
Yang pertama sepertinya akan kalah dengan yang meninggalkan kesan. (Kru Kepo)
-------------------------
Acara MOS berjalan dengan baik di hari yang terakhir ini dan tidak banyak sesuatu yang terjadi. Oh ya, masalah senyum Abi waktu itu ternyata bukan untukku melainkan untuk Devima, seorang gadis yang duduk di sebelah kananku, dari mana aku tahu? pasti hal itu yang kalian tanyakan bukan?
Aku tahu karena saat istirahat aku melihat dia menghampiri Vima. Dan hal itu sudah menjadi bukti bukan bahwa dia tersenyum ke arahnya.
"Wow, melamun aja lo," kata Mirza menepuk bahuku, saat ini aku berasa di teras kelas, sedang mengamati semua siswa dan siswi yang berlalu-lalang.
"Sedih aku Mir," kataku pelan. Sedang Mirza berdecak tidak suka.
"Panggil Mirza atau Za aja napa sih, Mut. Kalau lo manggil gue Mir berasa Mira tau yang lo panggil."
"Sorry deh, oke aku panggil Za." Kataku penuh penyesalan padahal aku hanya pura-pura saja. Entah mengapa aku suka sekali menggoda Mirza.
"Apa yang buat lo sedih?" tanya Mirza pelan. Sepertinya dia begitu bersimpati padaku.
"Gak terasa ya besok aku sudah pakai abu-abu putih untuk pertama kalinya."
"Iya, ingat masa abu-abu putih itu masa yang paling akan terkenang. Jadi buat cerita sebaik mungkin." Aku menganggukkan kepala tanda setuju.
"Lo gak ada niatan pulang? Lo mau bantu panitia bersih-bersih?" tanya Mirza menggoda.
"Ya enggak lah, Za. aku hanya suntuk aja di rumah sendirian."
"Keluarga lo?"
"Pada kerjalah, dan kakakku satu-satunya udah merried jadi memiliki kesibukan sendiri."
"Susah ya gak punya saudara, gue juga kok. Makanya gue suka banget isengin anak-anak biar suasana kelas ramai, gue gak mau di sekolah kayak di rumah gue yang sepi."
"Lo juga kesepian?" Mirza hanya menggerakan kepala ke atas dan ke bawah. Aku menghembuskan napas.
"Sorry ya, gue harus cabut. Ada janji futsal sama anak kelas sebelah." Aku tersenyum dan menganggukan kepala tanda setuju setelah berpamitan dan mengucapkan salam, Mirza melangkah meninggalkan diriku menuju parkiran sepeda motor dan aku hanya bisa memandangnya hingga tak terlihat lagi sosok cowok yang sudah aku klaim menjadi sahabat itu.
"Ada hubungan apa lo sama itu cowok? Kayaknya deket banget." Suara itu mengagetkanku membuat jantungku berdetak dengan kencang.
"Ya Allah kak Bagas, Kakak buat aku hampir jantungan tau," kataku sambil berteriak tidak memperdulikan orang yang ada di sekitarku. Sedang kak Bagas malah terkekeh pelan, hal itu membuat dia nampak begitu manis. Tersadar dari pikiranku aku menjadi tersenyum sendiri.
"Kenapa tersenyum? Jangan bilang lo kesambet setan di bunga bugenvil." Mendengar perkataan itu bukannya aku marah atau tersinggung namun malah tertawa lepas. Bayangkan saja mana ada setan di bunga sekecil itu.
"Lo ngapain bengong?" tanya kak Bagas, kemudian duduk di sampingku dengan jarak sedikit jauh.
"Siapa yang bengong?" tanyaku heran.
"Orang yang lewat kali ya," katanya acuh. Kemudian kami tiba-tiba terkekeh bersama. Apa aku sudah pernah bilang bahwa bahagia itu sederhana. Tersenyum dan bersyukur atas yang kita miliki.
-----------Happy Reading------------
Warna hitam ya hitam, putih ya putih. Tapi kadang terlupakan antara hitam dan putih ditengah-tengahnya ada abu-abu.
------l
Kamis pagi yang cerah, secerah harapan yang tertanam. Seindah angan yang bersayam dalam pikiran.
Bismillah, aku melangkahkan kakiku keluar rumah. Ayahku tidak ada di rumah, sudah dua hari beliau ada diklat di luar kota, kondisi rumah yang sepi semakin sepi. Jika kalian hendak bertanya apa aku di rumah sendirian jawabannya adalah tidak, karena aku di rumah dengan bik Sum, seorang paruh baya yang selalu datang untuk membersihkan rumah. Jika biasanya beliau akan datang di pagi hari dan pulang di sore hari, maka sudah dua hari ini beliau tinggal dan tidur di rumahku.
