Berawal Dari Abu-abu

Berawal Dari Abu-abu
Ketua OSIS dan Kapten Basket Masa Kini


__ADS_3

Tak ada harapan selama tak memiliki mimpi yang tertanam.


Tak ada mimpi tanpa ada tekat untuk menggapai dan memiliki harapan.


Dua hal yang saling bersangkutan tak akan ada yang bisa memisahkan.


---------------


Pagi yang cerah, secerah mentari yang tengah menyinari. Langit nampak berwarna biru dengan hiasan awan putih seputih salju yang berbentuk dengan indahnya. Maka nikmat Tuhan mana lagi yang hendak kau dustakan?


Setelah berpamitan dengan ayah, aku mengucapkan salam dan membuka pintu mobil yang nampak tua namun terawat ini.


Mobil ayahku ini adalah mobil kesayangan, saat aku tanya mengapa ayah senang sekali dengan mobil yang tua ini beliau menjawab bahwa mobil ini adalah "joko loro" atau istilahnya adalah benda yang dibeli saat masih susah.


Konon ceritanya mobil ini adalah mobil pertama yang dibeli ayah dengan usahanya sendiri, beliau mencicil ke sang bos. Dan saat itu ayahku bukanlah seorang dosen seperti saat ini melainkan seorang pegawai di sebuah estansi swasta. Dan dari potongan gajinyalah ayah dapat membeli mobil ini. Jadi ayah begitu menyayanginya, meski memiliki mobil yang lainnya namun mobil ini akan tetap ayah gunakan paling tidak sepekan sekali.


Aku melangkah masuk ke dalam gerbang, di sana di depan pos ada beberapa PKS (read : penjaga keamanan sekolah) berdiri berjajar mengamati setiap siswa siswi yang masuk, mereka bertugas meneliti artibut lengkap murid.


Ah baru ingat, hari ini adalah hari senin pantas saja yang berjaga lebih banyak dari biasanya.


"Assalamualaikum, Pak Rahmad." Aku menyapa pak Rahmad yang juga sedang berdiri di dekat gerbang.


"Waalaikumsalam, e cah ayu, wes sehat?" tanya beliau dengan nada jawa yang kental dan jangan salah bibir yang menyungging ramah nampak tertera.


"Alhamdulillah, sudah pak."


"Artibut lengkap?" tanya pak rahmad lagi, aku mengangguk sambil tersenyum.


"Yo wes, gek mlebu ae. Lek sih lemes izin gak usah ikut upacara, nanti pingsan lagi." Nasihat pak Rahmad bak seorang ayah yang begitu menyayangi anaknya membuat dadaku menghangat. Aku mengangguk kemudian berpamitan untuk ke kelas, dan beliau menjawab dengan ramah.


Menurut cerita yang aku dengar, pak Rahmad itu adalah single parent dengan seorang putri yang sekolah di SMAN tak jauh dari sekolahku. Aku sudah pernah bilang bukan bahwa sekolahku adalah sekolah swasta. Namun meski swasta namun kualitasnya mengalahkah sekolah negeri. Kembali ke cerita pak Rahmad, beliau mengasuh putrinya sejak umur 2 tahun, sang istri meninggal karena penyakit jantung. Jadi beliau itu adapah sosok ayah yang sangat baik, bijak sana dan pengertian bahkan banyak anak di sekolah ini begitu mengidolakan beliau.


Berhenti dari cerita tentang sosok baik nan ramah itu, kini aku melangkah menuju kelasku. Beberapa kali aku berpapasan dengan orang yang aku kenal, kami hanya saling menyapa dengan salam dan juga senyuman. Tepat di dekat bangunan kelas bahasa aku berhenti melihat kerumunan yang ada di dekat tangga yang akan aku telusuri untuk mencapai kelasku, di sana adalah ruang peralatan olahraga.


Aku heran tidak biasanya di jam akan ada upacara ruangan itu nampak ramai, aku cukup penasaran namun aku tak ingin memupuk penasaran ini jadi aku belajar mengabaikan.


"Lo udah sehat?" tanya Mira yang ternyata tengah menyapu di teras kelasnya.


