Berbagi Cinta : DUA CINCIN

Berbagi Cinta : DUA CINCIN
Wanita Ular


__ADS_3

...Part ini sudah direvisi...


...***...


Sudah satu bulan sejak kedatangan Rika ke rumah mereka. Hari-hari Ayu yang biasanya dihiasi warna warni pelangi, seakan berubah tertutup awan hitam.


Ibu mertuanya bahkan tak segan untuk membandingkan Ayu dengan Rika, selalu membesar-besarkan kesalahan yang Ayu perbuat, sekecil apapun itu. Atau terkadang malah seolah sengaja mencari cari kesalahan pada dirinya.


Baik sindiran atau ucapan ketus yang terlontar dari mulut mertuanya, seringkali dia dengar ketika ibu mertuanya datang berkunjung ke rumah mereka atau saat mereka diundang ke rumah mertuanya.


Ayu hanya meminta maaf saat melakukan kesalahan dan diam tak berniat untuk melawan perkataan ibu mertuanya sama sekali.


Pernikahan kedua Danu hanya diketahui oleh pihak keluarga Danu saja, sedangkan kepada keluarganya sendiri, Ayu menyimpan rapat hal itu. Baik tentang pernikahan kedua suaminya, ataupun rasa sakit yang dia rasakan.


Ayu berpikir keluarganya tidak perlu mengetahui hal ini, karena bisa membuat mereka terluka sama seperti dirinya saat ini. Maka dari itu, Ayu hanya bisa menahan pahit yang dia rasakan seorang diri tanpa bisa membaginya.


Prang!


Ayu tersadar dari lamunannya ketika mendengar benda jatuh dan keributan dari arah dapur. dia segera bergegas melangkahkan kakinya dengan cepat untuk mengetahui apa yang terjadi.


“Kamu itu cuma pembantu di sini! Seharusnya patuh, dasar nggak tahu diri!” Rika melayangkan tangannya untuk menampar wajah Bi Ijah, tetapi Ayu buru-buru mencekalnya.


“Cukup! Mungkin Bi Ijah melakukan kesalahan, tapi kamu nggak berhak untuk memukulnya.” Menghempaskan tangan Rika.


Rika yang tidak siap sedikit terhuyung.


“Tsk, kamu dan dia sama-sama nggak berguna! Dasar perempuan mandul. Lihat saja, apa yang akan aku lakukan karena kamu sudah membela pembantu sialan itu.” menghentakkan kakinya lalu pergi meninggalkan Ayu dan Bu Ijah di dapur.


Rika memang selalu begitu, marah-marah atau mengancamnya. Ayu melihat ke arah Bi Ijah yang nampak masih ketakutan.


“Bibi nggak apa-apa?”


“Bi Ijah nggak apa-apa, Nyonya. Terima kasih, tapi nanti gimana dengan Nyonya sendiri hiks ....”


“Aku nggak apa-apa, Bi. Sekarang Bi Ijah bersihkan meja dan serpihan gelas yang pecah ya, Ayu akan bantu. Habis itu baru mandi, badan Bi Ijah juga bau kuah sop, tuh, masa nanti aku makan bibi.”


Ayu mencoba mencairkan suasana dengan menggoda asisten rumah tangganya. Pada akhirnya hal tersebut berhasil, Bi Ijah kembali ceria. Sedangkan dalam hati Ayu bertanya-tanya, hal apa lagi yang akan dibicarakan Rika kepada ibu mertuanya nanti.


Entahlah, dia tak mau ambil pusing karena sifat Rika yang bermuka dua itu. Jika dihadapan Danu dan ibu mertuanya atau orang lain, Rika akan bersikap manis, bertutur kata sopan dan lembut. Namun semua itu hanyalah kedok semata, karena di hadapannya Rika akan bersikap yang sebenarnya. Seperti tadi, kasar, sombong dan suka memaki.


...***...


“Mas Danu sudah pulang.”

__ADS_1


Rika menyambut kedatangan suaminya dengan antusias. Sedangkan Danu masih hanya menjawab dengan anggukan kepala saja.


Rika segera bergelayut manja pada lengan suaminya. Danu kini sudah terbiasa dengan sikap istri keduanya itu, padahal awal-awal dulu dia sering merasa tak nyaman dengan sikap Rika.


Karena Rika tak mengenal tempat saat bersikap manja. Danu juga sering berpikir, jika Rika terkadang seolah melakukan itu dihadapan Ayu atau sengaja mengganggu waktunya berduaan dengan Ayu.


