
Sahabat itu saudara tanpa ikatan darah.
Aku mendudukanmu dalam sebuah kursi tinggi di sudut hatiku.
Kursi tinggi yang memiliki jabatan penting untuk diriku dalam merangkai cerita abu-abu.
Jabatan tinggi itu ku sebut saudara tanpa ikatan darah.
Jabatan tinggi itu bernama sahabat hatiku.
----Happy Reading----
Note : Cerita ini akan langsung saya hapus beberapa saat setelah completed.
Aku mendudukkan pantat ku di bangku, ini bukan kelasku akan tetapi ini adalah ruang ujianku.
Aku duduk dengan seorang cowok anak XI IPS 2 yang aku tahu namanya kak Alfa, dia cukup terkenal karena dia adalah vocalis band sekolah ini.
Namun, di balik semua itu setelah hampir seminggu aku mengenalnya dia masuk dalam golongan anak bandel, dia suka mencontek dan suka tidur.
"Ngapain liatin gue?" tanya kak Alfa yang tengah tidur. Eh, dia kan tidur kok tahu aku sedang menatapnya?
"Jangan lihatin tampang lugu lo. Itu buat gue nek tahu," katanya lagi sambil mengangkat wajahnya dari meja, aku mengerutkan dahi. Ketus dan kasar bukan?
"Kenapa? Lo jadi bisu?" Aku masih diam dan memandangnya heran, tiba-tiba tangannya mengarah ke wajahku dan matanya menatapku intens.
Aku jadi gugup gini sih, aku melihat tangannya hendak ke dahiku, namun belum sempat aku tepis ada tangan yang menghentikannya.
"Jangan sembarangan sentuh," kata pemilik tangan itu dan saat aku mendongak aku melihat Abi memegang tangan kak Alfa.
"Sorry Bro, gue gak tahan soalnya dia gemesin banget. Gue udah jutekin dia tapi emang dasar lugu dia tetap aja seperti itu." Ucapan kak Alfa membuatku berpikir keras, namun aku tak bisa mencernanya aku tidak tahu maksudnya. Aku semakin mengerutkan dahiku.
"Nah, noh liat. Bikin gemeskan?"
"Hah??????'' ucapku heran, sedang kak Alfa udah beranjak meninggalkan bangku dan ke luar, menyisakan aku seorang diri di kelas bersama Abi.
Tunggu, masih ada kak Bina yang ada di pojokan tapi nampak sibuk dengan bukunya. Dan pembicaraan kamipun seolah tak berpengaruh untuknya.
Hembusan napas Abi menyadarkanku dan membuatku menoleh ke arahnya. Dia menaikkan satu alisnya kemudian duduk di tempat duduk kak Alfa dan meletakkan kepalanya di meja menghadapku.
Aku hanya diam mengamatinya, aku bingung apa yang sebenarnya dia lakukan dan dia harapkan.
"Kok di sini?" tanyaku pelan, aku sungguh heran bin kepo banget, eh bingidz mungkin.
"Dilan belum datang dan sepertinya Hasan enggan ngobrol sama aku." Dia berkata santai dengan mata terpejam.
"Terus ngapain ke sini?" tanyaku heran, kami tidak sedekat itu untuk berbagi masalah, jadi wajarkan pertanyaanku ini.
"Menenangkan pikiran dan mencari kenyamanan."
"Ais, kenapa main teka teki sih?" tanyaku cukup keras, menyadari itu aku langsung membekap mulutku. Dia membuka matanya dan terkekeh.
"Kenapa dengan ekspresi mu?" tanya Abi, aku merengut tidak suka, aku pikir yang menyebalkan dan songong itu hanya kak Dilan namun temannya yang satu ini juga menyebalkan.
"Hari ini adalah hari terakhir ujian, abis pulang kamu mau kemana?"
"Pulang ya ke rumah," jawabku cuek, dia terdiam sejenak kemudian menaikkan alisnya. Karena penasaran aku juga mengikuti jejaknya dengan menaikkan alisku, namun sepertinya gagal karena aku mendengar tawa renyah dari dua sumber suara, yang satu dari sampingku dan yang satu dari depanku. Yang di sampingku sudah jelas orangnya sedang yang ada di depanku adalah si songong yang aku katakan tadi.
"Gue cariin juga ternyata lo ndekem di sini," kata kak Dilan setelah mereda tawanya.
"Ah, ganggu aja," kata Abi beranjak dari duduknya dan keluar kelas begitu saja.
"Ekspresi lo lucu, thanks udah nampung sahabat gue," kata kak Dilan menepuk pelan kepalaku dan beranjak mengikuti Abi.
