
Sakit itu, cara Allah membantu kita menghapus segala dosa. Dan semua tinggal keputusan kita, mau bersabar atau mengeluh. (Kru Kepo)
----------
Mutia gelisah di depan buku yang dia koreksi, dia ingat pembicaraannya dengan sang ayah semalam. Mutia tahu benar semua yang berhubungan dengan Dilan tidak akan bisa mampu menolaknya. Bagaimana jika ayahnya ternyata menerima lamaran cowok fanatik yang di temui di rumah Abi beberapa waktu yang lalu. Mutia tidak rela, dia lebih baik menikah dengan Dilan daripada dengan lelaki fanatik itu. Sungguh dia tidak mau walau hanya sekedar membayangkan.
"Miss," panggil Riana yang untuk ke sekian kali, dia heran sejak tadi Mutia bergumam kata tidak dan sesekali menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Miss," panggil Riana lebih keras lagi.
"Iya, maaf." Mutia tergagap karena tersadar dari otaknya yang sedang mengadakan diskusi dadakan.
"Miss baik-baik saja?" tanya Riana tidak yakin, Mutia mengangguk kemudian dia pura-pura kembali fokus ke arah buku kerja anak-anak. Riana hanya mengangkat bahu kemudian kembali berkutat dengan robot datarnya. Saat ini Riana tengah menyiapkan daftar nilai untuk semester awal.
Mutia menghela napas, dia berencana tidak ingin membawa pulang pekerjaan, jadi dia setelah jam pulang mengoreksi di sekolah tapi sepertinya dia akan gagal karena dia tidak bisa berkonsentrasi, sepertinya dia butuh udara dan refresing. Mungkin dengan tidur dengan adiknya siang ini bisa mengurangi beban pikirannya.
"Bu Riana belum mau pulang?" tanya Mutia membereskan mejanya.
"Belum Miss." Mutia mengangguk kemudian dia meminta maaf dan dia izin pulang lebih dulu karena dia merasa tubuhnya letih. Dan Riana yang tak memiliki hak untuk melarangpun hanya bisa mengiyakan tanpa mencegah sedikitpun.
Mutia melangkah menuju parkiran motornya, entah mengapa tubuhnya terasa begitu lemah, kakinya terasa bergetar dan lunak seolah tak mampu untuk menopang tubuhnya. Mutia langsung terduduk di atas paving. Dia takut tubuhnya akan roboh.
"Astagfirullah, ada apa denganku?" Mutia mulai mengatur napas, dia merasa denyut nadi di lehernya berdenyut lebih cepat dan dadanya terasa panas dan gemetar.
"Laakhaula walakuwwata illabillah. Bismillah," kata Mutia mencoba bangun dari duduknya namun sepertinya dia tidak sanggup malah membuat tubuhnya tersungkur. Hingga lamat-lamat kesadarannya mulai menghilang dan tubuhnya secara sempurna berbaring di atas paving yang masih terasa hangat karena tadi tempat ini terkena paparan sinar matahari.
Risma, salah satu tim kreatifitas yang baru saja akan menuju parkiran berteriak cukup lantang.
"Ya Tuhan," teriak wanita itu, dan segera mendekati tubuh Mutia yang terdampar seolah baru saja terbawa arus sungai.
"Miss," panggil Risma sambil menepuk pipi Mutia saat sudah berhasil meletakkan kepala Mutia di pangkuannya.
"Ya Tuhan, tolong-tolong." Risma berteriak meminta tolong setelah beberapa kali tepukan tak bisa menyadarkan Mutia. Wajah Mutia nampak putih pucat, bibirnya keungu-unguan dan keringat sebesar biji jagung menghiasi dahi dan hidung.
Risma semakin khawatir, hingga dia tidak bisa menggunakan otaknya acara sempurna, dia berteriak hingga suaranya serak. namun memang lokasi sekolah yang luas dan hari sudah sore membuat tak banyak orang yang ada di kawasan sekolah. Hal ini menyulitkan untuk meminta tolong.
