
Yang berawal pasti akan berakhir. (Kru Kepo)
-----------
Ternyata soal test tidak sesulit yang pernah yang aku bayangkan. Setelah meneliti dan membereskan peralatan tulis menulis milikku, aku bersiap beranjak keluar kelas, kemudian aku duduk seorang diri di depan kelas.
Hemm.... Alangkah senangnya jika aku memiliki banyak teman, jadi aku tidak melakukan semua ini seorang diri. Tapi apalah daya aku hanya pendatang di kota ini, dulu waktu SMP aku tinggal bersama ibuku dan sekarang aku tinggal bersama ayahku jadi aku masih beradaptasi dengan lingkungan baru.
"Minum," ada sesosok senior yang memberiku minuman gelas.
"Terima kasih," aku mengambil dan meminumnya.
"Siapa nama lo?" tanya senior itu, jika kalian bertanya dari mana aku tahu jika dia senior, aku beri tahu cowok di sampingku ini mengenakan kaos lengan pendek berlogo Osis dan di belakangnya bertulis OSIS SMA 31 Kota.
"Mutia, Kak."
"Hay Mut, kenalin aku Bagas." Kata cowok itu dan mengulurkan tangannya. Cowok ini lumayan tampan, meski masih tampan kak Hasan sih, tapi dia juga menduduki kursi diatas rata-ratalah dan nilai plusnya dia ramah dan murah senyum. Aku jadi berpikir apa semua senior di sini ramah dan murah senyum.
"Bagaimana testnya? Bisa ngerjain?"
"Alhamdulillah, lumayan."
Senior di sampingku hendak mengeluarkan suara kembali namun ada suara lebih dulu menginterupsi,
"Gas, ayo ke sanggar."
"Ye Captain," jawab kak Bagas sambil melambaikan tangannya.
"Okey Mutia, gue cabut dulu ya, semoga kita bertemu lagi. Gue janji sama lo kalau lo masuk ke sekolah ini dalam artian lo lulus test, gue bakal traktir." Kak Bagas beranjak dari duduknya dan hendak melangkah,
"Kak, terimakasih. Aku pastikan Kakak harus traktir aku sampai puas." Aku berkata dengan penuh percaya diri dan dia hanya mengangkat jempolnya tanda setuju. Ternyata membuka diri untuk orang lain itu tidak sulit. Ah aku menyesal mengapa dulu aku jadi orang yang begitu tertutup.
"Ciye, ditinggal bentar aja lo dah dapat kenalan." Mirza duduk di tempat kak Bagas tadi duduk.
"Ya mau gimana lagi, aku terlalu indah untuk diabaikan sih."
"Ciih PD kali lo," cibir Mirza.
"Boleh kan sekali-kali membanggakan diri."
"Lo tu dah keseringan, jadi udahan aja lo ujub jadinya."
"Yach, malah menghina." Aku tidak terima dan pura-pura ngambek.
"Ciye ngambek, entar cowok pada ngejauh lo," goda Mirza dengan ekspresi nampak geli yang dibuat-buat.
"Bodo," kataku cuek.
"Cantiknya entar ilang lo."
"Biarin, ini sampai kapan sih hasilnya ditempel."
"Masih besok kok pengumumannya."
"Ya udah deh, aku pulang duluan." Aku beranjak dan membersihkan rok bagian belakangku.
"Udahan ngambeknya?"
"Iya, capek ngambek sama kamu, kamu mah gak peka."
"Ye, peka kali cuman pura-pura cuek aja."
"Ya, aku pulang. Assalamualaikum."
"Hati-hati, waalaikumsalam."
Aku melangkahkan kakiku ke arah gerbang, dan di sana ada pak Rahmad yang sedang berdiri, akupun menyapanya dan sedikit berbasa-basi, kemudian pamit untuk pulang dan berjanji akan bertemu lagi di esok hari.
————Happy Reading———
Terkadang kita tidak menyadari bahwa pertemuan yang terjadi diantara kita adalah rencana dari sang takdir, jadi sekuat apa kita menolak. Kita tidak akan bisa menghindarinya.
