Berbagi Cinta : DUA CINCIN

Berbagi Cinta : DUA CINCIN
Kesalahan Pahaman Danu


__ADS_3

“Dari mana kamu, jam segini baru pulang?” Danu berucap dengan nada dingin.


“Assalamualaikum.” Ayu mengucapkan salam lalu hendak menyalimi Danu, tapi pria itu menepis tangannya.


Ayu mengehala napasnya.


Kenapa lagi sekarang?


“Aku lembur, Mas. Kebetulan ada rapat dengan klien penting untuk projek terbaru.”


“Kami yakin?”


“Maksud, Mas?”


“Klien penting atau makan bareng selingkuhan?”


Ayu terkejut dengan perkataan suaminya. Danu yang melihat perubahan ekspresi wajah istrinya tersenyum remeh.


“Kenapa? Kamu kaget, Mas bisa tahu kalau kamu jalan dengan pria lain.”


Ayu bukanya terkejut karena apa yang suaminya bicara itu benar, melainkan Ayu terkejut karena telah menuduhnya berselingkuh.


“Ayu ikut bertemu dengan klien, setelah itu kami makan bersama. Tidak ada yang lain, mas Danu salah paham.” jelasnya pada Danu, Ayu mencoba menahan rasa kecewa dan emosinya.


“Bertemu dengan klien penting atau karena terlalu asyik mengobrol dengan selingkuhanmu itu? Sampai-sampai ponselmu pun nggak aktif.”


“Mas!”


“Sejak kapan kamu berani meninggikan suaramu.” Dengan nada mengeram.


“Maaf, tapi aku nggak terima kalau kamu asal menuduh. Aku beneran nggak—”


“Sudah cukup!”


Danu beranjak dari sofa menuju kamarnya.


Brak!


Suara bantingan pintu terdengar saat Danu memasuki ruang kerjanya. Sedangkan Ayu hanya mengehala napasnya berat.


Tanpa keduanya sadari, ada sepasang mata yang tengah menikmati pemandangan di itu sembari menyeringai.


“Yes, berhasil.”


Rika tersenyum penuh kemenangan.


Dia lah, yang membuat Danu memiliki prasangka demikian terhadap Ayu.


Saat Rika pergi berbelanja di mall bersama dengan seseorang, tanpa sengaja dia melihat Ayu bersama seorang pria yang sangat tampan.


Keduanya tampak akrab dan saling melempar candaan, hingga tertawa bahagia. Rika benci itu.


Dia benci saat melihat Ayu bisa seperti itu, maka dari itu dia secara diam-diam mengamati keduanya dan memotret menggunakan ponsel miliknya.


Setelah itu dia menyimpannya foto itu untuk diberitahukan kepada Danu nantinya.


Dan voila!


Dia berhasil membuat keduanya bertengkar hebat.


“Ah, malam ini mimpiku pasti akan sangat indah.”


...***...


Pagi ini saat Ayu terbangun dari tidurnya, dia tidak mendapati Danu di sisinya. Seolah pria itu memang tidak kembali untuk tidur di sisinya malam tadi.


Memangnya apa yang Ayu harapkan? Semenjak pernikahan kedua suaminya, Ayu selalu mencoba bertahan dengan segalanya. Selain luka yang masih menganga, dia juga merasa jarak antara Danu dan dirinya semakin hari semakin bertambah jauh.


Dulu sekali, sebelum tidur mereka berdua akan saling bercerita tentang berbagai hal yang sudah mereka lalui seharian. Kadang berakhir dengan tawa atau sesuatu yang lebih ‘panas’. Ketika bangun di pagi hari akan melempar senyum dan ciuman selamat pagi.


Menikmati sarapan dengan nikmat berdua atau menghabiskan akhir pekan seperti sekarang ini dengan berjalan-jalan. Namun itu dulu, sebelum pernikahan kedua suaminya dan kehadiran wanita itu di rumah ini.


Jangankan ucapan selamat pagi atau menghabiskan waktu bersama, setiap hari di kepala Ayu akan selalu ada pertanyaan “dengan siapa dia menghabiskan waktunya hari ini atau malam ini? Denganku atau dengan wanita itu?”


Kapan waktu itu kembali lagi dan sampai kapan dia akan bertahan dengan pernikahan ini? Lagi lagi dia tidak tahu, Ayu beranjak dari tempat tidur untuk mencuci muka dan sikat gigi. Hari sudah pagi. Jam di dinding menunjukkan pukul delapan pagi, setelah dari kamar mandi dia menuju walk in closed untuk berganti pakaian olahraga.


Sedikit berolahraga pagi hari sepertinya tidak buruk, sudah lama sekali ia tidak melakukannya. Tenggelam dalam aktivitas sehari-hari yang begitu melelahkan.


