
Perpisahan adalah upacara menyambut hari-hari penuh rindu.
(Pidi Baiq)
--------------
Waktu adalah perkara yang paling keras, bak sebuah bangunan yang kokoh dan tak akan ada yang mampu hanya sekedar menggoyahkannya. Waktu itu ibarat sebuah pedang bermata dua, menakutkan dan mengerikan untuk dipikirkan.
Demi masa, sesungguhnya manusia dalam keadaan merugikan kecuali orang-orang yang memahami waktu dan mengerjakan amal boleh serta bersabar.
Waktu, mengubah segala hal dalam setiap buliran. Pembukti paling ampuh disetiap keresahan.
Aku berjalan memasuki sebuah ballroom hotel tempat dilaksanakan perpisahan. Ah, rasanya waktu berjalan begitu cepat tiada terasa. Aku baru saja merasakan bahagianya pertama kali memakai seragam abu-abu dan sekarang aku sudah memakai kebaya untuk syarat melepaskan masa abu-abuku.
Ya, aku sekarang menggunakan kebaya berwarna ungu dengan panjang mencapai paha berbelah segitiga yang mengulur di bagian belakang. Menggunakan jilbab berwarna ungu dengan kombinasi warna pink yang nampak indah ditata oleh penata rias yang dipanggil oleh ayah. Dengan bentuk jilbab sederhana dengan bentuk bunga-bunga di samping kanan. Ak memakai make up minimalis dengan lipstick berwarna pink keunguan yang nampak senada dengan kebaya yang aku gunakan. Aku memakai selendang di depan untuk menutupi bagian dada, karena jilbabku tidak mengulur ke depan, tidak lupa tas tangan dan sepatu mengerikan tertinggi 10 cm yang terpaksa aku gunakan. Kata periasnya tadi ini adalah penunjang penampilan terlihat sempurna.
Aku menunduk merapikan selendangku sebelum melangkah memasuki sebuah ruangan khusus yang sudah di sediakan.
"Waw, Mutia?" nada kagum terdengar di telingaku, apa aku terlalu sombong jika berkata seperti itu. Aku mendongak dan mendapati Dwi dan Irvan berdiri di depanku, seolah meyakinkan matanya bahwa yang dilihat itu manusia bukan hantu.
"Ada yang salah?" tanyaku memastikan, aku melihat kembali dandananku kemudian menoleh ke arah temanku.
"Tidak." Irvan menatap sejenak kemudian mengalihkan pandangan. Aku mengerutkan dahi kemudian beralih ke Dwi yang tengah nyengir gak elit sama sekali.
"Kalau begitu aku mau bergabung den yang lain, Assalamualaikum." Aku mendengar jawaban mereka kemudian melangkah menuju gerombalan teman sekelas.
Aku melihat Shinta sedang berbicara dengan seseorang yang membelakangiku, yang jelas cowok. Dan dari postur tubuhnya aku mengenalinya sebagai salah satu seniorku.
"Assalamualaikum," sapa Shinta dengan senyum saat melihatku yang dengan anggun hanya berdiri canggung. Awalnya Shinta masih bingung untuk menyapa, mungkin dia tidak mengenaliku atau orang jawa bilang pangling. Karena aku melihat dia nampak berpikir keras sebelum menyapaku.
"Waalaikumsalam," jawabku pelan dan cowok yang berdiri membelakangiku membalikkan badan. Dan tebakanku benar, dia adalah sala satu seniorku, tapi untuk apa dia ada di sini?
"Mutia, waw amazing. kamu terlihat sangat mempesona.'' Kak Bagas, cowok itu berkata dengan mata berbinar seolah mendapatkan sesuatu yang sangat berharga.
"Kak Bagas pernah ngerasain kolak sepatu?" tanyaku sinis, sedang kak Bagas hanya terkekeh menanggapi ucapanku.
"Jangan galak-galak entar cantiknya ilang loh."
"Kak Bagas," ucapku tertahan, sungguh kesal dengan wajah tengil kak Bagas. Dia tak cocok bersikap seperti itu, yang cocok hanya kak Dilan.
Benarkan kataku, kak bagas itu berwajah manis, cantik-cantik gimana gitu kayak artis Korea atau boyband Korea. Jadi bersikap tengil sungguh tidak cocok. Dia cocok bersikap anggun dab romantis. Hehehe, bukankan mengkritik yang abik itu memberikan solusinya? Sudahlah abaikan pikiran tak jelas ku.
"Aku gak nyangka kalau kamu secantik ini jika berdandan." Kak Bagas masih berkata dengan binar jenaka di matanya. Aku menoleh ke arah Shinta yang terkekeh.
