
...Part ini sudah direvisi...
...***...
“Bisa kamu jelaskan ke Bunda?”
Bu Lia menyodorkan ponsel milik Ayu. Raka mengernyit bingung lalu dia melihat ponsel dan foto yang terpampang di layar ponsel milik istrinya. Bahu dan wajahnya menegang. Giginya menggeretuk.
Bukankah yang ada di dalam foto merupakan kejadian di kolam renang hotel, yang sempat membuatnya kesal sekali membuat keadaan hatinya semakin kacau dan ternyata karena foto inilah sekarang yang malah membuat hal buruk terjadi kepada Ayu serta bayi yang tengah di kandungannya.
Wanita itu, apa dan siapa dia sebenarnya? Kenapa bisa foto ini diambil, apakah hal ini sudah direncanakan? Tidak bisakah kehidupan rumah tangganya tenang. Pikirannya bertanya-tanya.
“Adya Raka Mahesa.” Panggil Bu Lia.
Raka tersentak dari lamunannya. Keringat dingin membasahi punggungnya, mendengar suara Bu Lia yang memanggil namanya secara lengkap. Dan itu pertanda, jika masalah ini serius serta Bu Lia benar-benar marah.
“Ya, Bund.”
“Bisa kamu jelaskan?”
Raka mengehala napasnya berat. Dia menegakkan punggungnya dan menatap mata Bu Lia. Setelah itu mulailah bercerita tentang kejadian sebenarnya di kolam renang hotel, karena memang jika hanya melihat foto saja orang lain akan salah paham. Sama seperti istri dan bundanya.
Begitu Raka selesai berbicara, Bu Lia masih mengamati anak laki-lakinya. Melihat gesture tubuh dan tatap mata Raka. Anaknya menunjukkan kesungguhan, tidak ada kebohongan sedikitpun. Dia sangat mengenal putra satu-satunya itu, jika Raka berbohong jangan untuk berani menatap matanya. Berbicara pun akan tersendat sendat dan gelisah, serta ibu jari yang ditekan ke dalam.
Namun saat ini, hal itu tidak terjadi. Bu Lia juga nanti akan memastikan lagi kepada orang kepercayaannya.
“Kalau itu yang kamu bilang, lalu bagaimana foto ini bisa diambil? Apa hal ini sudah direncanakan sejak awal dengan Ayu yang ditargetkan oleh si pengirim?”
“Raka nggak tahu, Bund. Akan langsung Raka cari tahu sekarang lewat CCTV hotel.”
“Ya sudah, kalau begitu. Kamu bisa istirahat sekarang, kalau ada apa-apa langsung atau Ayu sudah bangun. Bunda langsung bangunin kamu.”
“Tapi, Bund. Raka mau tidur di sini, boleh ya?”
“Kamu tidur di sofa saja kalau gitu. Sesekali mesti dikasih pelajaran, suruh siapa buat mantu sama cucu bunda jadi begini.”
“Iya, Bund. Maaf.” Ujarnya dengan raut wajah menyesal.
“Mas, dalam rumah tangga itu komunikasi antar pasangan sangatlah penting. Selain cinta, dan kepercayaan. Komunikasi juga merupakan salah satu pilar pondasi utama. Kalau diibaratkan, itu merupakan sumber tenaga listrik di sebuah rumah. Kalau ada yang rusak, diperbaiki dengan benar. Bukannya didiamkan semakin konslet. Jadinya malah terbakar hangus. Kalau Mamas merasa Ayu—istrimu– tidak boleh lagi berhubungan dengan mantan mertua dan manta suaminya, ya kamu tinggal bicarakan baik-baik–”
“—Bunda mengerti apa yang kamu rasakan, tapi kamu juga jangan sampai mengesampingkan istrimu. Dia mungkin nggak bilang waktu pergi ke sana, karena memang berpikir untuk membantu saja dan tidak ada niatan lain. Tapi begitu tahu yang sebenarnya, dia juga membela kamu sebagai suaminya. Itu menandakan, kalau istrimu sangat mencintai kamu. Sangat menghormati kamu dan bahagia bisa berada di samping kamu. Masa, gitu pun kamu nggak merasa peka. Terlebih kondisi Ayu yang lagi hamil, butuh perhatian dari kamu sebagai suaminya. Kalau bunda jadi Ayu, sudah nggak bunda maafkan. Biar tidur di luar satu minggu.”
“Malu loh, masa laki-laki kok, ambekan gitu. Sampai istri dan anaknya dicuekin gara-gara ego-nya sendiri. Nanti minta maaf sama Ayu, sama bayimu juga karena sudah buat mereka berdua kepikiran. Memangnya Mamas kira ibu hamil itu nggak kepayahan, saat suaminya malah bertingkah lebih dari anak kecil yang sukanya merajuk. Belum juga melahirkan, sudah harus berlaku seperti ibu. Lebih-lebih bayi besarnya bertingkah lebih dari anak kecil. Malu sama calon anakmu, Mas.”
Raka semakin menunduk dalam. Meskipun ada sedikit candaan dalam ucapan Bundanya, dia benar-benar sadar dan tahu bahwa dirinya bersalah dan dia membenarkan perkataan sang ibunda. Dia harus meminta maaf kepada istrinya dan segera mencari siapa dalang di balik foto tersebut.
...***...
“Sialan! Kenapa Lo nggak bilang kalau klien yang sekarang sebelas dua belas seperti ‘si ulet keket’ itu, sih, Ka.”
__ADS_1
“Maksudnya gimana?”