"Alhamdulillah," jawabku sambil senyum dan mengulurkan tanganku, kami saling berjabat tangan.


Setelah cukup lama kami hanya saling diam, aku memandang kosong ke arah depan sedang Mira, aku tidak tahu menahu.


"Aku akan ke kelas lebih dulu. Assalamualaikum." Aku berpamitan, setelah mendengar jawaban salamku aku bergegas melangkah. Aku merasa hal ini sudah lebih dari cukup, mungkin Allah menakdirkan hubungan di antara kita hanya sebatas teman menyapa.


Aku menelusuri koridor kelasku, aku merasa suasana hatiku cukup baik hari ini. Saat aku hendak naik, aku mendengar suara Irvan memanggil.


"Mutia."


"Assalamualaikum, Van."


"Waalaikumsalam Warohmatullahi Wabarrokatuh." Jawab Irvan sambil nyengir membuatku tersenyum tipis, aku tahu dia pasti merasa malu dengan teguranku yang tersirat. Tapi aku akan tetap melakukan itu biar tumbuh kesadaran diri untuk saling mengucapkan salam.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Irvan sambil kami berjalan menuju kelas.


"Alhamdulillah baik, bisa kamu lihat kan?"


"Ya, aku merasa kamu lebih hidup meski dengan wajah pucatmu." Dia berkata dengan pandangan tetap lurus ke depan, dialah Irvan yang aku kenal. Dia tak pernah mau berbicara dengan memandang fokus ke arahku, bukan karena dia mengingat peringatan Allah untuk menjaga pandangan akan tetapi lebih ke dia yang merasa bersalah. Begitulah jawabnya saat beberapa waktu lalu aku tanya mengapa dia tidak berani memandangku.


"Apa wajahku begitu terlihat?" tanyaku santai sambil tetap fokus ke jalan.


"Ya, jika transparan pasti menakutkan." Dia menjawab dengan nada berbicara yang lain, mungkin ini adalah sosok humoris yang dia miliki, aku tersenyum mendengarnya.


"Aku yakin kamu tahu maksudku," kataku dengan nada tegas, dia hanya terkekeh riang.


"Gue cukup pintar untuk mengetahuinya," dia menjawab dengan suara yang renyah. Aku berpikir mungkin dia berada dalam mood yang levelnya di atas baik.


"Assalamualaikum," ucap kami bersamaan saat memasuki kelas.


Kemudian kami berbaur dengan yang lainnya, saling berjabat tangan dan menanyakan keadaan. Setelah mendengar bel merekapun turun ke bawah untuk mengikuti upacara.


Oh upacara, ada sesuatu yang mengganjal dengan bel tanda upacara.


Tapi apa?


Mengapa aku tak menemukannya?

__ADS_1


"Ini surat izin lo," kata Shinta sambil meletakkan selembar kertas di depanku.


"Terimakasih," jawabku tulus. Dia tersenyum kemudian melangkah keluar kelas bergabung dengan yang lainnya untuk mengikuti upacara.


Dialah Shinta, teman dalam diam yang begitu peka. Kadang aku merasa dia memiliki kelebihan indra, sebab dia tahu apa yang aku butuhkan dan dia seperti perisai yang tak kasat mata. Dia hanya diam, namun dia langsung bertindak tanpa banyak bicara. Dia terlihat diam namun aku rasa dia tidak benar-benar diam. Dan aku beruntung memilikinya.


Lihatlah, tadi aku sudah diperingati pak Rahmad untuk meminta surat izin, namun aku lupa. Tanpa berbicara apapun Shinta sudah memintakannya untukku, bukankah dia tidak hanya diam selama ini.


Dia juga mengamati bukan?


Di sekolahku ini mempunyai tata tertib yang cukup ketat, jadi saat sudah 10 menit upacara berjalan nanti bakal ada anggota keamanan sekolah yang akan berkeliling memastikan bahwa semua siswa dan siswi mengikuti upacara. Oleh sebab itu, bagi siswa atau siswi yang tidak mengikuti harus berdiam diri di kelas dengan memegang selembar surat izin yang sudah dia dapat dari guru dan keamanan piket.


