Berbagi Cinta : DUA CINCIN

Berbagi Cinta : DUA CINCIN
Kecurigaan Ayu


__ADS_3

...Part ini sudah direvisi...


...***...


Prang!


Gelas yang tengah dipegang Ayu meluncur dengan sempurna beradu dengan lantai marmer, setelah mendengar perkataan Rika barusan.


Danu dan Rika menoleh ke arah Ayu yang terlihat begitu terkejut.


Hamil! Bagaimana mungkin?


Batin Ayu menjerit tak percaya dengan apa yang dia dengar.


...***...


“Mbak Ayu kenapa? Kok kelihatan kaget gitu, nggak senang ya lihat aku bisa hamil.”


“Ay, kamu kenapa? Apa benar yang dikatakan Rika.”


“Ng—nggak apa-apa, Mas. Tangan cuma aku licin, mana mungkin aku nggak senang mendengar kabar baik ini.”


Tahan. Untuk saat ini kamu harus menahannya, Ay.


“Lain kali lebih hati-hati, Ay. Bi Ijah tolong bantu bereskan ya.”


“Baik, Tuan.”


“Mas, kita kasih tahu ibu ya. Ibu pasti senang banget dengar aku sekarang hamil.” Dengan wajah berseri-seri Rika berkata kepada suaminya.


“Iya, Sayang. Sekarang kita ke kamar dulu, aku mau telpon ibu dan juga dokter keluarga untuk memastikan kalau kamu dan bayi kita baik-baik saja.”


Danu berjalan bersama Rika, pria itu mengabaikan keberadaan istri pertamanya karena terlalu senang mendengar kabar kehamilan Rika.


Setelah sesampainya di kamar Danu mengabari kepada keluarga besarnya atas kehamilan Rika. Tentu saja Bu Wati dan Pak Gunawan begitu senang, juga keluarga besar Danu. Bu Wati dan Pak Gunawan mengatakan akan datang ke rumah mereka malam ini.


“Bagaimana, Dokter?”


Tanya Danu yang tengah duduk di samping Rika, setelah dokter keluarga mengecek kandungan istri keduanya.


“Selamat untuk Tuan dan Nyonya, saat ini Nyonya Rika memang tengah mengandung. Namun untuk memastikan usia kandungan, besok untuk melakukan pemeriksaan ke rumah sakit.”


“Baik, dokter. Akan saya lakukan.”


Danu menghadiahi kecupan di kening Rika.


“Terima kasih, Sayang."


Dokter tersebut dapat melihat raut kebahagiaan meliputi sepasang suami istri dihadapannya itu.


“Trimester pertama biasanya cukup berat bagi ibu hamil, biasanya akan mengalami morning sicknes. Kurang nafsu makan dan rawan mengalami keguguran. Saya akan meresepkan vitamin untuk Nyonya Rika, serta saya sarankan untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi, mengandung zat besi tinggi dan vitamin C. Kacang-kacangan, serta sayuran hijau–”


“—Dan tolong juga diperhatikan, agar Nyonya jangan melakukan aktivitas yang berat-berat dulu serta hindari stres.”


“Baik, dokter. Kami mengerti.”

__ADS_1


“Kalau begitu, saya permisi.”


Setelah kepergian dokter, Bu Wati duduk di sebelah Rika.


“Terima kasih ya, nak. Sudah memberikan cucu kepada kami.”


“Aku juga ikutan senang kalau ibu senang, ini juga berkat doa ibu dan bapak.”


Bu Wati dan Pak Gunawan begitu sangat bahagia. Bahkan Bu Wati berencana mengadakan pesta syukuran yang begitu meriah sebagai wujud syukur atas kehadiran cucu yang begitu di idam-idamkan selama ini.


Tak pelak sindiran pedas Ayu terima.


“Rika baru menikah dengan Danu lima bulan, tapi sudah hamil. Sedangkan kamu, Ay. Sampai sekarang belum hamil juga.”


“Bu,” Pak Gunawan menegur istrinya.


“Tapi memang benar, kan, Pak. Pokoknya besok kita harus undang keluarga dan tetangga untuk syukuran.”


Semuanya diliputi rasa bahagia. Berbeda dengan Ayu, melihat mereka berkumpul penuh sukacita seperti itu dan mengabaikan keberadaannya. Dirinya seolah tak ada dan bukan bagian dari mereka.


...***...


Banyak tetangga dan saudara yang hadir di acara pesta syukuran tersebut. Ayu membantu menyiapkan segala keperluan pesta itu.


Rika dilarang melakukan kegiatan berat atau aktivitas yang menguras tenaga, meskipun sebenarnya hal itu memang tidak pernah Rika lakukan sebelumnya dari pertama kali kedatangannya ke rumah mereka.


Namun tetap saja Bu Wati mewanti-wanti karena yang mertuanya tahu, Rika adalah menantu yang begitu rajin melakukan pekerjaan rumah tangga. Tanpa Bu Wati mengetahui yang sebenarnya.


