Berbagi Cinta : DUA CINCIN

Berbagi Cinta : DUA CINCIN
Kedatangan Danu


__ADS_3

...Part ini sudah direvisi...


...***...


Saat melihat suaminya berpelukan dengan wanita lain, terlebih itu Caroline. Wanita yang dulu pernah dekat dengan Raka, hati Ayu sakit.


Saat keluar dari kantor suaminya, sepanjang perjalanan pulang ke rumah orang tuanya, Ayu menangis terisak di dalam taksi tapi buru-buru dia menghapus air matanya saat sudah mendekati rumahnya. Ayu tidak ingin, kedua orang tuanya tahu masalahnya dengan Raka.


Begitu masuk ke dalam rumah. Ibunya menyambut kedatangan Ayu meskipun sedikit terkejut dengan kedatangan anaknya tanpa memberi kabar. Begitu masuk ke dalam rumahnya, Ayu justru mendapatkan sebuah kejutan. Dia mendapati mantan suaminya di sana.


Mas Danu sedang apa di sini? Batinnya.


Ayu berpamitan menuju ke kamarnya untuk berganti pakaian dan mencuci wajahnya.


Tok


Tok


Tok


Pintu kamarnya diketuk, Ayu membukanya dan mendapati sang ibu berada di depan kamarnya.


Ayu segera memeluk ibunya.


“Kamu kenapa ke sini nggak kabarin ibu dulu, sendiri lagi. Lagi ada masalah sama Raka?” Mengelus punggung anaknya.


“Nggak ada, cuma kangen banget sama ibu. Mau dimasakin sama ibu juga, tapi juga lagi sebel lihat Raka.”


Ayu tidak sepenuhnya berbohong, dia memang rindu dengan orang tuanya dan masakan buatan ibunya.


Bu Ningrum terkekeh geli mendengar penuturan anaknya. Dia berpikir, itu adalah karena anaknya yang tengah hamil karena dulu dia sama seperti anaknya. Jadilah Bu Ningrum juga memaklumi tingkah Ayu.


“Kamu sudah makan?”


Ayu menggelengkan kepalanya.


“Belum.” Jawab Ayu yang langsung dihadiahi omelan oleh ibunya.


“Aduh, kamu gimana sih, Ay. Kamu, kan, lagi hamil. Kasihan cucunya ibu kelaparan.”


“Jadi cuma kasihan sama cucunya, sama Ayu nggak?” Ayu berpura-pura merajuk, sembari mengerucut bibirnya.


Melihat tingkah anaknya, Bu Ningrum hanya bisa tersenyum. Kemudian mengajaknya turun ke bawah, di sana masih ada mantan menantunya sedang bengobrol dengan suaminya.


“Kamu sudah makan?”


“Kebetulan belum, Bu.” Danu menjawab sopan.


“Ya sudah, makan bareng sekalian.” Pak Adipati mengajak Danu makan bersama.


Keempatnya makan dengan keheningan, tanpa obrolan di meja makan.


Setelah selesai makan, Danu meminta izin untuk berbicara secara pribadi kepada Ayu. Kedua orang tuanya mengizinkan, Ayu mengajak Danu mengobrol di taman belakang. Gazebo tempat biasanya dia bersantai.


“Kamu apa kabar, Ay?”


“Seperti yang kamu lihat, aku baik. Kamu sendiri apa kabar, Mas?”


“A-aku juga baik, terima kasih sudah bertanya.”


Keduanya kembali terdiam, hanyut dalam keheningan.


“Aku minta maaf, Ay.” Ujar Danu dengan suara lirih.


“Untuk apa?”


“Untuk segalanya, aku benar-benar minta maaf. Maafkan aku dan aku sudah tahu semuanya. Aku sungguh menyesalinya.” Danu menunduk semakin dalam mengingat kebodohannya.


Ayu melemparkan senyumannya.


“Aku sudah memaafkan, Mas Danu dari lama. Lagi pula itu sudah lewat.”

__ADS_1


Danu mengangkat wajahnya menatap mata mantan istrinya. Dia membalas senyuman Ayu.


