
...Part ini sudah direvisi....
...____...
...Happy reading!...
...***...
Sudah dua hari berlalu, tapi semuanya masih tetap sama.
Ayu mengabaikannya.
Raka semakin terlihat bodoh. Makan tak enak, pekerjaannya bahkan tak ada yang beres. Mereka begitu dekat, tapi karena kebodohan yang dia lakukan dua hari lalu membuat dia dan Ayu terasa semakin menjauh.
Raka mengehala napasnya, mengingat kejadian dua hari lalu di apartemen miliknya.
Bugh!
Raka yang tidak siap dengan pukulan yang diberikan oleh Raihan jatuh tersungkur.
Dia masih terkejut dengan apa yang terjadi. Setelah sadar, barulah dia bertanya mengapa dia dipukul.
“Biar otak lo yang pinter ngegaet investor asing sama projek terkenal, supaya nyadar dikit. Pinteran lebih tepatnya.”
Raka mengeryitkan alisnya heran.
“To the point, jangan basa basi ”
Raihan malah menertawakannya.
“Lo memang sahabat baik gue, tapi lo nggak berhak nyakitin perasaan adik gue.”
“Maksudnya gimana?”
“Masih belaga bodoh, lo tahu nggak kalau sikap lo yang seperti ini nyakitin Ayu.”
Oke, sampai sini Raka paham mengapa tiba-tiba saja Raihan yang baru datang setelah mengajaknya bertemu di apartemen miliknya. Ternyata karena insiden siang tadi.
Raka terkekeh geli, bisa-bisa Raihan melakukan hal kekanakan karena adik sepupunya itu.
“Jadi ini tentang Ayu?”
“Ya siapa lagi, menurut lo?”
“Rai, aku memang cinta sama dia dan dia adik sepupu kamu tapi mencelakai orang lain dengan sengaja—”
“Halah bacot! Lo lihat dengan mata kepala sendiri atau karena cewek itu yang ngomong?"
“Tetap sa—”
“Jawab saja pertanyaan gue.”
Raka diam. Ya, dia memang tak melihat langsung tapi Brenda yang memberitahunya jika Ayu dengan sengaja menumpahkan teh panas ke kakinya. Meskipun saat di klinik tadi, tak separah itu. Hanya jari kakinya saja yang sedikit memerah. Hanya itu.
“See, gue sudah bisa tebak kok.” Raihan menatap Raka dengan pandangan remeh.
“—Lo sama saja dengan si kampret itu. ”
Raka menatap tajam Raihan karena dia tahu betul siapa yang Raihan bicarakan.
“Jaga ucapan kamu, aku nggak sama—”
__ADS_1
“Sama, karena lo nggak coba bertanya atau mencoba mendengar penjelasan Ayu. Lo hanya dengar apa yang cewek yang namanya renda-rendaan itu bilang, kan?”
Sekali lagi Raka tak menjawab karena itu benar.
“Jadi jangan salahin gue, kalau gue bilang lo mirip sama si kampret. Jangan dekati adik gue lagi, lo sama dia hanya status atasan dan bawahan. Nggak lebih. Nggak sudi kasih izin lo buat dekati Ayu, apalagi sampai nikah. Gue nggak mau ada si kampret jilid dua dihidup adik gue. Makanya lain kali otak cerdas lo digunain ya.”
Setelah mengatakan hal itu Raihan memutar tumitnya, berjalan meninggalkan ruang tamu apartemen Raka.
Mampus, kan, lo. Rayu sono si Ayu, belum tahu saja dia kalau si cerewet satu kalau sudah ngambek bakalan tutup mulut selama tiga hari. Memangnya enak disiksa. batin Raihan.
Raihan tersenyum puas.
Sedangkan Raka yang masih terdiam di tempatnya tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Begitu tersadar, dia mengotak-atik ponselnya. Begitu melihat apa yang terjadi, tangannya mengepalkan ponsel itu begitu kencang.
Di sana, dengan jelas Brenda yang bersalah. Meskipun secara tak sengaja melakukan itu, tapi mengapa Brenda malah mengarang cerita dan Ayu diam saja.
Dia teringat bagaimana sikapnya kepada Ayu. lagi-lagi dia membenarkan perkataan yang tadi Raihan katakan. Kalau untuk urusan cinta, dia memang benar-benar bodoh.
Dan sudah dua hari. Kejadian yang lalu selesai, kini ada kejadian yang lain lagi. Di diamkan oleh Ayu, wanita itu hanya menjawab seadanya. Itu pun dalam bahasa formal.
Raka mengacak-acak rambutnya merasa frustasi.
...***...
Ay, bisa ke ruangan saya sebentar?
Baik pak.
Setelah mematikan panggilan interkom, Ayu yang tadinya bersiap untuk pulang malah kembali masuk ke ruang Raka.
Begitu dia masuk ke sana ....
Tubuhnya menegang kaku. Jantungnya berdegup sangat kencang dan cepat. mulut dan matanya ternganga.
Raka, pria itu memeluk tubuh mungilnya.
Maaf, aku minta maaf.
Ayu masih terdiam mencerna semuanya.
