
Tiga hal yang tak bisa ditebak manusia.
Jodoh, rejeki dan mati
-----------
Mutia berdiri dari duduknya, di saat ada dua anak yang berebut ayunan tidak jauh dari tempat duduknya.
"Hai, ada apa?" tanya Mutia kepada dua anak kecil bersitegang itu. Dilihat dari wajahnya mereka kembar.
"Ini kak, Al tidak mau mengalah," kata salah satu.
"Aku lebih dulu, El," kata sosok yang bernama Al.
"Yang lihat dulu aku, Al," kata El tak terima.
"Tapi yang sampai lebih dulu aku, El. Jadi aku yang lebih berhak." Perdebatan kedua bocah itu semakin memanas, mereka tak ada yang mau mengalah.
"Jadi, El yang lihat lebih dulu ayunan ini kosong, dan Al yang lebih dulu sampai di sini?" tanya Mutia memecah perdebatan bersaudara itu.
"Iya," jawab mereka serempak, kemudian saling melempar cibiran dan lirikan sinis. Mutia tersenyum melihat tingkah keduanya, sungguh menggemaskan.
"Bagaimana kalau kalian bermain bergantian," kata Mutia mencoba memberi solusi.
"Aku yang duluan," kata mereka berdua secara bersamaan.
"Bagaimana kalau suit, jadi yang kalah dorong yang menang. Terus bergantian." Dua anak itu hanya diam mencerna perkataan Mutia sesekali saling melirik.
"Gak mau," jawab keduanya kompak. Mutia terkekeh. Keras kepala, khas karakter anak-anak.
Kemudian dia berjongkok dan menarik kedua tangan sang bocah supaya mendekat. "Kalian tahu gak, bahwa persaudaraan itu ibarat bangunan yang saling mengokohkan. Jadi jika satunya roboh maka yang satu juga akan merasakan." Mutia jeda sejenak melihat ekspresi bingung bocah itu. Dia menyadari satu hal. Tidak semua anak seperti Fahri yang sangat peka.
"Jadi begini, kalian kan saudara. Jadi kalian harus bahu membahu, kalian saling berbagi dan saling menolong. Masak kalian mau kalah sama semut. Kalian pernah lihat semut yang kompak mengangkat makanan bersama, kan. Nah, kalian juga harus bisa jangan mau kalah sama semut." Dua anak itu melihat Mutia dengan wajah yang sangat menggemaskan.
"Bagaimana?" tanya Mutia.
"Jadi aku harus berbagi?" tanya El lebih dulu, Mutia mengangguk semangat.
El menantap ke arah Al yang juga menatap, kemudian mereka berdua seolah berbicara dengan telepati, kemudian berlari ke arah ayunan dengan formasi satu langsung di belakang ayunan dan yang satu duduk ayunan.
Mutia tersenyum melihat mereka berdua yang semangat bermain. Kemudian dia menoleh mencari keberadaan sang adik. Dan matanya menemukan sang adik yang sudah akrab dengan anak kecil seusianya. Dia saling kejar dan tertawa bersama. Ada senyum hangat tercetak di bibirnya. Dia bersyukur, adiknya mudah bersosialisasi. Tidak seperti dirinya yang sejak kecil tidak miliki teman dekat.
"Miss cantik," sebuah suara membuat Mutia menoleh, dan dia langsung ditubruk oleh badan kecil yang lumayan membuat tubuh Mutia hampir terjungkal karena tidak siap.
"Assalamualaikum, Arsa," sapa Mutia setelah menguasai dirinya dan mengenali bocah yang ada di pelukannya.
"Waalaikumsalam," jawab Arsa nyengir, dia tahu bahwa gurunya yang satu itu selalu mengajari untuk selalu menebarkan salam setiap kali berjumpa.
"Nah, begitu dong. Setiap bertemu dengan seseorang mengucapakan salam dulu." Arsa nyengir, kemudian tersenyum dan mengangguk.
"Iya, Miss cantik." Arsa kemudian membersihkan gamis yang dipakai Mutia. Karena mata anak kelas tiga SD itu melihat kotoran.
"Waah, terimakasih." Mutia mengucapkan dengan tulus.
"Kembali kasih," kata Arsa tersenyum lebar.
"Arsa sama siapa?" tanya Mutia heran. Arsa langsung menepuk jidatnya kemudian menoleh ke belakang.
Mutia mengikuti arah pandang muridnya itu dengan tenang, hingga mata Mutia mendapai dua sosok berlainan jenis itu berdiri tak jauh dari tempatnya.
