
...Part ini sudah direvisi....
...***...
Plak!
Tamparan mendarat di pipi Caroline.
“Papi! Kenapa aku ditampar?”
“Kamu masih berpura-pura tidak tahu, setelah kekacauan yang kamu buat?”
“Memangnya apa yang sudah aku buat?”
“Kamu pikir CEO LAVIAS hanya melakukan tindakan sembrono tanpa mempertimbangkan sesuatu? Tidak ada asap kalau tidak ada api, Carol!”
“Carol benar-benar tidak tahu maksud Papi, memangnya apa yang sudah Carol lakukan?”
“Harish!”
“Saya, Tuan.”
“Kamu ulangi kata-kata dari CEO itu.”
“Baik, Tuan.” Kemudian memutar tubuhnya ke arah Caroline.
“Nona, Tuan Raka mengatakan ucapan terima kasih karena sudah bermain dengan Nyonya Ayu dan bayi yang ada di dalam kandungannya, hingga membuat mereka kelelahan. Jadi lain kaki Tuan Raka tidak mengizinkan lagi, Nona Carol bermain dengan mereka.”
Tubuh Caroline menegangkan. Kemudian tangannya mengepal, karena amarahnya meledak-ledak harus ditahannya.
Wanita sialan! Karena kamu, Raka jadi melakukan hal ini kepadaku. Lihat daja apa yang akan aku lakukan sama kamu, dasar jal*ng!
“Apa kamu sudah ingat?”
Wajah Caroline berpura-pura memelas.
“Carol benar tidak tahu apa maksudnya, Pi. Carol bahkan tidak pernah bertemu istrinya sama sekali.”
“Cukup Carol! Papi tidak habis pikir mengapa kamu melakukan itu, nama baik Papi dan perusahaan kita dipertaruhkan karena perbuatan kamu. Sekarang kamu Papi hukum, untuk sementara waktu Papi akan menarik semua fasilitas yang kamu punya dan juga kamu tidak boleh bepergian selama dua minggu dari sekarang, kamu sekarang pulang.”
__ADS_1
“Papi, ini nggak adil! Aku nggak salah apapun.” Rengek Caroline.
Namun Tuan Roy seakan menulikan telinganya.
...***...
Caroline mendatangi kantor Raka. Wanita itu datang ke LAVIAS dan memaki asisten pribadi Raka, karena sempat melarangnya bertemu dengan atasannya itu.
Kemudian Raka yang tengah bersama dengan Raihan keluar dari ruangannya, Caroline yang tidak terima atas perlakuan Raka berjanji akan melakukan hal yang membuat pria itu sadar akan keberadaannya. Raka dan Raihan hanya memandang remeh, terlebih Raihan. Pria itu semakin mengejek Caroline dengan sebutan wanita gila.
“Tunggu saja, kamu akan merasakan kehilangan dan membayar semuanya. Kamu akan bertekuk lutut di hadapanku.” ujar Caroline kemudian berbalik pergi.
“Wanita gila! Dari jaman Abu Jahal sampai trend joget di tik tok, dia masih nggak berubah. Malah makin parah, amit-amit bulu mata Kunti. Mimpi apa sih, kita bisa satu sekolah sama dia. Siang bolong itu kuntilanak sudah keluar saja, seharusnya tengah malam nanti baru muncul.”
Raihan tergelak tawa mendengar ucapannya sendiri.
Berbeda dengan Raka, karena dia sudah mengenal bagaimana gilanya Caroline. Maka dia harus berhati-hati lagi dalam menjaga Ayu.
“Gue cabut, deh. Saran gue, jangan bolehin wanita gila itu ke sini lagi. Kasihan asisten lo, yang kena getahnya dimarahin sama si nenek sihir itu.”
Raka mengangukkan kepalanya. Raihan kemudian pergi.
...***...
“Bagaimana ini? Apa sekarang yang akan kami peroleh setelah pembatalan kontrak kerjasama dengan LAVIAS?”
“Ya benar, harga saham pun turun. Bahkan beberapa media mengatakan, jika perusahaan kita ini akan bangkrut.”
“Seharusnya anda mengambil tindakan Tuan Roy.”
“Benar!”
“Jika karena bukan putri anda, maka semua ini tidak akan terjadi. Bagaimana anda bisa mencampurkan pekerjaan dengan masalah pribadi? Kami tidak habis pikir dengan cara didik anda sebagai orang tuanya.”
