
Yakinilah dengan hati, pertegas dengan ucapan dan buktikan dengan tindakan. (Kru Kepo)
--------------------------
Aku merebahkan tubuhku di atas kasur hotel, hari ini cukup sangat melelahkan bagiku namun juga cukup menyenangkan. Perlu digaris bawahi 'cukup'.
"Lo gak mandi?''
"Bentar, kamu duluan aja. Kamu 'kan harus sholat." Aku menutup wajah dengan lenganku, kemudian aku langsung bangun.
Aku keingat sesuatu. Jaket, kenapa tadi aku gak beli sih? Nanti malam kan masih mau ke BNS, pasti dingin. Aku menepuk dahiku sendiri merasa bodoh.
"Lo kenapa?" tanya Shinta yang baru masuk.
"Tadi kok aku gak beli jaket ya," kataku pelan. Sedang Shinta hanya ber'oh' ria.
What? Dia hanya berkata 'oh'.
"Mut, bagi pembalut dong, kayaknya gue dapet deh." Shinta merapikan belanjaannya.
"Di ransel yang depan," kataku sambil kembali berbaring. Aku masih bisa melihat Shinta bergerak menuju ke tas ranselku bukan mau curiga hanya memastikan Shinta tahu tempatnya.
"Lo kok pucet sih, Mut?" tanya Shinta mengamati wajahku.
"Kecapeaan aja, biasakan bawaan kalau lagi datang bulan. Bawaannya pingin bermalasan karena tubuh terasa letih." Aku bangun dari berbaring kemudian aku mengambil paperbag yang berisi baju yang aku loundry tadi.
"Lama banget siapa sih yang mandi?" tanya Shinta sambil mondar-mandir. Dia gak berani duduk soalnya takut tembus jadi hanya berdiri saja.
"Salsa tadi yang mandi duluan, Dini masih menemui pak Ismail katanya," aku merapikan tasku, aku memasukan hasil buruanku tadi ke dalam tas.
"Nah, tu udah selesai," kataku saat melihat pintu kamar mandi terbuka dan menampakan wajah Salsa yang bingung.
"Kenapa?" tanya Salsa sambil mengeringkan rambutnya.
"Tadi Shinta mau keburu ke kamar mandi." Aku duduk di ranjang. Kami satu kamar berisi empat orang, jadi penghuni kamar ini Salsa, Dini, Shinta dan aku.
"Memangnya kebelet banget ya?" tanya Salsa sambil meringis. Dia mungkin tak enak hati, baik sekali dia.
"Gak kok, cuman lagi dapet jadi harus buruan ganti biar gak tembus." Aku mengamati wajah ayu nan putih Salsa.
Ah, rasa sedikit iri merayapi pikiranku. Betapa sempurnanya dia, memiliki tubuh ideal, wajah cantik dan kulit putih. Secara fisik dia sempurna menurut penilaianku, namun sayang dia nampak acuh dengan penampilan.
"Emang aku mandinya lama banget ya?"
"Iya lama banget sampai aku berakar dan berbuah," jawabku acuh dan aku melihat wajah tak enaknya.
"Iya kah, maaf ya." Dia duduk di sampingku dengan wajah bersalah. Aku terkekeh kemudian berkata, "gak kok Sa, aku cuman bercanda."
Dia menabok pahaku gemas, "kirain beneran. Iseng banget sih Mut." Aku tersenyun lebar, kemudian dia pamit ke mushola hotel untuk sholat.
Sesaat setelah Salsa keluar Dini masuk, ternyata dia juga lagi dapet jadi kami menghabiskan waktu untuk ngobrol bersama mulai dari hal yang paling tak penting sampai hal yang paling lebih gak penting lagi.
Kami membahas tentang belanjaan, terus membahas masalah model baju dan busana, ngobrolin politik bahkan ngobrolin masalah artis. Kalaupun kami berdua ngobrol aku lebih banyak diam dari pada bercerita, tahu sendiri kan kalau kemampuanku berbicara masalah bidang sosial seperti itu sungguh minim.
----------
Kau laksana bintang di malam hari, sedang aku hanya butiran pasir yang menunggumu dari kejauhan di siang hari dan menatapmu di malam hari masih tetap dari jauh. (KruKepo)
---------
Kami turun dari bus secara bergantian, aku menggunakan baju serba ungu putih tulang seperti waktu berangkat kemarin.
