
...Part ini sudah direvisi....
...____...
...Happy reading!...
...***...
“Jadi kita akan di sana selama satu minggu?”
Raka mengangukkan kepalanya.
“Oke, selain berkas penting dan tiket pesawat, semuanya sudah aku siapkan. Kenapa kita nggak reservasi hotel, Mas?”
“Mr. Lee sudah mempersiapkan rumah singgah untuk kita tinggali selama di sana.”
“Oke. Setelah ini berarti kita tinggal packing, di sana lagi musim semi, kan, ya? Jadi nggak perlu bawa baju hangat.”
Raka mengangukkan kepalanya.
“Apa ada lagi?”
“Aku rasa itu saja.”
“Baik, aku permisi dulu. Oh ya, siang ini akan ada wawancara eksklusif dari Majalah Bisnis CEO di Hummingbird Eatery. Aku sudah reservasi ruangan VIP agar lebih nyaman.”
“Kamu ikut, kan, Ay?”
“Kan, itu sudah tugasku sebagai asisten pribadi Mas Raka.”
“Kalau aku maunya lebih, Ay.” Raka bergumam.
__ADS_1
“Hah! Gimana Mas? Aku nggak dengar.”
“Nggak apa-apa, cuma sedikit kurang nyaman. Mungkin kecapean.” Raka buru-buru meralat ucapannya tadi.
“Mas harus istirahat cukup, aku tahu satu bulan ini kita selalu lembur karena menang tender lagi tapi tetap saja, kesehatan itu penting Mas.”
Raka tersenyum mendengar segala omelan Ayu.
“Pokoknya makan teratur, tidur jangan terlalu larut, minum vitamin dan—” Ayu mengentikan omelannya. Kemudian melihat Raka yang tengah menatapnya, pria itu sampai mengulum bibirnya agar tidak tersenyum.
“Aku ngomongnya kebanyakan, ya? Maaf.” ujar Ayu meringis.
Seketika Raka tergelak.
“Aku senang kok diomelin sama kamu, kalau bisa tiap hari saja ya, Ay.” jadi berasa punya istri soalnya. Lanjut Raka dalam hati.
Mendengar hal itu Ayu mendelikkan matanya.
“Iya, iya maaf.”
“Pokoknya jangan sampai lupa pesanku tadi, nanti minum vitamin juga.”
“Siap, Bu Ayu.”
“Ya sudah, aku mau balik ke meja. Kerjaanku juga masih banyak.”
Raka mempersilakan Ayu keluar dari ruangannya.
Semenjak dsei acara reuni dua bulan lalu Raka secara terang-terangan menunjukkan ketertarikannya pada Ayu. Namun, sepertinya dia harus usaha lagi. Mengingat Ayu yang belum membalas perasaannya.
Meskipun beberapa kali Ayu seperti menunjukkan ketertarikan yang sama kepada dirinya, tapi Raka menilai hal itu mungkin hanya perasaannya saja atau karena Ayu merasa minder dengan statusnya. Entahlah, Raka tak ingin menebak-nebak tapi dia akan tetap mengejar cintanya.
__ADS_1
...***...
Setelah keluar dari ruangan Raka, Ayu memegangi dada kirinya. Jantungnya berdegup lebih cepat, setiap berada bersama Raka.
Awalnya Ayu pikir, dia memiliki penyakit serius dengan jantungnya. Jadi saat keesokan harinya dia pergi ke dokter jantung di rumah sakit, dokter itu justru tersenyum mendengar segala ucapannya.
Dan yang membuatnya lebih terkejut lagi adalah ucapan dari Dokter jatung itu.
“Nona, anda sedang jatuh cinta.” Begitu katanya.
Kontan saja hal itu membuatnya tertawa, tapi begitu melihat tatapan mata dokter tak menunjukkan tanda-tanda candaan. Tepat hari itulah dirinya tahu, jika dia jatuh cinta pada Raka.
Namun, hingga saat ini dia masih mencoba menyangkalnya.
Dia dan Raka sungguh berbeda. Keluarga mereka berbeda dan status mereka juga berbeda.
Raka, seorang pria muda, lajang dan tampan. Jangan lupakan, jika dia merupakan putra tunggal dan seorang pemimpin perusahaan bertaraf internasional, di mana itu adalah di tempatnya bekerja saat ini.
Sedangkan Ayu, berasal dari keluarga sederhana. Meskipun Ayahnya merupakan seorang Arsitek yang cukup memiliki nama, tetap saja keluarganya tak sebanding dengan keluarga besar Raka.
Belum lagi, statusnya saat ini. Seorang yang pernah menikah dan kini bercerai, dengan kata lain dia adalah seorang janda tanpa anak.
Itulah yang membuat Ayu menyangkal habis-habisan perasaan yang kini mulai tumbuh di dalam hatinya.
Bukannya dia tidak tahu saat Raka secara terang-terangan menggoda dan menunjukkan ketertarikan terhadap dirinya, tapi Ayu belum siap untuk membuat hatinya patah untuk kedua kalinya.
“Maaf, Mas. Kamu lebih pantas mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku.”
Dia kemudian melanjutkan pekerjaannya lagi yang sempat tertunda.
...****...
__ADS_1