————Happy Reading———
Aku bagai lautan tanpa ombak jika kau tak mau hadir diantara kenangan kita,
Aku bagai gunung tanpa ada pohon yang melengkapi tanpa hadirmu di setiap hariku,
Karena aku dan kamu saling melengkapi
Karena aku dan kamu diciptakan untuk saling terpatri.
Pagi yang cerah secerah harapan yang tersimpan dalam hatiku, hari ini adalah hari di mana pengumuman hasil test dan nama siswa yang ke terima sekolah di SMA 31. Dengan penuh semangat aku berjalan mulai mendekati papan pengumuman yang nampak begitu ramai seperti biasa.
Aku hanya menghembuskan napas dan mengamati dari kejauhan,
"Sepertinya kantongku bakal jebol buat traktir lo deh," kata kak Bagas yang sudah berdiri di sampingku.
"Astagfirullah, Kak Bagas ngagetin aja," aku berkata sambil memukul bahunya, namun yang ku pukul bukannya merasa kesakitan malah tertawa.
"Apa yang lucu coba?"
"Ekspresi lo yang lucu pakai banget, Mut," jawab kak Bagas masih dengan tawa menghiasi bibirnya.
__ADS_1
"Ih gak lucu tau," kataku merajuk, entah mengapa aku merasa sudah mengenal lama kak Bagas dan aku merasa nyaman bicara dengannya. Mungkin karena pembawaannya yang easy going jadi mudah akrab.
"Sorry, ngagetin."
"Dimaafkan, tapi dengan syarat," kataku dengan menaikkan turunkan alisku dengan niat menggoda.
"Baiklah apa syaratnya? Dasar pamrih," kata kak Bagas pasrah.
"Lihatin hasil test," kataku sambil nyengir bahagia.
"Gampang, nih," kata kak Bagas sambil memberikan handphone kepadaku, kemudian aku hanya diam aku melihat dia mengotak-atik dan kemudian memperlihatkan kepadaku, di sana tertulis bahwa diriku lulus.
"Yes, aku lulus," kataku senang,
"Thanks aku mau pulang dulu." Aku langsung beranjak dan meninggalkan kak Bagas yang memanggil-manggil namaku.
Aku tidak perduli, karena yang menjadi pioritasku saat ini adalah pulang ke rumah menyampaikan kabar gembira ini ke ayah dan kepada ibu juga kakak perempuanku.
Tapi saat aku sudah sampai di gerbang aku berhenti secara tiba-tiba, aku mengingat sesuatu, MOS apa saja perlengkapannya dan kapan dilakukannya? Ih, kenapa aku jadi lola begini.
Aku langsung balik arah dan berlari menuju kak Bagas yang tersenyum geli melihatku,
"Akhirnya kau kembali juga, mengingat sesuatu, Nona? " kata kak Bagas saat aku sudah di depannya.
"Untuk MOS gimana kak?" tanyaku tak menghiraukan perkataannya.
"Ke aula gih, lorong ini belok kiri sebelah kanan perpustakaan."
"Okey, thank you." aku beranjak meninggalkan kak Bagas, sepertinya dia terkekeh melihat tingkahku.
"Ini perpustakaan ya, sebelah kanan berarti ini." Aku berkata pada diriku sendiri, dan kemudian aku memasuki ruangan yang sangat luas itu dengan santai, hingga aku merasakan tepukan di bahuku.
"Gue manggil lo dari tadi tapi lo pura-pura gak denger apa beneran dungu sih." Mirza sudah berdiri di sampingku.
"Aku gak denger suara kamu kali."
"Kita satu kelas, asal lo tahu. Kita memang jodoh ya." Aku melihat tiga cewek dan satu cowok yang bersama Mirza berekspresi dan berlagak mutah.
"Jangan dengerin perkataan si playboy buntut. Dia mah ada bening dikit langsung digrep," kata cewek berambut panjang dan diikat menjadi dua, dia nampak lebih cantik meski terlihat tidak terlalu modis dibanding yang lainnya.
"Mantan, lu diam aja kali, sirik amat. Kalau pingin balikan ngomong aja." Mirza berkata dengan cuek.
"Sorry gak minat," jawab cewek itu dan hendak memukul bahu Mirza namun dihalangi oleh gadis berjilbab biru yang nampak begitu kalem dan anggun.