“Iya, adiknya klien kita itu mirip sama ‘si ulet keket’. Hiiiii... Merinding gue, amit-amit. Untungnya istri gue lagi nggak hamil.”
Raka terkekeh.
“Terus gimana rapatnya, lancar?”
“Oh tenang, meskipun awalnya klien ini reseh setengah mati karena sok perfeksionis. Tapi, bisa kok gue nanganinya.”
“Tumben kamu nggak ngamuk, waktu diminta tolong dadakan.”
“Loh, nggak dong. Kan, gue dapat cuan. Bisa liburan gratis juga ke Yogyakarta, bareng Gavin dan my heart. Kenapa harus marah?”
Raka tersenyum mendengar ucapan Sahabatnya.
“Syukurlah, kalau gitu bisa minta tolong untuk buat acara makan-makan pegawai yang ada di cabang Yogyakarta? Semua karyawan tanpa terkecuali, termasuk bagian cleaning servis dan satpam juga.”
“Nah, pas banget. Gue mau ngehubungin Lo juga bukan cuma mau ngabarin perihal kepuasan klien, tapi ini juga. Terus tempat mana yang mau direservasi?”
“Aku percayakan sama kamu saja. thanks ya, Rai.”
“Welcome, Bro.”
“Bisa minta tolong satu lagi?”
“Tolong periksa CCTV di area private room khusus VVIP.”
“Perihal orang yang kirim foto itu?”
Raka mengangukkan kepalanya. Meskipun dia tahu Raihan tidak bisa melihat.
“Iya, karena hal itu buat Ayu dan bayiku jadi seperti sekarang. Aku nggak bisa diam saja dan membiarkan orang lain menyakiti mereka.”
“Nanti gue kirim ke surel, firasat gue pelakunya kenal sama kita. Dan satu lagi, Lo mesti hati-hati sama klien baru kita ini. Dia sebelas dua belas sama ‘si ulet keket’ kalau bukan karena menang tender proyek, sudah gue masukin ke dalam karung manusia satu itu. Terus gue larung ke segetiga bermuda.”
Raka tergelak tawa mendengar perkataan Raihan. Bukan tanpa sebab Sahabatnya berkata demikian.
“Oke deh, sudah dulu ya. Gavin lagi rewel, mau ngajakin berenang terus. Mommy lagi bulan merah, terpaksa gue yang nyemplung. Assalamualaikum.”
“Waallaikumsallam.”
Klik.
Setelah menyelesaikan panggilan telepon, Raka masuk ke dalam kamarnya.
Ini masih pagi dan cuacanya cerah. Ayu belum bangun, tapi Raka membawakan bubur untuk sarapan istrinya.
Dia duduk di samping Ayu. Memperhatikan tiap jengkal wajah istrinya yang tampak lelap dalam tidurnya, di bagian bawah mata agak sedikit hitam. Mungkin karena kurang tidur, makanya terdapat kantung mata yang lesu.
__ADS_1
Raka membelai lembut rambut dan pipi Ayu, kemudian beralih ke perut yang membuncit dan sedikit bergerak-gerak. Rupanya makhluk mungil yang ada di dalam sana sudah lebih dulu bangun. Raka tersenyum saat mendapati sang anak merespon elusan tangannya.
“Emhh....” Ayu menggeliat.
Raka yang tak tahan mengecupi seluruh wajah Ayu dengan gemas.
“Ih, jangan ganggu. Masih ngantuk.”
Ayu bergumam dengan mata yang masih terpejam. Dia mengahalau wajah Raka pelan.
Raka semakin tersenyum jahil.
“Mommy, aku lapar. Minta makan.” Bisiknya di telinga Ayu.
“Minta dulu sama Daddy, ya. Mommy ngantuk.” Jawab Ayu, setengah sadar.
Raka tersenyum lagi mendengar ucapan tanpa sadar dari Ayu.
“Sayang, bangun yuk. Jagoannya sudah bangun duluan, tuh. Minta makan katanya.” Kemudian Raka mengecup pipi Ayu.
Perlahan-lahan mata yang tadinya terasa berat terbuka, dia melihat Raka ada di sampingnya. Mata Ayu malah mulai berkaca-kaca, kemudian secara spontan memeluk erat tubuh Raka. Raka dengan sigap menangkap tubuh istrinya dan mendengar suara isakan, karena Ayu menangis.
Raka hanya mengelus punggung Ayu untuk menenangkan tanpa berkata apapun. Dia sadar betul karena sudah membuat Ayu khawatir dan juga merasa bersalah sampai membuat Ayu seperti ini.
...***...
Brother R
Bro, tepat seperti dugaan gue. Video CCTV sudah gue kirim ke surel pribadi, Lo. Dicek ya.
Isi pesan yang baru saja masuk dari Raihan. Raka kemudian menggeser mouse, meng-klik surel yang baru saja masuk. Raka menonton video dengan seksama, tak lama setelahnya ia melihat seseorang yang tidak asing. Begitu orang itu berbalik, Raka mengepalkan tangan karena menahan amarahnya.
“Kamu coba main-main denganku, lihat apa yang akan aku lakukan.” ujarnya dengan wajah datar.
Raka menekan tombol angka untuk menghubungi seseorang.
“Buat janji temu dengan CEO Prayoga Grup besok.”
Tanpa menunggu jawaban dari si penerima telepon, Raka mengakhiri panggilannya.
...***...
...Siang readers, terima kasih sudah mampir dan membaca ceritaku. Jangan lupa klik tombol LOVE dan LIKE, ya~...
...Sampai jumpa di part selanjutnya 🤗...
...Love ❤️...
...Zii...
__ADS_1