Berawal Dari Abu-abu

Berawal Dari Abu-abu
Saat Baper Menghampiri


__ADS_3

Bolehkah aku meminta.


Saat syair dilantuntan.


Kala lirik disemenandungkan.


Mungkin saat kata terlontar sebagai ucapan.


Dan saat itu, bolehkah aku meminta.


Meminta segala rasa yang ada.


Meminta menghilangkannya tanpa ada sisa.


-----------------------


"Apakah aku salah, jika aku mencintaimu namun aku juga tak mau kehilangan dia. Apakah aku salah jika aku ingin hidup bersamamu dan juga melangkah maju bersamanya." Aku membaca subtitle sebuah drama, aku heran apakah rasa cinta itu selalu memberi pilihan, tak bisakah hanya saling melengkapi dan berjalan bersamaan.


Aku mempouse drama itu dan aku close. Ah, nonton apa ya yang bagus? Aku berpikir dan mengingat-ingat, drama apa yang sedang hits dibicarakan sama anak-anak. Kemudian pikiranku tersambung dengan film tentang vampir, manusia serigala dan manusia yang lagi panas diperbincangkan. Aku tersenyum kemudian menggeser kusorku ke browser dan mengetik sebuah judul.


Namun kala aku menscroll film itu ada beberapa yang tak seharusnya aku tonton, ah lebih baik aku tidak menonton putusku sendiri.


Aku matikan komputerku dan aku cabut modemnya. Aku segera beranjak menuju tempat tidur.


Hari masih pagi, akan tetapi rasa malas masih menghinggapi, bahkan bukan hanya hinggap mungkin tinggal hingga beranak pinak dan berkembangbiak.


Aku menyelimuti tubuhku dengan selimut tebalku, aku hanya diam sambil menerawang angan-angan.


Pikiranku kembali ke beberapa kejadian, rasa kesal, marah, tidak suka dan benci membuatku tidak nyaman.


Mungkin kejadian tiga hari yang lalu saat bertemu dengan dia di alun-alun ada jalan dari Allah supaya aku tak berharap lagi.


Ah, tapi kenapa harus gadis itu?


Perempuan yang bersama Abi dan yang aku lihat di depan Jatim Park waktu itu adalah salah satu teman sekolahku.


Kami selalu menjadi rival yang berperang dalam diam di setiap hal. Dan kenyataan yang sungguh melukaiku adalah aku sering kalah dibanding menang. Dan tatapan mengejek itu cukup melukai harga diriku.


Aku menyibak selimutku, kemudian aku duduk di dekat jendela, ku biarkan angin menerpa wajahku dan aku berharap angin bisa membawa pergi kegundahan dalam pikiranku.


"Kau nampak dekat, namun jauh yang kurasa akan hadirmu." Aku berguman seorang diri.


"Cinta?" tanyaku tiba-tiba pada angin yang berhembus.


"Apa seperti ini rasanya?" ungkapku tanpa ada yang menjawab. Yang benar saja siapa yang akan menjawab jika aku hanya seorang diri.


Aku menghela napas berat, kemudian beranjak. Aku mengambil jilbabku kemudian keluar dari kamar.


Aku harus bergerak, aku tidak boleh membiarkan rasa malas ini memenangkan diriku.


Aku berjalan keluar rumah, aku melangkahkan kakiku tak tahu arah. Aku hanya ingin berjalan tanpa ada tujuan, yang kuhindari adalah meratapi nasib saat sendiri.


Dulu aku heran mengapa ayah melarang keras hubungan anaknya dengan lelaki tanpa ada ikatan pasti. Namun, kini aku menyadari hal itu hanya untuk menjaga diri.


Aku melangkah keluar wilayah perumahan, aku akan menuju swalayan untuk membeli beberapa snak untuk camilan. Sebenarnya bik Sum sudah membuatkan ku roti kering untuk camilan namun aku masih sering jajan di luar.


Saat di depan market, aku melihat ada motor dengan box di belakangnya, box itu tertulis sebuah merek minuman keluarga sehat. Itu loh minuman susu fermentasi yang cukup terkenal.


