Berbagi Cinta : DUA CINCIN

Berbagi Cinta : DUA CINCIN
Kabar Bahagia (1)


__ADS_3

...Part ini sudah direvisi...


...***...


Raka dan Ayu sudah tiba di Bandara Internasional Husein Sastranegara, Bandung. Penerbangan dari Seoul ke Bandung kurang lebih memakan waktu sepuluh jam tidak membuat mereka kelelahan. Wajah keduanya justru tampak berseri.


Setelah makan malam dan lamaran diterima oleh Ayu, Raka tidak henti-hentinya tersenyum. Bahkan pria langsung menelpon orang kepercayaannya untuk meliburkan seluruh pegawai di kantornya selama tiga hari untuk berlibur di Lembang, Bandung. Seluruh akomodasi ditanggung oleh perusahaan.


Bahkan Raka memperbolehkan membawa serta pasangan atau keluarga mereka. Hal yang disambut gembira oleh seluruh pegawainya. Meskipun sempat heran, tapi mereka akhirnya tidak peduli.


Seluruh keluarga besar Ayu sudah mengetahui niat baik Raka. Kedua orang tuanya pun langsung mempersiapkan jamuan untuk menyambut kedatangan Raka beserta keluarganya. Karena Raka tidak memiliki Ayah, maka pamannya—Kakak dari almarhum ayah Raka– yang menjadi wakilnya, menyampaikan niat baik untuk meminang Ayu.


Kedatangan kami malam ini ke sini, sebagai bentuk untuk menjalin sebuah hubungan silaturahmi yang tadinya hanya sekedar kawan lama menjadi sebuah hubungan keluarga yang dimana itu adalah sebuah ikatan pernikahan.


Apakah keluarga Pak Adi menerima niat baik saya, eh, maksudnya keponakan saya yang ganteng ini? Kalau bisa tolong jangan ditolak, Pak. Takutnya jadi bujang tua.


Sontak semua yang hadir di sana tertawa bersamaan.


Kalau saya nerima-nerima saja, niat baiknya nak Raka tapi yang menjalankan rumah tangga ini, kan, anak semata wayang saja—Ayu. Lebih baik kita tanyakan dulu sama anaknya, bagaimana Ay? Kamu mau nolak terus dia jadi bujang tua atau menerima?


Ayu tersipu, pipinya merona. Dia bahkan tidak berani melihat ke arah Raka yang sedari tadi menatapnya dengan pandangan berbinar dan penuh pemujaan.


Ayu menerimanya, Yah. suaranya terdengar sangat kecil, tapi semua orang di sana masih bisa mendengarnya.


Alhamdulillah


Seruan rasa syukur terdengar saling bersahutan dari mulut mereka setelah mendengar jawaban Ayu.


Acara lalu dilanjutkan dengan makan malam bersama.


Ayu dan Raka sempat menjadi bulan-bulanan Raihan. Apa lagi selain menggoda dan mengolok keduanya, terutama Raka.


Wajah Ayu bahkan hampir seperti kepiting rebus. Keluarga Raka pun tidak mempermasalahkan status Ayu yang pernah menikah. Saat Raka berbicara dan juga Ayu, seluruh anggota keluarga yang hadir sampai meneteskan air mata. Namun, bukan Raihan namanya jika tidak bisa mengubah keadaan.


Suasana yang tadinya mengharu biru, berubah menjadi kehebohan ketika Raihan bercerita tentang Raka yang sempat patah hati dan kali ini wajah Raka yang menjadi merah karena malu.


Sampai di penghujung pertemuan malam itu, akhirnya tanggal pernikahan ditetapkan satu bulan lagi dari sekarang dan semua keperluan untuk pernikahan, mulai wedding planner, vendor, gaun pengantin, undangan dan souvernir. Semua Raka dan Ayu serahkan kepada keluarga Raka.


Tentu hal itu disambut gembira. Para bibi dan sepupu Raka begitu antusias menyiapkan semuanya. Ibunya Raka sama seperti ibunya Ayu. Geleng-geleng kepala melihat kelakuan bibinya Raka—adik bungsu dari adik ibunya Raka– mereka hanya mengingatkan yang wajib saja, selebihnya semua diurus oleh para bibinya.


