Berawal Dari Abu-abu

Berawal Dari Abu-abu
Butuh Waktu


__ADS_3

Tiada cahaya selembut sang surya.


Tiada cinta setulus dari hati.


Dan tak ada keceriaan tanpa hadirnya seulas senyuman


--------------


Tersenyum adalah hal pertama yang aku inginkan. Aku diam di atas bangku. Aku mengerjakan beberapa soal kimia dalam diamku. Aku tak menghiraukan keadaan kelas yang ramai.


"Mut," panggil Irvan duduk di sampingku menempati tempat duduk Shinta.


"Ada apa?" tanyaku masih tetap menggerakkan penaku di kertas hitunganku.


"Lo kenapa sih tertutup amat," kata Irvan sambil mengambil buku diktatku.


"Apa sih Van, jangan ganggu deh," kataku tak menghiraukan keberadaannya. Bukan karena gak suka atau risih tapi lebih kepada enggan menanggapi.


Entahlah tahun pertama abu-abuku seolah memberi dasaran yang menakutkan bagiku dalam bergaul. Aku mungkin terlihat biasa, akan tetapi aku selalu membatasi diri dengan interaksi yang berlebihan. Bahkan aku mulai jarang berkenalan dengan orang di sekitarku, kalaupun aku kenal dengan teman kelasku yang baru itu semua berawal dari mereka yang mendekatiku.


"Mut, orang satu dengan yang lain itu beda jangan dipukul rata." Irvan berkata lagi dengan memandang ke depan dengan kosong meski di depan di meja guru ada gerombolan anak-anak lain tengah bercanda bersama.


"Aku tak seegois itu kok, Van." Aku menjawab setelah cukup lama terdiam, kemudian Irvan langsung menatapku sambil tersenyum tipis.


"Lo aja yang gak merasa. Sorry Mut sebenarnya waktu abis ujian itu gue gak sengaja denger pertengkaran kalian."


"Aku tahu kok," jawabku santai dan ku lihat dia terkejut.


"Jadi lo lihat gue, sorry gue gak maksud nguping kok," kata Irvan merasa tak enak. Aku hanya tersenyum dan menggeleng.


"Aku gak masalah kok," jawabku santai kemudian kembali menghitung di kertas coretanku.


"Jadi kita teman 'kan?" tanya Irvan penuh harap.


"Bukannya sejak dulu kita berteman?" tanyaku sambil menghentikan aktifitasku dan memandang ke arahnya.


"Tapi lo gak pernah melakukan hal yang biasa dilakukan seorang teman," kata Irvan dengan santainya dan beranjak dari duduk menuju segerombolan calon ketua osis yang ada di pojokan.


Aku menghembuskan napas, aku akui bahwa aku masih enggan untuk menjalin sebuah hubungan apapun secara dekat dengan siapapun saat ini, tapi bukan berarti aku akan tetap menutup hati ini.


Aku yakin suatu saat aku akan melakukan hal yang wajar dilakukan tapi tidak sekarang, aku butuh waktu untuk menyesuaikan.


Aku terdiam sejenak, aku mulai menggali memori di dalam otak ku, hingga tanpa aku sadari otakku sudah memikirkan kejadian di awal semester dua.


Pagi itu aku datang dengan wajah yang cukup tenang, aku sudah meyakini diriku bahwa aku akan baik-baik saja dengan semua ini.


Setelah kejadian itu, Aku sudah menceritakan semuanya kepada sahabatku, namun aku masih melihat keengganan yang aku dapatkan dari sorot mata Madina dan Mira.


"Loh lo kok duduk di bangku gue sih Mir?" tanya Erly yang baru datang, aku juga tahu sejak tadi Mira duduk di bangku Erly dan aku pikir seperti biasanya dia bakal balik lagi nanti kalau udah masuk tapi ternyata tidak terbukti dari ucapannya, "gue bosen duduk di depan, jadi tukeran ya Er. Lo gak papa kan Mut?"


Aku tersenyum dan mengangguk, meski menggerutu Erly tetap mengambil duduk di sampingku.


Aku menoleh ke kiri namun aku melihat Irfan duduk di bangku Mirxa dan Mirza ternyata duduk bersama Idris di belakang.


"Semuanya berubah beginilah keadaannya," kata Erly sambil membelai lenganku. Aku mengangguk dan tanpa terasa air mata meluruh dari mataku.


