
Sesungguhnya bahagialah orang yang selalu mensucikan jiwanya dan celakalah orang yang mengotori jiwanya (9:10)
----------------------
Sore ini nampak begitu cerah, seolah menghilangkan bekas hujan yang mengguyur sejak subuh tadi. Aku mengayun sepedaku keliling perumahan. Sore ini aku berencana jalan-jalan dengan tujuan supaya aku bertemu dengan kak Dilan. Namun sudah lebih dari satu jam aku berputar namun wajah tengil kak Dilan tak terlihat seujung kukupun.
Dengan tekad bulat, akhirnya aku membelokkan stang sepedaku menuju blog rumah kak Dilan, aku berhenti di depan rumah kak Dilan. Aku bingung alasan apa yang akan aku gunakan,
Apa iya aku jujur langsung dengan tujuanku?
Atau
Aku harus berbasa-basi kemudian sedikit menyangkutkan tujuanku?
Tapi, aku kan tak bisa basa-basi karena itu sungguh basi gak berguna.
Apa yang harus aku lakukan?
"Ngapain lo bengong di depan rumah gue?" tanya kak Dilan dengan nada tengilnya.
Ah, harusnya tadi aku lebih bersabar jadi gak harus menghadapi sikap tengil ini.
Aku ketawa hambar, kemudian turun dari sepeda dan bergabung dengan kak Dilan yang duduk di gazebo depan rumahnya, gerbangnya memang terbuka jadi cukup jelas untuk melihatku yang nangkring di depan rumahnya.
"Ada angin apa lo ke sini?" tanya kak Dilan setelah aku duduk.
"Gak ada cuman lewat terus berhenti sejenak aja," kataku sedikit tergagap, aku melihat dia memicingkan matanya ke arahku. Itu adalah tanda gawat, sepertinya dia tidak percaya dengan ucapanku.
"Masak iya berhenti di depan gerbang, gak sebentar lagi. Pasti ada yang ingin lo tahu kan?" dua berkata dengan nada curiga, aku mengangguk kemudian menggeleng. Aku sendiri bingung, ah sungguh ini hal yang tidak menyenangkan. Aku membenarkan posisi jilbab hitamku, kemudian aku dengar dia terkekeh.
"Dia baik-baik saja, hanya hanphonenya hilang." Aku menoleh antusias kepadanya, ini yang aku suka meski dia tengil tapi dia bisa tahu apa yang tak bisa ku ungkapkan.
"Masak iya sampai gak hubungin ibunya," kataku saat beberapa saat diam dan keheningan menyelimuti kami. Sebenarnya aku masih ingin dengar yang lainnya lagi namun sepertinya dia tidak berkeinginan menjelaskan lebih jauh.
"Namanya juga masih adaptasi, jadi wajar kan," kata kak Dilan membela, dasar lelaki sama saja gak peka.
"Ya kan–––" kataku terpotong dengan ucapan kak Dilan, "lo cari tahu tentang dia?" aku menggelengkan kepala.
"Terus lo dari mana tahu?" tanyanya dengan mata curiga, dan aku paling tidak suka dengan tatapan mata semacam itu.
"Ada yang cerita aja, karena kesian sama bunda jadi aku ingin cari tahu ke sini," kataku pelan.
"Jadi dugaan gue bener dong lo ke sini mau cari info tentang Abi," kata dia penuh kemenangan, sial aku kena jebakan badman.
Setelah puas ketawa, dia diam dan menghadap ke arahku,
"Jangan mencarinya dan jangan mengharapkannya," kata kak Dilan menghadap lurus ke depan.
"Aku gak berusah nyari dia kok," kataku sambil berdiri.
"Gue dah bilang jauhi dia bukan sejak awal," kata kak Dilan lagi, aku menoleh ke arahnya kemudian tersenyum.
Aku mengucapkan salam dan bergegas meninggalkan rumah itu dalam diam.
Aku tahu, aku salah. Tidak seharusnya aku melakukan ini, apa yang dikatakan kak Dilan itu benar, aku tak boleh melakulan hal ini lagi. Apa yang aku lakukan ini sudah cukup membuat diriku menjatuhkan harga diriku sebagai seorang perempuan. Aku jadi ingat pesan ayah.
"Perempuan itu dikejar jangan sampai mengejar."
Meski dalam konteks ini bukan masalah mengejar atau dikejar tapi aku merasa malu pada diriku sendiri dengan segala sikapku hari ini.
--------------------
Pagi ini nampak lebih cerah dari biasanya, maklumlah saat ini musim hujan jadi sering kali langit nampak mendung.