Sekembalinya Ayu dari joging, dia langsung ke dapur untuk mengambil minuman. Ayu melihat suasana rumahnya tampak sepi. Hanya ada dirinya dan asisten rumah tangganya saja.


“Selamat pagi, Nyonya.”


“Pagi, Bi.” tangannya mengambil roti dan mengolesi selai di atasnya. “Apa Tuan belum bangun?”

__ADS_1


“Tadi Tuan sudah pergi dengan Nyonya Rika. Tadi Nyonya Rika berpesan ke Bibi, katanya Tuan dan Nyonya Rika akan menginap selama beberapa malam di Villa yang ada di Bogor.”


Roti gandum yang di pegang Ayu terjatuh di atas piring.


Villa di Bogor? Kenapa harus di sana? Bukankah Villa itu hadiah pernikahan untukku.


Apakah Danu tahu betapa berartinya Villa itu baginya? Rasa lapar di perutnya berganti menjadi rasa sesak dan nyeri di dadanya.


...***...


^^^Rika^^^


^^^Mas, aku izin keluar sebentar boleh? Kebetulan ada janji ketemuan sama teman saat masih kuliah dulu. Sudah lama nggak ketemu, kebetulan sekarang dia lagi di sini sebelum besok kembali ke luar kota.^^^


Pesan masuk dari Rika.


Danu


Iya boleh, perlu diantar supir?


^^^Rika^^^


^^^Nggak perlu, mas. Nantinya kelamaan, kamu tahu sendiri kalau perempuan ngobrol bisa lama. Pulangnya saja dijemput, ya.^^^


Danu


Ya sudah, hati-hati.


^^^Rika^^^


^^^Terima kasih suamiku ❤️^^^


Danu membaca pesan terakhir yang masuk tanpa berniat membalasnya. Dia memang sudah bersikap baik kepada Rika, tapi belum bisa semesra saat bersama dengan Ayu.


Dulu saat awal-awal pernikahannya dengan Rika, Danu bersikap dingin kepada wanita itu. Namun, dia sadar jika hal itu tidaklah benar dan juga tidak adil bagi Rika.


Bagaimanapun Rika juga istrinya, meskipun pernikahan mereka dilakukan secara siri. Tetap saja haknya sama seperti Ayu.


Danu mengetikkan jari-jarinya di atas keyboard ponselnya. Mengirimkan pesan singkat kepada Ayu.


Danu


Sayang, kamu sudah makan? Kita makan siang bareng ya.


Lima menit.


Satu jam.


Hingga satu jam Danu menunggu balasan dari Ayu, tapi pesan tersebut juga tidak kunjung dibuka olehnya. Danu menyugar rambutnya, apakah sampai sesibuk itu hingga pesan darinya diabaikan?


Bahkan sampai jam kerja berakhir, Danu tak kunjung mendapatkan balasan dari Ayu. Akhirnya dia memutuskan untuk pulang ke rumah tanpa menunggu jawaban dari istri pertamanya, mungkin wanita itu sudah pulang.


Danu merasa tidak sabar bertemu dengan Ayu, dia sangat rindu sekali menghabiskan waktu bersama dengan Ayu saat ini.


Namun, begitu dia sampai di rumah. Danu belum mendapati kehadiran istri pertamanya di sana tapi dia mencoba bersabar dan menunggu. Mungkin Ayu terjebak macet.


Danu melihat jam di dinding menunjukkan pukul sepuluh malam, tapi Ayu belum juga muncul.


Tok


Tok


Tok


“Mas.” Rika melangkahkan kakinya mendekati meja Danu.


“Ada apa?”


“Em—itu, anu—”


Alis mata Danu terangkat sebelah.


“Ada apa Rika?”


Rika tidak berbicara melainkan menyodorkan ponsel miliknya kepada Danu. Wajah Danu mengeras melihat foto yang terpampang di layar ponsel milik Rika.


“Maaf, tad—tadi aku lihat Ayu sama seorang pria waktu janjian sama temanku. Awalnya aku kira salah lihat, tapi aku mastiin sendiri dan juga lihat mereka mesra gitu.”


Tangan Danu semakin mengapal erat mendengar ucapan Rika.


“Mas, kamu nggak tidur?”


Danu tersentak dari lamunannya, dia menoleh ke arah wanita yang tengah berbaring di sebelahnya.

__ADS_1


“Kamu tidur duluan, Mas mau selesaikan kerjaan dulu sebentar.”


“Ih, mas gitu. Ini weekend, kita juga lagi liburan. Tidur lagi yuk, aku masih pengen berduaan bareng mas Danu. Lagi pula di sini dingin banget.”


“Pakai bajunya biar nggak dingin.” Danu membenarkan posisi selimut yang tersingkap menutup tubuh polos wanita di sebelahnya itu.


“Maunya diangetin sama Mas Danu saja.”