“Terima kasih,” ujarnya tulus.


“Sama-sama.”


“Kamu kelihatannya bahagia sekarang, selamat ya, atas kehamilannya. Aku ikut senang.”


“Terima kasih, Mas.”


Setelah itu keduanya mengobrol santai seperti biasa, hingga hari menjelang malam. Danu juga sempat izin untuk sholat di sana.


...***...


Caroline mengendarai mobilnya dengan hati riang ke Atmosphere Resort Café, setelah mendapatkan pesan dari Raka yang ingin bertemu dengannya di sana.


Setelah memasuki tempat makan dan diantarkan oleh pegawai di sana ke ruang VIP, dia melihat Raka yang tengah duduk menunggunya di sana.


“Oh hai, love. Maaf sudah buat kamu menunggu, aku kira kamu nggak akan menemui aku lagi setelah wanita itu memergoki kita di kantor tadi siang.” Berucap dengan nada manja dan langsung memeluk Raka.


Raka Raka mendorong tubuh Caroline hingga terjatuh ke lantai. Caroline meringis kesakitan sekaligus terkejut dengan perlakuan Raka kepadanya.


Raka menunduk lalu mencengkeram dagu Caroline.


“Dia adalah istriku dan juga wanita yang aku cintai serta ibu dari anak-anakku. Jika terjadi sesuatu kepadanya, atau kamu muncul lagi di hadapanku. Aku pastikan kamu dan keluargamu membayar semuanya.” Raka berujar dengan wajah datar tanpa menunjukkan emosinya sedikitpun.


Caroline yang mendengar perkataan Raka menjadi pucat pasi. Tubuhnya menegang karena ketakutan, dia tahu betul apa yang dikatakan pria di hadapannya tidak main-main.


Setelah mengatakan hal itu Raka berpaling menatap asisten pribadinya yang ada di sana.


“Sampaikan kepada pihak keamanan untuk tidak mengizinkan wanita ini, masuk ke dalam perusahaan lagi dan anak perusahaan manapun milikku. Dan buat janji untuk bertemu dengan pimpinan Prayoga Grup besok.”


“Ba-baik, pak.” Via—asisten pribadi Raka–menganggukkan kepalanya. Dia menelan ludahnya sendiri melihat ekspresi wajah Raka dan suaranya yang terdengar dingin.


“Kamu langsung pulang setelah membayar makanan ini.”


Via menganggukkan kepalanya.


Raka melajukan mobilnya menuju rumah mertuanya. Untung saja Bunda Lia—ibunda Raka– tengah berada di luar kota karena sedang menghadiri pesta pernikahan sepupunya, jadi Bundanya tidak bertanya tentang kepulangan Ayu ke rumah orang tuanya. Namun bagaimana dengan kedua orang tuanya Ayu sendiri?


Raka kalut memikirkan kemungkinan buruk yang akan terjadi. Meminta saran dari Raihan—sepupu Ayu– juga tidak membantu, pria itu justru mengejek dan mentertawakan Raka.


Benar-benar sahabat sialan.


Sesampainya di rumah Ayu, Raka mendapati Danu keluar dari sana. Dia juga melihat Ayu mengantarkan kepulangan Danu dengan wajah tersenyum.


Tangan Raka menggenggam erat kemudi mobilnya. Hatinya tersulut emosi, tapi dia segera tersadar untuk apa kedatangannya ke sini.


Tenang, Ayu sudah milik kamu. Dia juga sedang hamil anakmu, jadi jangan khawatir. Raka berkata pada dirinya sendiri.


Raka menarik napas panjang dan menghembuskan perlahan, setelah itu dia turun dari mobil dan melangkahkan kakinya.


“Sayang”


Langkah Ayu terhenti, kemudian memutar tubuhnya. Dia melihat suaminya di teras rumah dengan pakaian yang sama seperti siang tadi.


“Ay, kamu mau ma—loh, Raka. Kapan datangnya, nak? Masuk dulu, kamu sudah makan?” Tanya ibu mertuanya.


“Baru saja, Bu. Sudah.” jawab Raka, menyalimi tangan Bu Ningrum.