Setelah keluar dari bus, aku menghirup napas lega meskipun rasa dingin langsung membelai manja tubuhku. Aku menunggu Shinta yang masuk ke bus kembali karena ponselnya ketinggalan.
"Mau kemana dulu?" tanya Shinta yang ada di dekatku. Kami sekarang ada di alun-alun Batu. Kami di sini sebelum magrib sampai isya sebelum menuju BNS.
"Aku pingin cuci muka," kataku sambil menuju ke halaman masjid.
"Yuk," kata Shinta sambil menggandeng tanganku.
Kami menuju ke kamar mandi yang ada di ruang bawah masjid, saat menuruni tangganya, rasa dingin menyalur ke aliran tubuhku dan rasanya mampu membekukan darahku.
Hehehe... Hiperbola banget ya diriku.
Setelah selesai membersihkan diri, bertepatan dengan adzan maghrib. Karena kami berdua tidak pada fase suci, jadi kami bergegas menuju ke alun-alun untuk menikmati suasana senja.
Ah senja, padahal di waktu ini harusnya kami berada di dalam rumah. Karena menurut cerita di jam seperti ini adalah masa malaikat berganti tugas dan syetan berkeliaran.
Jalan nampak ramai, namun yang berjalan kaki nampak sedikit. Aku memencet tombol di tiang berharap lampu lalu lintas berganti dan kami berdua bisa menyebrang.
"Ramai ya, Mut. Padahal hari hampir malam." Aku hanya mengangguk sambil menyebrang.
Tepat di tengah jalan kami berpapasan dengan segerombolam pemuda yang sepertinya lebih dewasa dari kami. Dan dari sekian banyak parfum yang mereka gunakan aku mencium satu bau parfum yang sangat aku kenal.
Mereka ada lima orang cowok dan 3 orang cewek. Aku segera menoleh saat sudah sampai di seberang jalan. Aku berharap menemukan sosok pemakai parfum itu, namun hasilnya nihil karena aku tak mengenali sesosokpun dari mereka.
"Lo kenapa?" tanya Shinta,
"Kamu merasakan sesuatu gak?" tanyaku penuh harap.
"Iya," jawab Shinta membuat aku berbinar.
"Apa?" tanyaku antusias.
__ADS_1
"Lapar," jawabnya sambil nyengir. Aku mendesah kemudian berjalan mendahuluinya. Aku masih mendengar suara kekehan Shinta. Aku mengarahkan lensa kameraku menuju air mancur berbentuk bintang yang nampak indah.
"Gue mau foto," kata Shinta sambil bergaya di dekat air mancur. Aku mengangguk, setelah berfoto secara bergantian dan sesekali kami berdua berfoto dengan bantuan orang yang tidak dikenal.
"Aku pingin banget naik bianglala," kataku sambil mendongak.
"Iya nanti ya, nunggu kepastian kalau yang aku pikirkan itu benar." Shinta berkata sambil memfokuskan pandangan ke arah masjid.
"Pikiran apa?'' tanyaku heran, kemudian kami berdua duduk di plataran.
"Tadi aku merasa melihat bang Abi." Shinta berkata dengan pelan sambil menoleh ke arahku. Aku yang awalnya sedang melihat foto hasil cepretan kami tadi langsung menoleh.
"Jadi kamu juga merasakan itu, maksudku memiliki feeling yang sama seperti pikiranku tadi," kataku bingung untuk mengungkap pikiranku.
"Iya, kamu juga?" tanya dia heran.
"Tadi sewaktu kita nyebrang aku mencium bau parfum Abi, yang jarang aku temui." Aku akhirnya jujur juga dengan pemikiranku. Aku melihat Shinta mengangguk, sepertinya dia juga merasakan hal yang sama.
"Aku juga, soalnya bau parfum bang Abi khas banget."
Kami berdua kemudian diam dan menikmati semilir angin yang dangat dingin. Aku sesekali membelai lenganku supaya sedikit hangat sebenarnya banyak tanda tanya di kepalaku, tapi aku tak berniat mencari jawaban untuk memuaskan hasrat keingintahuan dalam otakku. Tiba-tiba Shinta berdiri. Aku lumayan terkejut, aku melihat ada Kamil dan yang lain di ujung sana.
"Bang Abi," teriaknya, membuatku menoleh ke arah Shinta.
"Aku ke Kamil dulu," kataku sambil berjalan menuju Kamil yang ada di dekat patung kerbau atau sapi.