Aku tersenyum hambar dan aku meyakini satu hal bahwa semua berbeda tak akan pernah sama. Seperti pensil yang diruncingi panjangnya akan senantiasa berkurang sama halnya dengan semua ini, semua tak akan kembali seperti semula.


Hari ini masih belum ada pelajaran, aku mengeluarkan tiga paperbag berwarna berbeda dari dalam tasku, ada warna kuning untuk Mira, ada warna coklat untuk Madina dan warna hijau untuk Erly.


Aku memberikannya,


"Ini oleh-oleh dariku," kataku sambil menyodorkan paperbag itu, namun Madina dan Mira hanya diam kemudian memasukkannya ke dalam tas dan beranajak dari duduknya.


Saat sudah sampai di depan, Madina memandang ke arah Erly,


"Lo mau duduk di situ atau ikut gue?" tanya Madina datar. Erly tersenyum kemudian berdiri sambil merapikan pakaiannya.


"Yuk Mut," ajaknya kepadaku namun dia langsung salah tingkah saat melihat plototan dari Madina dan Mira.

__ADS_1


Dan dengan tidak enak hati Erly melangkah meninggalkanku, aku hanya diam saja sambil tersenyum menenangkan.


Kejadian seperti itu ternyata tidak terjadi sehari dua hari, hal itu hingga menimbulkan banyak pertanyaan dari teman-teman lainnya, kadang Tiara mendatangiku karena dia mungkin merasa kasihan padaku, kadang pula yang lainnya yang mulai mengajakku ke kantin atau sholat bersama.


Dan aku kini tengah kehilangan segalanya, membuatku takut untuk memulai semuanya.


"Mut," panggil Ana yang sudah duduk di depanku.


"Ada apa?" tanyaku tergagap karena aku baru sadar bahwa aku terlalu lama bernostalgia dengan masa lalu.


Ana menunjuk dengan dagunya ke arah pintu, aku melihat Zahwa dan Erly di sana. Kemudian aku tersenyum dan menghampiri ke duanya.


"Sorry Mut, nih aku mau balikin buku." Erly menyodorkan bukunya kepadaku.


"Gak papa kok, ini juga jam kosong," jawabku santai, aku memandang ke arah Zahwa, dulu dia begitu tidak menyukai diriku karena dekat dengan dia sang ketua OSIS. Namun sejak semester kedua kemarin dia mulai dekat denganku.


"Mut, lo da masalah apa dengan Mirza?" tanya Erly pelan merasa tak enak hati, aku mengerutkan dahiku bingung.


"Aku merasa gak ada masalah, memangnya kenapa?"


"Enggak sih, cuman–––"


"Gini Mut, tadi tu pas kita nyatat resum punya lo, Mirza ikutan gitu terus pas dah dapat separo dia tanya punya siapa gitu, dan pas dijawab bahwa buku ini punya lo dia langsung diam dan gak ngelanjutin menulisnya dan kembali duduk," potong Zahwa karena merasa harus menjelaskan karena mungkin dia berpikir bahwa Erly akan kesulitan bicara.


"Ow, gue gak tahu soal itu. Soalnya hubungan gue kan agak renggang sejak semester dua kemarin kan, juga sejak dia jadian sama Fahma."


"Dia tu kayaknya suka sama Lo," celutuk Erly setelah hanya diam saja.


"Jangan ngaco deh Er, kita tu memang dekat tapi sebatas temen aja kok," jawabku dengan santai. Ah, aku cukup lelah dengan semua jangan tambah bebanku lagi.


"Lo memang gak peka, aku kenal benar dia Mut."


"Jangam begini aku mohon Er, kamu tahu kan aku gak bisa lagi memikirkan semua ini. Aku ingin sekolah dan fokus ke sekolah tanpa menambah pikiran lainnya." Erly mengangguk sambil bernapas berat.


"Tapi kalau Mirza suka sama Mutia, terus kenapa dia jadian sama Fahma?" tanya Zahwa dengan nada bak detektif. Aku menggeleng sambil mengakat kedua bahu.


"Mungkin pemikiranku salah," kata Erly kemudian.


Setelah aku lihat dia memasuki kelasnya aku hendak melangkah menuju kelasku namun dari koridor IPA1 aku melihat Mirza dan Idris berjalan ke arahku. Aku urungkan niatanku untuk masuk, aku ingin sedikit bicara dengan Mirza.