Hatinya, ada apa dengan dada Mutia? Dia merasa ada sesuatu yang tidak asing namun enggan dia rasakan.
"Ayah, bunda," panggil Arsa, seraya mendekati dua orang itu dan menarik tangannya.
Mutia mengutuk dirinya sendiri, seharusnya dia ingat bahwa jika ada Arsa dan ayah bundanya berarti itu ada sosok yang cukup dia segani untuk bertemu kembali.
"Miss cantik, kenalin ini ayah bunda kecil Arsa," kata anak kecil itu dengan riang.
Mutia memandang wajah Arsa dan dua orang dewasa itu bergantian, kemudian tersenyum.
"Mutia," kata Mutia sambil mengulurkan tangannya.
"Anandi," kata wanita berhijab itu seraya menjabat tangan Mutia. Setelah lepas, Mutia menangkupkan kedua tangannya di dada dan menunduk ke arah Abi.
__ADS_1
"Jadi ini, Miss cantiknya Arsa?" tanya Anandi menoleh ke arah Mutia dan tersenyum.
"Iya Bun, yang sering Adik ceritakan itu loh." Arsa menoleh ke arah ayahnya.
"Ayah ingat kan, ini miss yang adik ceritakan ngajari adek menghitung bunga di taman dan juga tanaman di taman itu loh." Arsa menarik ujung kemeja ayahnya untuk mendapat perhatian dari sang ayah yang hanya diam.
Abi berjongkok di depan Arsa, "iya, ingat kok." Arsa tersenyum bahagia.
"Kamu ngajar di sekolah Arsa?" tanya Abi dengan nada biasa saja sambil mendongak ke arah Mutia, karena dia kini masih dalam posisi berjongkok.
"Iya," jawab sambil menerbitkan senyum tipis yan entah bisa dinilai sebuah senyuman atau tidak.
"Arsa tau, miss cantiknya Arsa itu dulu teman Ayah." Abi bercerita kepada Arsa. Mutia mencelos saat Abi membahasakan dirinya dengan sebutan 'ayah'.
Apa yang kami harapkan Mutia?
"Tahu," kata Arsa santai sambil menghampiri Mutia.
"Miss cantik adik kelas ayah waktu SMA 'kan." Arsa memainkan jari Mutia yang terasa dingin.
"Kok Arsa tahu," kata Abi sambil berdiri dari jongkoknya.
"Iya, om Hasan sudah cerita ke Arsa dulu waktu Ayah lupa jemput Adik." Arsa merajuk saat mengingat Abi lupa menjemput dirinya beberapa minggu yang lalu.
Sedang di ujung jungkat-jungkit ada mata yang sedari tadi melihat pembicaraan mereka dengan penasaran. Dia merasa tersisikan dan dia cemburu dengan gerombolan keluarga yang menghampiri kakaknya. Dengan kesal lelaki kecil itu meninggalkan teman barunya dan berlari ke arah sang kakak yang kini tengah dimonopoli oleh orang yang tidak dikenal.
Fahri langsung berlari ke arah sang kakak dan menarik tangan kiri sang kakak. Menyadari kehadiran adiknya Mutia melepas tangan kanan yang digenggam Arsa, sebelum perang dunia terjadi karena ada yang cemburu.
"Sebentar ya," kata Mutia ke arah Arsa. Arsa juga nampak tidak terima, dia tetap mencengkeram tangan Mutia.
Mutia menoleh ke arah Arsa dan tersenyum dia ingin meminta pengertian dari Arsa, namun sepertinya anak itu tidak mau.
Mutia menoleh ke arah sang adik, "sayang, sini kenalan sama kak Arsa."
Fahri menggeleng tanda dia tidak mau, Mutia menyadari itu kemudian menoleh ke arah dua orang yang hanya diam saja melihat dia ditarik.
"Sebentar Fahri," kata Mutia tegas, kadang dia kurang suka dengan sikap adiknya yang satu ini. Dan di sebelah kanannya nampak Anandi yang tengah membujuk Arsa untuk melepas tangan Mutia.
Abi melihat rona tidak suka di wajah anak yang dibawa Mutia, dia sadar mungkin anak kecil itu merasa cemburu, orang yang dia sayangi didekati orang lain.
"Fahri," kata Mutia lembut, namun Fahri malah mundur. Saat Fahri hendak lari Abi dengan cepat menarik Fahri dalam gendongan. Mutia nampak terkejut dengan sesuatu yang terlihat cepat di matanya.
