
Jika anda mencari kesempurnaan, anda tidak akan pernah tenang
—Anna Karenina, Leo Tolstoy
-----------
Abi menoleh ke sumber suara, sedang Mutia hanya menatap sambil berpikir. Dia tidak cukup mengingat wajah lelaki itu, namun suaranya cukup baginya untuk mengingat sosok itu.
"Assalamualaikum," ucap Abi saat melihat lelaki itu. Namun, bukannya menjawab salam namun lelaki itu justru berjalan mendekati ke arah dua orang itu. Mutia menatap dengan heran seraya bergumam menjawab salam Abi.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya lelaki itu dengan datar. Mutia masih diam, dia masih mencerna situasi. Dia heran bagaimana bisa lelaki itu ada di depannya? Dia ingat suaranya tapi lupa siapa namanya. Maklumlah setiap manusia pasti memiliki kelebihan dan kekurangan, begitupun dengan Mutia.
"Apa yang kamu lakukan, Mutia?" tanya lelaki itu dengan nada yang mulai naik.
"Itu sepertinya bukan urusan Anda." Mutia berkata dengan formal, entahlah di lubuk hatinya ada rasa tidak suka dengan sosok di depannya.
"Lo kenal sama Mutia?" tanya Abi heran, dia tidak bisa mengendalikan keadaan.
"Sangat kenal, bahkan lebih kenal dibanding dirimu." Lelaki itu menatap penuh intimidasi. Mutia mengerutkan dahinya, dia sudah lebih dari illfeel sikap otoriter dan sok lelaki di depannya.
"Bukannya selama ini kamu berpaham tidak ada pacaran sebelum menikah, kemudian ini apa? Kalian berdua-duaan di sini. Ini khalwat namanya Mutia." Lelaki itu berkata dengan tajam. Jika bukan karena kesopanan yang dijaga Mutia, dia pasti sudah mencerca lelaki yang ada dihadapannya ini.
"Lo salah paham, kita tidak hanya berdua. Tadi ada Bunda juga Arsa." Abi berkata dengan nada datar namun matanya sangat tajam.
"Lo tu sok suci, gak usah banyak ngomong." Lelaki itu menatap tajam ke arah Abi. "Lo gak kenal dengan Mutia sebaik gue kenal dengan dia."
Abi diam, dia melihat Mutia yang sudah berwajah merah. Dan dia tahu benar bahwa saat ini gadis itu tengah menahan sesuatu supaya tidak meletus. Namun sayang, gadis itu tidak menyadari bahwa jika sesuatu itu ditahan maka suatu saat apa yang dia tahan akan menyembur keluar karena kapasitas tempat yang penuh.
Abi menoleh ke arah Arif, anak adik ayah barunya. Dia masih mencari tahu dari semua kejadian supaya menemukan jawaban dari mana mereka saling kenal.
"Kenapa kamu diam?" tanya Arif dengan nada mengejek kepada Mutia.
"Mana sosok alim yang selama ini kamu junjung tinggi. Kehormatan seorang wanita. Kenapa kamu mencorengnya?" tanya Arif dengan sangat tajam, dia berdecak seraya menggelengkan kepalanya.
"Kamu benar-benar sudah menjadi gadis tak berpendidikan." Abi langsung menatap tajam ke arah Arif.
"Jaga ucapan lo! Jangan sembarangan bicara." Arif menoleh sinis ke arah Abi seraya mendengus sebal.
"Apa? Lo gak kenal dia. Gak usah berlagak membelanya." Arif berkata dengan meremehkan.
"Apa pergaulan Jakarta membuatmu seperti ini?" tanya Arif meremehkan. Abi sungguh sudah di ambang batas mendengar ucapan Arif, dia beristighfar di dalam hati dan berulang kali di mengambil napas. Kemudian dia segera duduk di kursi dan mengambangkan kakinya. Karena menurut penelitian jika saat marah maka kita dianjurkan untuk duduk dan menggantung kakinya supaya tidak menapak alas. Ini terbukti bisa membuat emosi beransur reda. Selain sebuah penelitian ini juga termasuk dalam sunah rosul di kala marah.