Aku tak bisa bertemu Abi saat ini meski aku ingin, tapi entahlah aku juga merasa tak nyaman dan tak tahu bagaimana ini rasanya yang jelas aku tak nyaman dan gelisah.
"Mil, tolong foto aku di dekat air mancur yang ada buah apelnya itu dong," pintaku di dekat Kamil, dia mengerutkan dahi kemudian mengangguk.
Kami berfoto bergantian dan beberapa teman juga ikutan, setelah itu aku berdiri di tempat sambil mengamati hasil foto, dan yang lainnya tengah bercanda gurau.
"Nih, lo pakai jaket gue," kata Kamil mengulurkan jaketnya. Ah ternyata dia melepas jaketnya untuk diriku. Wah so sweet banget sih si Kamil. Aku tahu benar sifat teman satu angkatanku ini, dia baik dengan caranya sendiri yang kadang disalah artikan oleh teman-temannya.
"Gak deh Mil, kamu nanti kedinginan." Aku menolak dengan halus. Kamil sempat memaksa namun akhirnya dia tidak bisa berkutik karena sifat keras kepala yang aku miliki.
Hingga saat aku tengah ikut bercanda dan kami berniat mencari makan di rumah makan yang ada di seberang pokoknya ada kata 'Solo' di nama rumah makan itu, aku merasakan ada jaket dipasangkan di bahuku, aku menoleh mendapati Shinta tengah tersenyum. Aku melepas jaket pemberian Shinta.
"Gak usah bergaya, nanti kamu kedinginan dan sakit aku yang repot kan," kataku sambil memberikan jaketnya.
"Gue gak kedinginan kali," kata dia dengan santai sambil kembali memberikan jaketnya.
''Pakai, lihat aku juga pakai kan," kata dia dengan cuek kemudian menimpali obrolan yang lainnya, mereka tengah membahas siapa yang bakal beli nasi kotaknya.
Aku mengerutkan dahi mulai berpikir, jika ini bukan jaket Shinta lalu ini jaket siapa?
Aku berpikir keras hingga aku merasakan ponselku berbunyi, dari nomor yang tidak ku kenal. Aku tidak mengangkatnya, maklum aku suka illfeel dengan orang iseng.
Saat pemikiran kata cowok, aku jadi teringat satu nama 'Abi'. Shinta baru saja bertemu dengannya dan kembali dengan membawa jaket ini. Jangan bilang bahwa jaket ini–––kalian tahukan maksudku.
"Shin, jangan bilang kalau jaket ini–––" kataku menggantung.
"Ya Allah Mut, lo diam sejak tadi cuman lagi mikirin hal itu," kata Shinta sambil geleng-geleng. Aku cemberut.
"Mil, aku dua ya," kata Shinta kemudian menarik tanganku dan kami berjalan menuju pembelian tiket naik bianglala.
Kami naik, kemudian duduk bersampingan aku masih sibuk membalas pesan ayah dan kak Rifa, sedang Shinta tak tahu sedang apa.
"Kak Hasan libur berapa lama?" suara Shinta bertanya. Tunggu, kak Hasan? Aku langsung mendongak dan melihat kak Hasan dan Abi duduk di depan kami.
Aku kaget, aku syok bolehkah aku turun saja? Aku menoleh dan merasakan bianglala mulai berputar. Aku masih melihat senyum sinis di wajah itu dan satu wajah ini–––datar.
"Hai Mutia, long time no see," sapa kak Hasan. Aku seolah kehilangan segala fungsi organku, aku hanya diam tak menjawab sedikitpun.
Kemudian kak Hasan dan Shinta berbicara dengan akrabnya, membiarkan diriku sendiri dalam diam. Karena merasa canggung aku langsung menoleh ke arah luar, entah langit bumi atau lampu yang menyala. Aku tak ingin mendengar pembicaraan mereka, meski itu nampak bohong karena pada akhirnya aku tetap mendengar pembicaraan mereka berdua dengan sesekali Abi menimpali.
"Yuk Foto," kata kak Hasan sambil mengeluarkan ponsel express-––miliknya.
"Kalian geseran dikit dong Mut, Bi." Entah setan mana yang merasuki diri kami sehingga kami berpose dengan urutan kak hasan, Abi, aku dan Shinta di depan kamera.
"Nanti gue tag di FB kalian," kata kak Hasan setelah beberapa kali menjepret.
