Berbagi Cinta : DUA CINCIN

Berbagi Cinta : DUA CINCIN
Mantan Mertua (1)


__ADS_3

...Part ini sudah direvisi...


...***...


Selesai membersihkan dirinya, Raka bergabung dengan istrinya berbaring di samping sang istri.


“Tadi, Mas lihat Danu ke sini. Ada keperluan apa?”


Raka berujar dengan hati-hati, karena baru saja berbaikan dengan Ayu. Raka tidak mau salah bicara dan membuat Ayu marah serta membuatnya berjauhan dengan istrinya lagi.


Ayu mengehala napasnya dan berharap suaminya tidak salah paham.


“Tadi mas Danu ke sini buat minta maaf sama ibu dan bapak, sama aku juga.”


“Oh gitu, terus?”


“Dia juga bilang, kalau dia dan Rika sudah bercerai dua bulan lalu dan juga bercerita kalau ibunya sempat masuk rumah sakit juga. Terus, dia juga bilang kalau Rika dan ibunya mau ketemu sama Aku. Mau minta maaf katanya.”


Raka masih diam, tangannya mengelus kepala Ayu.


“Mas”


“Hmh.”


“Kamu nggak marah, kan?”


Raka mengecup kening Ayu


“Nanti kita ke sana sama-sama, tapi sekarang tidur dulu ya. Sudah malam, kasihan kamu dan bayi kita.”


“Terima kasih ya, Mas.”


Raka memeluk dan mengelus kepalanya. Perlahan mata Ayu terpejam menikmati elusan tangan Raka di kepalanya.

__ADS_1


...***...


Hari ini Raka dan Ayu datang ke rumah sakit tempat Rika dirawat, Danu sudah menceritakan semua kejadian yang menimpa Rika.


Setelah masuk dan menemui Rika, wanita itu menangis terisak dan menyesal karena telah menyakiti Ayu dan membuatnya berpisah dari Danu.


Ayu yang sudah mengikhlaskan semuanya memeluk Rika dan mengatakan, jika dirinya telah lama memaafkan Rika.


“Selamat ya, Ay. Atas kehamilan kamu.” Rika berujar dengan nada tulus.


“Iya, terima kasih.”


“Aku sungguh minta maaf, sama kamu atas kesalahanku yang dulu—”


“Hei, sudah ya. Hal itu sudah lewat, sekarang aku sudah maafin kamu dan kamu juga harus lekas pulih biar bisa ketemu sama Raffi lagi. Dan lanjutkan hidupmu.”


“Iya, Ay. Terima kasih, ya.”


Tak lama kemudian Danu dan Raka masuk, keempatnya mengobrol santai. Beberapa saat kemudian, Danu, Raka dan Ayu berpamitan kepada Rika dan membiarkan wanita itu beristirahat.


“Tadinya aku mau bawa kalian ke rumah, tapi kebetulan ibu masuk rumah sakit lagi semalam.”


“Nggak apa-apa, Mas. Biar sekalian.”


Sesampainya di kamar inap Bu Wati, ketiganya masuk ke dalam.


Pak Gunawan dan Bu Wati terkejut sekaligus senang melihat Ayu yang tengah hamil ada di sana, tapi begitu melihat Raka ada di sana. Seketika senyum Bu Wati pudar.


“Bu, ini Ayu dan suaminya sudah di sini.”


Bu Wati menangis. Dia meminta maaf kepada Ayu dan mengatakan kepada Ayu perihal kebohongan Rika dan mengatakan, bahwa dia sudah mengetahui semuanya.


“Ibu nggak menyangka sama sekali, kalau dia wanita yang seperti itu. Wanita itu benar-benar tidak tahu diri. Seharusnya ibu nggak tertipu dengannya, maafkan ibu ya.”

__ADS_1


Sebenarnya Ayu kurang nyaman dengan perkataan Bu Wati, mengingat memang hal itu bukanlah kesalahan Rika sepenuhnya. Jika saja mantan ibu mertuanya tidak memaksa Danu untuk menikah dulu, maka tidak akan mungkin semuanya terjadi. Namun, Ayu berpikir hal itu sudah terjadi. Maka biarlah berlalu.


“Ayu sudah memaafkan ibu, lagi pula hal itu sudah berlalu. Ibu juga tidak perlu lagi kepikiran sampai sakit begini.”


Bu Wati tersenyum melihat perhatian yang diberikan oleh mantan menantunya.


“Ayu memang menantu ibu yang paling baik, selalu perhatian sama ibu.”


Raka mengernyit mendengar kata yang diucapkan oleh Bu Wati.


“Ayu, ibu mohon ya. Kamu mau kan, jadi menantu ibu lagi? Kembali sama Danu. Kalau kamu merasa nggak enak karena sedang hamil, bisa nanti sehabis melahirkan. Danu juga pasti nggak akan keberatan meskipun itu bukan anaknya, ya, kan, Nak?” Bu Wati Menoleh ke arah Danu.


Danu dan Ayu terkejut dengan perkataan Bu Wati. Danu tak habis pikir mengapa ibunya bisa berkata seperti itu.


“Bu, maksud ibu apa? Jangan berbicara seperti itu. Ayu sudah punya suami dan keluarganya sendiri sekarang.” Danu seketika merasa tidak enak.


Dia sendiri tahu, meskipun Raka tampak biasa saja. Tidak menunjukkan emosinya, tapi tetap saja hal itu membuat Danu merasa malu sekaligus kecewa kepada ibunya.


“Kenapa? Memang benar kan, kamu juga masih cinta dan sayang sama Ayu. Ayu juga sama. Salahnya di mana? Apa yang ibu katakan benar, lagi pula pria yang jadi suaminya sekarang itu cuma orang ketiga yang hadir di antara kamu dan Ayu.” Ujar Bu Wati dengan nada ketus.


“Sudah cukup, Bu. Danu, bawa Ayu dan suaminya keluar sekarang. Dan kamu, Bu. Jangan buat malu lagi keluarga kita dengan kelakuanmu yang seperti ini. Aku—suamimu– kecewa sekali dengan sikapmu yang seperti ini.”


Danu menghela napasnya. Dia benar-benar tidak habis pikir mengapa ibunya sampai berkata demikian. Ketiganya lalu keluar dari ruangan tersebut.


“Saya benar-benar minta maaf, terutama kepada Raka selaku suami Ayu. Maafkan ibu saya.”


Raka hanya diam tanpa membalas perkataan Danu. Ayu yang melihat hal itu dapat mengerti.


“Kalau begitu kami permisi dulu, Mas.”


Danu menganggukkan kepalanya.


...****...

__ADS_1


__ADS_2