Setelah lelah berteriak, Risma hendak meletakkan kepala Mutia ke atas paving dan mencari pertolongan. Namun rasa iba melarang nalurinya.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Risma pada dirinya sendiri, wanita paruh baya itu mengambil napas dalam-dalam kemudian menghembuskan secara perlahan. "Handphone."
Setelah mengatakan satu hal itu, Risma mengaduk-aduk isi tasnya dan mencari ponselnya. Namun, karena rasa khawatir dan juga cemas, tas yang hanya berukuran 11×4×6 cm itu saja dia kesulitan.
Syukur memang harus dia ucapkan, karena saat mencari ponselnya yang tak ketemu-ketemu itu berbunyi dan menampilkan nama orang yang akan dia temui di sore ini.
"Hallo." Sapa seseorang di seberang.
"Na, keparkiran motor sebelah kanan sekarang. Tolong," kata Risma sekali tarikan napas dan langsung mematikan panggilan dia berharap temannya itu segera muncul.
Dengan gelisah dia menunggu sambil mengelap keringat yang terus keluar dari tubuh Mutia, dia ketakutan kala menyentuh wajah Mutia yang dingin, seolah tak ada bagian sedikitpun yang dialiri oleh kehangatan.
"Mutia, jangan membuat saya takut," kata Risma menepuk pipi Mutia dan tanpa terasa air matanya meleleh. Entah, Risma menangis karena apa. Tapi yang jelas saat ini di tak sanggup mencegah dirinya untuk tidak menangis.
"Risma," panggil suara yang ada di balik tubuhnya.
"Na, tolong Na. Dia rekan saya." Risma menoleh ke arah Nana teman SMAnya.
"Allahuakbar, Abi," teriak Nana kepada anaknya yang berdiri beberapa langkah darinya.
Nana langsung berjongkok dan membelai wajah Mutia yang pucat pasi, wajah yang nampak bersinar kini tengah redup. Bak seperti api yang membawa telah padam karen disiram air. Abi berdiri di samping sang Ibu, kemudian dia terkejut dengan yang dia lihat. Sesosok tak sadarkan diri berbaring di paving dengan kepala berada dipangkuan teman ibunya.
"Tubuhnya dingin, Bi. Wajahnya pucat pasi seperti tak ada darah yang mengaliri." Nana berkata dengan gemetar, dia merasa menyesal tadi sempat menggerutu karena sikap sahabatnya yang di anggap tidak sopan. Ternyata semua karena ini. Dengan sigap Abi langsung mengangkat tubuh Mutia dan lari menuju mobilnya.
"Biar Bunda yang nyetir, kamu di belakang." Nana mengambil kunci mobil dan membiarkan anaknya duduk di belakang bersama dengan gadis itu. Namun Abi tidak mau, dia tahu ibunya saat ini dalam kondisi tidak baik jadi hal itu pula tidak baik untuk menyetir.
---------
__ADS_1
Janji adalah hutang yang harus dibayar. Oleh sebab itu, jangan memgumbar janji kalau tak bisa membayar hutang. (Kru Kepo)
--------
Luka ku ibarat serpihan berhamburan.
Luka ku akan mengering dan diambuhkan.
Luka ku memberi getaran dan pengampunan.
Dan luka ku akan memberi jalan.
Dhimas duduk dengan tenang di salah satu ruangan khusus yang ada di saya buah kafe kecil namun cukup terkenal dari berbagai kalangan. Kafe yang didiran sekitar 5 tahun yang lalu dengan arsitektur yang sangat indah dan mengagumkan.
Dhimas menghela napas panjangnya, pikirannya melayang ke banyak hal. Tapi, satu hal yang dia yakini. Keputusan yang dia ambil adalah keputusan terbaik yang bisa dia berikan untuk putri kesayangan.
"Assalamualaikum," sapa lelaki muda itu dengan senyum penuh kehormatan. Ya, lelaki muda itu begitu menghormati sosok paruh baya yang tak lain adalah Dhimas.
