
...Part ini sudah direvisi....
...***...
Pernikahan Raka dan Ayu diadakan di Padma Hotel. Berlokasi di lereng bukit Ciumbuleuit yang sejuk, Padma Hotel Bandung memiliki venue sempurna.
Seluruh keluarga, teman dekat dan juga para pegawai Raka serta kolega datang ke acara tersebut. Keluarga Raka memutuskan untuk menggunakan tema rustic pada konsep pernikahan Raka dan Ayu. Pesta di luar ruangan dengan pemandangan alam yang begitu indah, tentu saja menjadi berkali lipat nyamannya bagi tamu yang hadir di sana.
Ayu mengenakan kebaya modern berwarna peach blossom. Begitupun dengan Raka. Mengenakan jas berwarna senada dengan kemeja putih. Keduanya tampak begitu bahagia.
Semua orang tampak begitu bahagia, terutama Raka dan Ayu yang tak hentinya tersenyum.
“Akhirnya ya, lo nikah juga sama sepupu gue.”
Raka hanya mengangkat bahunya.
“Jagain, jangan sampai kejadian si kampret keulang lagi. Gue nggak segan-segan buat bawa Ayu pergi dan gue jamin lo nggak akan pernah lihat dia lagi, sampai lo mati.”
Raka hanya melempar senyum ke arah sahabatnya itu, lalu berpaling ke arah wanita yang kini tengah asyik berbincang dengan para teman-temannya.
Tanpa Raihan suruh pun pasti dia akan sangat membahagiakan wanita itu. Bodoh, jika dia menyanyikan wanita seperti Ayu.
Dengan susah payah dia memperjuangkan cintanya lalu dengan mudah dia campakkan. Jika hal itu terjadi, maka bukan hanya Raihan saja yang akan menghukumnya. Melainkan ada keluarga besarnya juga dan pastinya dirinya sendiri.
...***...
“Mas!”
Raka yang tengah duduk di ruang keluarga bersama sang ibu langsung bangkit dari tempat duduknya, begitu mendengar suara teriakan Ayu dari kamar segera berlari. Dia bahkan menaiki tangga dengan tergesa-gesa.
__ADS_1
Sesampainya di kamar, dirinya tidak mendapati istrinya di sana. Raka mencoba mengetuk kamar mandi berharap istrinya berada di sana.
“Ay, kamu kenapa? Tadi mas dengar kami teriak kencang banget. Ay, please buka Sayang.”
Raka masih mengetuk pintu kamar mandi. Dirinya makin panik mendengar suara tangisan Ayu.
“Mas, ada apa?” tanya Bu Lia—Ibunda Raka–dengan raut wajah cemas.
Raka menggelengkan kepalanya. Baru saja hendak mengetuk kembali, pintu kamar mandi itu terbuka. Raka mendapati wajah istrinya yang sedikit basah karena dibasuh dengan air.
“Sayang kamu kenapa, Kamu habis nangis. Apa yang sakit?”
Memutar tubuh Ayu, meneliti dari ujung kaki hingga kepala kalau-kalau istrinya terluka.
“Sakitnya di sini” ujar Ayu dengan suara lirih, sembari menunjuk perutnya.
Ayu menggelengkan kepalanya. Menyuruh Raka untuk duduk di tempat tidur, kemudian memberikan benda seperti termometer digital kepada Raka.
Dahi Raka mengernyit heran karena tidak mengerti. Bu Lia yang sedari tadi berada di tak jauh dari anak dan menantunya mengambil benda itu dari tangan Raka.
Bu Lia menutup mulutnya dengan satu tangan dan meneteskan air mata setelah mengamati benda tersebut.
“Alhamdulillah ya Allah.”
Raka menoleh ke arah ibunya.
“Bunda kenapa?”
“Selamat, Mas. Kamu bakalan jadi ayah, bunda jadi nenek.” ujar Bu Lia dengan suara bahagia.
__ADS_1
Raka berpaling menatap istrinya lagi.
“Benar sayang?”
Ayu mengangukkan kepalanya. Seketika Raka langsung memeluk istrinya.
“Kita kabarin Ayah dan ibu, ya.” menoleh kembali kepada ibunya, “Bun, adakan syukuran sama anak panti asuhan. Raka mau anak Raka didoakan juga, sama sumbangan untuk masjid dan beberapa fakir miskin serta orang tua tunggal yang kurang mampu. Juga kasih bonus untuk seluruh pekerja di rumah ini.”
“Ya Allah, Mas.” Bu Lia air mata kebahagiaan semakin deras mengalir mendengar perkataan anaknya, dirinya begitu bersyukur memiliki anak seperti Raka.
Bu Lia segera menyuruh asisten pribadinya untuk mengurus semuanya hal yang diminta oleh Raka. Seluruh pekerja dikumpulkan, mendengar istri majikan mereka hamil semua pekerja tersebut ikut mengucapkan syukur dan berdoa untuk kehamilan Ayu. Kemudian Bu Lia memberitahu semuanya, jika masing-masing mendapatkan bonus. Sebagai bentuk syukur atas kehamilan Ayu. Semua kembali bersuka cita. Bahkan mang Diman—tukang kebun– yang sudah mengabdi lama pada keluarga tersebut menangis tergugu atas kebaikan hati majikannya.
Dokter yang dipanggil oleh Raka datang. Setelah diperiksa, Ayu dinyatakan positif hamil.
Jika menurut perkiraan sementara, kehamilan Ayu memasuki delapan minggu. Namun dokter tetap menyarankan Raka agar membawa istrinya ke rumah sakit untuk memastikan semuanya.
Semua pesan dokter didengarkan dengan seksama oleh Raka. Ayu tidak diizinkan untuk melakukan pekerjaan berat dan apapun hal yang dapat membuatnya stres.
Dokter tersenyum melihat pasangan tersebut. Raka begitu posesif terhadap kehamilan Ayu.
Esok paginya keluarga Ayu datang berkunjung setelah dikabari perihal kehamilan anak mereka. Saat semua tengah berkumpul di ruang keluarga, Bu Ningrum bertanya kepada anaknya.
“Ay, ibu ikutan senang. Tapi kenapa dulu, waktu pernikahan bersama Danu kamu belum hamil? Padahal usia pernikahan kalian hampir dua tahun.”
Ayu mengehala napasnya perlahan. Semua orang juga pasti berpikiran sama dan bertanya perihal itu. Ayu mulai menceritakan kebenaran yang dia simpan rapat-rapat kepada keluarganya, jika yang bermasalah bukan dirinya. Melainkan mantan suaminya.
Namun, Ayu mengatakan agar hal ini hanya diketahui oleh kedua orang tua Ayu dan Bu Lia selaku ibu mertuanya. Sedangkan Raka sudah lebih dulu mengetahui hal tersebut. Awalnya semua terkejut lalu mereka menganggukkan kepala memahami situasinya.
...****...
__ADS_1