Aku mengerutkan dahiku, ah mereka benar-benar aneh bin geje. Aku diam dan jeda beberapa saat anak-anak lain mulai masuk ke dalam kelas.
Salah satu dari mereka adalah Mirza. Ah temanku yang satu itu mulai aneh, dia jadi cuek dan tak jarang meninggalkan diriku sendiri saat aku sedang bicara.
Aku tak tahu apa yang terjadi namun aku tak mendemdam lantas meninggalkannya ganti, aku tetap seperti biasa menyapanya meski hanya dengan senyum di bibirku diacuhkan dengan memalinkan wajahnya.
__ADS_1
-------------------
"Eh, lo mau kemana?" tanya kak Alfa saat aku sudah selesai merapikan alat tulis.
"Aku yang Kakak tanya?"
"Bukan, angin yang gue tanya. Udah tau pakai tanya lagi."
"Ih sensi banget aih, lagi PMS ya," kataku dengan cuek.
"Bisa ngeledek juga ya lo," sahutnya tak bersahabat.
"Gak gitu juga kak," kataku merasa tak enak, mau bagaimana pun dia tetap seniorku dan lebih tua dariku jadi aku harus bisa menjaga sopan santunku.
"Udah jawab Pertanyaan gue tadi," katanya sewot, tapi aneh banget sikap yang diperlihatkan kak Alfa, tidak biasanya dia ingin mencampuri urusanku atau mau tahu urusanku. Karena selama sepekan kita duduk bersama dia terlihat cuek dan tak tertarik sama sekali dengan urusan yang lain.
"Kelamaan lo, ayo ikut gue," ajaknya dengan cuek dan jalan lebih dulu, mau tidak mau aku terpaksa mengikuti di belakangnya.
"Lo sama siapa, Fa?" tanya kak Erik, salah satu teman kak Alfa yang satu ruangan denganku.
Dia ramah jadi aku cukup mengenalnya juga. Karena tak ada jawaban dari kak Alfa dia langsung menatap ke arahku.
"Hai Mut, sini gabung," ajak kak Erik saat sampai di kantin. Aku tersenyum dan bergabung bersama mereka.
Di sana juga ada Mirza dan Madina karena mereka akan ikut latihan band dan mereka gabung ke pengembangan diri dibidang musik.
Aku duduk di samping Madina, kemudian dia menyodorkan minuman botol ke arahku, sepertinya mereka sudah pesan banyak karena meski hanya ada sekitar 10 orang yang duduk di bangku panjang ini namun ada banyak botol yang maaih tersisa.
"Lo mau ikut band juga, Mut?" tanya Mirza, seolah mendapatkan lotre. Ah, mungkin karena senangnya Mirza mau bicara padaku aku hanya tersenyum dan menggeleng sebagai jawabannya.
"Terus kok lo di sini?" tanya Madina.
"Aku diajak kak Alfa tadi, tapi niatnya gak mau gabung cuman ngikut aja," jawabku sambil melirik ke arah kak Alfa yang terkesan cuek tak menghiraukan diriku.
Aku merengut kesal karena tak dihiraukan. Aku paling benci dicuekin dan dengan santainya cowok itu tak peka untuk menyadarinya.
Padahal dulu Mirza tidak pernah menempatkan diriku di posisi semacam ini, jika kita sedang kumpul dia tahu benar bahwa aku akan kesulitan berbaur jadi dia selalu menemaniku dengan mengajakku bicara atau menjelaskan pokok pembicaran.
Aku diam memandamg bosan ke arah mereka, sepertinya kak Erik menyadari itu dan dia menyenggol tangan kak Alfa dan memberi kode dengan dagunya ke arahku, namun aku masih cuek dan lebih melampiaskan kekesalanku ke minumanku dengan memainkan sedotan.
"Lo kenapa?" tanya kak Alfa datar, aku mengangkat bahu acuh dan ku dengar napas berat keluar dari mulutnya.
Aku masih acuh tak menghiraukan. Memangnya enak dicuekin pikirku kesal.
"Hai Mut," sapa mas Ahmad.
"Dlo Mas Ahmad," aku ragu, kemudian dia menyodorkan buku berisi laporan kajian ke arahku.
"Tolong kasih ke Bagas ya, soalnya aku buru-buru," kata mas Ahmad dengan nada memohon, sebagian hati nuraniku terketuk untuk menerima namun sebagian lagi memintaku untuk menolak. Mungkin karena sifat baikku secara refleks belum selesai berpikir aku sudah mengambilnya membuat senyum lega tercetak di wajah seniorku itu.