Mutia hanya diam, dia menatap ke arah lantai, kemudian menoleh ke arah Abi yang tengah menetralkan emosinya, dia bisa melihat itu.
"Berapa lama lo kenal Mutia?" tanya Abi dengan nada datar.
"Yang jelas lebih lama dibanding lo. Dan gue lebih kenal dia juga keluarganya." Ada aura kebanggaan tersendiri dari nada bicara Arif, membuat Mutia tersenyum miring.
"Well, kamu bilang lebih mengenal aku?" kata Mutia dengan nada santai namun cukup bisa dibilang merendahkan. Abi pernah melihat Mutia seperti ini dulu saat dia sempat perang dingin dengan Hasan. Yang malah dibilang drama oleh gadis itu. Mengingat itu Abi tersenyum.
"Padi itu semakin berisi semakin menunduk. Kata ayah itu adalah perumpamaan bagi seseorang yang berilmu. Semakin banyak ilmu maka orang itu akan semakin tawaduk." Mutia mengangkat dagunya tinggi. Mutia tetaplah Mutia, dia juga manusia biasa yang juga memiliki sifat manusiawi. Seperti sifat iri, angkuh, sinis, kejam dan sifat buruk lainnya.
Namun, Mutia selama ini selalu berusaha menghindari sifat manusiawi itu, tapi jangan salahkan jika suatu saat dia juga akan mengeluarkan di saat tertentu.
"Kamu merasa mengenal diriku dengan baik bukan, dan juga mengenal keluargaku? Coba aku ajukan pertanyaan, siapa nama kakak perempuanku dan di mana dia bekerja?" Arif kelabakan dengan pertanyaan Mutia. Mutia tersenyum miring.
__ADS_1
"Well, sepertinya itu sedikit susah. Oke aku ganti, di mana aku bekerja?'' tanya Mutia lagi.
"Di salah satu sekolah swasta di Jakarta." Arif tersenyum sinis, dia merasa menang karena dia bisa menjawab.
"Benarkah, Bi?" tanya Mutia menoleh ke arah Abi.
"Mungkin 3-4 bulan yang lalu jawaban itu benar." Abi berkata dengan datar tanpa ekspresi.
Mutia tersenyun sinis ke arah Arif. "Kamu tu gak tau apa-apa, jangan sok. Dan asal kamu tahu aku lebih dulu kenal Abi dibanding sama kamu. Bahkan aku lupa siapa nama kamu."
Abi tersenyum penuh arti, dia menatap datar ke arah Arif yang terdiam. Sejujurnya, Abi sudah sejak dulu tidak menyukai pribadi Arif yang menurutnya sok. Entahlah, dia selalu saja berselisih paham dengan Arif. Itu juga alasan kenapa dia jarang ikut acara keluarga ayah barunya.
"Kamu boleh gak ingat namaku, tapi aku pastiin kalau aku udah ngelamar kamu di depan ayahmu." Arif tersenyum penuh kemenangan. Sedang Mutia hanya menatap tak percaya. Namun dalam hati dia berdoa semoga ayahnya tidak tertipu dengan wajah dewasa dan suara tegasnya.
"Kita lihat saja," kata Mutia mengambil tasnya.
"Bi, ruangannya bagaimana?" tanya Mutia menormalkan detak jantungnya dan mengubah pembicaraan.
"Tadi aku udah minta tolong supaya dibersihkan." Abi berdiri dari duduknya sambil sesekali menengok ke arah halaman depan.
"Sepertinya tempat depan sudah selesai," kata Mutia mengikuti arah pandang Abi. Arif yang merasa diacuhkan melanglah memasuki dapur, dari sudut mata Mutia mengawasi setiap gerakannya.
Setelah Arif sudah tak terlihat, dia menghembuskan napas berat. Abi menoleh kemudian terkekeh.
"Kenapa?" tanya Mutia heran sambil mendumal tidak jelas.
"Selama ini aku selalu mengalah saat berselisih dengannya," kata Abi.