Setelah pesta Ayu disuruh mengantarkan susu kepada Rika di kamarnya oleh Bu Wati. Meskipun rasa lelah dan kantuk menghampirinya, dia tetap melaksanakan perintah dari ibu mertuanya.


Rika terlihat tengah duduk santai di atas tempat tidurnya sambil membaca majalah.


Kaki Ayu melangkah masuk mendekati meja di samping Rika lalu menaruh segelas susu hangat di atas meja itu.


Rika tertawa mengejek melihat Ayu.


“Oh lihat, siapa ini? Pembantu baru di rumah ini.” ujar Rika dengan nada mengejek.


Ayu mengabaikan ejekan Rika.


“Selamat atas kehamilan kamu.”


“Aku terharu, terima kasih loh ....” Masih dengan raut wajah mengejek.


“Tapi, apa kamu bahagia?”


Alis Rika terangkat sebelah mendengar pertanyaan aneh dari Ayu.


“Bahagia dong, mas Danu akan semakin cinta sama aku dan semua orang semakin sayang sama aku. Terutama ibu.”


“Dengan cara membohongi mereka.” Ayu menatap tajam kepada Rika.


“Ap—apa maksud kamu?” Rika menjawab dengan gelagapan.


“Kamu tahu maksudku.” Ayu berkata dengan nada tenang.

__ADS_1


“A—aku nggak ngerti apa yang kamu bicarakan.” Rika pura-pura tidak mengerti maksud perkataan Ayu.


“Aku tahu itu bukan anak mas Danu.”


Wajah Rika pucat pasi mendengar perkataan Ayu. Tubuhnya menegang. Keringat dingin membasahi telapak tangannya.


Sial! Kenapa dia bisa tahu kalau aku bukan hamil anak Mas Danu.


“Ke—kenapa ka—kamu bisa bicara seperti itu? Kamu hanya iri karena aku bisa hamil, sedangkan kamu nggak. Iya, kan?” Rika masih tidak bisa menyembunyikan kegugupannya.


“Aku tidak iri sedikitpun, karena kamu bisa hamil.”


“Lalu, kenapa kamu bicara seakan-akan bayi ini bukan anak dari Mas Danu.”


Ayu diam, dia melangkahkan kakinya mendekati jendela besar kamar itu. Dia berdiri sambil melihat langit malam yang dipenuhi dengan bintang.


“Mas Danu menderita cacat kromosom dan karena penyakit itu mas Danu tidak akan pernah bisa memiliki keturunan.” Setelah mengatakan hal itu, Ayu memalingkan wajahnya ke arah Rika.


Mulut Rika ternganga mendengar perkataan Ayu.


Ayu yang melihat ekspresi terkejut di wajah Rika, seketika tersenyum.


“Kamu pasti terkejut, tapi itulah kenyataannya. Sampai kapanpun mas Danu tidak akan bisa memiliki keturunan, meskipun dia menikah dengan perempuan manapun. Tapi ada satu kemungkinan hal itu terjadi, yaitu kuasa Allah. Selama ini aku menyimpan rapat rahasia ini, baik dari mas Danu sendiri maupun dari keluarganya.”


Rika menelan ludahnya sendiri.


“Aku mungkin akan terima kamu menikah dengan mas Danu, tapi aku tidak akan terima jika kamu melakukan hal ini. Membohongi semua orang dengan kehamilan kamu, mengatakan kepada Mas Danu dan anggota keluarga yang lainnya jika itu adalah anak dari Mas Danu. Padahal sudah jelas, jika itu bukanlah anak darinya. Dengan kata lain, kamu sudah mengkhianati Mas Danu bukan?”


Ayu mengepalkan tangannya, mencoba menahan amarah di dadanya.


Rika semakin kehilangan kata-kata, karena semua perkataan Ayu benar jika anak yang tengah dikandung Rika adalah hasil hubungannya dengan pria lain.


“Ap—apa yang akan kamu lakukan?”


“Aku nggak akan melakukan apapun, kamu yang seharusnya melakukan sesuatu. Yaitu mengatakan kebenaran kepada semua orang.”


“Jangan harap!”


Rika menegakkan punggungnya, siapa yang gila mengatakan hal sebenarnya.


“Maka aku akan mengatakan semuanya kepada mereka.”


“Kamu nggak punya bukti.”


Ayu tercenung dengan apa yang barusan Rika ucapakan. Benar, jika dia ingin mengatakan kepada semua orang dan juga suaminya. Dia harus memiliki bukti tentang kebohongan yang dilakukan oleh Rika.


Melihat Ayu yang terdiam, Rika tersenyum remeh dan merasa menang.


“Silakan kalau kamu mau mengatakan hal ini, tapi dengan tidak adanya bukti aku yakin mas Danu serta ibu akan membenci kamu. Terlebih mas Danu.”


Rika bersidekap.


Ayu tidak membalas ucapan Rika, dirinya justru berbalik pergi meninggalkan Rika yang tersenyum penuh kemenangan.


“Aku harus cari cara supaya Ayu segera pergi dari sini sebelum dia mengatakan hal yang sebenarnya kepada semua orang.”

__ADS_1


...****...


__ADS_2