Beberapa saat setelah kepergian mas Ahmad aku pun berpamitan pada mereka---anak band yang sedang ngadain rapat terbuka. Aku beralasan ada perlu dengan kak Bagas saat mereka bertanya, padahal aku tahu benar bahwa mereka tahu benar alasan itu.
Aku melangkahkan kakiku menuju sanggar pramuka, di sana aku berniat mencari Mita, salah satu kenalanku untuk mengembalikan novel miliknya yang aku pinjam. Namun, saat di depan sanggar aku melihat wajah serius pradana dam pradani pramuka tengah beradu argumen, aku pikir mereka tengah sibuk jadi aku urungkan niatku.
Aku kembali mengangkat kakiku untuk melangkah menuju koridor kelas IPA yang nampak kosong karena kawasan ini tidak dipakai untuk ujian. Aku berada tepat di depan IPA 2 dan dari dalam aku mendengar perbincangan yang cukup membuatku penasaran.
"Lo tahu gue suka sama dia, tapi kenapa lo musti deketin dia?"
"Gue gak mencoba deketin dia, lo tu cowok harusnya bisa menjaga sikap.''
"Menjaga sikap seperti apa lagi?"
"Lo harus terima keputusan dong jangan jadi pecundang bersembunyi di balik keangkuhan. Gue rasa gue gak ngenalin lo lama-lama."
"Lo bilang gitu karena lo udah merasa bisa dapatin hati tu cewek."
"Please San, lo jangan hancurkan hubungan kita cuman karena lo ditolak oleh cewek."
"Siapa yang menhancurkan? Dan siapa yang dihancurkan?"
__ADS_1
"Gue gak mau jadi cewek cuman gegara perselisihan kita. Kita itu cowok harus bisa mengendalikan perasaan."
"Gue tahu sekarang Bi, lo tu sama saja sama yang lainnya. Gak bisa ngertiin gue, gue suka sama Mutia tapi kenapa lo merusak semuanya."
Brakk.... Aku sudah tidak tahan dengan teriakan-teriakan yang mereka keluarkan, bukannya berlari untuk menjauhi tempat menyebalkan itu tapi aku malah membuka pintu dengan kasar.
Aku terkejut dan sangat terkejut, karena ternyata di dalam kelas itu bukan hanya ada Abi dan Kak Hasan namun juga ada kak Dilan, kak Sisi dan kak Bagas, sosok yang aku ingin temui beberapa saat lalu.
Aku terdiam sejenak menarik napas banyak-banyak dan menghembuskan pelan. Aku melihat wajah terkejut di kelima orang di depanku namun dengan cuek aku masuk ke kelas itu dan menutupnya kembali.
Entah keberanian dari mana, aku duduk santai di kursi guru sambil memandang bergantian ke arah lima seniorku dengan santai.
"Ayo lanjutkan drama kalian, aku juga ingin melihatnya." Aku berkata dengan santai dan menumpu dua tanganku di meja untuk menyangga wajahku.
"Kenapa pada diam?" tanyaku heran namun aku melihat wajah datar Abi dan tampang sinis Hasan. Hasan bolehkah aku memanggilnya demikian karena sepertinya rasa hormatku sudah harus ku hilangkan pada sosok yang tak kalah menyebalkan dari kak Dilan.
Aku mengarahkan mataku ke arah kak Dilan, aku melihat Abi dan Hasan duduk dan mengatur napas. Aku menatap tajam ke arah kak Dilan, dia tak berani memandang ke arahku ini hal baru yang pernah terjadi.
Aku hanya heran saja bagaimana bisa dia tetap diam saat dua sahabatnya bertengkar hebat seperti itu hanya karena cewek. Dan cewek itu adalah diriku yang sama sekali tak ada baiknya dan tak ada yang dibanggakan sama sekali.
"Ok, kalau tidak ada yang bicara bagaimana kalau aku yang bicara," aku mengeluarkan suaraku dengan nada angkuh yang aku miliki.
Aku harus melakukan ini untuk menjaga dinding pertahananku supaya tidak runtuh. Aku juga cewek ada kalanya aku juga ingin menangisi takdir ini.
"Sebenarnya perdebatan tadi sangat seru jika kalian tidak menyebut namaku, karena kalian menyebut namaku jadi terpaksa aku memunculkan batang hidungku ini supaya kalian tidak dianggap sebagai penggosip karena membicarakan orang lain, tapi sepertinya keputusanku malah membuat kalian diam."