“Aku bilang, aku minta maaf. Tolong jangan pergi, jangan diam atau mengabaikan aku lagi. Aku tahu, kalau aku salah karena nggak seharusnya memercayai ucapan wanita itu tanpa bertanya ke kamu dulu. Jadi —”
“—Please, Ay. Aku bisa gila kalau kamu seperti ini terus.”
Ayu mulai membalas pelukan pria itu, sebenarnya dia sama tersiksanya karena tidak bisa mengobrol seperti biasanya dengan Raka. Selama dua hari ini dia dan Raka hanya berkata tentang pekerjaan saja. Hanya itu, tapi kalau dia nggak mendiamkan Raka. Pasti dia juga semena-mena lagi ke depannya. Menuduh tanpa mendengar ceritanya.
Dan entah siapa yang memulai, tahu-tahu bibir keduanya sudah saling bertaut
...***...
Keduanya berjalan sambil menggeret koper. Ayu dan Raka baru saja tiba di Korea Selatan. Saat ini keduanya tengah berada di Incheon International Airport.
“Kamu capek?”
Ayu menggelengkan kepalanya pelan.
“Ngantuk sama laper.” ujarnya dengan suara pelan.
Raka tergelak mendengar ucapan jujur Ayu.
__ADS_1
“Habis ini kita langsung makan ya.” mengusap lembut kepala Ayu.
“Tapi, bukannya kita dijemput?”
“Ya, memang. Tapi tadi aku sudah suruh orangku untuk bawa dua mobil, jadi bisa mampir dulu buat makan.”
“Mas nggak capek?”
“Nggak, kan, ada kamu. Jadi itu cukup buat recharge tenaga aku lagi.”
“Apaan sih, Mas? Mulai deh, gombalnya.”
“Oke, deh. Nanti aku seriusin ya, tapi jangan nolak.”
“Mas,”
“Aku serius, Ay.”
Ayu tidak dapat berkata-kata lagi. Pikirannya kembali melayang pada peristiwa minggu lalu saat dia mengikuti Raka untuk wawancara dan setelah insiden teh itu.
Awalnya situasinya tidak ada yang aneh, tapi entah mengapa ketika mengakhiri sesi wawancara eksklusif antara Raka dan salah satu majalah bisnis terkenal malah berakhir dengan sesi yang kurang mengenakkan. Tentunya bagi jurnalis wanita itu.
Pasalnya sesaat sesudah sesi wawancara berakhir jurnalis wanita itu dengan sengaja membuka satu kancing pada bagian atas bajunya. Menyilangkan kakinya, sehingga paha bagian dalam terekspos dengan jelas.
Kemudian jurnalis itu mengipasi wajahnya dengan tangan. Hal itu tidak luput dari perhatian Ayu.
Terlebih saat wanita itu berpura-pura jatuh ke dalam pelukan Raka. Mood langsung terjun bebas. Dia yang tidak tahan dengan segala drama di hadapannya memilih untuk keluar lebih dulu.
Beberapa saat kemudian, Raka menyusulnya. Ayu memandang Raka dengan wajah kesal, menjawab segala pertanyaan Raka dengan ketus. Pulang menggunakan taksi, karena dirinya bersikukuh untuk pulang sendiri. Sesampainya di rumah, dia tidak mandi dan berganti pakaian. Ayu terlalu malas untuk itu, matanya pun tidak dapat terpejam. Semalaman dirinya terjaga dan alhasil, besok paginya Ayu terbangun pukul sembilan pagi.
Buru-buru ke kantor. Hampir menabrak pengendara motor yang tengah lewat, karena Ayu menerobos lampu merah. Dan tidak ada satupun pekerjannya yang beres hari itu. Ayu bahkan sempat bingung mengapa sikapnya seperti itu.
Dia bertanya-tanya, apa yang salah dengan dirinya?
Namun setelah Raka mengajaknya makan malam bersama dan menceritakan kejadian saat wawancara dan menegur jurnalis itu.
Wajah Ayu berubah cerah, keadaan hatinya juga langsung membaik.
“Ay, Ayu.”
Raka mengguncang lembut bahunya. Ayu mengerjap matanya, ia tersadar dari lamunan.
“Eh, iya. Kenapa, Mas?”
“Yuk, mobilnya sudah datang.”
Keduanya berjalan beriringan. Memasukkan koper ke dalam bagasi dan masuk ke dalam mobil meninggalkan bandara.
“Suapin Ay, aku juga lapar.”
“Mas bisa makan sendiri”
“Tapi aku lagi nyetir, Ay.”
Ayu tahu itu, dia sengaja menggoda Raka saja. Entah mengapa akhir-akhir ini Raka bersikap terlalu manis padanya atau memang sejak dulu hanya saja dia tidak menyadarinya dan Ayu juga terkadang tidak segan menunjukkan perhatian lebih kepada Raka.
Ayu dengan telaten menyuapi Raka Kimchi bokkeumbap yang dibelinya tadi saat mampir ke restoran di perjalanan.
“Enak banget, Ay. Dan lebih enak lagi karena disuapin sama kamu."
“Mas, sudah ya.”
__ADS_1
Raka tergelak mendengar protes wanita di sampingnya. Sedangkan Ayu wajahnya nampak begitu merah. Dia bukannya tidak suka dengan perkataan manis Raka. Hanya saja demi kesehatan jantungnya, Ayu harus menghentikan itu dan juga karena hal lainnya.
...****...