Ketiganya masuk ke dalam.


“Ay, kita pulang yuk.” Ajak Raka kepada istrinya.


“Aku masih mau di sini.”


“Jangan cemberut gitu, Ay. Kalau memang nggak mau pulang, nginep di sini saja. Tidur di sini.” ujar ibunya.


“Tapi Ayu mau tidur sama ibu.” Rajuknya


“Sudah mau jadi orang tua masih manja.” Ejek pak Adipati, “malu sama suamimu, gitu betah sama Ayu kamu, Mas. Sentil saja dahinya kalau banyak tingkah.”

__ADS_1


“Bapak ....”


“Iya, ya. Maaf. Sudah sana tidur, dari tadi nguap terus. Mas Raka tidur di sini, sama bapak kalau gitu.”


“Nggak, aku lagi malas ketemu.”


Hati Raka mencelus mendengar perkataan istrinya. Meskipun begitu, dia memakluminya.


“Maaf ya, Mas. Bawaan hamil biasanya gitu. Mas Raka pulang dulu saja, besok ke sini lagi. Pasti capek juga, kan, habis dari tempat kerja.”


Raka berpikir, istrinya memang tidak menceritakan tentang masalah mereka.


“Raka pulang saja kalau gitu, Pak. Besok ke sini lagi.” Setelah menyalami kedua mertuanya, dia keluar dengan langkah gontai.


Ayu melihat punggung suaminya, merasakan sedikit nyeri di hatinya.


...***...


Malam semakin larut, tapi Ayu tidak bisa terpejam sedikitpun. Entah mengapa tiba-tiba dia menginginkan ayam goreng dan es teh.


Kesal karena tidak bisa meminta dari Raka, ia menangis terisak. Tak lama ponselnya bergetar, karena ada panggilan masuk.


“M-mas, hiks ....”


“Ay, sayang. Kamu kenapa?” Suaranya panik mendengar suara istrinya yang menangis.


“Mau ayam goreng sama minum es teh,” ujarnya masih disertai isakan.


Raka diam cukup lama. Mungkin karena terkejut.


“Tunggu ya, mas ke sana. Mas cari dulu ayam goreng sama es teh nya.”


Satu jam kemudian pintu kamar ayu diketuk.


Raka berada di sana dengan kantong plastik berisikan makanan dan minuman yang Ayu inginkan. Kakinya melangkah masuk ke dalam kamar Ayu.


“Mas, nggak pulang?”


Pasalnya dia masih mendapati Raka dengan kemeja yang sama seperti tadi.


“Nggak, mas tadi di depan sama pak satpam. Takutnya kamu minta sesuatu dan benar saja, kan.”


Ayu menangis terisak mendengar perkataan suaminya lalu memeluk Raka. Menghirup aroma Raka yang menjadi favoritnya.


Terdengar suara ketukan lagi, di pintu kamar Ayu dan juga suara ibunya.


“Ay, ini ibu. Kamu belum tidur? Ibu dengar ada suara.”


Ceklek.


Pintu kamar anaknya terbuka, ia juga mendapati menantunya di sana.


“Loh, Mas Raka di sini? Kapan datang, nggak pulang?” tanya Bu Ningrum dengan wajah terkejut.


“Raka kebetulan tadi di depan, nggak pulang. Takutnya Ayu minta apa-apa, benar saja dia minta ayam goreng sama es teh.”


Bu Ningrum tersenyum maklum.


“Maaf ya Mas, Ayu ngerepotin.”


“Nggak apa-apa, Bu. Sudah tugas Raka sebagai suami.”


“Ya sudah, sudah malam Bapak sama ibu mau tidur duluan.”


“Iya, Bu.”


Setelah kepergian kedua mertuanya. Raka kembali masuk ke dalam kamar.


Dia berganti pakaian dan makan bersama istrinya. Lapar yang sejak tadi hilang, kini kembali datang. Untungnya Raka membeli makanan dalam porsi banyak. Raka dan Ayu makan bersama.


...****...

__ADS_1


__ADS_2