"Oh ya, sebenarnya aku tak ingin ikut campur tapi aku hanya ingin membuat kalian sadar. Kalian tahu ini dunia nyata bukan cerita fiksi dari novel atau drama. Jadi saranku, jangan bertingkah seperti hal itu merusak persahabatan hanya dengan karena perasaan semu bernama 'suka' yang kalian tak bisa meyakini endingnya. Buat apa kalian adu otot itu tidak mengubah banyak hal."
"Kalian tahu, aku tidak akan membalas perasaan kalian untuk saat ini, karena aku tak akan mengubah prinsipku." Aku mengambil napas banyak dan menghembuskannya dengan pelan untuk menyeimbangkan omosiku.
Aku melihat Abi mengambil tasnya dan pergi begitu saja melewatiku tanpa melirik sedikitpun padaku, aku tahu ada berton-ton partikel yang bernama amarah di dada dan pikirannya. Namun aku tetap pada pendirianku bahwa aku tak ingin menjadi perusak persahabatan mereka. Selain itu, banyak hal yang akan terjadi dengan semua ini.
Aku berharap rasa itu tak pernah ada karena rasa itu merusak banyak hal yang ada. Persahabat dan juga kedamaian menjadi taruhan.
Aku berjalan menuju kak Bagas dan menyerahkan buku yang dititipkan kak Ahmad tadi sebelum aku duduk di depan kak Hasan.
"Kak, maafkan aku. Tapi jika bisa hapus perasaan itu karena aku tidak bisa. Aku tak bisa terus seperti ini kakak tahu aku meniliki prinsip dan selain itu aku selalu mengelak rasa itu kalaupun ada karena aku menginginkan hubungan halal bukan hubungan semu. Aku menyayangimu sesuai porsi aku menyayangi sahabatku lainnya." Aku berkata dengan nada yang aku buat selembut mungkin, namun karena dia dikuasai oleh amarah dia hanya tersenyum sinis.
Ah, bukan hanya amarah yang menguasai mungkin juga karena sakit hati dan merasa egonya dilukai.
"Kau tak bisa karena kau memang menginginkan kehancuran hubunganku bukan. Kalau tidak, tak mungkin kau ada di sini." Dia beranjak dan mengambil tasnya. Aku hanya mampu mengambil napas banyak-banyak untuk mengurai sesak di dada dan menahan air yang hendak menerobos pertahanan mata.
Aku sungguh lelah dengan semua, mengapa mereka begitu egois tak berpikir secara jernih dan memandang dari banyak sudut pandang, mengapa mereka merasa tersakiti tanpa memikirkan lebih dalam semua ini.
"Kau puas misimu menghancurkan sudah berhasil." Dia berkata dengan tajam dan seringai sinis di bibirnya. Sebelum dia melangkah keluar diikuti oleh dua senior lainnya dia sempat kembali melirik ke arahku dan aku melihat luka itu.
"Kenapa lo harus ikut campur?" tanya kak Bagas yang masih di ruangan itu.
"Terus aku harus diam saja seperti kalian yang tetap diam. Maaf aku tidak bisa."
Aku keluar dari ruangan itu dan alangkah terkejutnya aku melihat tiga sahabatku berada di depan pintu. Dua sahabatku memandangku dengan pandangan seolah menyalahkanku dan satu sahabatku nampak sendu.
Aku tersenyum menghampiri mereka, namun tak ada lagi senyum tulus yang aku terima.
"Lo gak pernah cerita perihal ini kepada kita? Apa lo gak percaya sama kita? Padahal gue percaya dan menceritakan semuanya kepada lo," cercaan itu datang dari bibir Mira sedang Madina sudah membuang muka.
Aku hendak menjawab namun ku urungkan saat Madina mengangkat tangannya dan melirik sinis ke arahku sebelum menarik Mira dan Erly pergi meningalkanku.
Aku hanya mampu menghembuskan napas berat. Aku tahu setelah ini semuanya akan berubah. Dan aku sadar aku tak akan bisa kembali menyatukan kaca yang pecah.
Aku melangkah pelan menuju gerbang samping, namun sebelumnya aku melihat sosok cowok tengah berdiri di dekat pintu dengan pandangan kosong dan aku sadar benar bahwa cowok yang tak ku kenal itu mendengar semuanya.
Aku tak menghiraukan semua itu, yang akan aku lakukan saat ini adalah melangkah keluar gerbang, berlari menuju halte dan segera pulang sebelum dinding pertahanku roboh.
Aku kuat, hanya itu yang boleh mereka tahu. Dan aku tak mau dikasihani dengan semua ini.
--------------
Berhati-hatilah kalian dengan prasangka, karena prasangka adalah sejelek-jeleknya perkataan. (Mutafaq'alaih)
__ADS_1