"Aku butuh sendal deh buat dilempar," kataku pelan namun cukup mengancam.
"Slow baby, aku memuji diriku kenapa kamu malah mau memberiku hadiah sandal. Apa gak ada yang lebih elegant?"
"Ga ada. Aku gak suka dipuji," kataku galak, benar aku sungguh tak suk dipuji. Aku merasa seperti dilecehkan saat dipuji dengan kata cantik, sexy, menggemaskan, manis atau yang lainnya. Entahlah aku merasa kuran nyaman. Kak Bagas terbahak mendengar jawabanku begitu pupa dengan Shinta.
"Aku ada ide," kata Shinta berseru Girang setelah menetralkan tawanya. Apa aku sudah bilang kalau Shinta nampak cantik dengan ke bawa warna merah hati.
"Ide apa?" tanya kak Bagas penasaran, sama denganku.
"Sepertinya bakalan seru membakar jenggot orang gak peka," Shinta berkata dengan senyum miring, sedang aku hanya menatap ngeri sahabat dalam diamku itu.
"Aku gak mau ikutan kriminal," seruku tak setuju. Siapa juga yang mau bakar jenggot orang, ingin digorok apa?
"Ryan," panggil Shinta tiba-tiba.
Ryan melangkah anggu fa tegas. Dia nampak dewasa dan mempesona dengan aur kepemimpinan yang menguar.
"Ada apa?" tanya Ryan menoleh ke arah Shinta. Dan menoleh ke arahku dengan mata yang sedikit heran.
"Mutia, pinjam ponsel," kata Shinta tanpa menjawab pertanyaan Ryan.
"Buat apa?" tanyaku heran.
__ADS_1
"MasyaAllah, jadi ini Mutia." Ryan berseru heboh, sedang aku menatap cengo ke arahnya, jadi dia tadi tidak menyadariku. Dia tak tahu bahwa ini adalah diriku?
"Apa wajahku semengerikan itu?" yang aku dengan nada putus asa.
"Bukan begitu, kamu nampak sangat luar biasa. Sampai aku pikir tadi guest star acara." Ryan buru-buru menjawab mungkin dia takut kalau aku salah sangka.
Kemudian Shinta memintaku berfoto dengan Ryan, entah apa yang ada di otaknya yang jelas dia sangat memaksa. Aku sih menurut saja, mungkin bisa jadi dokumentasi aku melepas seragamku.
Kemudian panggilan untuk Kelas kita pun terdengar, kita menata rapi barisan kemudian masuk ke dalam ballroom yang nampak ramai. Aku berdiri di samping Iqbal. Entah bagaimana bisa, kami berdiri di atas panggung membentuk formasi dan berfoto-foto bersama.
Setelah prosesi dokumentasi kami turun dan menempati tempat duduk yang telah di sediakan. Duduk dan menikmati acara yang dipertunjukan. Diawali dengan band, kemudian beberapa tarian daerah dan dance. Kemudian memasuki acara inti berisi tentang sambutan-sambutan yang panjang, kadang aku berpikir semua itu Terasa tidak penting. Bayangkan saja untuk sambutan hingga 2 jam sendiri, sedang aku yakin benar bahwa tidak banyak yang menghiraukan. Kemudian acara berlanjut deng acara seni yang dipentaskan baik dari kami calon alumi atau dari adik kelas.
Saat aku menunduk, aku mendengar grusa-grusu anak cowok di belakang duduk ku, kebetulan aku dapat duduk di posisi paling belakang untuk perempuan.
"Buruan Van," kata Dwi, aku ingat bener suaranya. Shinta yang duduk di sebelah kananku menoleh ke belakang.
"Gue request," kata Shintawnoleh ke belakang. Dan Lana yang duduk di samping kiriku juga melakukan hal yang sama. Sedang aku mencoba fokus ke depan dan menghiraukan mereka.
Aku merasa ponselku bergetar, ada panggilan masuk. Aku tidak mengenal nomornya, namun alu menyukai barisan nomor awalnya, aku menekan tombol hijau dan membawa ponsel X2 ku ke telinga.
"Assalamualaikum," salamku. Namun aneh tak ada yang menjawab.
"Hallo," sapaku, aku mengerutkan dahi bingung, aku melihat ke layar ponselku, masih tersambung. Kemudian aku kembali meletakkan di telinga namun tidak ada suara. Tanpa berpikir panjang aku mematikan telepon lebih dahulu. Biarlah dianggap tidak sopan, siapa suruh coba orang salam tidak dijawab, aku hanya mampu menggerutu.
"Kenapa?" tanya Shinta heran.
"Ada telepon tapi gak ada suara," kataku pelan.