"Waalaikumsalam Warohmatullahi Wabarrokatuh," jawab Dhimas dengan senyum ramahnya, kemudian dua orang berbeda usia itu saling berjabat tangan kemudian terlibat obrolan ringan.
"Bagaimana kabarnya, Om?" tanya Bagas dengan santun.
"Baik, Alhamdulillah." Dhimas menjawab dengan tegas sambil mengangguk-angguk. Bagas tersenyum ramah.
"Saya lihat usahanya sudah mencapai puncak tepat pada waktunya," kata Dhimas penuh arti. Bagas tahu benar arah pembicaraan itu.
"Begitulah, ini tahun terakhir sesuai dengan proposal. Saya yakin akan segera menghadap." Bagas berkata dengan tegas.
"Aku tak punya banyak waktu untuk menunggu lagi," kata Dhimas dengan tegas.
"Saya yakin tidak akan ada menunggu lagi," kata Bagas juga tak kalah tegas.
"Saya percaya padamu," kata Dhimas dengan senyum penuh arti.
"Ingat janjimu, kalau sampai gagal kamu mau bertanggung jawab atas semuanya."
"Ya, aku melihat itu."
"Apa dia sudah menghadap lebih dulu?" tanya Bagas dengan penasaran.
"Belum secara resmi, itu hanya ketidaksengajaan." Dhimas menyesap kopi hitamnya, dia menyukai sekali kopi hitam di akan meminum kopi paling tidak sehari tiga kali. Kata Dhimas dulu, 'minum kopi itu ibarat meresapi kehidupan. Ada rasa pahit manis dan aroma yang kadang digilai dan kadang dibenci oleh setiap orang sesuai selera.'.
"Om menyisakan berapa bulan?" tanya Bagas lagi setelah beberapa saat diam. Dhimas meletakan lbali cangkirnya kemudian tersenyum.
"Dua bulan, sesuai dengan proposal." Dhimas memainkan mulut cangkir dengan belaian lembut.
"Tapi tanggungan itu belum dilepas, Om."
"Saya tidak ada urusan dengan semua itu, bukankah saya sudah berbaik hati. Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar untuk menunggu kesuksesan. Banyak hal yang sudah terjadi dan banyak orang yang semakin terlibatkan." Bagas diam, dia tidak bisa berkelit lagi, yang dia tahu saat ini adalah segera memberi bukti nyata dan segera mengambil keputusan.
"Kamu kenal Syarif Abdul Majid?" tanya Dhimas sedikit menyeleweng dari topik.
"Syarif Abdul Majid?'' tanya Bagas dengan tidak yakin, dia ingat secara samar nama itu. Tapi dia melupakan kebenaran siapa pemilik nama itu?
"Iya, dia mengaku keponakan dari bu Nana." Dhimas melanjutkan ucapannya dengan senyum miring. Otak Bagas langsung siaga, ada rambu-rambu peringatan mendera.
"Dia adalah saingan yang paling kuat sepertinya," kata Dhimas final dan ibarat ada kebakaran suara nyaring peringatan itu terdengar jelas di telinganya.
"Dia adalah sepupu Abi," kata Bagas susah payah. Dhimas menatap tajam ke arah Bagas, dia melupakan satu hal jika Syarif adalah keponakan Nana berarti dia juga berhubungan dengan Abi. Ah, Abi cowok yang sempat mengambil hati putri jagoannya.
"Bagus kalau begitu," kata Dhimas dengan tenang. "Dia melamar Mutia untuk kali ketiganya dua hari yang lalu."
"Sebaiknya jika Om tidak keberatan tolong telusuri lebih dahulu latar belakang lelaki itu secara detail."
"Dia lelaki yang baik, dia seorang dosen di Universitas Negeri Ibukota. Dan terkenal ramah sudah beberapa kali saya bertemu dengannya." Dhimas berkata dengan menerawang dan mengingat. "Dia juga langsung melamar putriku dibanding mendekatinya. Yang jelas dia lajang."
__ADS_1
"Dia duda beranak dua, bukan masalah dudanya akan tetapi masalah kepribadiannya. Bukan ingin memperburuk penilaian hanya saja perlu Om ketahui penyebab perpisahannya."