Setelah seluruh keluarga Raka pulang. Ayu masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri dan ketika dirinya siap untuk tidur ponselnya bergetar karena pesan masuk dari calon suami.


Calon suami.


Ayu tersenyum sendiri dengan penyebutan kata itu. Malam ini dia benar-benar bahagia, setelah apa yang dia lalui di masalalu akhirnya kebagian segera dia rasakan.

__ADS_1


^^^Raka^^^


^^^Mas, sudah sampai. Kamu sudah tidur?^^^


Ayu


Belum, ini baru mau tadi habis bersih-bersih badan


^^^Raka^^^


^^^Nggak sabar nunggu satu bulan lagi, bisa dipercepat nggak sih?^^^


Ayu tersenyum membaca pesan Raka. Ia sendiri tidak menyangka, jika pria seperti Raka berubah menjadi seorang yang romantis dan manis.


Ayu


Sabar ya.


Ayu membalas pesan Raka.


^^^Raka^^^


^^^Kamu mau mas kawin apa, Ay?^^^


Ayu


^^^Raka^^^


^^^Oke, kalau gitu. Terserah aku ya.^^^


Alis Ayu terangkat sebelah.


Ayu


Jangan aneh-aneh ya, Mas. Nggak perlu macam-macam.


^^^Raka^^^


^^^Aku cuma satu macam kok, Sayang.^^^


^^^Oh ya, sudah malam. Kamu tidur, jangan begadang.^^^


Ayu


Tumben, biasanya mas yang sering begadang.

__ADS_1


^^^Raka^^^


^^^Nanti ada yang ngomelin aku soalnya. Selamat malam, Ay. ❤️^^^


Ayu


Malam, Mas ❤️


Setelah membalas pesan terakhir dari Raka. Ayu menaruh ponselnya di atas meja. Kemudian terdengar suara ketukan di pintu kamarnya.


“Ay, sudah tidur?”


“Belum, Bu.” Ayu beranjak dari tempat tidur untuk membuka pintu kamar.


“Ibu boleh masuk.”


Dijawab dengan anggukan kepala oleh Ayu.


“Sini, Ay.” Menepuk tempat di sampingnya agar Ayu duduk di sana.


“Ayu kan, sebentar lagi mau menikah. Sudah mantap berarti ya, sama pilihan yang sekarang?”


“Insyaallah, sudah Bu.”


“Alhamdulliah kalau begitu, ibu juga ikutan senang dengarnya. Keluarga mereka juga menerima semua hal tentang kamu yang pernah gagal berumah tangga dulu. Pesan ibu, jika hal yang lalu terjadi lagi tolong jangan diam dan memendamnya sendiri. Cerita ke ibu, tapi ibu berdoa semoga cukup kemarin saja yang gagal, sekarang mudah-mudahan jodoh sampai maut memisahkan.”


“Aamiin.”


“Pokoknya ingat pesan ibu, rumah ini. Ayah dan ibu akan selalu menjadi tempat untuk Ayu pulang, jadi jangan merasa tidak memiliki rumah. Kalau kamu lelah dan diperlakukan tidak adil, kamu bisa ke sini. Kapan pun itu.”


Mata Ayu berkaca-kaca, kemudian memeluk erat tubuh ibunya. Wanita yang sudah membesarnya dengan kasih sayang. Setelah mengatakan hal itu, Bu Ningrum keluar dari kamar anaknya. Pak Adipati meletakkan buku yang tengah dibacanya, saat melihat istrinya masuk ke kamar mereka.


“Sudah nangis-nangisnya?” dengan nada bercanda.


Sang istri hanya tersenyum.


“Kalau gitu, gantian kita yang mesra-mesraan.”


Memukul lengan suaminya pelan


“Ingat umur, Pak.”


Keduanya tertawa bahagia.


...****...

__ADS_1


__ADS_2