo minta surat izin aja, kebetulan tanteku ada di bawah. Aku akan minta beliau ngantar ke klinik kemudian pulang ke rumahnya."
"Tapi gak ada yang tahu rumahnya," kata Erly pelan.
"Nanti aku tanyain ke kak Abi."
"Memang dia tahu?"
__ADS_1
"Dia kan pernah ngantar pulang Er. Masak lo lupa." Aku sudah tak mendengar apapun yang ada dalam bayanganku hanya ada satu hal yaitu gelap dan aku tak mengingat apapun.
--------------------
Hidup terkadang menyuguhkan menu yang tidak kita sukai.
Tapi bersabarlah dalam menerima semua yang ada.
Karena segala hal sudah terencana dengan rapi nan indah di tangan Yang Maha Kuasa.
------------------------
Saat pikiranku kembali sinkron dan kembali berfungsi. Aku merasakan lemah dalam tubuhku, dan saat aku mencoba untuk memandang ke segala arah yang aku lihat hanya satu warna yaitu hitam karena gelap. Aku tahu penyebabnya, itu semua karena mataku masih tertutup.
Aku menyuruh otakku untuk memberi perintah membuka mata, dengan perlahan tapi pasti pelupuk mataku perlahan terbuka. Hal pertama yang aku lihat adalah langit-langit kamarku. Ah aku ternyata sudah berbaring di ranjang.
Bagaimana aku bisa ada di sini?
Karena seingatku aku tadi masih di dalam kelas. Aku mencoba menggerakkan tubuhku namun terasa lemah tak bertenaga dan tiba-tiba rasa sakit menyerang kepalaku.
"Kamu sudah sadar?" tanya seorang paruh baya yang nampak familiar di mataku.
"Mau minum?" tanya ibu itu sambil memberiku minum.
"Bunda tadi mengantarmu dengan Shinta," kata perempuan itu sambil tersenyum, dan senyum itu mengingatkanku pada seseorang.
"Lo udah sadar," suara Shinta terdengar dari depan pintu.
"Iya, terimakasih." Aku menjawab lirih.
"Tadi aku sudah minta bibi untuk menghubungi ayahmu."
"Maaf sudah merepotkan."
"Tidak apa-apa, mengapa menatap bunda seperti itu? Kamu lupa sama bunda?"
Aku menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis, tadi aku sempat lupa namun setelah melihat senyum dan kelembutan beliau aku ingat siapa dia.
Dia adalah ibu Abi.
Tapi, bagaimana bisa beliau ada di sini?
"Tadi dokter bilang kamu banyak tekanan, kecapean dan rehidrasi aja kok, gak ada yang parah." Shinta duduk di sebelah kiriku.
"Terimakasih Bun, aku jadi gak enak ngerepotin," kataku pelan.
"Kami gak kerepotan kok," jawab Bunda dengan senyum menenangkan, membuatku rindu dengan ibuku.
"Assalamualaikum," salam dari ayah yang ada di depan pintu dan setelah mendapat jawaban dari kami beliau melangkah mendekati ranjangku. Bunda pun berdiri dan duduk di kursi belajarku.
"Bagaimana keadaanmu? Wah, bagaimana bisa jagoan putri ayah tumbang?" tanya ayah beruntutan.
Aku hanya tersenyum menenangkan. Aku tahu ayah khawatir, namun menutupinya dengan wajah datarnya.
''Terimakasih bu sudah mengantar anak saya," kata ayah kepada bunda Abi, kemudian bunda Abi menjelaskan keadaanku, setelah ngobrol beberapa saat beliau pamit undur diri.
Ayah mengantar Shinta dan bunda Abi ke depan, tapi beberapa saat beliau sudah kembali duduk di sampingku.
"Kenapa gak bilang le ayah kalau gak enak badan?" tanya ayah dengan wajah tuanya, ah ternyata ayah tampanku kini sudah mulai keriput.
"Tadi pagi cuman lemas aja yah, namun abis turun dari bus tubuhku tambah jadi ringan dan kepalaku rasanya sakit." Aku menjelaskan sambil menggenggam tangan ayah.
"Tetap sehat, ayah selalu berdoa untuk Kesehatan kamu."
"Terimakasih," jawabku pelan.
"Istirahat, ayah akan minta tolong bi Sum untuk membuatkan bubur."