Aku memasuki kelas yang nampak sepi, maklum hari masih bisa terbilang pagi dan waktu masuk sekolah masih sekitar tigapuluh menit lagi. Aku menyapa beberapa teman yang ada di kelas, setelahnya aku mengambil duduk.
"Mut, lo udah nentuin ikut study tour ke mana?" tanya Marta sambil duduk di tempat Shinta.
"Sudah, kenapa?" aku mengeluarkan buku pelajaran untuk jam pertama.
"Enggak sih, gue cuman masih bingung aja, kebanyakan teman-teman ambil tour yqng ke Jakarta, sedang ortu gue nyuruh ambil yang ke Malang." Dia mendesah kesal, sepertinya dia merasa takut tak ada temennya.
"Aku dan Shinta sepakat ambil ke Malang ko, gak perlu khawatir gak ada temen kan," kataku memenangkan.
"Lo ambil ke Malang, Mut?" tanya Marta tidak percaya.
__ADS_1
"Iya," jawabku singkat.
"Demi apa?" seru Marta berlebihan. Aku hanya mengerutkan dahi bingung. Apa ada yang salah dengan keputusanku, perasaan gak deh.
"Demi cintaku padamu," seru Danang yang masuk ke kelas. Danang adalah salah satu soulmate Irvan. Dia itu memiliki tubuh tambun, besar dan tinggi. Menurut cerita, si Danang suka sama Marta namun sayang Marta mah sudah menaruh hati sang ketua OSIS. Yep benar sekali, si Ryan. Namun Ryan mah masih lempeng-lempeng aja menghadapi kode yang diberikan oleh Marta dan juga Vima.
"Najong banget sih lo," kata Marta ketus ke Danang.
"Aduh neng, pagi-pagi udah sewot aja," kata Danang mendapat sotakan "ciye-ciye" dari yang lainnya membuat wajah putih si Danang memerah. Aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat wajah malu Danang.
"Bodo, bukan urusan elo," kata Marta cuek sambil menghadap ke arahku.
Danang mengambil duduk di tempat Lana dan hal itu berarti ada di depan Danang, cowok itu seolah cuek dengan godaan yang lainnya.
"Ati-ati Mar, lo kalau dipepet si Danang entar penyet lo," seru Dwi yang ada di barisan paling barat. Entah apa yang dilakukannya.
"Diiem lo bacot," seru Danang tidak terima. Dwi hanya mencibir kemudian dia menggerutu tidak jelas.
"Mut, lo tambah cantik aja sih," kata si Danang menghadap ke arahku, aku hampir saja tertawa namun aku segera membekap mulutku. Sedang Marta, dia sudah berlagak seperti tengah muntah.
"Gombalan lo receh amat sih, mana ada cewek yang mau," kata Marta membuatku terkekeh.
"Kenapa lo yang nyahut sih, aku kan ngomong sama Mutia," kata Danang tak terima dibilang gombalan yang dia keluarin receh. Sejujurnya aku juga merasa gitu sih, gak kreatif banget gombalin cewek cuman gitu-gitu aja.
"Woe, lo berdua pindah deh jangan bikin ribut di sini," kata Ana yang baru datang, membuat Danang beranjak dari duduknya dan menggerutu tidak jelas. Entah karena apa si Danang tu takut banget sama Ana, pernah suatu ketika aku iseng tanya ke Danang, dia cuman bilang, "Ana itu pegang kartu AS gue." Mendengar jawaban itu aku sih cuman ber'oh' ria, gak maksud juga. Jadi gak tahu juga alasan pastinya apa. Tapi satu hal yang pasti, Danang gak pernah membantah ucapan Ana.
Setelah Danang beranjak mendekati gerombolan si Dwi, aku masih dengar godaan yang keluar dari bibir mereka.
"Ngapain tu anak melancong ke kelas kita?" tanya Ana merubah duduknya menghadap ke belakang.
"Mana gue tahu," jawab Marta cuek. Entahlah aku merasa ada yang tidak beres dengan Marta.
"Ye, jawab baik-baik aja kali gak usah sewot," kata Ana pelan.
"Siapa juga yang sewot," kata Marta sambil beranjak dari duduknya dan berjalan pergi begitu saja.
"Dla, tu anak kenapa sih?" aku melihat raut wajah bingung Ana.
"Gak tahu, memangnya kamu ada salah gak sama dia?"
"Gak tahu juga sih," kataku bingung juga.
"Dia tu marah kali sama lo," kata Shinta sambil duduk. Aku mengerutkan dahi dan memandang heran dan penasaran ke arah Shinta, begitu pula dengan ana––sepertinya.