Aku berdiri di sampingnya, menunggu orang yang berjualan 'kan lumayan dapat potongan harga.


Setelah orangnya keluar, aku pun beli 3 press dan melanglah kembali ke rumah. Aku urungkan niatku menuju swalayan. Gak mungkinkan aku masuk swalayan dengan menenteng kantong plastik berlogo minuman ini.


Aku mengambil jalan yang berbeda untuk pulang, aku ingin melewati taman komplek yang biasanya ramai jika di hari libur. Aku melangkah pelan namun pasti, aku juga sambil berpikir tentang jalan yang nampak sepi. Setelah hanya mengingat aku jadi menyimpulkan satu hal.


Inikan libur kenaikan kelas, jadi wajar perumahan sepi. Mereka maksudnya penghuni perumahan ini kebanyakan pendatang, jadi di hari libur panjang mereka gunakan untuk mudik ke kampung halaman.


Aku istirahat sebentar dengan duduk di sebuah bangku di pinggir jalan. Saat mataku menoleh ke arah ayunan yang ada di taman, aku memicingkan mataku aku memandang heran dua anak remaja yang adu argumen dengan wajak mengotot. Sepertinya mereka adalah sepasang kekasih yang tengah bertengkar.


Aku membuang muka ke arah lain, Aku menghela napas lelah pemandangan itu entah mengapa membuat moodku semakin memburuk. Ah adegan mereka mengusik ketenangan hatiku.


Aku mengambil satu botol kecil berisi 65 ml dari kantung plastik yang aku bawa, dengan mengucap basmala aku meminumnya sambil memandang ke arah langit yang nampak terik. Setelah habis aku masukan ke dalam kantong kembali botol kecilnya karena aku malas jalan menuju tong sampah yang kurang lebih 5 meter dari tempatku duduk.


Aku jadi mengingat sesuatu, dulu aku suka buang sampah sembarangan. Namun sejak banjir melanda perumahan yang aku tempati dengan ibu aku menjadi sosok yang sangat membenci yang namanya orang yang buang sampah sembarangan. Ingatan itu membawa rasa tersendiri di dalam rongga dadaku, yaitu rasa rindu yang aku pendam untuk sebuah keluarga yang harmonis.


Ah, rindu sekali masa di mana aku, kak Rifa, ayah dan ibu selalu menghabiskan akhir pekan bersama dengan bermain ke Dufan atau makan di luar bersama. Namun sekarang?


Hemmm, sepertinya aku terlalu serakah dengan banyak pengandaian yang tak jelas. Aku beranjak dari duduk ku dan melangkah menuju rumah.


Ah, bisakah itu di sebut rumah?


Aku jadi teringat pelajaran IPS kelas tiga, sebuah bangunan di sebut menjadi rumah jika ada ventilasi, jendela, pintu, ruangan yang tertutup dan ada penghuninya. Sedang di bangunan itu, hanya ada penghuni seperti diriku.


Apa aku bisa disebut penghuni?


-------------------


Lelah,


Ku rengkuh rasa rindu bermuara percikan bara api.

__ADS_1


Ku hamburkan tubuhku dengan pelan dan pasti.


Ku tengadahkan kedua tanganku dengan seksama.


Ku lantunkan muara doa dalam lirih.


Ku bungkukan badanku penuh keminatan.


Yaa Rohman....


Yaa Rohim....


Jiwaku hambar tanpa hidayah-Mu.


Napasku tersenggal tanpa pertolongan-Mu.


Nyawaku serasa tercabut tanpa Kuasa-Mu.


Aku membaca tiap bait puisi itu dengan air mata mengalir deras di pipi. Ah, yang benar saja. Mengapa aku jadi sering meratap?


Aku diam memandang ke arah jendela, ku hapus air mataku dengan kedua tanganku. Aku tidak boleh seperti ini, ini sangat menggelikan dan menjijikan secara bersamaan.


Mutia adalah gadis yang kuat.


"Aku harus bisa," kataku menyemangati diriku sendiri. Ah, aku rindu sekolah jika seperti ini.