"Assalamualaikum," sapa Abi kepada Fahri yang meronta dalam gendongannya. Dia diam tapi bibirnya bergerak menjawab salam. Hati kecil Abi menghangat, dia tahu Mutia akan menjadi orang tua yang baik dalam mendidik anaknya.
Mutia mematung di tempat, kemudian dia melihat sang adik menoleh ke arah Arsa, dan Mutia ikut menoleh. Namun yang dia dapat hanya nihil. Tidak ada siapa-siapa.
Kemana mereka?
"Kamu mencari siapa?" tanya Abi melihat Fahri yang celingukan di gendongannya. Fahri menggeleng kemudian menoleh ke arah sang kakak.
"Om, kakak siapa?" tanya Fahri bingung memanggil. Abi tersenyum melihat tingkah pintar Fahri, dulu di usia segini Arsa bahkan tak akan berani bertanya kepada orang lain dengan setegas anak dalam gendongannya ini, dia semakin kagum dengan didikan Mutia.
"Panggil apa ya enaknya. Aku Abi, teman bunda Fahri." Abi menoleh ke arah Mutia.
Mutia tersenyum sambil mengangguk. "Teman?" tanya Fahri dengan wajah curiga, Mutia tertawa kecil. Dia tahu benar kecurigaan sang adik jik menyangkut teman cowok sang kakak.
"Iya," jawab Abi sambil menaikan satu alisnya. Melihat alis Abi terangkat tangan Fahri mengulur hendak menyentuhnya.
"Tidak sopan, Fahri." Mutia memperingati adiknya, kemudian sang adik menurunkan tangannya sambil mengerucut. Padahal dia penasaran dengan alis yang bisa diangkat sebelah seperti miliki ayahnya.
"Ah, Kakak." Fahri mendesah kesal.
"Kakak?" Mutia tersenyum melihat tingkah Abi yang terkejut, meski kini wajah Abi sudah tak seramah dulu namun sikap terkejutnya masih alami.
"Ayo turun, katanya Fahri sudah besar." Fahri mengangguk kemudian minta diturunkan.
Abi masih cukup terkejut dengan panggilan Fahri kepada Mutia. Fahri menggandeng tangan Abi mendekat ke arah Mutia.
"Dia memanggilmu kakak?" tanya Abi tak mampu menyembunyikan rasa penasarannya.
"Iya, mau bagaimana lagi?" Mutia menatap adiknya heran, tidak biasanya sang adik akan dengan mudah dekat dengan sosok lelaki dewasa, karena dia akan merasa cemburu. Bahkan dengan anak kecilpun begitu.
"Dia adikku, Fahri Abdullah." Mutia tersenyum, Abi cukup terkejut dengan sikap easy going yang diterapkan Mutia saat ini. Dia pikir saat bertemu mereka berdua akan canggung dan saling tidak bersahabat satu sama lain, mengingat pertemuan pertama mereka saat reuni yang nampak terasa dingin dan berjarak.
__ADS_1
"Aku pikir anakmu," kata Abi salah tingkah. Fahri mendongak melihat wajah Abi.
"Kakakku belum menikah," kata Fahri cukup kencang, membuat Abi kaget. Terlebih anak kecil itu melepas genggamannya dan langsung memeluk kaki sang kakak.
Fahri mengetahui pernikahan, anak dan keluarga. Karena dia sering ada di saat mamanya meminta Mutia untuk segera menikah. Apalagi saat mamanya tengah menjodohkan sang kakak.
"Jadi kamu belum menikah?" tanya Abi cukup terkejut. Sebab di usia Mutia yang sudah melewati masa matang sebagai wanita.
"Penjagaku sangat protektif, jadi kalau ada yang lamar sulit melewatinya." Mutia berkata dengan ringan sambil melihat sang adik yang sudah mulai menariknya pergi dari tempat itu.
Beginilah Fahri, jika ada orang dewasa membicarakan pernikahan dengan sang kakak dia pasti langsung tidak suka dan selalu berusaha membawa sang kakak pergi.
"Fahri gak boleh gitu, gak sopan." Sebuah suara tegas menghentikan aksi Fahri.
Fahri menoleh ke sumber suara, tak jauh dari mereka berdiri ada dua sosok dewasa tengah berdiri.
Abi menoleh, dan mendapati wajah datar sahabat SMAnya.
"Assalamualaikum," ucap Fahri dan Mutia bersamaan, dua orang itu langsung nyengir.