Aku membuka buku sejarahku dengan tenang, aku mulai melihat soal-soal yang ada di dalamnya. Aku tak ingin membuang waktu ku dengan percuma hanya untuk duduk dan menunggu upacara selesai jadi aku mulai mengerjakan soal yang berisi tentang makhluk purba kadang aku balik ke tentang kerajaan islam.


Tok.... tok.... Suara ketukan pintu membuatku melihat ke arah sumber suara itu.


"Hanya sendiri?" tanya Naning anak IPS kalau tidak salah.


"Iya," jawabku, kemudian dia mengambil surat izin dan menulis sesuatu di buku panjang seperti absen yang Fia bawa.


"Kamu masih nampak pucat," komentarnya sambil melangkah keluar. Hingga tanpa sadar aku memegang kedua pipiku.


"Apa begitu terlihat?'' tanyaku pelan kepada diriku sendiri.


-----------------------


Tanpa kita tahu, ada seseorang yang jauh dari kita yang selalu mengharap mengetahui perkembangan tentang kita meski hanya sebatas di dalam angan semata.


---------------------


Waktu, siapa yang mampu menghentikannya? Tidak, bukan menghentikan hanya sebatas menggantinya.


Waktu begitu kejam, dia tak pernah mau berhenti ataupun menanti kita. Jadi hal yang kita lakukan adalah berusaha menyesuaikan waktu bukan hanya menyalah gunakannya.


"Ini untukmu," kata Iqbal, salah satu teman sekelasku menyodorkan nasi kotak dan juga minuman gelas.


"Terimakasih," aku menerimanya, aku tidak menyadari kehadiran mereka. Ah, aku sepertinya terlalu fokus pada bukuku hingga lupa keadaan.


"Bal," panggilku saat melihat tubuhnya hendak berbalik. Dia menoleh ke arahku dengan wajah tak wajarnya. Mengapa aku mengatakan tak wajar, karena aku tak pernah melihat wajah seriusnya selama ini, dia adalah sosok yang ceria dan banyol.


Iqbal kembali ke tempat duduknya saat aku sudah tak lagi bertanya. Aku memasukan kotak nasi ke dalam laciku, hingga aku mengingat sesuatu. Ah, ingatanku kembali ke masa itu di mana aku mendapat kirimam kotak bekal berisi dua tangkup roti. Tanpa terasa aku meringis merasakan rasa tidak nyaman di dada dan mataku. Besar kutipan sebuah novel kurang lebih seperti ini isinya, akan banyak orang gagal move on, karena selama ini kita bersekolah selalu diajari untuk menghafal dan mengingat bukan untuk melupakan. Jadi wajarlah kalau aku sering mengingat kejadian di masa lampau.


"Lo kenapa?'' tanya Dwi, mungkin dia melihat ekspresi meringisku. Aku menggelengkan kepala.


"Enggak kok hanya sedang merasa gak nyaman aja." Dwi mengangguk kemudian kembali duduk dengan yang lainnya.


Tak lama berselang aku kembali memandang ke arah buku yang ada di depanku. Hingga aku menyadari pergerakan di kursi Shinta, tanpa terasa aku menoleh dan langsung disuguhi dengan cengiran Irvan.


"Kenapa?" tanyaku pelan, kemudian dia duduk dan meletakkan kain di atas meja.


"Gue numpang duduk, temenin gambar ya,'' jawabnya sambil menata karbon dan kain.


"Mang tempat duduk kamu kenapa? Perasaan sepi?" tanyaku sambil menoleh ke belakang.


"Ada lubangnya di atas meja," jawabnya cuek dan sepertinya dia masih asik dengan kainnya. Dialah Irvan yang baru aku tahu bahwa menggambar adalah dunianya. Akupun akhirnya diam tidak ingin menggangu konsentrasinya.


"Shinta kemana?'' tanyannya masih dengan menggambar.


"Tadi bilangnya mau ke kelas Erly." Aku kembali fokus ke bukuku dan hanya menjawab pertanyaannya dengan gumaman.


"Lo udah tahu kalau Ryan kepilih jadi ketua OSIS?" tanya Irvan.


