
...Part ini sudah direvisi...
...***...
Brother R
Bro, tepat seperti dugaan gue. Video CCTV sudah gue kirim ke surel pribadi, Lo. Dicek ya.
Isi pesan yang baru saja masuk dari Raihan. Raka kemudian menggeser mouse, meng-klik surel yang baru saja masuk. Raka menonton video dengan seksama, tak lama setelahnya dia melihat seseorang yang tidak asing. Begitu orang itu berbalik, Raka mengepalkan tangan karena menahan amarahnya.
“Kamu coba main-main denganku, lihat apa yang akan aku lakukan.” ujarnya dengan wajah datar.
Raka menekan tombol angka untuk menghubungi seseorang.
“Buat janji temu dengan CEO Prayoga Grup besok.”
Tanpa menunggu jawaban dari si penerima telepon, Raka mengakhiri panggilannya.
...***...
“Selamat siang, Tuan Raka. Maaf membuat Anda menunggu.”
“Tidak masalah, silakan duduk.”
“Terima kasih.”
Pria tadi berderhem untuk menetralkan rasa gugupnya. Entah perasaannya atau memang suasana di dalam ruangan ini yang membuatnya sedikit tidak nyaman.
“Sebelumnya saya mewakili Prayoga Grup ingin meminta maaf, karena Tuan Roy tidak bisa hadir. Saat ini beliau sedang ada di New York.”
Raka tidak langsung menanggapi ucapan asisten pribadi koleganya, tapi mempersilakan untuk memilih menu.
“Silakan pesan makanan atau minuman terlebih dahulu.” Ujarnya santai, sembari memotong steak daging dan memakannya.
Pria bernama Harish itu kemudian mengambil buku menu dan memilih makanan, tak lama hidangan yang dipesannya datang.
“Anda tahu, Tuan Harish. Mengapa setiap kali saya melakukan pertemuan dengan klien dan kolega atau orang lain, saya tidak memilihkan menu makanan dan minuman untuk tamu yang saya undang?”
“Maaf, saya tidak tahu, Tuan.”
“Alasannya sederhana, saya tidak suka memberikan sesuatu yang tidak saya ketahui. Orang itu suka atau tidak. Maka saya akan meminta tolong kepada asisten pribadi saya untuk menghubungi tamu tersebut, mengkonfirmasi apa kesukaan dan apa alergi yang mereka miliki. Hal ini bertujuan untuk membuat tamu saya nyaman dan juga terhindar dari hal yang kurang mengenakkan.”
Harish mengangukkan kepala paham dengan apa yang Raka katakan, dia memang tahu saat pertama kali atasannya bekerjasama dengan Raka. Namun, yang jadi permasalahannya adalah hal apa yang sebenarnya menjadi alasan utama Raka membuat janji temu yang begitu mendadak.
Ini terjadi ketika Roy hendak liburan ke New York bersama dengan keluarganya, atasannya itu tidak bisa membatalkan karena rengekan dari putrinya. Akhirnya Harish yang menjadi penggantinya untuk pergi dan di sinilah ia sekarang.
“Terima kasih Anda sudah datang kemari, mewakili atasan Anda.” Raka meletakkan garpu yang dipegang dan menyeka mulutnya menggunakan serbet.
“Saya pikir tadinya Tuan Roy, ada pertemuan penting atau hal urgensi lain yang membuatnya tidak bisa hadir. Namun ternyata dugaan saya salah, beliau pergi berlibur ke luar negeri bersama keluarganya. Ah, lebih tepatnya karena rengenkan putri tercintanya.” lanjut Raka, dia sengaja menekan kata putri tercintanya saat berbicara dengan Harish.
Deg.
Bagaimana orang ini bisa tahu? Firasatku tidak enak. Batin Harish.
Harish meneguk minuman yang ada di gelasnya untuk menetralkan rasa gugupnya.
__ADS_1
Raka tersenyum, tapi hal itu entah mengapa membuat Harish merinding. Raka menoleh ke arah samping.
“Via, bisa kamu bawakan itu ke mari dan memberikan kepada Tuan Harish.”
Via—asisten pribadi Raka– yang sedari tadi duduk tak jauh di sofa yang ada belakang langsung bangun, wanita itu berjalan mendekati meja mereka dan menyerahkan map berwarna hitam kepada Harish.
Sebelum Harish membuka map tersebut Raka berbicara tentang hal yang tidak ia mengerti.
“Sampaikan terima kasih atas permainan putri Tuan Roy, karenanya istri dan bayi kami sedikit kelelahan. Oleh karena itu, lain kali saya tidak akan mengizinkan lagi dia bermain dengan keduanya.”
Setelah mengatakan hal itu Raka bangkit dari kursinya dan keluar dari ruangan itu.
Harish yang masih dalam kebingungan hanya melihat Raka yang telah hilang di balik pintu.
“Tuan Harish.”
Interupsi dari Via, menyadarkan Harish.
“Ah, maaf. Jika boleh tahu sebenarnya ada apa? Saya benar-benar tidak mengerti.” Ujarnya dengan wajah putus asa.
Via merasa sedikit iba, karena pria di depannya pasti akan lebih terkejut lagi jika melihat isi dari map hitam yang dipegangnya.