Tak berapa lama ayah meninggalkanku, akupun memejamkan mataku. Bayangan masa lalu menghantuiku, di mana saat aku demam ayah dan Ibuku menemaniku tidur. Ada kalanya aku sangat menginginkan keluarga yang utuh, sama seperti saat ini aku sangat menginginkannya.
Aku mandang kosong ke atas langit-langit kamarku, ada banyak hal yang aku irikan dari sebuah keluarga yang bahagia, namun aku juga menyadari bahwa takdir telah menentukan jalannya, jadi aku bisa berbuat apa?
Dulu, kala aku masih kecil aku selalu bertanya mengapa ayah dan ibu berpisah? Beliau selalu menjawab bahwa apa yang kita inginkan itu tidak selamanya bisa kita dapatkan. Jadi mungkin perpisahan ayah dan ibu itu adalah sebuah pelajaran bagi ayah, ibu dan juga siapa saja yang menyadarinya. Dulu aku masih belum bisa menerima namun lambat laun aku mengerti maksud semua ini. Namun tak memungkiri jika boleh egois aku menginginkan keluarga yang utuh.
--------------------------
Langit nampak bersih dengan kabut tipis berwarna putih buram melapisi, deraian air menyirami bumi. Membuat pagi hari yang terasa dingin semakin lebih dingin lagi.
Dengan tenaga yang tersisa, aku mengangkat kursi belajarku menuju jendela, aku membuka jendelaku tidak terlalu lebar sebab air akan berteduh jika aku melakukannya.
Hujan, ya derai air yang menghujani bumi. Tanpa terasa aku mengeratkan jaket yang aku pakai saat angin sepoi menerpa. Namun bukannya berpindah tempat, aku malah mengulurkan tanganku keluar jendela.
__ADS_1
Aku merasa bulu kudukku meremang saat pertama kali air yang mengalir di depan jendelaku membasahi tanganku, namun lama kelamaan aku merasa biasa.
Mungkin seperti ini rasanya sebuah luka, saat pertama kali merasakannya akan mengubah banyak hal namum jika lama kelamaan pasti akan kembali seperti semula. Jadi hal yang harus dilakukan saat ini adalah menunggu dan mencoba menghindari membuat luka yang baru.
Kakak cantikku sudah kembali ke pulau seberang, karena masa cuti kakak iparku telah usai. Jadi kini kembali tinggal aku dan ayahku, biasanya di ahad pagi seperti ini ayahku akan menghadiri kegiatan rutin bapak-bapak perumahan. Tapi hari ini dan khusus hari ini beliau tidak menghadiri, bukan karena tidak hujan tapi karena beliau tidak mau meninggalkan aku sendiri.
Semalam bahkan ayahku menemaniku tidur hingga hampir pagi, inilah kebiasaanku saat sakit tidak mau tidur di malam hari.
"Apa yang kamu lakukan di sana?" tanya ayahku yang sudah berpakaian rapi dan nampak segar wajahnya.
Aku tersenyum kemudian menarik tanganku dari luar jendela.
Ayahku mendekatiku sambil mengulurkan tisu kepadaku, aku mengambilnya dan mengumamkan kata terimakasih. Beliau kembali duduk di tepi tempat tidurku, aku mendekatinya kemudian duduk bersandar padanya.
"Yah, apa ayah tidak ingin mencarikan ibu baru untuk ku?" tanyaku tiba-tiba, entah mengapa pikiran itu muncul di benakku saat ini. Aku melihat wajah kaget ayahku, namun kemudian beliau terkekeh.
"Kamu memangnya mau ibu baru?" tanyanya sambil membawaku ke dalam dekapan hangatnya. Aku mengangguk tanda setuju. Entah mengapa, melihat wajah cemas ayah yang memuat wajah itu nampak semakin tua, dan ayah harus ada yang menjaga dan mengngurus. Bukan aku tak mau, akan tetapi mungkin rasanya akan beda jika istri yang mengurusnya, begitulah pikirku.
"Mengapa kamu menanyakan itu, hemmm?" tanya ayahku dengan raut curiga, membuatku kelabakan tak tahu harus menjawab apa.
"Mengapa? Hemmm," tanya ayah lagi, aku langsung duduk tegak sambil menautkan dua jari tanganku, nampak bahwa aku tak mampu menjawab dan tertekan.