Aku ingin segera sekolah dan disibukan dengan kegiatan sehingga mampu mengikis sifat burukku yang selalu meratapi nasib.


"Ini takdirku, semua yang ada di film itu hanya fiksi."


Aku beranjak dari dudukku saat adzan dzuhur berkumandang, aku masuk menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu sebelum melaksanakan kewajibanku sebagai seorang muslim.


Setelah menggelar sajadahku menghadap kiblat, aku melepaskan penutup kepalaku dan menggantinya dengan mukena berwarna putih dengan renda berwarna ungu.


Aku memghela napas dan berniat di dalam hati, saat aku mengangkat kedua tanganku dan aku mengucapkan takbir tanda sholatku dimulai.


Setelah melaksanakan rangkaian gerakan dan bacaan, ku akhiri sholatku dengan menoleh dan mengucapkan salam ke kanan kemudian kekiri secara bergantian.


Aku membaca dzikir setelah sholat sebelum memohon ampun kepada sang Kholik dan memelas meminta iba sebagai hak seorang hamba.


Doaku tidak muluk-muluk, aku hanya minta kesehatan kedua orang tuaku dan kakku, diberi kemudahan dalam menghadapi cobaan, diberi kelapangan rizki untuk mencukupi kebutuhan dan selalu berada dijalan yang benar. Sedang doa untukku, aku hanya meminta dikuatkan dalam menghadapi takdir yang terasa menghimpit tubuhku hingga rasa sesak terasa.


Selesai sholat, aku melipat mukenaku dan aku masukan kembali ke dalam almari.


Aku duduk di ranjangku dan menyalakan murottal dari mp3 handponeku. Sambil berbaring memejamkan mataku, sesekali aku mengikuti jika aku menghafal ayatnya. Hingga tanpa terasa warna gelap menyapa dan bawah sadar merengut kesadaran dengan perlahan tanpa terasa.


-----------------


"Siapa yang melamun?" tanyaku balik, sambil nyengir.


"Itu lo, orang lewat," kata ayahku santai sambil menunjuk jalan.


"Ih, ayah mah." Aku menepuk lengan ayah pelan kemudian bersandar di bahunya.


"Ada apa?" tanya ayah sambil membelai pucuk kepalaku.


"Gak papa, kesepian aja. Coba kalau aku punya adik kecil pasti kan ramai." Aku menerawang menghadap ke awang-awang.


"Kamu tu ngomong apa sih?" tanya ayah pelan.


"Yah, kapan mau menikah?" tanyaku tak menghiraukan pertanyaan ayah, tak sopan memang namun aku sedang ingin didengarkan dibanding mendengarkan.


"Kenapa kamu ngeyel banget?" tanya ayahku.


"Yah, kapan nikah?" tanyaku lagi, bak sebuah rengekan bayi yang manja.


"Gak mau jawab ah, orang ayah tanya gak dijawab."


"Kenalin calonnya ya Yah," rengekku tak memperdulikan sahutan ayah. Aku terkikik geli melihat ayah merajuk.


"Goda ayah ya," kata ayah sambil mendesis, kemudian tanpa aba-aba langsung memegang pinggangku dan mengelikiknya tanpa ampun.


Aku tertawa dan mengeliat tak karuhan karena geli, hingga ayah menghentikan kelakuannya kemudian kami kembali saling berpelukan dan membicarakan banyak hal. Sebenarnya aku yang mendominasi pokok pembicaraan dan ayah sebagai pendengarnya.


-----------------


Cinta,


Aku melihatnya di ujung sana.


Melambai bergelayut dalam tatapan mata.


Ku tunggu kau di seberang dalam cengkraman doa.


Berharap hadirmu mampu mencumbu sepiku.


Namun, kau tak jua mendekat.


Setiap langkahku menujumu.

__ADS_1


Kau bak fatamorgana.


Tak akan mampu ku memelukmu.


Aku memposting tulisanku ke facebook. Aku seperti seorang abg labil yang galau karena cinta, yang merana karena cinta dan menderita karena cinta.