“Silakan Anda lihat.”
Harish kemudian membuka, dia dengan seksama membaca kalimat yang tertulis di sana dan perlahan pupil matanya melebar, wajahnya berkeringat dan sedikit pucat.
“I-ini apakah benar? La-lalu bagaimana dengan—”
“Ya, itu benar.” Via memotong perkataan Harish, “dan sebenarnya saya pun terkejut, tapi karena sesuatu hal yang fatal maka dari itu hal ini terjadi.” lanjutnya.
Kerjasama dengan LAVIAS akan mendatangkan keuntungan bagi Prayoga Grup. Hal itu sudah terasa ketika mereka baru saja menandatangani kontrak, media dan majalah bisnis langsung menyoroti Prayoga Grup.
Saham mereka secara drastis naik. Awalnya Harish bingung saat Raka memilih perusahaan tempatnya bekerja, bukannya dia memandang rendah tempatnya mengais rupiah. Namun, ada perusahaan lain yang setingkat lebih kompeten di atasnya tapi LAVIAS tidak memilih mereka. Itulah yang membuat Harish bertanya-tanya hingga sekarang.
Lalu sekarang kontrak itu dibatalkan secara sepihak. Penalti pembatalan kontrak kerjasama mereka pun dibayar oleh Raka, tapi kerugian yang dialami Prayoga Grup akan lebih banyak lagi nantinya. Terlebih jika media mengendus hal ini. Memikirkannya saja sudah membuat kepala Harish pusing.
Kemudian dia mengernyitkan alisnya, apa hal ini ada hubungannya dengan putri atasannya? Memangnya hak fatal apa yang wanita itu perbuat, Harish berpikir dengan keras.
“Tuan Harish?”
Dia tersadar dari lamunannya begitu mendengar Via memanggil namanya.
“Saya permisi dulu.”
“Nona Via, tunggu sebentar.”
Harish memegang lengan Via. Menyadari hal itu dia refleks melepaskan pegangannya.
“Maaf, saya tidak bermaksud untuk kurang sopan.”
“Tidak masalah, apakah ada yang ingin Anda bicarakan lagi?”
“Saya—sebenarnya saya sedikit terkejut, apakah Tuan Raka tidak bisa mempertimbangkan lagi?”
Via menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Ini adalah keputusan beliau. Terlebih menyangkut Nyonya Ayu dan bayi yang tengah dikandungnya.”
“Maaf, mungkin ini sedikit kurang sopan. Apakah sebenarnya yang terjadi?”
Via mengehala napasnya.
“Untuk hal ini saya tidak bisa memberitahu, jika anda ingin mengetahuinya. Anda bisa akan tahu, ketika berkas yang ada di tangan anda sekarang diserahkan kepada Tuan Roy.”
Harish mengangukkan kepala paham, Via juga sama seperti dirinya. Ada hal di mana tidak dapat dibicarakan sembarangan.
“Kalau begitu saya permisi, selamat menikmati makanan Anda.”
Menikmati apanya? Nafsu makan Harish hilang entah ke mana saat membaca berkas di map tadi.
Dia mengehala napasnya. Mengusap wajahnya dengan kasar, bagaimana sekarang? Harish sendiripun bingung.
...***...
“Kurang ajar! Apa-apaan ini. Apa maksudnya semua ini?”
Tuan Roy melempar map hitam yang diserahkan Harish beberapa menit yang lalu. Pria paruh baya itu terpaksa mempercepat kepulangannya berlibur di New York karena Harish menghubunginya dan mengatakan sesuatu yang sangat penting. Dan ternyata hal itu adalah pembatalan kontrak kerjasama antara Prayoga Grup dengan LAVIAS.
Roy merasa tidak terima dan marah karena Raka seenaknya memutuskan kontrak itu secara sepihak. Memang mereka membayar penalti, tapi kerugian lebih besar jika perusahaan lain dan para investor tahu hal ini.
“Apa yang kamu lakukan? Kerja begini saja tidak becus!” Hardiknya kepada Harish.
“Maaf, Tuan. Tapi pembatalan kontrak kerjasama ini ada hubungannya dengan Nona.”
“Putriku? Apa maksud kamu?”
“Tuan Raka mengatakan, jika Nona membuat sesuatu yang fatal terhadap istri dan bayi yang tengah dikandungnya.”
Roy kemudian menekan tombol angka di ponselnya.
“Pulang sekarang!”
“............”
“Karena kamu kontrak kerjasama Prayoga Grup dan LAVIAS batal! Sebenarnya apa yang sudah kamu lakukan? Kenapa kamu menyinggung Tuan Raka dan istrinya?”
“............”
“Papi tidak bisa mentolerir kelakuanmu kali ini Carol, sekarang pulang dari sana!”
Roy memutuskan hubungan telepon tanpa menunggu jawaban putrinya.
“Lalu bagaimana selanjutnya, Tuan?”
“Urus semuanya, jangan sampai para investor dan media tahu hal ini. Jika tidak, maka kamu saya pecat!”
Harish menghela napasnya, ia menganggukkan kepala mengiyakan perintah atasannya.
...****...
...Terima kasih sudah membaca ceritaku, jangan untuk klik tombol LOVE dan LIKE ya~...
__ADS_1