"Kamu kalah atau mengalah?" tanya Mutia dengan nada menggoda.
"Yah demi menjaga keharomisan persaudaraan." Abi berkata dengan tegas namun terkesan santai.
"Memang dia siapa kamu?" tanya Mutia penasaran.
"Kepo," jawab Abi sambil memanggil beberapa orang yang ada di samping rumah. Mutia mengikuti langkah Abi, entahlah apa yang ada dipikiran gadis itu.
"Aku tak tahu namanya, itu sungguhan." Mutia mulai bercerita sambil membereskan ruangan dengan Abi dan 4 pekerjanya.
"Bagaimana bisa?"
"Yang aku ingat hanya suaranya, kalau tidak salah dia pernah meminta alamat dan nomor telepon ayah." Mutia menginggat dua lelaki yang mengikuti dirinya saat akan pulang dari kampus.
"Dan kamu memberinya?"
"Iya," jawab Mutia polos. Abi hanya menggelengkan kepala.
"Tunggu, jangan bilang cowok itu beneran udah ngelamar aku." Mutia berkata dengan histeris.
"Dia bukan cowok. Tapi pria." Abi berkata dengan santai. Mutia menoleh ke arah Abi. "Apa bedanya?"
"Bu guru, kalau cowok itu kayak aku. Kalau pria itu kayak Arif." Mutia semakin bingung, melihat ekspresi wajah Mutia, Abi tak bisa menahan tawanya.
"Aku gak ngerti," kata Mutia lagi, kemudian dia menyadari sesuatu. Dia menoleh ke arah Abi, dia melotot dan bergegas keluar ruangan saat menyadari sesuatu.
-----------------
__ADS_1
Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya.
-----------------
Mutia duduk dengan kaki sebagai tumpuannya, saat ini parenting tengah berjalan dengan baik, diskusi dan keluh kesah baik dari ayah atau ibu wali murid saling bersahutan dan saling mengemukakan pendapat.
"Tapi, kenapa Akmal tetap gak suka pelajaran menggambar ya, Miss?''
"Dari mana bunda tahu kalau Akmal tidak suka menggambar?"
"Soalnya dia selalu memiliki alasan ingin bolos di setiap hari ada pelajaran menggambar."
"Mungkin perlu ditanyakan dulu penyebabnya, Bunda. Bisa jadi Akmal tidak cocok dengan metode yang sudah dipakai selama mengajar atau ada sebuah kejadian yang kurang mengenakan terjadi seperti saat menggambar diejek atau dia minder saat melihat hasil gambarnya. Nanti saya aka tanya ke guru fax-nya supaya dapat dicari penyebabnya. Mungkin ayah bunda yang lain ada lagi?"
"Jika tidak ada maka acara saya tutup sampai di sini, untuk perkembangan hal yang kita bahas akan kami sampaikan secara pribadi atau jika memang memungkinkan akan kami sampaikan di pertemuan selanjutnya. Selamat siang. Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarrokatuh."
"Waalaikumsalam Warohmatullahi Wabarrokatuh." Mutia mulai mematikan proyektor juga laptopnya. Sedang para wali tengah berbicara banyak hal.
"Jeng, kapan undangan nikahan Abi nyampek ke kita-kita?"
"Kami gak suka pakai undang, entar ibu-ibu langsung lihat aja anak saya udah bawa pasangan halal." Abi yang baru masuk tersenyum tipis mendengar ucapan sang ibu. Dia tahu, sebenarnya sang ibu risih dengan pertanyaan itu, tapi mau bagaimana lagi jika gadis yang dia tunggu saja masih adem ayem tidak berkutik dan segera memberi kepastian. Mau maksa juga tidak bisa, biarlah takdir yang menentukan seperti sang takdir menentukan malam dan siang secara bergantian.
Abi menoleh ke arah Mutia, gadis itu tetap tenang bak air danau yang tak beriak. Gadis itu tenang seolah tak terpengaruh dengan hal yang ada di sekitar. Bagaimana bisa gadis itu nampak seperti sinar sang siang yang menenangkan, juga terasa terik bersamaan.