"Lo datar amat sih Mut," komentar kak Hasan sambil memberi lihat fotonya, aku hanya tersenyum tipis.
Mereka bisa dengan mudah menganggap masalah tak lagi ada diantara kita, namun aku bukan mereka aku tak bisa berpura-pura merasa nyaman dan enjoy saja.
-----------------------
Kalau memang terlihat rumit lupakanlah. Itu jelas bukan cinta sejati kita. Cinta sejati selalu sederhana. Pengorbanan yang sederhana kesetiaan yang tak menuntut apapun dan keindahan yang apa adanya.
(Tere Liye)
-----------
Setelah turun dari bianglala aku berpamitan untuk ke toilet sebentar, padahal aslinya aku tengah menghindari pembicaraan dengan mereka.
Namun, saat aku berjalan menuju toilet aku mengenali sosok pemuda yang tengah berbicara melalui telepon. Aku yakin bahwa dia adalah bang Adi, salah satu anak jalanan di ibukota. Aku mengenalnya karena kami pernah turun ke jalan bersama.
Ah kalian pasti heran. Ya, sebagai anak korban broken home aku pasti tidak semudah itu aku menerima keadaan. Apalagi aku tinggal bersama ibuku dan beliau tengah sibuk dengan keluarga barunya.
Waktu itu aku masih SMP, bahkan aku masih belum mendapatkan tamu bulanan. Aku iri dengan teman-temanku yang saat pengambilan raport diambil oleh orang tuanya,
sedang aku?
__ADS_1
Jangankan ayah yang tinggal di luar kota, ibuku yang tinggal serumah denganku saja tak memiliki waktu. Jadi, setiap ada panggilan ke sekolah selalu mbak Leni anak Mbok Yah asisten keluargaku yang masih setia tinggal bersama di rumah kami.
Dan berawal dari rasa iri itulah, aku gelap mata. Aku mulai malas bersekolah, aku mulai merasa menjadi anak yang paling tak dianggap dan membawaku bergaul dengan beberapa pengamen dan anak jalanan.
Aku meringis saat mengingat kejadian bodoh itu. Aku berdiri di belakang sosok itu sambil bersedekap, aku bak seorang istri yang memergoki suaminya berselingkuh.
Dia membalikan tubuhnya, aku sempat melihat wajah terkejutnya, namun bang Adi tetaplah bang Adi dia terlampau pandai bermain ekspresi. Dia langsung memasang wajah datar seperti biasa.
"Apa yang lo lakukan di sini?" tanya bang Adi datar. Waw, apa iya sapaan pertemuan pertama seperti ini, sungguh ini tidak normal bukan?
Aku diam tak menjawab, aku hanya mengamati penampilan bang Adi yang nampak berubah. Aku melihat secara intens dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas.
Aku mendengar dia berdecak, kemudian hendak pergi begitu saja. Namun aku dengan sigab menarik kemeja yang dia pakai.
Dia berhenti dan menoleh.
"Mau lo apa?" tanya bang Adi malas. Aku tersenyum.
"Aku hanya heran saja," kataku sambil memainkan ujung kemejanya, aku seperti pacar yang tengah merajuk jika seperti ini.
Aku melihat dia mengangkat alisnya,
"Sejak kapan lo ber'aku-aku' ria," dia melepas tanganku dari kemejanya.
"Udah lama kali, Bang." Dia mendesah, kemudian melangkah menuju ke arah air mancur berbentuk bintang.
Aku tidak menunggu perintah langsung mengikutinya, kemudian kami duduk di sebuah kursi di dekat patung berbentuk kelinci.
"Gue ada kerjaan sama temen di sini," kata bang Adi setelah kami duduk. Bang Adi mah orangnya baik, cuman dia nampak sangar dengan aura dan wajah datarnya.
"Berarti Abang udah gak di jalan lagi?" tanyaku. Dia menggeleng.
"Sudah hampir 6 bulan, aku kerja part time." Aku mengangguk.
"Bagaimana keadaan anak-anak, Bang?" tanyaku saat kami sama-sama diam. Kami berdua memiliki kebiasaan diam meski bersama sejak dulu. Karena sama-sama gak suka basa-basi yang kami anggap hanya basi.
"Mereka baik, sebagian dari mereka masuk ke yayasan sosial, ada yang ke panti asuhan. Hanya tinggal keluarga bu Hanum yang belum pindah." Aku cukup bersyukur mendenger berita itu.