"Saya tahu, oleh sebab itu saya menekan kamu dengan tanggung jawab segera dengan proposal itu," kata Dhimas dengan tenang.
"Tapi kenapa harus saya yang Ditekan? Sungguh tidak adil." Bagas menggerutu tidak senang sedang Dhimas terkekeh ringan.
"Kamu benar-benar mahasiswa terbaik yang saya miliki selam hampir 15 tahun saya menjadi dosen." Dhimas tersenyum bahagia.
"Dan kamu pasti bisa diandalkan," kata Dhimas lagi membuat senyum di bibirnya menular ke bibir Bagas.
-----------
Jodoh itu, ibarat kamu berjalan di padang bunga dengan aneka macam bunga berjajar secara random. Mungkin di awal jalan kamu sudah melihatnya namun di ujung jalan kamu baru menyadari pesonanya.
--------------
Dilan turun dari motornya dan langsung masuk ke dalam rumah Mutia dengan tergesa-gesa, tapi jangan salah dia tidak melupakan untuk mengucap salam dan masuk dengan kaki kanan terlebih dahulu.
Dilan datang karena mendapat kabar bahwa Mutia jatuh pingsan di sekolah dari Alya yang tidak sengaja dia temui di apotik dekat komplek rumah.
"Assalamualaikum," salam Dilan kala masuk ruang tengah, di sana ada Abi, Nana, Risma dan ibu Mutia.
"Waalaikumsalam," jawab mereka bersamaan. Dilan jadi salah tingkah dengan sorot tajam yang diberikan salah satu dari empat orang itu. Tapi ingat, Dilan adalah Dilan jadi dia bisa dengan mudah mengalihkan perhatian. Dia mendekati Abi dan menjabat tangan kemudian menangkupkan kedua tangan ke arah ibu-ibu.
"Cepat sekali telepati Mutia sampai padamu, Lan." Ibu Mutia berkata sambil mempersilakan duduk.
Dilan hanya tersenyum sopan, kemudian melirik ke arah Abi.
"Dilan gak kerja?" tanya Nana, dia kenal benar teman Abi satu ini.
"Kebetulan ada kontrak PDAM di kota ini, Bun. Jadi bisa pulang setiap jam kerja selesai."
"Oh, pantesan ada di rumah."
"Mutia gimana, Tan?" tanya Dilan.
"Dia baik-baik saja. Biasa tamu bulanan perempuan."
"Maksudnya?"
"Makanya nikah biar tahu," sahut Rifa yang baru turun dari kamar sang adik.
"Dia, ada kak Rifa," kata Dilan sambil nyengir.
"Basi sapaan kamu, Lan."
"Back to topic, maksudnya tadi gimana?"
"Ini masa datangnya tamu bulanan, karena kondisi psikis Mutia yang drop banyak tekanan jadi dia rehidrasi." Rifa menjelaskan dengan tenang kemudian duduk di kursi. Kemudian pembicaraan berlanjut kolot dengan memojokan Dilan yang belum nikah di usia menjelaskan kepala tiga.
"Kenapa jadi aku, tu Abi juga belum nikah."
"Dia kan dalam proses, dla kamu?"
"Aku juga dalam proses," kata Dilan tak terima dengan pembelaan Rifa kepada Abi.
"Proses apa ditolak mulu sama Mutia?" tanya Rifa dengan santai.
"Jangan buka aib kenapa sih, Kak?" ucapan Dilan mengundang gelak tawa.
"Maaf," kata Rifa tanpa rasa bersalah.
"Bun, ayuk pamit," ajak Abi kepada sang ibu.
"Kenapa terburu-buru?" tanya Dilan.
__ADS_1
"Aku ada urusan dengan seseorang," kata Abi. Kemudian sua ibu dan satu anak itu berpamitan undur diri dan tidak lupa ucapan terimakasih mereka dapat hingga berulang-ulang bentuk syukur dari keluarga Mutia atas pertolongan mereka.
--------