"Iya," jawabku singkat.


"Menurutmu Ryan dan Vima cocok gak?" tanya Irvan lagi, kali ini dia meninggalkan gambarnya dan memandang antusias ke arahku. Aku hanya mengerutkan dahi tidak mengerti akan maksud Irvan.


"Vima?" tanyaku tidak yakin sambil memandang ke arah Ryan duduk dan Irvan bergantian.


"Iya, Devima temen kamu satu kelas di X-5." Sekali lagi aku memandang ke arah Ryan, namun naas tak bisa aku hindari karena saat aku menoleh ke arahnya tepat saat dia juga melihat ke arahku. Tanpa terasa mata kami bertemu beberapa detik, dan aku melihat senyum tulusnya membuatku merasa ada yang tidak nyaman.


"Eh, malah pandang-pandangan." Aku langsung menoleh ke Irvan sambil meringis.


"Aku tidak tahu, maksud dari kecocokan itu sendiri. Karena cocok tidaknya itu relatif, setiap orang memiliki pendapat masing-masing." Irvan menoleh ke arah Ryan, kemudian dia tersenyum simpul.


"Sebenarnya gue suka kalau Ryan sama Vima dari pada sama Lo," kata Irvan memandang gerak-gerik Ryan.

__ADS_1


"Hah?" Aku yang akan kembali membaca langsung menoleh ke arah Irvan.


"Kenapa Lo kaget gitu, Mut?" tanya Ryan ya sudah duduk di kursi Ana dan menghadap ke belakang, jadi kami berhadapan.


"Hah," hanya itu yang keluar dari mulutku, entah kenapa aku jadi linglung seperti ini.


Aku mendengar Irvan terkekeh, dan sepertinya tanganku bekerja lebih dahulu sebelum diperintah. Dan buku yang aku baca mendarat beberapa kali di bahu Irvan. Hingga tawa Irvan meledak membuat kita jadi pusat perhatian.


"Ciye.... Memerah kayak tomat apa kepiting rebus?" goda Irvan membuatku salah tingkah.


"Kalian cocok," komentar Ryan dengan pelan. Aku hanya memandang Ryan dengan dahi berkerut.


"Cocok?" tanyaku dan Irvan bersamaan. Ryan hanya mengangguk kemudian menaikkan bahu dan beranjak pergi. Aku dan Irvan hanya saling pandang tak mengerti.


"Eh, pak ketos dicari Vima di depan," teriak Dwi dari depan pintu. Kebiasaan anak-anak itu baik cewek atau cowok sering berbaur dan duduk di depan pintu secara lesehan. Sambil bergurau atau bergosip bersama, tak jarang mereka juga menggoda siapa saja yang lewat di depan teras kelas.


"Mut, menurut lo sebaiknya gue terima gak jabatan kapten basket?" tanya Irvan setelah kami diam beberapa saat. Aku tersenyum ke arahnya, kemudian kembali membaca.


"Gimana Mut?" tanyanya lagi seolah ingin pendapat dariku, sedangkan diriku sudah tak bisa konsen sama sekali kala kata 'kapten basket' terucap dari bibirnya.


"Aku tak tahu, Van," jawabku lirih.


"Kalau gue terpilih jadi kapten basket, Lo gak bakal jauhin gue kan? Gue udah terbiasa temenan sama lo jadi kalau lo menjauh sepertinya ada yang tak enak dan kosong."


"Gombal kamu recehan Van, biasa aja kali. Kita akan tetap jadi teman kok. Santai aja kali semua itu gak mempengaruhi diriku kok. Emang apa hubungannya coba." Aku memasukkan novelku ke dalam tas dan merapikan buku yang ada di atas meja. Karena bel tanda masuk berbunyi.


Irvan berpamitan untuk kembali ke tempat duduknya saat melihat Shinta berjalan menuju bangku.


"Udah baikkan?" tanya Shinta sambil mengeluarkan buku diktak dan alat tulisnya.


"Alhamdulillah, sudah lebih baik." Aku tersenyum ke arahnya dan dia juga tersenyum.


