
...***...
Raka memerhatikan perubahan sikap Ayu yang mulai berubah lagi. Ayu kembali menjadi sering melamun dan wajahnya tampak selalu murung.
Kadang dia juga mendapati mata sembab milik Ayu. Namun, lagi-lagi dia hanya mampu melihat tanpa berani bertanya.
Hingga hari ini Raka dapat melihat wajah kuyu dan pucat wanita dihadapannya itu, akhirnya dia mencoba memberanikan diri untuk bertanya.
“Ay, kamu sakit?”
“Ayu nggak, apa-apa kok Mas.”
Tubuhnya memang terasa kurang nyaman dari tadi pagi. Mungkin karena kurang tidur semalam, karena dia memikirkan nasib pernikahannya.
Tak dapat dipungkiri setelah pengakuan Danu tentang pernikahan keduanya, membuat nafsu makan dan waktu tidurnya terganggu.
“Tsk, sekarang malah ngelamun. Kamu lagi mikirin apa sih, Ay?”
“Ah, maaf ya, Mas.”
Ayu tersenyum agar Raka tidak khawatir dan mengetahui perasaannya, terlebih kondisi rumah tangganya saat ini.
“Wajah kamu kelihatan lelah, kalau memang kurang sehat istirahat dulu saja atau mau izin pulang?”
“Ayu beneran nggak apa-apa, Mas.” Dirinya merasa tidak enak terhadap Raka.
Meskipun Raka adalah teman baik kakak sepupunya, dan ia sudah menganggap Raka seperti Kakaknya. Tetap saja ia tidak boleh seenaknya sendiri.
“Oh iya, jam dua siang ini kita ada pertemuan dengan klien penting. Perusahaan Sinwha yang seharusnya minggu lalu kita bertemu, justru diundur jadi hari ini.”
Raka tahu, jika wanita di hadapannya ini berusaha mengalihkan pembicaraan. Kalau sudah begitu, Raka hanya bisa menghela napasnya.
“Kita ketemu di mana?”
“Kita akan makan siang bersama di Diamond Rush, mereka sudah melakukan reservasi. Kita hanya tinggal datang, ini sebagai kompensasi permintaan maaf karena tiba-tiba merubah jadwal. Gitu kata asistennya.”
Raka mengangukkan kepalanya tanda memahami perkataan Ayu.
“Baiklah, kamu bisa siapkan apa saja yang kita la perlukan. Nanti kita berangkat bareng ya.”
“Siap, Bos!”
Raka tergelak melihat tingkah Ayu.
__ADS_1
“Kamu ini”
Ayu hanya terkekeh.
...***...
Pertemuan bersama klien berjalan dengan lancar. Bahkan CEO Sinwha begitu ramah tamah dan suka sekali bercanda. Suasana yang tadinya begitu formal, berubah menjadi cair karena beberapa candaan yang dilontarkan oleh pria paruh baya tersebut.
“Waktu berjalan sangat cepat rupanya, semoga kita bisa bertemu lagi dilain waktu, terima kasih atas waktu anda Mr. Raka. Sekali lagi saya mohon maaf, karena kemarin sempat menunda pertemuan kita dan sedikit membuat kacau jadwal anda.”
Mereka berjalan beriringan menuju keluar dari ruangan VVIP tersebut.
“Saya yang seharusnya mengatakan hal itu, terima kasih atas waktu Mr. Lee dan juga atas kerjasama kita ini. Saya merasa sangat terhormat karena Mr. Lee menyetujui proposal yang kami ajukan, semoga kerjasama kita berjalan dengan baik dan lain kali saya yang akan menjamu Mr. Lee jika berkunjung lagi ke Indonesia.”
Mr. Lee tergelak mendengar ucapan Raka.
“Anak muda ini, anggap saja aku seperti Ayahmu. Tidak perlu terlalu formal. Ide yang kalian ajukan sangat pas dan juga unik. Bagaimana saya bisa menolak sesuatu yang baik?” Menepuk pundak Raka.
“Terima kasih atas pujian anda, Mr. Lee.”
“Jangan terlalu serius anak muda. Nanti pasanganmu merasa sungkan jika kau bersikap seperti ini, tapi sepertinya pasanganmu sudah terbiasa dengan sikap kaku yang kau lakukan ya. Dia terlihat sangat pengertian sekali, meskipun kau tidak bisa berlaku romantis terhadapnya. Benar tidak Nona Ayu?”
Ayu gelagapan tiba-tiba mendapat pertanyaan itu.
“Baik-baik, saya tidak akan menggoda kalian lagi. Saya permisi, karena Nyonya Lee sudah menunggu. Tentu tidak baik membuat seorang wanita menunggu, bukan? Karena akan sulit membujuk jika sudah merajuk.” Menoleh kepada asistennya. “Mr. Park, mari kita pergi.”
“Selamat jalan Mr. Lee.”
Raka dan Ayu membungkukkan kepalanya.
Setelah kepergian Mr. Lee dari ruangan itu. Ayu menoleh ke arah Raka.
“Mas.” serunya lalu mengangkat sebelah tangannya.
Raka dan Ayu melakukan high five.
“Akhirnya, kita bisa kerjasama dengan perusahaan Korea itu. Heh, meskipun diundur tapi beliau suka dengan proposal yang kita ajukan, Ayu senang banget.”
“Ini semua juga berkat kamu dan pegawai lain, Ay. Terima kasih sudah berusaha untuk bekerja keras.”
Ayu terkekeh mendengar pujian Raka.
Krukk!
__ADS_1
Mau tidak mau Raka tertawa mendengar suara yang berasal dari perut Ayu
“Lapar, Ay?”
Malu. Wajah Ayu memerah karena perutnya mengeluarkan bunyi yang cukup nyaring.
“Kita makan, yuk. Sudah jam enam juga, abis itu baru kita pulang.”
Ayu tidak menolak, karena dirinya juga belum makan dan merasa lapar. Mereka makan di restoran sebelah, karena Raka dan Ayu ingin makan nasi goreng kambing favorit mereka.
Menuju akhir pekan seperti ini tempat makan memang selalu ramai, terlebih restoran yang mereka datangi memang terkenal enak dan memiliki beberapa menu andalan. Raka menarik kursi untuk mempersilakan Ayu duduk.
“Terima kasih, mas.”
Pelayan mendekati meja mereka.
“Silakan menunya, Tuan dan Nyonya.”
“Mas mau makan apa?”
“Seperti biasa saja, Ay. Kamu sendiri, mau makan apa?”
“Samakan saja,”
“Dua nasi goreng kambing spesial, dua jus alpukat, dua puding mangga dan ini.” Raka menunjuk cake cokelat di buku menu.
Pelayan tersebut langsung mencatat permintaan Raka.
“Apa ada lagi Tuan?”
“Saya rasa itu cukup.” Melihat ke arah Ayu, “kamu mau pesan lagi?”
“Air mineral dua botol, tadi kita belum minum kan?”
Raka mengangukkan kepalanya. Kemudian menoleh ke arah pelayan yang berdiri di antara mereka.
“Itu saja tambahannya.”
“Baik, Tuan. Mohon ditunggu, pesanan anda akan segera kami siapkan.”
Beberapa saat kemudian makanan yang mereka pesan datang. Keduanya makan dengan lahap, sesekali terdengar candaan dan suara tawa. Baik Ayu mau maupun Raka.
Ada saja cerita yang membuat keduanya larut dalam obrolan tersebut.
__ADS_1
...****...