"Mungkin sinyalnya sulit di ruangan tertutup seperti ini, atau kalau enggak di sana juga gak kedengaran suara lo yang kalah sama suara musik." Aku mengangguk saja tanpa berdebat sedikitpun kemudian kami memutuskan untuk berfoto bersama menggunakan handphone Ryan yang ada kamera depannya. Kaum ada berdiri di belakang kursi ikut berfoto.
"Ini dia, kelas paling populer di sekolah selama dua tahun berturut-turut. Xll-IPA2." Suara cetar itu berasal dari pembawa acara. Aku mendongak dan mendapati beberapa temanku ada di sana.
Iya, di kelasku memang ada grup ban amatiran yang berdiri karena unsur ketidaksengajaan dan keterpaksaan karena ada lomba band antar kelas. Anggotanya ada Irvan di gitar, Dwi di bass, Ryan di keyboard dan Taro di dram. Kalau vocalisnya adalah Calista anak paling pintar dan berbakat di kelas.
"Lagu ini spesial buat warga XII-IPA2. WE LOVE YOU ALL." Setelah teriakan cetar dari Calista atau biasa kami manggil Lista, suara petikan gitar dang di lanjut alat musik yang lain mengalun dengan indah.
Setelah lagu itu berakhir, tiba-tiba Ryan memasang mic di depan Irvan dan Calista mengambil duduk dan mulai berbisik dengan yang lainnya.
"Lagu ini spesial gue persembahkan untuk dia, dia yang tak bisa ku sebut namanya. Tapi dia yang terbaik. Perpisahan termanis."

Suara itu indah, namun masih belum mampu menggetarkan hatiku. Alu terdiam tidak menyangka akan mendengar lagu ini. Aku menghela napas kemudian memejamkan mata, aku membuka mata kemudian kembali menghadap ke depan. Aku sedikit termenung kala melihat Irvan menatap lurus ke arah ku, aku bukan ke-pd-an atau apa tapi sungguh aku merasa dia menatap ke arahku, aku menoleh ke arah Dwi yang juga tersenyum penuh arti ke arahku. Ada apa ini?
Aku merasa Lana menepuk pahaku, aku menoleh dia tersenyum penuh arti. Aku heran ada apa sebenarnya. Aku menoleh ke arah Shinta yang fokus ke depan, aku hanya menggelengkan kepala tanda tak bisa menebak keadaan, kadang ketidakpekaanku ternyata juga menyulitkan diriku kala kekepoan dalam pikiranku mencuat memenuhi naluri keingintahuan dalam diriku.
Setelah bernyanyi meraka turun dari panggung dan kembali duduk Lana dan Shinta langsung menoleh ke belakang dan entah berbicara apa yang jelas aku tak bisa mendengarnya karen rasa kantuk dan bosan menghampiriku.
-----------------
Kala perpisahan selalu identik dengan ucapan 'selamat tinggal' atau 'good bye'. Namun entah mengapa aku lebih suka ucapan 'sampai jumpa kembali'.
----------------
Waktu sekali lagi berjalan dengan begitu cepatnya, sejak acara perpisahan dua pekan yang lalu kami jadi jarang bertemu, kami masih sesekali ke sekolah untuk mengurus beberapa persyaratan PTN tulis dan juga mengurus ijazah tentunya. Oh ya, aku belum memberitahu bukan bahwa angkatan ku lulus seratus persen. Ya aku sudah perna bilang bukan kalau sekolah ini kalaupun swasta memiliki keunggulan yang sangat menonjol tidak kalah dengan sekolah negeri.
"Assalamualaikum," sapa Irvan duduk di sebelahku berjarak satu kursi. Aku sedang ada di depan ruang BP untuk menunggu pak Ismail.
"Waalaikumsalam," jawabku pelan.
"Nunggu pak Ismail juga?" tanya Irvan, aku menoleh ke arahnya sambil mengangguk.
"Kuliah di mana?" tanya Irvan lagi.
"Aku mau di Malang, kamu?"
"Aku juga di Malang. Mau ambil Teknik Informatika." Irvan berkata sambil memandang lurus ke depan.
__ADS_1
"Apa mimpi yang ingin kau raih?" tanya Irvan masih pada posisi yang sama.
"Entahlah," jawabanku membuat Irvan menoleh. Dia nampak heran dengan jawabanku. Adakah yang salah? Aku memang tak memiliki mimpi yang aku harapkan aku hanya ingin mengikuti arus takdir, mengaliri dan menikmati setiap kejutan yang menghampiri. Apa aku salah?
"Setiap orang memiliki mimpi, cita-cita yang ingin dia capai. Kok kamu aneh?" tanya Irvan dengan nada yang mungkin bisa ku artikan halus dan penuh perhatian.