"Mang gue salah apa?" tanya Ana pelan.
"Lo gak sadar apa? Kemarin pas lo balik diboncengin si Ryan tu anak liat," kata Shinta santai.
"Apa????" seru Ana dengan suara cukup keras, hingga anak-anak langsung diam dan menoleh ke arah kami, sedang si Ana sudah cengengesan gak jelas.
Marta marah karena si Ana pulang diboncengin si Ryan?
Aneh kan rasa suka itu?
Bagaimana tidak, padahal antara Ryan dan Marta tak ada hubungan yang mengharuskan Marta marah dengan Ana, namun karena rasa suka yang menggelapkan mata dan mengunci hati untuk menerima pemikiran otah sehingga hubungan yang awalnya baik-baik saja menjadi rusak dengan alasan yang sepele. Beruntung Ana mengerti alasannya, kalau tidak kan kasian dia jadi menerka-nerka salah apa yang dia perbuat hingga membuat Marta marah.
-------------------------
"Sekolah ini aneh ya," kata Erly duduk di sampingku.
"Kenapa?" tanyaku dan Zahwa bersamaan, kami tengah duduk di kafe dekat sekolah. Dan Shinta dan Erly baru datang karena abis ada rapat OSIS.
"Aneh aja, masak acara pelepasan kelas tiga mau dibarengin sama kita study tour."
"Iya juga ya, jadi rumor itu beneran ya," kata Zahwa mangut-mangut. Aku memandang ke arah Shinta yang hanya diam.
"Kamu kenapa Shin?" tanyaku memandangnya dengan curiga.
"Gak papa sih, gue kayaknya gak bisa keluar deh soalnya tante Nana kan bakal nikah dua hari lagi, ya ada sedikit kesibukan gitu," kata Shinta gak enak hati, karena dia yang ngajak keluar untuk beli beberapa keperluan untuk study tour.
"Gak papa, kan masih ada sepekan lagi jadi masih ada waktu untuk belanja." Aku menenangkan Shinta dan disetujui oleh Zahwa dan Erly.
Kemudian setelah membayar kami keluar bersama, aku masih harus menunggu jemputan. Ya, sejak aku sakit aku tidak dibiarkan untuk naik bus lagi dan setiap pagi diantar ayah kalau sore biasanya dijemput ayah atau dijemput sama bik Sum naik motor maticnya. Ayahku itu orang yang taat dengan aturan agama dan juga aturan neraga, jadi aku dilarang menggunakan mobil selama belum memiliki SIM (surat izin mengemudi).
"Kamu gak papa nunggu sendiri?" tanya Zahwa untuk kesekian kalinya.
__ADS_1
"Gak papa, kalian duluan aja. Ayahku sudah on the way kok," jawabku meyakinkan. Kemudian mereka pamit untuk undur diri dan aku kembali masuk ke kafe, aku akan menunggu ayah di sana soalnya ayah masih cukup lama sampainya. Kalian masih ingat kan kalau jarak kampus tempat ayah mengajar itu sangat jauh, karena tempat sekolahku bertolak belakang dengan kampus ayah. Jadi membutuhkan waktu yang lama, belum lagi kalau jalanan ramai dan macet.
Aku duduk kembali ke kursi tadi dan mengeluarkan bukuku. Aku membaca melanjutkan batas yang sudah aku beri tadi.
Aku terlampau asik dengan membaca, hingga lupa dengan sekitar. Aku merasa ada yang menarik bukuku, aku mendongak bukuku sudah ada di tangan kak Dilan. Iya kak Dilan yang itu, bagaimana bisa dia ada di sini? Jawabannya mudah alumni satu itu kuliah di kota ini jadi sering nongol gak kelas di berbagai acara sekolah.
"Muslimah yang kehilangan harga dirinya,'' ucap kak Dilan membaca judul buku yang aku baca, dan dengan santainya dia duduk di bangku depanku dan membaca bukuku, sambil sekali-kali mendongak menghadap ke arahku dengan dahi berkerut.
"Balikin napa kak," kataku sambil menyeruput jusku.
"Pinjam bentar napa," katanya dengan cuek masih berkutat dengan bukuku. Aku diam memandang ke sekeliling, aku melihat beberapa teman seangkatanku salin berbisik dan sesekali menoleh ke arah mejaku, ah meja kami berdua. Hal itu membuatku tak nyaman, sejujurnya aku lebih baik sendiri dari pada duduk berdua dengan cowok, kalaupun aku mengenalnya dengan baik. Entahlah kenapa aku jadi begini lagi.