Aku berjalan menuju halte di depan komplek perumahan dengan perlahan, seolah aku menikmati setiap langkah yang dilakukan oleh kakiku.
Abu-abu putih, seragam ini nampak begitu pas di tubuhku. Aku inging sekali ayah melihatku mengenakannya dan memuji dengan nada bangga. Namun, keinginanku seolah sirna saat kemarin beliau berkata bahwa akan diklat selama 3 hari di luar kota. Sebagai anak yang baik, aku hanya bisa menerima tanpa mampu mengelak semuanya. Dan aku berpikir inilah takdir yang diberikan-Nya kepadaku, dan aku yakin ini yang terbaik bagiku.
Aku duduk di halte sejenak, dan bus menuju sekolahku pun nampak terlihat, saat bus itu berhenti aku langsung masuk dan mencari tempat untuk duduk. Jarak rumah sampai sekolahku berkisar 20 km, jadi jika ditempuh naik bus membutuhlan waktu sekitar 15 menitan belum lagi jika berhenti di halte satu dengan halte lainnya jadi aku membiasakan diri berangkat lebih awal supaya tidak kesiangan.
"Hay," sapa Madina yang ternyata duduk di sampingku.
"Loh, Madina? Waw aku gak percaya ternyata arah rumah kita searah." Aku mengatakan apa yang ada di pikiranku.
"Iya," katanya sambil tersenyum.
Kemudian kami sama-sama terdiam, karena tidak memiliki topik pembicaraan. Aku tipikal orang yang sulit untuk berbasa-basi, jadi aku selalu kesulitan untuk bersosialisasi. Oleh sebab itu, aku lebih memilih menutup diri jika tidak ada yang mendekati, bahkan kadang aku lebih tertutup meski udah di dekati.
Tanpa terasa bus berhenti di halte dekat sekolah, dan ternyata banyak anak sekolah yang sejalur denganku, aku cukup takjub dan merasa bahagia, karena ternyata aku tidak sendiri.
"Lo cantik pakai seragam ini, gak nampilin kalau lo anak baru." Kata Madina saat kami jalan beriringan menuju gerbang sekolah.
"Kamu bisa aja, kamu juga cantik kok."
"Iya, aku mah harus terlihat cantik. Eh, itu bukannya kak Abi ya?"
"Iya kali." Aku menjawab dengan cuek meski mataku tak bisa berbohong bahwa ingin mencari sosok yang dibicarakan.
Oh ternyata di sana, dia tengah menjabat tangan seorang paruh baya yang aku tebak adalah ibunya. Dia nampak keren seperti biasanya dan dia nampak begitu ramah bahkan membalas sapaan dari beberapa junior dan teman sejawatnya.
__ADS_1
"Kok lo diem aja sih, ayo masuk kita lihat denah kelas." Aku menganggukan kepalaku dan menoleh sejenak ke arah sosok pangeran sekolah itu dan tanpa sadar aku tersenyum ke arahnya yang kini tengah menatapku. Meskipun aku harus menelan pil pahit karena senyumku tak terbalas sama sekali.
Aku melangkah mengikuti jalan Madina yang tengah berceloteh tentang organisasi dan ekstrakulikuler yang akan dia ikuti. Dan sebagai teman yang baik aku sesekali memberi saran dan menimpali dengan canda gurau.
Setelah mengetahui lokasi kelas, kami berdua melangkah sambil berkomentar apa saja yang kita lihat, mulai dari sepatu tas dan banyak lagi. Dan saat kami sudah sampai di depan kelas, tiba-tiba Madina berhenti dan menyenggol lenganku.
"Ada apa?" tanyaku heran, kemudian dia menunjuk ke arah papan pengumunan yang ada di depan kelas dengan dagunya. Dan di sana sudah berdiri Abi dan kak Hasan. Dan saat aku memandang ke arah dua orang itu bertepatan sekali mereka tengah selesai memasang sebuah kertas dan berbalik hingga secara otomatis kami saling berpandangan.
"Hay, assalamuaikum Mutia," sapa kak Hasan dengan senyum manisnya, membuat Medina terpesona dan menyenggol lenganku berulang-ulang membuatku jengkel.
"Waalaikumsalam, selamat pagi Kak." Aku menjawab karena aku yakin Madina tidak akan menjawab karena dia tengah terbuai dengan pancaran sinar sang ketua OSIS.
"Kelas di X-5?" tanya kak Hasan sambil nunjuk ke arah kelas.
"Iya kak."
