Berbagi Cinta : DUA CINCIN

Berbagi Cinta : DUA CINCIN
Naresh Yori Alvarendra


__ADS_3

...Part ini sudah direvisi...


...***...


“Itu karena kualat sama ibu.”


Bu Wati mematikan televisi yang menayangkan berita terkait peristiwa yang menimpa mantan menantunya.


Danu yang mendengar perkataan ibunya mengeryit keheranan.


“Ibu lagi ngomongin siapa, sih?”


“Ya siapa lagi kalau bukan mantan istri kamu.”


“Maksudnya gimana? Danu nggak mengerti.”


“Ayu itu kualat, karena dia nggak mau nurut sama ibu. Buktinya sekarang dia celaka, kan? Siapa suruh nggak nurut, ibu suruh rujuk sama kamu malah nggak mau. Terus marah belain laki-laki itu dan malah pergi gitu saja, bikin malu ibu di depan teman-teman ibu.”


Danu mengehala napasnya lelah. Dia sendiri tidak mengerti jalan pikiran ibunya, kenapa ibunya bisa berpikir seperti itu? Danu bahkan sekarang sudah belajar menerima pernikahan Ayu dan Raka, meskipun belum sepenuhnya menerima karena dia masih butuh waktu melupakan mantan istrinya itu.


Namun Danu berpikir, bahwa Ayu pantas bahagia dengan kehidupannya sekarang setelah luka yang dia berikan di masa lalu saat keduanya masih bersama. Akan tetapi, ibunya benar-benar keras hati, terus-menerus membicarakan Ayu. Ayu begini, Ayu begitu dan masih banyak ocehan lainnya dan sekarang dia benar-benar sudah jengah dengan sikap ibunya.


“Ayu it—”


“Bu,” Danu memotong perkataan ibunya. Kemudian menaruh garpu dan sendok, dia menghentikan makannya.


“Apa ibu tidak lelah terus membicarakan Ayu? Seharusnya ibu lebih instrospeksi dengan kejadian di masa lalu.”


“Apa maksud kamu?”


Danu kembali mengehala napasnya.


“Ibu ingat kenapa aku dan Ayu bisa berpisah? Ibu terus menerus memaksaku untuk menikah kembali, karena Ayu belum juga hamil. Dan mengatakan jika Ayu mandul, serta selalu bersikap tidak ramah kepada Ayu. Jadi Danu mohon sekarang sama ibu, stop menjelekkan Ayu karena dia tidak salah sama sekali. Kitalah yang salah, aku dan Ibu.”


Bu Wati kesal dengan sikap Danu yang membela mantan menantunya. Sebelum Bu Wati mengatakan sesuatu lagi, Danu segera bangun dari tempat kursinya meninggalkan ibunya. Dia tidak menghiraukan Bu Wati yang memanggil namanya.


...***...


Danu berkutat dengan laporan yang baru saja diberikan oleh asistennya, jangan kira seperti cerita di novel-novel jika CEO hanya tampan, bersantai dan lainnya. Nyatanya menjadi seorang pimpinan dan pemilik perusahaan besar adalah tanggung jawab yang sangat besar.


Laporan yang menumpuk, bertemu klien, perjalanan dinas keluar kota atau keluar negeri. Banyak ribuan pegawai yang harus dia lindungi agar mereka tetap merasa nyaman dan berkerja demi melangsungkan kebutuhan hidup mereka.

__ADS_1


Kadang kala Danu sendiri merasa lelah, dia ingin sekali beristirahat dengan santai. Namun mengingat hal itu justru semakin membuatnya tidak bisa melupakan Ayu, maka kini dengan cara menjadi workaholic sebagai gantinya. Saat sibuk dengan segudang pekerjaan, Danu berhenti melupakan Ayu. Hanya sesaat, tapi setelahnya dia kembali mengingat momen kebersamaan keduanya lagi.


Seperti sekarang ini, pikirannya kembali kacau. Sejak peristiwa yang menimpa Ayu, Danu semakin menjadi tidak tenang. Terlebih ibunya selalu membicarakan Ayu. Akhirnya dia tidak bisa berkonsentrasi dengan laporan di mejanya diletakkan kembali.


Danu memijat pangkal hidungnya. Kepalanya dipenuhi oleh Ayu.


Bagaimana keadaannya sekarang?


Apakah Ayu baik-baik saja?


Pertanyaan itu terus berputar-putar di kepalanya. Padahal Danu tahu, dia sendiri sudah tidak memiliki hak untuk itu. Akan tetapi hati tidak bisa dibohongi, dia lelah harus terus mencoba melupakan wanita yang dicintainya.


Danu keluar dari ruangannya.


“Jika ada yang mencari saya, tolong katakan kalau saya ada urusan mendesak. Danu berkata kepada asistennya.”