Ayah melihat jariku kemudian beliau membawaku ke dalam dekapannya kembali. Ah rasanya sangat nyaman dan mampu memghilangkan kerisauan.
"Ayah ada niatan untuk menikah lagi, akan tetapi ayah takut nanti perhatian ayah akan terbagi dan kamu merasa tersakiti," kata ayahku dengan nada pelan. Jadi dugaanku benar, sebenarnya dua bulan yang lalu saat aku pulang dari sekolah aku tidak sengaja bertemu dengan seorang wanita yang keluar dari rumah dengan mata merah. Dan saat itu aku bertanya kepada ayah siapa itu tadi, beliau menjawab teman.
"Memangnya ayah bakal pergi begitu saja nanti saat ayah menikah?" tanyaku pelan.
"Tidak, tentu saja tidak." Ayahku menjawab dengan cepat, aku tersenyum mendengarnya.
"Kalau ayah menikah, ayah akan terbagi dengan keluarga baru ayah. Apa Mutia tidak apapa?" Aku membenarkan perkataan ayah, ayah yang belum menikah seperti ini saja aku sulit bermanja ria apalagi jika yang akan memiliki keluarga baru.
Aku jadi mengingat ibuku, beliau juga membangun keluarga baru akan tetapi beliau masih perhatian denganku meski hal itu tidak sepenuhnya. Apa aku akan sanggup jika ayah yang selama ini menjadi sandaranku juga melakukan hal itu? Tapi aku tak mau egois, aku sudah cukup dewasa untuk berdiri sendiri di atas tumpuan kakiku, jadi apa lagi yang aku takutkan.
"Jangan mengerutkan dahi terlalu dalam, kamu kalihatan tua," kata ayahku menyadarkanku dari kinerja keras otakku.
"Jangan dipikirkan, jika sudah ditakdirkan untuk menikah pasti juga ayah akan menikah," kata ayah menenangkan.
"Aku tidak apa-apa," jawabku pelan,
"Kamu masih gak enak badan, yakin gak apa-apa?"
"Bukan itu maksudku, Ayah," kataku dengan manja, aku melihat ayah mengangkat satu alisnya.
Ah ayah juga bisa mengangkat satu alis?
"Terus apa yang dimaksud gak apa-apa?"
"Aku gak papa jika ayah nikah," jawabku pelan.
"Kamu yakin?" tanya ayahku lagi dengan nada dan raut menggoda.
"Mutia yakin Ayah," jawabku mantap, aku melihat raut wajah tak setuju dari ayah.
"Ayah, Mutia sudah besar. Mutia sudah bisa menjaga diri dan mandiri. Jadi ayah tak perlu mengkhawatirkan Mutia. Ayah tahu, ayah itu tambah tua jadi harus cepat nikah sebelum tidak ada yang mau," kataku pelan sambil menggoda.
"Kamu ngatain ayah gak laku?" tanya ayah tajam namun bibirnya tersenyum.
"Bukan gak laku ayah, tapi gak ada yang mau." Kataku menegaskan sambil cekikikan membuat ayah malotot.
"Hihihi...." aku terkikik.
"Owh begitu, ayah laku ya mau bukti?" aku mengangguk antusias membuat ayah semakin gemas kemudian beliau menggelitikku.
Dan pagi itu adalah hal pertama kali aku lakukan yaitu menyuruh ayahku sendiri menikah. Dan membiarkan hal yang paling aku hindari selama ini yaitu berbagi ayah.
Aku berpikir aku sudah dewasa dan aku harus berpikir bukan tentang diriku namun juga tentang orang yang ada disekitarku. Jika dulu aku menolak keras pendapat kak Rifa tentang ini, namun beda dengan sekarang.
Mungkin, memang seperti ini seharusnya dan aku tak akan bisa menghindarinya.
---------------
Bukankah bahagia itu sederhana, tersenyum bersama orang yang dicinta itu sudah lebih dari cukup adanya.
Aku sudah menyediakan layanan bertanya di ini, eh malah pada milih jalur pribadi...
Ok lahh... Mungkin kaliam butuh privasi.
Yang maaih ada yang tanya silahkan.
Mau menebak atau mau mengkritik juga boleh
__ADS_1