"Eh kenalin, gue Irfan temennya Mirza." Cowok bernama Irfan itu mengulurkan tangan dan kusambut, kemudian aku juga berkenalan dengan tiga cewek itu, yang tadi mantan Mirza bernama Erly, sedang gadis berjilbab itu bernama Mira dan gadis yang cuek itu bernama Madina.
Kami pun masuk ke dalam aula dan mengikuti pra-mos dengan baik. Ternyata kami berada di kelas yang sama, jadi ini memudahkan kami untuk akrab, bahkan sekarang kami sudah akrab pakai banget, terbukti aku bisa mengerti masa SMP mereka.
Madina yang aku pikir anak yang cuek ternyata tidak secuek tebakanku karena setelah ngobrol sebentar dia sudah berbaur dengan yang lain seperti biasa.
"Lo naik apa pulangnya?" tanya Madina kepadaku saat kami keluar dari aula.
"Naik bus," jawabku dan mengedarkan pandangan.
"Temenin ke papan pengumuman yuk, aku mau lihat nilai testku," punyaku dan mereka menganggukkan kepala.
"Lewat sana aja, sekalian ngecengin senior," ajak Erly saat aku mau belok ke kiri, lewat jalan yang tadi.
"Dasar genit," kata kami bersamaan. Kami berempat pun berjalan melalui lorong kelas IPS, dan benar saja ada banyak senior berkaos olahraga dan beralmamater organisasi berkumpul dan nampak berdiskusi. Dan dengan cueknya aku berjalan dan memperhatikan teman baruku yang nampak sedang curi-curi pandang. Hemm, aku tahu ternyata mereka sudah punya kecengan sendiri-sendiri.
Aku berdiri dan mulai mencari namaku di papan pengumuman, dan di nomor 13 aku menemukannya, ternyata nilaiku cukup bagus.
"Waw, lo pinter ya ternyata, lihat Mutia di urutan 13," kata Erly penuh semangat.
"Iya kah?" tanya Mira penasaran.
"Bener lo kalah telak Mir." Madina berkata dengan tegas.
"Memangnya kenapa?" tanyaku heran.
"Diantara kami berlima Mira yang paling pandai, dia saja ada diurutan ke 60. Dan kita jelas ada di bawahnya."
"Oh, itu cuman sebuah kebetulan aja kali." Aku menjawab dengan santai.
Kemudian kami terlibat pembicaraan seru seputar senior sampai cowok paling keren di sekolah dan banyak lagi, namun aku hanya bisa menimpali sedikit karena aku memang tidak mengenal mereka semua jadi aku bisa apa.
"Kayaknya aku harus pulang deh, soalnya udah siang. Aku gak bawa mukena juga."
"Iya, lo daftar ulang kapan?" tanya Erly.
"Aku untuk administrasi diurus ayah, jadi sampai jumpa hari senin."
"Okey, see you again!"
Aku pun berjalan menuju gerbang dengan menunduk hingga tanpa sadar aku menabrak seseorang, yang aku lihat hanya kaos warna biru, sebab dia terlalu tinggi di atasku, aku hanya mendengus sebal. Bukan karena aku telah menabraknya tapi tinggi badannya yang melukai egoku.
"Maaf, tidak sengaja," kataku menunduk tidak memandang ke arahnya sama sekali.
"Hati-hati," kata cowok tinggi itu, hingga membuatku mengingat sesuatu yang pernah terjadi, dan saat aku mendongak aku sudah tidak melihat sosok itu lagi, aku hanya bernafas lega dan kembali berjalan, namun kali ini aku tidak menunduk tetapi aku memperhatikan jalan yang aku lewati, karena aku tidak mau menjadi orang yang bodoh dengan melakukan kesalahan yang sama.
————Happy Reading———
Senin, akhirnya hari ini datang juga.
__ADS_1
Senin, akhirnya aku harus melewati waktu ini juga.
Aku melangkahkan kaki memasuki gerbang yang nampak masih sepi, bukan dalam artian tidak ada orang akan tetapi tidak ramai namun ada beberapa orang, di gerbang ada 6 senior yang sudah berdiri menyebut kedatangan kami.