Aku jadi teringat Irvan, beberapa hari yang lalu dia tanya kepadaku, kenapa aku mulai sedikit menjaga jarak dengannya, dia takut dia membuat salah. Namun langsung saja aku jawab bahwa aku mencoba memperbaiki diri dengan menjaga pergaulan.
Namun anehnya sejak saat itu Irvan mulai banyak diam dan tak lagi mendekatiku. Ada setitik rasa tak enak hati, tapi aku sudah bertekad untuk berubah. Dan kenapa saat ini aku malah terjebak di sini dengan kak Dilan.
Saat aku sibuk dengan pikiranku, kursi di samping kak Dilan bergeser bertanda ada yang menduduki. Aku mendongak dan mendapati wajah kak Bagas.
"Nih buku lo gue balikin," kata kak Dilan sambil menyodorkan bukuku.
"Terimakasih," kataku sedikit menyindir.
"Ngapain lo nyuruh gue ke sini?'' tanya kak Dilan pada kak Bagas,
"Niatnya sih mau nitip sesuatu, tapi gak jadi deh. Nih undangan buat nikahan tante Nana." Kak Bagas mengulurkan sebuah undangan dan memandang tak enak ke arahku, aku mengerutkan dahiku heran dengan sikap dua cowok di depanku.
"Kenapa?" tanyaku tak tahan untuk tidak terpengaruh dengan tatapan mereka. Dan kalian tahu pembaca apa jawaban mereka. Dengan kompaknya hanya menggelengkan kepalanya. Dan dengan acuh ngobrol kembali seolah aku ini tak berwujud.
"Abi kapan balik?" tanya kak Bagas. Dan aku yakin banget itu mah suaranya. Aku mencoba acuh kali ini, aku tak ingin mendengar pembahasan masalah hal ini.
"Sehari sebelum hari H." Aku hanya mendengar itu, karena selanjutnya aku sudah terhanyut dengan buku yang aku selami setiap katanya, memang bohong kalau aku tidak dengar. Namun hanya samar dan tak mampu dicerna oleh otakku.
Ting ting
Suara poselku, bertanda ada pesan masuk, aku langsung meletakkan bukuku dan menyambar posel yang aku letakan di atas meja.
From : my best father
Ayah tunggu di kafe ya
Aku tersenyum mengarahkan pandanganku ke pintu kafe, tak lama sosok yang aku tunggu muncul dengan senyum kagetnya. Mungkin ayah mengira aku menunggu di kawasan sekolah jadi beliau kaget saat melihatku.
Aku berdiri menyambut ayah tanpa menghiraukan hal yang dilakukan dua cowok yang tiba-tiba datang tadi.
"Assalamualaikum," sapa ayahku.
"Waalaikumsalam Warohmatullahi Wabarrokatuh," jawabku sambil menjabat tangan.
"Ayah kira di dalam sekolah, kok anak ayah nongkrong di sini," kata ayah dengan nada menggoda. Aku hanya nyengir, kemudian aku melihat ayah mengambil lihat ke arah belakangku.
"Assalamualaikum, Om." Kak Dilan menyalami ayahku dengan sopan dan disusul sama kak Bagas.
"Dlo, kok ada Dilan," kata ayahku sambil menoleh ke arahku dengan tatapan isengnya. Ah, ayahku mode on.
"Dlo tadi mangnya Mutia gak bilang kalau janjian sama saya Om," kata kak Dilan dengan PDnya.
"Gak ya, siapa yang janjian sama kak Dilan orang tadi kak Dilan yang Nyolong duduk kok," kataku tak terima sedang ayah dan kak Dilan terkekeh.
"Iya sudah Ayah percaya, jangan ngotot gitu ah dahinya Mutia berkerut, jadi saingan tuanya sama ayah.'' Aku melotot tak percaya sedang kak Dilan dan kak Bagas jangan ditanya mereka sudah tertawa bahagia diatas rasa malu yang menyerang diriku.
"Ih ayah mah," kataku sambil duduk dan membereskan barangku mengindari wajahku yang pasti nampak memerah.
"Dloh, kamu yang waktu itu kan?" kata ayahku menunjuk ke kak Bagas. Aku melihatnya heran sedang kak Bagas memamerkan senyum bahagianya sambil mengiyakan pertanyaan ayah.
Ayah sudah pernah bertemu kak Bagas?
Kapan?
Di mana?
Bagaimana bisa?
Pertanyaan itu memenuhi rongga otakku, hingga rasanya memoriku hampir penuh dan tak mampu menampung isi lagi.
-------------------------
__ADS_1