"Bu Hanum semakin tak pernah berbicara semenjak Dila masuk penjara karena ketahuan mencopet," kata bang Adi sambil menerawang ke depan aku langsung menoleh karena kaget.
"Dila mencopet?" tanyaku dengan nada cukup keras. Dila adalah gadis yang baik, dia yang mengenalkanku pada kondisi rumah jalanan. Dia anak yang jujur, jadi saat mendengar dia mencopet aku dilanda ketidakpercayaan.
"Awalnya gue juga gak percaya, namun saat gue datangi ke kantor polisi dia bilang kalau dia beneran nyopet, jadi gue gak bisa melakukan apapun lagi." Aku mendengar suara bang Adi serak. Aku tahu kesedihanya, kalian pasti tidak percaya bahwa di lingkungan itu solidaritasnya tinggi tidak seperti di sinetron yang saling mengusili satu sama lain.
Kami sama-sama diam kembali, aku mengayunkan kakiku karena merasa bosan. Entahlah, sekarang aku jadi merasa canggung jika hanya berdiam diri.
"Jaket yang lo pakai––" kata bang Adi menggantung. Aku menoleh heran kemudian menunduk melihat jaket yang aku pakai.
Aku menoleh ke arahnya, aku heran melihat dia menampakan wajah datarnya kembali.
"Ada apa, Bang?" tanyaku heran, karena dia tak melanjutkan ucapannya.
Belum sempat bang Adi menjawab, Shinta sudah muncul.
"Gue tungguin sampai lumutan, ternyata lo asik pacaran."
"Aku gak pacaran," kataku sambil dan salah tingkah.
"Kalian saling kenal?" tanya kak Hasan yang juga menghampiri kami. Jadi bang Adi mengenal kak Hasan? Sepertinya aku melewatkan banyak hal.
"Iya kami pernah tinggal di kota yang sama." Bang Adi menjawab bertepatan dengan Abi datang dengan seorang gadis yang wajahnya aku kenal. Dan gadis itu adalah sosok yang aku lihat saat di jatim park tadi pagi.
Argh, aku tak ingin bertemu dengannya, aku harus punya cara untuk menghindari ini semua.
Aku melihat Abi menggunakan jaket, kemudian aku berpikir bahwa pemikiranku tadi salah. Bukan Abi yang meminjamkan jaket, lalu siapa?
Aku mengamati satu persatu, dan yang tidak menggunakan jaket hanya ada satu orang yaitu bang Adi. Dia hanya menggunakan kaos polos yang dilapisi kemeja flanel kotak-kotak dengan kancing yang tidak dikancingkan.
Aku menoleh ke bang Adi, dia menatapku heran. Aku menyodorkan tanganku meminta sesuatu.
"Apa?" tanyanya.
"Ponsel," jawabku pelan. Kemudian tanpa berkomentar dia memberikan ponselnya dan aku menyimpan nomorku ke ponselnya. Tidak lupa aku mendial nomorku supaya aku punya nomor bang Adi.
Aku mengembalikan ponselnya,
"Aku mau ke Kamil dulu, kamu duluan aja ke sana," kataku menghadap ke Shinta dan menganggap yang lainnya itu tidak ada.
"Dlah udah selesai ngobrolnya sama mas Adi?" tanya Shinta, aku memicingkan mata curiga. Jadi Shinta juga kenal bang Adi.
"Kamu kenal bang Adi?" tanyaku curiga, Shinta hanya nyengir gak jelas.
"Iya kami bertemu di acara nikahan bunda Nana," jawab bang Adi datar, aku menoleh ke bang Adi dengan tatapan horor.
Jadi bang Adi kenal keluarga bunda Nana, ternyata memang aku yang selalu tidak tahu apa-apa.
Aku kembali menoleh ke arah Shinta untuk berpamitan, setelahnya aku bergegas menuju ke arah Kamil yang tengah berbicara dengan pak Ismail dan Bu Nita.
Samar-samar aku masih mendengar mereka mengatakan bahwa aku aneh dan menghindar. Namun hal itu tidak berpengaruh untuk diriku, karena ini yang terbaik menurut pemikiranku.
Aku kembali melihat jaket yang aku gunakan, dan jaket ini tercium dua parfum berbeda yang aku kenali. Kenapa bau parfum ini jadi ambigu ya?
---------------------
__ADS_1