Idris dan Mirza berhenti di depanku, aku melihat Idris menyodok perut Mirza dengan sikunya. Aku jadi mengambil kesimpulan bahwa itu adalah sebuah kode.


"Dari mana?" tanyaku ramah.


"Dari kantin," jawab Idris sedang Mirza sudah buang muka.


"Kayaknya kalian perlu ngobrol berdua," kata Idris hendak melangkah.


"Jangan Dris, kamu di sini saja." Aku mencegah kepergian Idris karena aku yakin itu juga akan mencegah Mirza yang akan ikut melangkah.


"Sebenarnya aku ingin ngobrol sama Mirza, tapi kamu gak perlu pergi," kataku menjelaskan karena aku melihat kerutan di dahinya.


"Za, maaf kalau aku punya salah sama kamu dan terimakasih untuk setahun ini," kataku dengan tulus, aku tak membutuhkan jawaban dari Mirza jadi aku putuskan berpamitan pada Idris dan masuk ke dalam kelasku.


Aku mendengar Idris memarahi Mirza yang hanya diam saja, namun aku tak memperdulikan itu aku kembali mendudukan pantatku ke kursi, sebelum aku kembali berkutat dengan soal kimia aku melihat ke arah Irvan dan gerombolannya yang memandang ke arah ku, kemudian aku melihat Shinta yang beranjak dari duduknya dan kembali duduk di sebelahku.


"Lo gak papa?" tanya Shinta kepadaku dengan pelan.


"Kelihatan ya?" tanyaku mencoba tersenyum.


Dia bergumam dan mengangguk, aku jadi tersenyum miris. Apa sekelihatan itu rasa putus asaku? Aku benar-benar lelah, seolah tubuhku sudah tak mampu menampung kepalaku, aku meletakkan kepalaku di bahu Shinta.


"Lo masih punya gue, lo tahu terkadang kita harus melepas dari pada mengekang dan melukai," kata Shinta menashehatiku.


"Kamu tahu Shin, aku mendudukkan mereka di singgasana tinggi di sudut hatiku, namun mereka tak memahamiku, mereka hanya melihat dari sudut pandang mereka saja."


"Biarkan mereka turun dari kursi tinggi itu, dan biarkan orang lain menempatinya. Gue tahu lo butuh waktu untuk beradabtasi dengan yang baru yang terpenting adalah kamu mau membuka hatimu. Bukankah saat kita berjalan melangkah ke depan kita selalu menemui sesuatu yang berbeda, jadi teman lepas itu bukan hal baru."


Kami terdiam dalam pikiran masing-masing, aku membenarkan perkataan Shinta dan aku bersyukur memilikinya.

__ADS_1


-------------------


Melepas sebuah pegangan untuk belajar melangkah kedepan, itulah yang saat ini aku coba.


Aku duduk di kursi, aku membuka jendela kamarku. Ku biarkan sapuan angin menerpa wajahku. Ingatanku kembali ke masa itu, di mana awal sebuah kerenggangan ini dimulai.


Senin, adalah hari yang paling tidak menyenangkan bagi setiap pelajar. Namun beda halnya denganku hari ini, aku sudah sangat menantinya karena aku ingin segera menemui temanku dan menjelaskan semuanya.


Aku masuk ke dalam gerbang, di sana nampak sepi karena mulai hari ini adalah hari bebas jadi tidak banyak PKS (penjaga keamanan sekolah) yang berdiri di dekat gerbang.


Aku melangkah dengan cepat, berharap cepat sampai kelas dan menyelesaikan semuanya. Namum naas tak bisa di tolak, saat aku hendak belok menuju koridor kelas satu aku menabrak salah satu senior yang wajahnya familier tapi aku lupa namanya.


Dia marah-marah tidak jelas padahal aku sudah minta maaf, tapi jawabannya sungguh menyesakkan. "Mang maaf lo bisa buat badan gue gak sakit."


Setelah senior itu pergi, aku segera membereskan pakaianku dan melangkah ke depan, dan di depan sana berjarak lima meter aku melihat dua orang berdiri melihat ke arahku dengan tatapan yang intens. Seperti deveju dengan kejadian ini, aku yang tak ingin bernostalgia langsung bergegas begitu saja melewati dua orang yang aku kenal itu dalam diam seolah mereka adalah tak kasat mata.


Aku masuk ke dapan kelas, namun aku tak menemui siapapun yang aku cari. Kemana mereka?