"Waalaikumsalam Warohmatullahi Wabarrokatuh." kedua lelaki itu menjawab bersamaan.
"Ngapain pada di sini?" tanya Mutia mendekati Rouf yang berdiri bersama Dilan.
"Tadi aku ke rumah, tapi gak ada orang." Rouf menjabat tangan Mutia, kemudian Mutia beralih dan menangkupkan kedua tangannya dan menoleh ke arah Dilan.
"Fahri, salam sama kak Rouf dan kak Dilan," perintah halus Mutia kepada sang adik.
"Kak Dilan gak akan ngerebut kak Mutia 'kan?" tanya Fahri polos, dia bertanya demikian karena Dilan selalu menggodanya dan berkata akan merebut kakaknya di setiap kali bertemu atau saat Dilan sengaja main ke rumahnya.
"Tergantung," kata Dilan menggoda. Abi melihat interaksi akrab itu sedikit gelisah. Ada sesuatu yang membuatnya tidak terima.
"Kalau begitu aku tidak mau salam," kata Fahri tegas, Mutia hanya menggelengkan kepalanya. Dia selalu gemas jika dua orang beda usia ini dipertemukan. Entah di tempat umum atau pribadi, mereka akan selalu berdebat dan saling menggoda.
"Kalau begitu kita rebut aja kak Mutianya, ya Kak Abi." Dilan sengaja mengatakan itu, membuat Abi sedikit tergagap. Kemudian mengangguk.
"Lihat, kak Abi mengangguk. Kamu harus hati-hati." Dilan gencar menggoda. Fahri menoleh ke arah Abi, kemudian mendekati.
"Nama kakak, kak Abi?" tanya Fahri.
"Iya, tadikan udah kenalan." Abi menjawab dengan senyum manis.
"Abinaya Rahman?" tanya Fahri seolah meyakinkan. Dilan menaikan satu alis kemudian melihat ke arah Mutia yang melongo heran.
Abi mengangguk tegas, dia heran darimana anak kecil itu tahu. Kemudian Abi melihat ke arah Mutia yang melongo berharap mendapat penjelasan. Namun Mutia hanya mengangkat bahu tanda tak tahu.
Fahri menoleh ke arah Rouf yang sejak tadi hanya diam mengamati Abi. Rouf mengangguk penuh arti.
Fahri menarik ujung kemeja Abi, tanda dia minta perhatian.
"Kak Abi tidak akan merebut kak Mutia 'kan?" tanya Fahri dengan tatapan polos, tidak ada lagi tatapan cemburu seperti beberapa saat lalu.
Abi berjongkok di depan Fahri dan berkata, "siapa yang bilang kak Abi bakal merebut kak Mutia?" Fahri menggelengkan kepalanya.
Mutia menoleh ke arah Rouf dan berharap mendapat penjelasan, namun Rouf hanya tersenyum.
Dilan?
Jangan ditanya dia tengah menganalisis setiap kejadian itu dan mencari tahu hal yang tersirat di setiap kejadian untuk menemukan satu titik yang menjadi pokok pemecahan masalahnya.
"Kak Abi tidak merebut kak Mutia kok." Abi berkata dengan tegas. Mutia melengos, dia menyadari satu hal. Benar saja Abi tak akan merebutnya, karena dia yakin Abi buka tipe lelaki yang suka berpoligami.
"Bagaimana kalau kita makan?" celutuk Dilan, berharap bisa mencairkan suasana drama yang tiba-tiba terjadi.
"Aku belum sholat asar," kata Mutia sambil menoleh ke arah jam tangannya.
"Kita cari masjid, habis itu pulang ke rumah aja," kata Rouf.
"Yah, gak asik lo. Gue masih mau ngobrol bareng Fahri dan Abi." Dilan tidak terima dengan ide Rouf.
"Ajak aja ke rumah, kebetulan tadi Sisi masak banyak," kata Rouf sambil merangkul bahu Mutia, sedang Fahri seolah lepas dari Mutia dia menggenggam tangan Abi.
"Dla, mbak Anandhi dan Arsa?" tanya Mutia saat berjalan. Dia menoleh ke arah Abi yang tengah memainkan smartphone miliknya.
__ADS_1
"Dia sudah sampai rumah, biasa kalau lagi ngambek Arsa sulit dibujuk." Abi menjawab pertanyaan Mutia dengan santai, ada sesuatu yang mengganjal dan terasa tidak pas diucapan itu. Tapi apa? Mutia tidak menemukan jawabannya.
----------------