"San, ayuk keburu bel." Itu suara Abi yang mengajak kak Hasan untuk beranjak. Dan dia hanya mengacungkan jempolnya.
"Kakak duluan ya, semoga betah dengan kelasnya," kata kak Hasan sambil melambaikan tangannya dan mengejar Abi. Entah mengapa mataku pun tak mau lepas dari sosok itu dan mengikuti kemanapun perginya hingga sosok itu menghilang dari pandanganku.
"Ganteng ya?" tanya Erly dengan nada menggoda. Aku hanya mengangkat bahuku dan mengambil duduk dikursi depan.
"Lo duduk sama Mira, gue sama Erly. Kayak waktu MOS." Dan kami hanya menganggukan kepala, saat aku memandang ke arah Mira yang sedari tadi diam aku heran, pasalnya dia tidak memancarkan ekspresi sama sekali--––datar.
"Ada apa Mir?" tanyaku sambil duduk.
"Gak papa," jawabnya cuek. Aku heran apa aku punya salah dengannya sehingga dia nampak cuek kepadaku. Kemudian aku merasakan colekan di bahuku dan saat aku menoleh ke belakang aku melihat Erly menggelengkan kepalanya. Mungkin itu bertanda bahwa aku tidak boleh banyak bertanya pada Mira.
"Hai cantik," sapa Mirza yang sudah meletakkan kepalanya di bangkuku dengan senyum tiga wattnya.
"Apaan sih Mir?"
"Hah, kan udah gue bilang jangan panggil 'Mir' berasa kembaran si Mira tahu," kata Mirza dengan nada manja.
"Sorry, gue gak minat punya kembaran kayak lo." Mira menimpali dengan ketus.
"Siapa juga yang mau punya kembaran macam lo." Mirza berkata dengan nada yang tak kalah ketus.
"Lo kan tadi yang bilang."
"Kan gue bilangnya 'berasa' bukan mengakui lo kembaran gue," kata Mirza menekan kata berasa, aku hanya geleng-geleng kepala.
"Sama aja," kata Mira gak terima, waw aku baru tahu ternyata Mira tidak seanggun yang aku lihat diawal kita saling mengenal. Ternyata dia sebelas dua belas sama Erly, namun dia nampak anggun dengan jilbabnya.
"Napa Er, lo mau bela mantan lo?" tanya Mira ketus.
"Gue mah gak bela siapa-siapa, gue gak peduli lo pada mau jambak-jambakan atau mau sauto atau lebih parahnya mau terjun bareng dari lantai dua." Erly berkata dengan cuek.
"Sialan lo," kata Mirza dan Mira bersamaan.
"Ciye kompakan!" seru Erly dengan senyum mengembang, Mira langsung diam sedang Mirza memandang ke arahku dan berkata. "Gue duduk dulu ya, pembicaraan kita tunda dulu."
Aku hanya mengerutkan dahi dan Mirza sudah beranjak duduk di kursi bangku sebelahku, sedang Erly sudah kembali duduk. Aku memandang ke arah Mira.
"Kamu gak papa Mir?" tanyaku pelan, karena aku melihat Mira tengah konsen membaca novel.
"Gak papa kok, kita mah udah biasa cek-cok sama si Mirza, jadi lo gak perlu kaget," katanya sambil tersenyum. Aku menjadi lega, ternyata suasana hati Mira sudah kembali. Kemudian tidak lama bel berbunyi dan seorang wanita berusia sekitas 37 tahunan masuk, dan ternyata itu adalah bu Nita, beliau adalah wali kelas kami.
Beliau memberikan selembar kertas kepada masing-masing siswa yang ternyata jadwal pelajaran, kemudian kelas diramaikan dengan pemilihan perangkat kelas. Mulai dari memilih ketua kelas dan wakilnya, serta bendahara dan sekertaris.
Berulang kali Mirza mencalonkan diriku, namun aku selalu menolak karena entah mengapa aku tidak suka menjadi sesosok yang mencolok di kelas. Aku ingin menjadi pelajar yang biasa saja.
-----------Happy Reading---------
Aku menulis sebuah kutipan dari sebuah novel yang sudah best seller,
"Jangan mencintai jika tidak mau tersakiti. Cinta manusia itu biasa dan yang luar biasa adalah cinta kepada Sang Pencipta."
Aku merenungi tulisan itu dalam diam dan tanpa sadar aku membenarkannya. Benar memang tidak ada cinta yang luar biasa selain kepada Allah semata.
"Hai, ngapain ngelamun?" tanya Mirza yang duduk menghadapku, aku hanya melirik sebentar. Aku tidak merasa kaget, karena aku menyadari pergerakannya.