"Shin, lihat Mira, Madin sama Erly gak?" tanyaku saat berpapasan dengan Shinta.


"Mereka lagi kumpul di aula, persiapan LDK."


"Pagi-pagi gini?" tanyaku meyakinkan. Shinta kembali memainkan handphonenya sambil mengangguk.


Aku duduk di kursiku, dalam diam. Banyak anak keluar masuk, mereka hanya sebatas menyapa.


Aku mengeluarkan novelku, kemudian aku asik dalam duniaku sendiri, tanpa menyadari bahwa aku telah lama menunggu.


"Lo udah balikin buku perpus belum?'' tanya Feby yang duduk di kursi Mira.


"Belum sih, kenapa?"


"Perpus yuk," ajaknya, aku merenung sejenak untuk memikirkan. Seolah tahu apa yang aku pikirkan Feby berkata. "Mereka udah balikin buku tadi."


Aku hanya tersenyum tipis kemudian mengiyakan ajakan Feby. Aku dan Feby berjalan beriringan menuju perpustakaan. Di koridor kelas X-2 aku berpapasan dengan Madina dan Erly.


"Lo mau kemana?" tanya Erly, sedang Madina sudah membuang muka.


"Mau ke perpus balikin buku pinjaman."


"Dapat temen baru, lo." Madina berkata dengan cuek dan sinis.


"Ati-ati dengan topeng polos. Bisa jadi lo cuman dimanfaatin." Madina berkata menghadap Feby sambil menepuk bahunya kemudian berlalu. Erly mengikuti Madina namun dia sempat menoleh dengan wajah penuh penyesalan. Aku menarik bibirku simentris, aku tahu mereka marah padaku.


"Udah gak usah didengerin, mereka hanya emosi aja." Feby menarik tanganku ke lain arah dengan mereka, kami melanjutkan berjalan menuju perpustakaan.


Setelah mengikuti berbagai prosesi persyaratan untuk pengembalian buku, aku duduk di salah satu kursi baca di perpustakaan sambil menunggu Feby selesai. Dia masih ke koperasi untuk membeli sampul buku, karena ada beberapa bukunya tidak masuk seleksi pengembalian.


Sebenarnya tadi aku hendak ikut, namun Feby melarangku katanya takut aku kecapean, berlebihan sekali. Dan jadilah aku terdampar di sini mengamati beberapa anak sibuk dengan kegiatannya dan juga beberapa anak yang tengah mengantri.


Aku memandang kosong ke depan, aku tidak tahu haruskah aku menjelaskan semua kepada mereka atau aku hanya diam saja supaya mereka tahu dengan sendirinya.


Aku menghembuskan napas beratku, aku bimbang dan lebih ke bingung.


"Udara bisa cepet abis kalo lo ngirupnya sekasar itu," kata seorang cowok berambut cepak. Dari bed kelasnya aku melihat dia seangkatan denganku. Aku tidak menjawab hanya mendengus tak suka, aku tidak mengenalnya namun dia seenak jitadnya mengurusi urusanku.


"Napa lo liat-liat?" tanyanya sinis, namun masih sibuk menyampul buku diktaknya. Aku memutar bola mataku jengah, kemudian membuang muka. Aku mendengar dia terkikik, dan saat aku menoleh lagi, di sana ada kak Alfa yang tengah berdiri.


"Napa ekspresi lo butek banget?" tanya kak Alfa.


"Lo kenal dia Al?" tanya cowok rambut cepak itu, aku tidak tahu namanya karena dia tidak memasang bed nama di seragamnya.


"Kenal, dia kan cewek yang duduk di sebelah gue," jawab kak Alfa cuek. Kemudian kembali menoleh ke arahku.


"Lo kenapa?" tanya kak Alfa lagi, aku hanya menggeleng kemudian mengangkat bahuku acuh.


''Terkadang masalah itu gak butuh dicari penyelesaiannya, hanya butih dihadapi aja." Kak Alfa berjalan keluar perpustakaan dan cowok berambut cepak itu juga sudah tidak ada.


Aku menghembuskan napas berat, kenapa semua orang penuh teka-teki dan mengesalkan.

__ADS_1


Dan tanpa berpikir ulang lagi, aku memutuskan akan menceritakan semuanya kepada Mira, Madina dan Erly. Entah bagaimana reaksi mereka setelahnya, yang terpenting adalah beban pikiranku sedikit terpindahkan.


-----------------------


__ADS_2