Aku tertawa sendiri membaca ulang tulisanku.


Tak selang beberapa saat ada yang menglike dan ada yang berkomentar.


Shinta Putri


Galau, Ning?😉


Dilan Pranata


Hemm


Ariana Pancawara


So sweet. Mut mau dong dibuatin puisi. Colek @LanasayangDewa


LanasayangDewa


Wah, jago ngegombal ni.


Irvan.M


👍


Aku hanya tersenyum melihat komentar mereka. Aku putuskan untuk menutup aplikasi kemudian ku taruh ponselku di meja.


Aku memejamkan mata sejenak, kemudian menatap ke luar jendela.


Gelap,


Hanya ada dua warna yang terlihat.


Hitam dan putih.


Tak ada warna yang kau punya.


Karna warna yang kau miliki adalah abu-abu.


-----------------


Terkadang kita tak mampu menilai betapa berharganya sesuatu yang kita genggaman, dan masih menginginkan sesuatu yang tak bisa kita genggam.


------------------


Sore yang cerah, setelah menghabiskan waktu bersama ayah sehari penuh aku keluar rumah.


Aku menatap halaman, kemudian menarik slang air, aku berniat menyirami tanaman yang ada di depan.


Di saat aku tengah asik menyirami tanaman sambil sesekali berguman, memurojaah hafalanku. Aku dikagetkan dengan kedatangan seorang lelaki yang sudah berdiri di terasnya.


Dlo, kok aku gak lihat datangnya, kenapa tiba-tiba sudah ada di teras?


Aku menoleh terkejut, sambil menilai orang yang ada di teras dengan wajah heran. Aku berpikir bahwa merasa tidak asing dengan wajah lelaki itu. Aku diam sejenak sambil mengingat, di mana aku pernah melihatnya.


Aku memang pintar, tapi bukankah setiap manusia memiliki kekukarangan. Dan kekurangan ku adalah menghafal wajah, aku sering lupa dengan wajah orang, tapi jika sudah mendengar suara aku akan ingat dengan sendirinya.


Unik bukan?


Aku menyerah, kemudian aku mendekat ke sosok lelaki yang sejak tadi mengamatiku dengan senyum manis tertera di wajahnya. Sungguh menggelikan.


"Assalamualaikum, nyari siapa yak?" sapaku saat sudah beberapa langkah di depan lelaki yang sejak tadi diam saja.


Aku melihat dia mengangkat satu alisnya sambil tersenyum.


"Waalaikumsalam, kamu lupa denganku?" lelaki itu bertanya dengan nada tidak percaya. Suaranya aku pernah denger, tapi namanya siapa ya aku lupa.


"Kamu benar-benar lupa, Mutia." Aku mengerut dahi sambil menatapnya, aku melihat wajah tak percaya di ekspresinya.


Apa dia kira aku tengah bercanda?


Aku benar-benar lupa, ah aku ingat. Dia kan lelaki yang itu. "Kamu yang dari penerbit itu kan?" seruku yang awalnya sangat semangat kemudian nampak tak yakin.


"Nah, itu kamu inget," kata Rouf dengan nada renyah.


Kemudian Rouf mengulurkan tangannya ke arahku, namun aku menangkupkan tangannya di dada. Aku masih ingat sebuah hadits nabi yang isinya nyatakan bahwa dibanding bersentuhan dengan orang yang bukan makhrom maka lebih baik ditancapkan besi panas di kulit. Bukankah ini sungguh mengerikan, oleh sebab itu aku sedikit demi sedikit mulai belajar menerapkan. Dan Rouf hanya tertawa kecil sambil menggelengkan kepala nampak geli.


Apa ada yang salah?


Tunggu dulu, apa yang dia lakukan di sini?


"Mutia, tamunya suruh masuk," teriak ayah dari dalam. Mau tak mau sebagai wujud kesopanan akupun mempersilahkan Rouf masuk ke dalam rumah dengan tanda tanya yang mungkin jika digambarkan ada banyak di sekitar kepalaku.


-------

__ADS_1


__ADS_2