"Aku lagi gak melamun, Za."
"Terus?" tanyanya dengan menaikan satu alisnya dan meletakan minuman gelas di depanku.
"Aku lagi baca," jawabku pelan juga heran.
"Gue tadi denger lo lagi gak mau keluar kelas, jadi gue sengaja beliin lo minum. Sorry gue gak bawain lo makanan soalnya gue malu juga bingung bawa ke kelasnya." Mirza berkata dengan salah tingkah dan sekali-kali menggaruk kepalanya bagian belakang. Aku tersenyum geli melihatnya.
"Thank you, kamu baik banget," kataku dengan senyum tulus.
"Apa sih yang gak buat lo?" tanya Mirza dengan nada menggoda dan sifat tengilnya mulai mode on kembali.
__ADS_1
"Za," panggilku pelan dia yang awalnya tersenyum menggoda langsung berubah serius.
"Apa?" tanyanya sambil membenahi duduknya. Di kelas ini ada beberapa anak yang duduk lesehan di lantai sedang makan kue yang mereka beli tadi dan hanya ada aku dan Mirza yang duduk di kursi.
"Apa yang buat kamu putus dengan Erly?" tanyaku dengan penasaran dan aku lihat Mirza langsung menghembuskan napas.
"Penasaran amat sih lo," kata Mirza yang sudah menyenderkan punggungnya ke penyangga kursi. Aku mengamati setiap gerak-gerik orang yang sudah aku anggap sahabat itu dengan menilai.
"Ada banyak hal yang gak bisa gue jelasin. Dan gue yakin lo gak bakal ngerti." Mirza berkata dengan santai dan memejamkan matanya.
"Apa aku sebodoh itu sehingga gak bisa ngerti?"
"Bukan, lo enggak bodoh bahkan lo terlalu pintar sehingga lo gak akan ngerti," kata Mirza buru-buru mungkin dia takut aku salah paham tentang kata bodoh dan pintar. Aku menghembuskan napas dan kembali membaca novelku dan tidak memperdulikan keberadaan Mirza.
Aku sebenarnya tidak marah atau kesal hanya saja inilah sikapku, aku selalu tidak bisa mengelola kata untuk memulai pembicaraan.
Aku melihat Mirza beranjak dari duduknya dan ikut duduk dengan gerombolan anak cowok yang baru saja masuk kelas.
Kelas nampak menjadi ramai terdengar percecokan juga saling menggoda di belakang. Keramaianpun menjadi setelah Erly datang dan menjadi bahan godaan buat yang lainnya, hampir semua anak kelas ini tahu bahwa Erly adalah mantan pacar Mirza. Aku tersenyum dalam diam mengamati setiap gerik-gerik mereka.
Aku membuat duduk ku menghadap ke belakang, supaya aku bisa menikmati keceriaan mereka dalam diamku. Jika kalian bertanya apa aku tak ingin bergabung? Jawabannya adalah ingin, akan tetapi aku tidak bisa. Karena aku menyadari aku tidak bisa selepas mereka, aku selalu merasa bahwa pada diriku ada batasan yang tak kasat mata. Saat aku tengah melamun, aku dikagetkan dengan anak-anak yang tiba-tiba buyar dan duduk di bangku masing-masing dan aku melihat Madina memberi kode untuk melihat ke depan.
Saat aku menoleh ke depan aku dikagetkan dengan kehadiran Abi, kak Bagas dan seorang cewek cantik dan putih berjilbab, aku merasa pernah melihatnya namun aku lupa di mana selain itu aku juga tidak mengenalinya.
Aku mendengar Abi berdehem, sepertinya dia tengah mencairkan tenggorokannya, selain itu dia ingin menarik perhatian kami. Aku langsung membenarkan duduk ku dan merapikan mejaku.
"Minta perhatiannya sebentar, sebelumnya Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarrokatuh."
"Waalaikumsalam Warohmatullahi Wabarrokatuh," jawab kami serentak.
"Perkenalkan, saya Abinaya Rahman, ini teman saya Bagaswara Anugrah dan yang ini Ratu Mulia Sari. Kami dari Komunitas Remaja Islam, ingin membuka diskusi dan juga sharing supaya adik-adik bisa mengenal komunitas kami dan mungkin ada yang berminat untuk bergabung di komunitas kami. Jadi di waktu 30 menit ini bagi yang berminat dan ingin mengenal komunitas kami silahkan bertanya secara langsung," kata Abi dengan senyum ramah. Aku merasa janggal, sepertinya ada yang tidak beras dengan diriku, mengapa aku mengeluarkan keringat dingin? Hemm....