Aku berjalan dengan santai hingga ada yang menghalangi jalanku, saat aku mendongak aku melihat wajah itu, wajah cowok yang waktu itu di ruang pendaftaran, dia adalah kak Hasan.
"Welcome in SMA 31 Kota, Mutia." Dia berkata dengan manis, semanis senyum yang terbit di bibirnya, hingga membuatku lupa rotasi. Siapa yang tidak terpesona jika di pagi hari sudah mendapatkan berkah senyum seindah itu.
"Muhammad Nur Hasan, panggil saja kak Hasan," katanya sambil mengulurkan tangannya.
"Syarifa Mutia, panggil Mutia." Aku menerima uluran tangan itu dan kami saling berjabat tangan.
"Akhirnya aku mengenalmu secara resmi." Aku mengerutkan dahiku kemudian tersenyum.
"Pagi-pagi udah tebar pesona aja lo, Kak," teriak salah satu senior yang ada di dekat gerbang, membuatku sadar bahwa kami menjadi pusat perhatian.
"Kalau begitu saya boleh lewat sekarang?" tanyaku setengah malu.
"Tentu saja, silahkan," kata kak Hasan seperti mempersilahkan tamu ala princess.
"Terima kasih," kataku sambil jalan. Namun baru melangkah dua sampai tiga langkah aku mendengar suara kak Hasan berteriak,
"Abi tunggu!!"
'Abi' mendengar itu aku langsung mencari keberadaan orang yang dipanggil oleh kak Hasan, dan di sana berdiri sosok yang jauh dari prediksiku. Karena aku memprediksi yang namanya Abi itu tampan dan berwibawa sekasta dengan kak Hasanlah paling tidak atau untuk seatasnya, karena senior yang memberikan kartu ujian yang dititipkan Abi bilang bahwa Abi adalah 'prince charming'. Tapi ternyata tidak sesuai dan benar-benar sangat jauh dari dugaan. Aku hanya tersenyum gak jelas karena sudah berpikir yang tidak-tidak dan melanjutkan langkah kakiku menuju kelas yang akan sementara waktu aku pakai selama MOS.
Oh ya, membahas soal MOS di sekolah baruku ini tidak sama dengan MOS yang biasa dilihat di TV atau dibaca di novel-novel. Karena, MOS di sekolahku ini murni oritasi siswa. Jadi kegiatannya adalah mengenal seluk beluk sekolah dan pendekatan terhadap para guru, karyawan dan seluruh warga sekolah. Dan jika kalian tanya, bagaimana dengan pakaian yang digunakan? Jawabannya adalah kami memakai rok berwarna hitam dan baju berwarna putih, kemarin pas pramos ditanyakan kenapa harus pakai baju seperti itu, jawaban senior adalah karena seragam kalian akan jadi hari rabu, jadi supaya kompak, begitu.
Back to topic, aku sudah ada di depan pintu di sana aku sudah melihat teman yang aku kenal duduk di bangku masing-masing.
"Assalamualaikum," sapaku sambil mendekati meja mereka dan menjabat tangan mereka, dan tidak lupa mereka menjawab salamku.
"Kamu duduk di depan sama Mira," kata Erly dengan senyum lebar.
"Memang Mira duduk sendiri?" tanyaku sambil duduk.
"Enggak, kami memang udah nyediain buat lo."
"Oke, thank you."
"Anytime for you," jawab mereka bersamaan dan kemudian tertawa.
"Woe, upacara!" seru Mirza dari depan pintu dan saat Erly hendak berteriak menjawab seruan Mirza sudah lebih dulu dibekap oleh Madina.
"Ayo!" ajak Mira dan kami pun melangkah menuju halaman depan.
Kami baris di bagian tengah, tidak terlalu depan juga tidak di belakang, karena satu baris berisi tiga orang maka Erly mengalah di belakang, sebenarnya aku merasa tidak enak, karena aku seperti merebut posisinya. Namun, dia meyakinkanku dengan alasan aku belum mengenal teman yang lainnya jadi nanti takut aku tidak nyaman. Aah aku jadi begitu bersyukur memiliki teman yang begitu baik dan perhatian.
"Wih, kak Hasan ganteng banget ya," kata Madina pelan.
"Iya kah?" tanyaku menggoda.