"Jangan sakit, kamu harus sehat."


"Maksudnya?" tanyaku heran, dia hanya bergeleng kemudian dia memberi kode bahwa sang guru sudah memasuki kelas.


-------------------------


Siang ini halaman utama sekolah nampak begitu ramai, terbukti dari banyaknya gerombolan siswa-siswi yang tengah berbicara dan berdiskusi.


Aku berjalan melewati gerombolan itu begitu saja, aku berjalan sambil menunduk sekali-kali aku mendongak menatap ke arah jalan.


"Mutia...." teriak sebuah suara dari samping kanan, dan berarti dari koridor laboratorium Bahasa.


Aku menoleh dan mendapati Riska tengah melambaikan tangannya, Riska adalah salah satu kenalanku saat aku mengikuti kegiatan terbuka jurnalis bekerjasama dengan salah satu koran kota, kebetulan pada waktu itu salah satu narasumber membuat challange dadakan berupa mencari pokok berita dalam sebuah koran dan ternyata aku dan Riska masuk ke nomonasi tiga besar yang sumber beritanya mendekati sempurna, mulai dari situlah kami mengenal dan sering bertukar pikiran tentang dunia jurnalis.


Aku tersenyum ke arahnya, kemudian mengangkat kakiku untuk melangkah menuju tempat dia berdiri, namun ternyata bukan hanya aku saja yang berjalan mendekat, dia juga jadi jarak tempuh langkahku semakin dekat.


"Ada apa?" tanyaku langsung tanpa mengucap salam, karena aku tahu dia beragama non islam.


"Enggak, aku cuman mau kasih tahu kamu aja," katanya dengan senyum ramah. Riska adalah katagori cewek yang cukup terkenal di sekolah ini, selain dia cantik dia juga memiliki banyak prestasi yang mengharumkan nama sekolah ini. Dia pernah mengikuti ajang MisMas kota dan mendapat juara dua. MisMas kota itu seperti ajang putri Indonesia yang diadakan oleh wali kota khusus untuk pelajar SMA, guna mencari duta-duta yang akan dimasukkan ke duta pariwisata kota.


"Ini, ada event kesempatan menulis bersama Penerbit Kata Awal." Aku menerima sebuah brosur yang dia berikan.


"Eventnya baguskan, gue gak bisa ikut karena itukan khusus orang Islam. Karena temanya ditentukan." Aku menoleh ke arahnya, dia nampak sedih karena tak bisa mengikuti event ini.


"Terimakasih ya infonya," kataku sambil tersenyum.


"Lo harus ikutan, asal lo tahu aja lo adalah orang pertama yang gue kasih brosur. Awas kalau sampai gak ikut." Riska berkata dengan nada mengancam, namun jangan salah dia tidak benar-benar mengancam karena bibirnya saja mengukir sebuah senyuman.


Aku tersenyum sambil memasukkan brosur itu ke dalam tasku, aku tidak mengiyakan atau menolak ikut partisipasi karena aku masih belum memutuskannya.


"Kamu gak pulang?" tanyaku, dia hanya menghembuskan napas besar, dia mendramalisir keadaan.


"Mau bagaimana lagi, aku masih ada tugas mewawancarai ketos baru sekolah kita untuk berita mading minggu ini, jadi aku tak punya pilihan selain tetap tinggal. Lo tenang saja aku akan menyelesaikan tugas ini dengan benar." Mungkin jika aku baru mengenal Riska aku akan bingung dengan ucapannya, namun aku sudah cukup mengenalnya jadi aku tahu bahasa absurd yang dia gunakan.


"Ya sudah, cepat laksanakan."


"Siap komandan," jawabnya sambil hormat bak hormat bendera saat upacara. Kemudian kami tertawa bersama.


"Ya udah aku balik duluan ya," pamitku, dia mengangguk kemudian melambaikan tangannya sambil memandangku yang melangkah berlawanan arah dengan langlah yang akan dia tempuh.


Aku melangkah dengan pasti untuk keluar kawasan sekolah, sesekali menyapa siapa saja yang aku kenal saat berpapasan.


-------------------------------

__ADS_1


__ADS_2