Tanpa menunggu jawaban dari asistennya, Danu sudah melangkah pergi. Danu melakukan mobilnya menuju rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, saat dia bertanya pada bagian resepsionis berkata jika Ayu tengah berada di kamar VVIP lantai lima, ada beberapa penjaga di luar kamarnya. Danu ke sana dengan membawa buah bermaksud untuk menjenguk Ayu. Meskipun sempat mengalami keraguan, apakah Ayu sudah bisa dijenguk atau belum tapi Danu tetap mencobanya.


Dan benar saja, begitu Danu sampai. Para bodyguard yang berjaga di sekitar kamar Ayu mengintrogasi Danu, tapi begitu mengatakan jika dirinya teman dari Ayu dan mereka memastikan sendiri kebenarannya. Danu baru diperbolehkan masuk.


“Hai” Danu menyapa Ayu yang tengah duduk membaca buku.


“Hai” jawab Ayu.


“Sudah jauh lebih baik, Mas.”


Ayu mengamati Danu dengan seksama, wajahnya tampak lesu. Kemejanya kusut, tubuh Danu lebih kurus dari terakhir mereka bertemu dan lingkaran hitam di bawah matanya menandakan jika pria itu kurang tidur.


“Mas kurusan” celetuk Ayu tanpa sadar.


Danu tersenyum, dia merasa bahagia karena ternyata Ayu memperhatikan penampilannya.


“Biasalah, Ay. Kerjaan Mas banyak banget.”


“Ya tapi, kan, harus ingat makan dan minum juga Mas. Mas Danu itu kalau sudah kerja suka lupa waktu, semua diabaikan. Workaholic. Eh, maaf Mas kalau aku cerewet,” ujar Ayu setelah tersadar.


Danu terkekeh mendengar omelan Ayu.


“Wah, sekarang semakin cerewet ya ibu hamil satu ini.”


Ayu sedikit malu karena kelepasan bicara.

__ADS_1


“Raka sepertinya semakin waspada, ya. Mungkin dia juga khawatir kalau kejadian kemarin terulang lagi, kalau aku jadi dia juga sama. Terlebih sekarang kamu lagi hamil.”


Ayu mengehala napasnya.


“Jangan merasa terbebani, Ay. Itu karena dia sayang dan cinta sama kamu.”


“Aku tahu, kok Mas. Terima kasih juga sudah ikut khawatir sama kondisiku dan anakku.”


“Aku ikutan senang lihatnya, kamu dan Raka. Aku berdoa semoga kalian selalu dilimpahi kebahagiaan dan kejadian kemarin tidak pernah terulang lagi dilain waktu.”


“Aamin.”


Kemudian keduanya mengobrol seperti biasa, layaknya seorang teman. Setelah kejadian Bu Wati yang mencoba mempermalukan Raka, ketika Ayu datang ke rumah Bu Wati karena dibohongi oleh mantan mertuanya.


Ayu mencoba berbicara dengan Danu, Raka pun tahu. Dia tidak ingin memutus tali silaturahmi yang sudah terjalin, mau bagaimanapun nantinya pasti mereka akan bertemu. Daripada melakukan hal yang nantinya akan membuat tak nyaman karena canggung, maka dari itu Ayu memutuskan untuk tetap berhubungan baik dengan Danu.


Sesekali Danu menanyakan kabar Ayu dan keluarganya melalui ponsel, meskipun tidak terlalu sering bertukar pesan. Selain untuk menghindari perkataan pedas Bu Wati, Ayu juga tidak ingin membuat kepercayaan Raka kepadanya hilang.


“Satu minggu lagi, Ay.”


“Iya, do'akan semoga bisa melahirkan dengan lancar ya, Mas.” ujar Ayu sembari mengelus perutnya.


“Aku selalu berdoa semoga kamu melahirkan dengan lancar dan kalian berdua dalam keadaan sehat.”


“Terima kasih, Mas.”


“Kamu sudah siapkan nama untuk bayi kalian?”


“Sudah, Mas Raka yang cari namanya.”


“Berarti sudah tahu dong ya, jenis kelaminnya apa.”


“Sudah, tapi keluarga belum kami kasih tahu. Buat kejutan soalnya.”


“Ibu sama Ayah juga pasti nggak sabaran kan, nunggu cucu mereka. Apalagi kamu dan Raka sama-sama anak tunggal.”


“Oh ya, Ay. Boleh aku tahu siapa namanya?”


Ayu tersenyum, kemudian melihat ke arah perutnya yang sedari tadi ditendangi oleh makhluk mungil yang ada di dalamnya. Tangannya tidak berhenti untuk mengelus perutnya.


“Naresh Yori Alvarendra.” jawab Ayu lalu tersenyum.

__ADS_1


...****...


__ADS_2