Danu hanya diam tanpa berniat menjawab atau menimpali ucapan Rika yang sedari tadi mengoceh.


Lalu Danu mencoba melepaskan diri dari pelukan Rika dan menyusul Ayu yang menaiki tangga menuju kamarnya.


Mendapatkan perlakuan seperti itu, tangan Rika mengepal kuat menahan amarah.


“Kamu lihat saja, mas. Aku pastikan kamu akan bertekuk lutut kepadaku dan aku akan membuat kamu berpisah dari Ayu.” Ujarnya dengan sorot mata penuh kebencian.


...***...


“Huek, cuih!”


Bu Wati memuntahkan makanan yang baru saja masuk ke dalam mulutnya.


“Ibu, lagi makan loh, ini. Kok malah main muntahin makan dan meludah sembarangan!” tegur Pak Gunawan.


“Aduh, Pak. Ibu bukannya sengaja, tapi ini makanya asin banget. Seperti bukan makan sayur, tapi makan sesendok garam.”


Kenapa bisa begini?


Ayu keheranan dengan masakan yang dia buat menjadi seperti ini.


“Siapa sih, yang masak?”


“A-ayu, Bu. Maaf, ya Bu. Tapi tadi tidak asin seperti ini.”


Benar, Ayu sangat yakin masakannya tidak asin seperti ini. Lalu, mengapa sekarang jadi begini. Ayu dibuat kebingungan sendiri.


“Ya ampun, Yu. Apa sih, yang kamu bisa? Hamil susah, masak malah asin banget seperti ini.”


“Ibu!” Tegur Pak Gunawan.


Deg.


Ayu mencengkeram erat pakaiannya. Dulu saja ibu mertuanya selalu memuji masakannya, tapi sekarang?


Hanya karena satu kesalahan yang bahkan dia sendiri bingung hal apa yang membuat masakannya begitu asin. Ibu mertuanya sampai berkata sedemikian ketus dan menyakiti hatinya.

__ADS_1


“Mana perut sudah lapar, makan malamnya jadi seperti—”


“Bu, sudahlah. Kita pesan makanan dari luar saja atau makan di luar saja.” Danu menyela ucapan ibunya yang terus saja mengomel.


Bu Wati terlihat begitu kesal, karena suami dan anaknya selalu membela Ayu—menantunya.


“Bi, tolong bereskan ini. Buang semuanya, nanti kalau kalian lapar silakan pesan makanan saja. Uangnya nanti saya transfer ke rekening Bibi, ya.”


“Baik, Tuan.”


“Ya sudah, semuanya siap-siap dulu. Danu mau menyiapkan mobil. Ayo, Pak.”


Setelah kepergian Danu dan Pak Gunawan, Bu Wati bangkit dari tempat duduknya. Merapikan penampilannya.


“Dasar perempuan nggak becus, makanya susah hamil.”


Setelah mengatakan hal itu, Bu Wati melengos. Meninggalkan Ayu dan Rika.


Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya mengalir di pipinya.


Rika tertawa kecil melihatnya. Ayu mendongakkan kepalanya, menatap ke arah Rika.


“Kenapa kamu lakukan itu?"


“Apa?”


Rika berpura-pura bodoh.


“Kamu kan, yang memasukkan garam ke dalam makanan ini?”


“Kalau iya, kenapa? Kamu mau ngadu? Kasihan, mana ada yang percaya karena kamu juga nggak punya bukti.” Rika berkata dengan nada mencemooh.


“Ah, siap-siap dulu deh. Mas Danu pasti udah nungguin.” Setelah berkata demikian, Rika pergi meninggalkan Ayu seorang diri.


Ayu hanya terdiam melihat punggung Rika yang menjauh. Benar apa yang Rika katakan, jika dia ingin menyatakan hal yang sebenarnya pun tak akan ada orang yang mempercayainya karena Ayu tidak memiliki bukti.


Dan bisa dipastikan, maka bukan pembelaan yang dia dapatkan. Melainkan kata-kata pedas yang menyakitkan hati dari ibu mertuanya akan dia dengar, seperti tadi atau malah lebih parah.


Ayu hanya menghela napasnya. Dirinya juga harus bersiap, meskipun rasa laparnya sudah hilang sejak mendengar ucapan ibu mertuanya. Dia harus tetap ikut pergi bersama, meskipun nantinya hanya akan menjadi penonton saja atau mendengar sindiran pedas dari ibu mertuanya.


“Kuatkan lah, hati hamba ya Allah.”


...****...

__ADS_1


__ADS_2