Abi memandang lekat gadis yang kini tengah berbicara serius dengan salah satu wali murid. Dia menatap takjub aura dan sinar wajah yang begitu memenangkan. juga menggelisahkan secara bersamaan hanya karena memandang.
"Kapan gadismu memberi kepastian?" tanya Nana yang sudah duduk di saling Abi.
Abi beristighfar karena dikejutkan oleh sang ibu, namun dia juga tengah menunduk malu saat ketahuan sang ibu tengah menatap guru adiknya itu. Ada rona merah tertera di telinga sang anak membuat Nana terkekeh.
"Entahlah, Bun. Ditunggu saja, toh jodoh tak mungkin tertukar. Rasa cinta Abi akan terbalas oleh hati dan waktu yang telah ditakdirkan." Abi menjawab dengan nada renyah.
"Kamu tu, selalu begitu jawabnya. Ada aja jawabannya." Nana menepuk bahu putra sulungnya.
"Sama 'kan kayak bunda, yang punya sejuta jawaban untuk pertanyaan ibu-ibu yang menanyakan kapan punya mantu," kata Abi membuat Nana meringis jengah.
"Tau deh, Bi. Sak senengmu sing penting eleng umur wes gak enom maneh." Nana menatap ke arah Mutia. "Dia cantik ya, Bi. Kenapa kamu gak lamar langsung aja ke Mutia?" Abi menoleh ke arah sang bunda kemudian tersenyum hambar.
"Abi mana berani," jawab Abi lirih. Benar, dia tak berani dan sungguh tak berani melamar Mutia. Apa lagi saat ingat kejadian di ruang KRI sembilan tahun yang lalu, dia merasa menjadi lelaki paling pecundang di muka bumi ini. Dia dengan mudahnya melukai harga diri Mutia, dan mengabaikannya begitu saja. Apa iya di akan berani melamar Mutia secara langsung jika dia saja sudah pernah menggoreskan luka dan kenangan yang sungguh tak layak diberikan.
"Arif aja udah mau nikah lagi," kata Nana pelan. "Arif mau nikah lagi? Sama siapa Bun?" Abi bertanya dengan nada cukup membuat Nana terkejut, tak biasanya pembahasan tentang Arif akan ditanggapi sedemikian oleh Abi. Nana tidak buta, dia tahu ketidaknyamanan hubungan Abi dan Arif.
''Bunda kurang tahu, kata papamu sih orang Jakarta. Dia juniornya saat kuliah di Malang. Denger-denger dia guru. Tapi katanya udah melamar si gadis loh. Kok ada ya gadis yang mau sama Arif sedang sama anakku gak ada," kata Nana, ucapan itu membuat Abi termenung, gadis Jakarta. Pikiran Abi melayang ke kejadian kemarin bukankah Mutia dan Arif membahas tentang lamaran. Dan Mutia, Abi langsung menoleh ke arah Mutia. Dan secara bersamaan Mutia tepat menoleh ke arah Abi. Sepersekian detik bola mata hitam itu saling memandang kemudian Mutia lebih dulu menoleh ke arah ibu yang ada di sampingnya.
"Abi itu dulu senior saya di SMA. Jadi ditaman itu ketemu secara tidak sengaja. Kami ketemunya rame-rame kok, Bun." Mutia mengelak tuduhan sang wali murid yang tengah menggodanya.
"Ada hubungan juga gak papa kok, kalian nampak cocok."
"Ah, ibu bisa saja." Mutia menjawab sambil tersenyum. Kemudian sang ibu sudah berpindah bergabung dengan ibu-ibu lainnya, Mutia mendesah pelan.
Cocok? Dilihat dari sudut mana, Mutia dan Abi dinyatakan cocok?
Abi, seorang arsitek terkenal, yang jika dia mau pasti banyak orang tua yang akan menyodorkan anaknya. Sedang dirinya, hanya pasir pantai yang selalu merindukan bulan di bawah terik siang.
-----------------
__ADS_1