"Aku punya mimpi, Van. Tapi dulu dulu sekali." Aku menerawang ke depan kemudian tertawa kecil.
"Aku bermimpi memiliki keluarga yang utuh, hidup rukun dalam satu rumah. Ada ayah, ibu, kakak dan ada adik. Sederhana bukan? Aku ingin hidup berwarna dengan coretan tinta beraneka ragam." Aku menjeda dan menoleh ke arah Irvan, entah mengapa mataku berkaca-kaca. "Tapi Allah memiliki rencana yang berbeda."
"Semua itu takdir, Mutia. Jangan mendongak ke atas tapi lebih baik menunduklah ke bawah. Lihat orang dibawah kita supaya kita lebih rendah hati dan tidak iri." Aku mengangguk kemudian mendongak ke atas berharap mutiara mataku tak jatuh membasahi pipiku.
"Kamu punya cita-cita, apa?" tanya Irvan dengan nada renya. 'Kamu' aku baru sadar sejak tadi Irvan menggunakan bahasa 'kamu, aku'.
"Dulu aku ingin jadi pegawai bank." Aku mengungkapkan dengan nada bahagia, mungkin mataku juga berbinar senang seperti anak kecil yang mendapatkan hadiah dari orang tuanya.
"Terus?"
"Tapi aku urungkan," kataku lemah.
"Kenapa?"
"Kamu pasti bisa menerka jawabannya, kamu tahu bukan aku mencoba memperbaiki diri."
"Bukan itu yang aku maksud," kata Irvan.
"Lalu?" tanyaku heran.
"Kenapa kamu ingin jadi pegawai bank? Gajinya besar atau kerjanya menurut kamu mudah." Aku menggelengkan kepala tanda tidak setuju. Aku memang tidak berpikir sampai sejauh itu.
"Bukan," kataku, dia menatapku seolah bertanya alasannya.
"Karena mereka selalu berpakaian rapi dan ramah. Dulu waktu aku kecil, ayahku mengajak ku ke bank untuk mengenalkanku jenis-jenis uang dan cara menyimpan. Kalau tidak salah waktu aku kelas 3 SD di semester dua. Aku masih ingat pelajarannya adalah IPS." Aku berbinar senang saat mengungkapkan pengalamanku itu.
"Di sana ada pegawai yang sangat ramah, menjelaskan fungsi bank juga macam-macam uang. Uang giral, kartal, cek, deposito dan lainnya." Irva tersenyum tipis.
"Sederhana sekali membuat kamu berkesan." Aku menunduk malu. Iya ya, kok sederhana banget aku ingin jadi pegawai bank karena ada kesan ramah dari yang aku lihat.
"Itu pak Ismail. Ayo." Irvan berdiri kemudian berjalan mendekati pak Ismail. Akupun melakukan hal yang sama.
Setelah mengutarakan keinginan kami, pak Ismail mengajak kami masuk le dalam ruangan. Setelah melakukan berbagai hal akhirnya sura yang kami inginkan kami dapat. Saat berjalanenuju gerbang, Irvan berkata. "Selamat tinggal, Mutia."
"Aku tidak suka," kataku dengan sedikit ketus. Aku melihat wajah heran Irvan.
"Kenapa? Bukankah ini hari terakhir kita bisa bertemu?"
"Kamu doain aku mati, hingga kamu bilang terakhir bertemu aku."
"Bukan begitu," kata Irvan tak enak. Aku tersenyum.
"Aku lebih suka kata 'sampai jumpa lagi' karena itu kita masih menaruh harapan bahwa kita akan berjumpa lagi dan tidak mendahului kehendak." Irvan terkekeh.
"Jadi kamu masih berharap bertemu denganku lagi?"
"Tentu saja, aku selalu berharap bisa bertemu kamu lagi dan aku selalu mendoakan semoga kamu selalu diberi kesehatan." Ak tersenyum.
"Bagaimana?"
"Baiklah aku akan meralatnya," kata Irvan sambil tertawa kecil. Alu tersenyum menanggapinya.
"Sampai jumpa lagi, Mutia. Semoga Allah selalu memberimu kesehatan dan senantiasa melindungimu." Aku mengangguk dan mengucapkan. "Assalamualaikum, sahabat terbaikku dan terimakasih."
Aku melihat senyum Irvan terbit kembali dan menjawab salamku. Aku mengangguk dan melangkah keluar dari gerbang.
Masa abu-abuku telah berakhir. Dan aku bersyukur masih bisa merasakan semu itu. Aku bersyukur diberi kesempatan untuk memberi warna hitam dan putih dalam setiap detik waktu.
-----------
__ADS_1