Suara-suara sumbang terdengar bersahutan di ruang rapat. Setelah mengetahui kontrak kerjasama dengan LAVIAS dihentikan, entah bagaimana caranya para pemegang saham dan media bisa mengendusnya. Padahal pihak Prayoga Grup sudah berusaha menutupi hal tersebut, tapi masih saja kecolongan. Hingga pada akhirnya diadakan rapat dewan direksi dan seperti inilah keadaannya, mereka menuntut Tuan Roy untuk bertanggung jawab atas apa yang sudah terjadi.
Sudah sebulan sejak kerjasama dengan LAVIAS dihentikan, masalah yang datang ke Prayoga Grup semakin pelik. Para pemegang saham menuntut agar Tuan Roy mengambil tindakan untuk langkah menyelamatkan saham perusahaan, tapi pria paruh baya itu justru jatuh sakit.
Tuan Roy masuk rumah sakit karena mengalami kelelahan, bahkan sampai terkena serangan jantung saat rapat. Harish kemudian datang kembali ke LAVIAS untuk bertemu dengan Raka, guna meminta untuk melanjutkan kerjasama mereka. Awalnya pria itu pesimis, tapi tanpa dia duga. Raka justru menerima kedatangannya dan melanjutkan kembali kerjasama tersebut.
__ADS_1
Tentu saja hal itu menjadi angin segar bagi Prayoga Grup. Meskipun begitu, banyak rumor beredar jika hal yang terjadi kemarin adalah peringatan keras bagi siapapun. Jangan pernah mengusik keluarga atau wanita yang dicintai Raka. Kalau mereka nekat, maka hal itu akan berdampak tidak baik bagi kehidupan mereka sendiri.
Tuan Roy merasa senang, ketika Harish membawa kabar baik itu. Namun di sisi lain, Caroline semakin membenci Ayu. Dia berencana melakukan perhitungan kepada wanita itu, karena masalah ini pulalah dia dikucilkan dari pergaulannya.
Banyak yang mengatakan, jika Caroline tidak tahu malu, wanita murahan dan wanita penggoda. Bahkan ada juga yang menyebutnya wanita jal*ng, karena mereka tahu Caroline dan masa lalunya yang menggoda Raka. Dan masalah peringatan Raka tentang tidak menggangu istrinya.
“Akan aku buat kamu merasakan sakit yang sama sepertiku.”
...***...
Siang itu Ayu sedang mampir sebentar ke supermarket untuk membeli beberapa camilan, sebelum pergi ke rumah Raihan. Setelah membeli beberapa puding dan yogurt, dia membayar ke kasir. Saat tiba di tempat parkir, supirnya izin ke kamar kecil sebentar. Ayu menunggu sambil mendengarkan musik dan memakan puding yang baru dia beli.
Pintu mobilnya terbuka, Ayu yang asyik bertukar pesan dengan Prita—istri Raihan– tidak menyadari jika yang masuk tadi bukanlah supirnya. Melainkan orang lain.
Dilain tempat, Raka yang tengah mengetik tengah mendengar persentase dari pegawainya mendapatkan panggilan dari supir istrinya.
Dia terpaksa menginterupsi agar menghentikan sebentar rapat siang itu.
“Ada apa?”
“Nyonya, Tuan.”
Tubuh Raka menegang ketika mendengar suara panik sang supir.
“Katakan.”
Supirnya kemudian menceritakan ketika dirinya izin untuk ke toilet istrinya masih ada di parkiran, menunggu di dalam mobil tapi begitu supirnya kembali ke parkiran. Supirnya tidak bisa menemukan mobil mereka dan juga Ayu di sana, supirnya sudah meminta bantuan pertugas keamanan di sana dan setelah mengecek CCTV di parkiran, mereka menemukan bahwa mobil tersebut sudah keluar dari sana sekitar sepuluh menit.
“Kamu pulang saja. Jangan sampai Bunda tahu hal ini.”
Setelah mengatakan hal itu, Raka membubarkan rapatnya. Kemudian menekan tombol angka di ponselnya untuk menghubungi seseorang, tapi sebelum itu ada sebuah pesan yang masuk ke ponselnya.
Sebuah foto dan pesan teks.
Yang membuat Raka geram dan ingin mencabik-cabik si pengirim pesan saat itu juga.
...****...
...Yey! Double update. Jangan lupa untuk follow, klik tombol LIKE dan LOVE ya~...
__ADS_1
...Komentar Next, untuk part selanjutnya 🤗...