Aku hanya diam memandang kosong ke arah buku yang ada di depanku, hingga pikiranku melayang entah ada di mana, hingga aku tidak sadar bahwa diskusi berjalan dengan baik.
"Mutia mau bertanya kak," kata Mira cukup keras membuat diriku kembali sadar.
"Mana yang namanya Mutia?" tanya suara lembut membelai telingaku, dan tanpa sadar aku langsung memukul Mira yang seenaknya saja berkata demikian. Mira, dia bukannya merasa bersalah akan tetapi malah cengengesan.
"Ini kak anaknya." Erly berkata sambil menggerak-gerakkan kursiku.
"Tanya apa dek?" tanya kak Mulia. Aku yang tidak menyimak menjadi kelabakan dan tak tahu mau bertanya apa, aku seolah-olah kesulitan merangkai kalimat menggunakan otakku.
"Tanya apa dek?" tanyanya lagi pelan dan saat aku mendongakan kepala, aku melihat kak Mulia sudah ada di depan bangkuku dan aku tidak melihat kak Bagas juga Abi.
"Sebenarnya--" Aku tidak melanjutkan ucapanku karena sudah lebih dulu diintrupsi.
"Makanya di kelas jangan melamun. Konsentrasi dengan keadaan," aku tahu benar bahwa itu suara Abi, entah bagaimana bisa aku dengan mudah menghafal suara itu hingga kini hidungku bisa mencium bau parfum yang sama dengan waktu itu. Saat aku mendongak dan menoleh ke sebelah kiri aku melihat Abi yang sudah berdiri di sampingku. Kami sempat saling memandang hingga dengan bernapas besar dia memalingkan wajahnya kemudian nampak berbicara dengan Mirza dan Irfan yang duduk di bangku sebelah kiriku.
"Jadi ada yang ditanyakan?" tanya kak Mulia, namun tidak dengan lembut seperti tadi. Ada nada tidak suka dan sinis di dalamnya. Aku tidak berniat menjawab aku hanya menggelengkan kepala. Dan aku mendengar decakannya, ah penilaianku yang awal tadi aku cabudia tak seanggun aslinya. Dia hanya menutupi sifat aslinya dengan kepura-puraan.
"Kak, saya izin ke kamar mandi," kataku pelan. Dan aku merasa seluruh anak di kelas memandang ke arahku dan aku melihat ada raut khawatir di wajah kak Bagas yang ternyata sedang berdiri di dekat meja guru. Kak Mulia tidak menjawab, dia hanya mengerakan kepalanya sebagai tanda setuju.
Saat aku kembali dari kamar mandi, aku melihat tiga orang itu sudah masuk ke kelas yang ada di sebelah.
"Lo kenapa sih ngelamun tadi?" tanya Mira, aku hanya menggelengkan kepala dan tiba-tiba Erly menggerakan kursiku.
"Lo gak papa?" tanya Erly saat aku menghadap ke barat.
Aku juga hanya menggelengkan kepala, entah karena apa aku enggan untuk buka suara.
"Kok kak Abi tajam banget ya ucapannya," kata Madina, membuatku mengingat kejadian tadi. Aku hanya mengangkat ke dua bahuku, aku tak ingin mengingatnya toh aku orang yang cuek.
"Lo pernah buat masalah sama kak Abi?" tanya Mira, aku menggelengkan kepala.
"Terus kok kak Abi sewot banget sama lo," kata Mira dan aku melihat Madina menganggukan kepalanya. Aku hanya menggelengkan kepala dan mengangkat bahuku cuek. Aku juga tidak tahu, jadi aku tak mau menduga-duga atau berprasangka buruk.
"Lo pernah buat salah kali tanpa sengaja," tuduh Madina dengan nada sewot, aku hanya menaikkan alisku heran. Kenapa Madina jadi ikutan kasar juga? Apa dia tersinggung dengan sikapku?
"Lo bisu ya?" tanya Madina dengan emosi.
"Sorry, aku lagi gak mood." Aku membalikan tubuhku kembali ke depan dan menenggelamkan wajahku ke meja.
"Dia kenapa sih aneh banget dari tadi?" terdengar suara Erly.
"Gak tahu, heran gue jugaan sampai gondok rasanya."
"Iya dia melamun sejak tadi."
"Dia lagi ada masalah kali."
"Ya, nanti kalau udah mau berbagi dia pasti bakal bicara sama kita." Kemudian aku sudah tidak mendengar lagi pembicaraan mereka tentang diriku, karena mereka sepertinya sudah asik dengan topik yang lainnya.
------
__ADS_1