"Kak Abi tidak kalah keren lo," kata Mira, membuatku melotot tidak percaya.
"Sudah-sudah khidmat ke upacara bukannya malah menilai cowok," kataku pelan dan mereka berdua langsung berdecak tidak suka, hingga membuatku terkikik pelan.
Upacara pun selesai dan kami diberi waktu 10 menit untuk beristirahat sejenak, aku dan teman-temanku memilih kembali ke kelas dan duduk.
"Nih, minum buat kalian," kata Mirza membawakan minum yang mungkin dia beli di kantin.
"Ciye.... perhatian sama mantan," seru kita bersamaan membuat Erly tersipu malu, sedang Mirza menggaruk kepalanya bagian belakang sambil nyengir.
"Dasar, geli aku lihat wajahmu," kataku sambil memukul bahu Mirza yang berdiri di samping aku duduk.
"Apaan sih beb, jangan pukul-pukul," kata Mirza manja dan aku melihat tiga temanku pura-pura mutah dan aku hanya memutar dua bola mataku.
"Sudah ya, aku duduk baik-baik," kata Mirza sambil menepuk pelan kepalaku, aku yang diperlakukan seperti itu langsung melotot sedang temanku malah tertawa. Karena tidak terima aku langsung mengambil buku yang digunakan Mira untuk menghilangkan keringat dan mengejar Mirza. Sedang Mirza yang aku kejar malah tertawa terbahak-bahak hingga dia jatuh di dekat meja guru. Hal itu tidak aku lewatkan dengan cepat aku menghampirinya dan memukul tubuhnya menggunakan buku Mira.
"Ampun Mut.... ampun!!" katanya sambil terbahak-bahak.
"Jangan ulangi lagi," kataku dengan berengut dan menoleh kearah teman-temanku yang tertawa bahagia, seolah-olah mendapat tontonan comedy gratis.
Ehem...
Ada suara deheman dan suara kikikan dari arah belakang, karena aku masih mengatur nafas jadi aku tidak menoleh, aku melihat kode yang diberikan Mirza namun aku masih enggan untuk menoleh, hingga suara deheman terdengar lagi dan aku menoleh dan alangkah kagetnya aku saat melihat dua cowok dan satu cewek yang tengah berdiri di depan pintu. Kalian tahu siapa mereka? Mereka adalah Senior. Dengan salah tingkah aku merapikan pakaian dan jilbabku dan kembali duduk tanpa menyapa ataupun tersenyum, aku hanya menunduk malu.
"Dasar Mirza, bikin kesan buruk aja di awal pertemuan." Aku berkata di dalam hati.
Aku duduk dan Mira memberiku tisu, karena melihat wajahku penuh dengan peluh.
"Wah, kalian cukup mudah membaur dan akrab," komentar kak Bagas dan memandang geli ke arahku, dan melihat itu aku melotot ke arahnya membuat dia geleng-geleng kepala.
"Lo kenal sama tu cewek?" tanya senior cewek yang tak ku ketahui namanya. Dan aku melihat kak Bagas menggerakkan kepalanya ke atas dan ke bawah tanda dia mengenalku.
"Kak Abi keren kan?" tanya Mira kepadaku, aku langsung menoleh.
"Iya kah?" tanyaku balik karena heran.
"Noh lihat, tubuhnya tegap kulitnya kuning dadanya lapang, waah enak deg kayaknya ada dipelukannya."
"Hust, ngaco!"
Oh jadi yang namanya Abi itu sosok cowok yang ini, jadi yang tadi pagi aku lihat siapa dong?
__ADS_1
Hemm, mungkin ada banyak nama Abi di sekolah ini. Kemudian tanpa terasa aku mengingat sesuatu, saat aku berjalan menuju ke tempat duduk aku mencium bau parfum yang aku tidak akan lupakan karena aku menyukai baunya dan aku pertama kali mencium bau itu adalah pada sosok yang menangkapku saat hampir jatuh ditabrak Mirza waktu itu, dan secara langsung aku memandang ke arah cowok itu dan mata kami bertubrukan dan aku melihat senyum di bibirnya. Waw dia tersenyum, aku menjadi salah tingkah dan segera mengalihkan pandanganku.
•••••••••••••••••••