Tangan Rika membelai dada Danu yang tak mengenakan pakaian, dia bermaksud menggoda suaminya tentu saja karena dia sangat tahu suaminya pasti kini tengah memikirkan istrinya pertamanya yang dia tinggal di rumah bersama dengan asisten rumah tangga.


Sedangkan dia dan Danu kini tengah berlibur di villa yang ada di Bogor. Rika tidak ingin sekalipun memberikan kesempatan bagi Danu untuk memikirkan wanita selain dirinya.


Dan lihat, suaminya kini terpancing oleh godaannya.


...***...


Sejak kejadian tiga hari lalu Danu sengaja menjaga jarak atau bahkan menghindari Ayu. Saat di rumah tak sekalipun dia tidur di kamar yang dulu mereka tempati.


Danu tidur di kamar Rika atau menghabiskan waktunya di ruang kerja miliknya.


Tentu saja hal itu dimanfaatkan oleh Rika untuk sengaja bermanja-manja kepada Danu dan memanasi Ayu. Agar Ayu tahu, jika Danu perlahan mulai berpaling darinya.


Sebenarnya Ayu kecewa karena sikap Danu yang tidak mempercayainya, terlebih lagi pria itu membawa Rika ke villa yang dihadiahkan kepadanya. Danu bahkan bersikap acuh terhadapnya sekarang.


Namun, dia hanya bisa menerima itu semua.


Tok


Tok


Tok


“Masuk.”


“Permisi Nyonya, Tuan memanggil Nyonya ke ruang kerjanya sekarang.”


“Terima kasih, Bi. Aku mau ganti pakaian dulu ya.”


Bi Ijah menganggukkan kepalanya. “Kalau begitu, saya permisi dulu.”


Ayu menganggukkan kepala menyiakan.


“Apa masih mau bahas perihal kejadian kemarin?” Ayu bergumam.


Dia hanya menghela napasnya dan buru-buru mengenakan pakaian serta mengeringkan rambutnya.


Setelah selesai dia berjalan keluar melangkah kakinya menuju ruang kerja Danu, sesampainya di sana Ayu mengetuk pintu ruang kerja suaminya.


Setelah dipersilakan masuk, barulah dia membuka pintu.


“Mas panggil aku?”


“Ya.” jawab Danu singkat.


Rupanya Mas Danu masih marah.


Saat melihat ekspresi masam suaminya itu.


“Mas, aku mau menjelaskan kejadian kemarin. Aku minta maaf sebelumnya, karena nggak bilang ke Mas. Ponsel Ayu ketinggalan di kantor waktu ada rapat bareng klien makanya nggak balas pesan dari Mas, aku sempat balik lagi ke kantor untuk ambil ponsel yang ketinggalan itu, makanya sampai pulangnya kemalaman. Dan setelah aku cek, ternyata baterai ponselku habis, makanya nggak kasih kabar. Aku nggak—”


“Kamu harus berhenti bekerja di sana sekarang.” Danu memotong perkataan Ayu.


Ayu yang tadinya menunduk mengangkat wajahnya. “Ya?” ia memastikan apa yang suaminya ucapakan tadi.


“Berhenti bekerja.”


“Tap—pi, Mas it—”


“Atau kamu memilih kita bercerai” Danu dengan ekspresi dingin, tangannya bersidekap di dada.


Ayu seketika terdiam, dia benar-benar terkejut mendengar ucapan Danu.


Air mata Ayu mengenang di pelupuk matanya. Sia tidak percaya, jika Danu berkata semudah itu mengatakan kata ‘cerai’ hanya agar Ayu berhenti dari tempat kerjanya. Apakah begitu sulit bagi Danu untuk mempercayainya?


“Baiklah.” Ayu berkata dengan pasrah sembari menundukkan kepalanya, “Aku permisi dulu ya, besok aku akan mengundurkan diri dari sana.”


Setelah mengatakan hal itu Ayu meninggalkan ruangan tersebut dengan langkah gontai menuju kamar. Untuk apalagi dia menjelaskan hal yang sebenarnya, bukankah percuma? Danu tidak akan memercayai perkataannya.


Sesampainya di dalam kamar, Ayu menumpahkan air mata yang sejak tadi dia tahan. Ayu meringkuk di lantai yang dingin meratapi nasibnya, hatinya begitu sakit mengingat semuanya rasa sakit yang ia rasakan selama ini.


Pengkhianatan Danu terhadap pernikahan mereka, cemoohan dari orang-orang sekitarnya. Cibiran dari mertuanya dan sekarang kata perceraian yang dengan mudahnya Danu lontarkan kepadanya. Berikutnya apa lagi?


Besok dia akan mengundurkan diri dari kantor Raka dan pastinya pria itu akan bertanya-tanya. Mengapa dia tiba-tiba saja berhenti bekerja.

__ADS_1


...****...


__ADS_2