Berbagi Cinta : DUA CINCIN

Berbagi Cinta : DUA CINCIN
Family Time


__ADS_3

...Part ini sudah direvisi...


...***...


“Wah, parah. Mentang-mentang dikasih robot sama Uncle Danu, Uncle Raihan dicuekin.” Raihan berpura-pura merajuk kepada keponakannya.


Semua orang yang melihat hal itu tertawa pasalnya Naresh selalu berkata bahwa Raihan adalah Paman kesayangannya, tapi begitu Danu datang dan membawakan hadiah robot sebagai kado ulang tahun ketiganya, Naresh langsung saja menempel kepada Danu.


Hubungan Danu dan Ayu serta keluarganya semakin membaik, hanya saja terkadang mulut Bu Wati sesekali masih berkata pedas dan menyindir jika mereka bertemu. Danu pun sudah mulai melupakan Ayu sepenuhnya dan kini membawa calon istrinya turut serta ke kediaman Raka, dia juga mencoba berpikir bijak dan sadar untuk belajar dari kejadian di masa lalu agar tidak terjadi lagi.


Seperti pesta barbeque malam ini, Danu dan Fanny berkunjung karena memenuhi undangan Raka. Mereka sepakat untuk merayakan ulang tahun anak pertama Raka dan Ayu hanya di rumah saja, sembari berkumpul bersama. Sedangkan para orang tua Ayu dan Raka sendiri sedang menikmati liburan bersama teman-teman seusia mereka.


“Yuk, pada ke belakang. Barbeque kali ini sudah disiapkan juga request dari bumil.” ajak Ayu kepada semuanya.


“Eh, serius? Wah, ngebayangin jamur Shitake dipanggang, bikin air liurku ngalir.” Ujar Prita.


“Astaga, Yang. Gitu amat, Yang.”


Semuanya tergelak tawa melihat Raihan yang geleng-geleng kepala.


Semua orang berkumpul di halaman belakang. Raka dan Raihan memanggang daging, sosis serta jamur Shitake yang diminta Prita—istri Raihan– yang tengah ngidam anak kedua. Danu menata makanan yang sudah matang ke dalam wadah.


Sedangkan Prita, Ayu dan juga Fenny— calon istri Danu– duduk santai mengawasi anak-anak yang tengah bermain bersama dengan baby sitter, sembari menunggu daging yang sudah masak.


“Undangan kapan di sebar?” Tanya Prita kepada Fenny


“Lusa, Mbak.”


“Tapi persiapan pernikahan sudah selesai semua?” kali ini Ayu ikutan nimbrung.


“Sudah sembilan puluh delapan persen, sisanya biasalah printilan.”


“Biasa, wanita.” ujar Prita memaklumi, karena dirinya tahu persis bagaimana repotnya mengurus pernikahan. Butuh waktu, uang dan menguras pikiran juga.


Ketiganya tertawa.


“Semoga lancar sampai hari-H ya.” ujar Ayu dengan tulus.


“Aamiin. Terima kasih, Ay.”


“Sama-sama.”


“Dengar-dengar mau pindah rumah dekat di sini?” tanya Prita lagi.


Fenny mengangukkan kepalanya.


“Di sebelah mana?”


“Itu loh, Mbak. Yang kemarin di blok tiga. Kebetulan orangnya mau pindah ke Batam, jadi nggak ada yang nunggu. Dijual, pas banget Mas Danu lagi cari rumah. Aku infokan ke Fenny, kebetulan Mas Raka juga kenal. Jadi minggu lalu ketemuan buat tanya harga, begitu deal langsung ambil.” Jelas Ayu.


“Ih, aku sendiri rumahnya yang jauh.” Prita memberengut.


“Ya, Mbak Prita rayu saja tuh, Mas Raihan. Biasanya jago” ledek Ayu, sedangkan Fenny hanya tersenyum. “Kebetulan yang dua blok dari sini juga mau dijual, kemarin baru dipasang plang.”


“Ah, iya. Bilang saja ngidam gitu, kan.” Ujar Prita


Ketiga terkikik geli membayangkan bagaimana ekspresi suaminya nanti.


“Mbak Prita lahiran kapan?” Tanya Fenny.


“Prediksi tiga minggu lagi, tapi sudah siap-siap kok.”


“Perempuan atau laki-laki Mbak?”

__ADS_1


“Waktu USG sengaja nggak mau lihat jenis kelaminnya, kejutan gitu.”


“Iya tuh, Fen. Buat penasaran.”


“Nanti aku kalau ada kesusahan apa tanya-tanya kalian ya.”


“Tenang, Ayu sama Aku siap jadi mentor.” ujar Prita jumawa.


Ketiganya tertawa.


“Nyonya-nyonya ini sudah ada matang. Silakan dinikmati sambil ghibah. Ini untuk Ratuku, makannya pelan-pelan karena masih panas.” Raihan menyodorkan sepiring jamur Shitake yang sudah matang kepada Prita.


Ketiganya hanya tersenyum mendengar perkataan Raihan.


Ayu kemudian menyenggol lengan Prita pelan.


“Pi, kalau aku ngidam yang lain mau nggak kabulin?”


Perasaan Raihan seketika tidak enak.


“Memangnya minta apaan?”


“Rumah”


“Uhukk, uhukk!”


Raihan terbatuk-batuk, karena tersedak jamur yang tengah dimakannya.


Sedangkan Ayu dan Prita terkikik melihat hal itu.


Memalingkan wajah ke arah Raka dan Danu.


“Wah, parah. Kerjaan si Ayu nih, pasti. Woi, Lo berdua gimana sih. Istri gue jadi tercemar, karena pasangan kalian. Tanggung jawab.”


“Tsk, drama.” Raka meledek Raihan.


“Oh jadi gitu, yaudah kalau nggak bisa nggak apa-apa.” Prita pura-pura lesu.


Duh, alamat ini mah, kalau sudah bilang gini panjang urusan. Batin Raihan.


“Eh, nggak gitu Sayang. Aku kan, cuma bercanda.” Raihan meringis.


“Suruh tidur di sofa, Mbak.”


Raihan menatap sinis ke arah sepupunya. Kemudian menoleh lagi ke arah Prita.


“Yuk, Sayang. Mau beli berapa? Nanti aku beliin, deh. Sepuluh atau dua puluh.”


“Tsk, lebay deh, Mas. Dikira mau bangun kontrakan, aku cuma mau satu. Tuh, yang di beda dua blok dari sini.”


“Ya sudah besok beli.”


“Serius, Mas.”


“Hmmh....”


“I love you, Sayang.” Prita memeluk Raihan dari samping.


“Cieee! Nggak jadi tidur di sofa.” ledek Danu dan Raka berbarengan.


Raihan menatap tajam ke arah Danu dan Raka yang masih memanggang daging. Kemudian Raka dan Danu tertawa bersamaan, pasalnya mereka tahu jika Raihan ingin sekali membeli mobil sport baru karena baru saja pria itu bercerita dengan semangat. Namun keinginannya harus pupus seketika itu juga, saat istrinya meminta rumah baru.


Nasib, kalau punya istri hamil yang ngidamnya ya begini. Untung Sayang. Batin Raihan.

__ADS_1


Tangannya mengelusi punggung Prita.


...***...


Ayu sedang berdiri di balkon, menikmati pemandangan langit yang bertabur bintang. Tiba-tiba ada tangan yang memeluk perutnya.


“Aku cari-cari, ternyata ada di sini.”


Ayu mengelus tangan itu.


Kecupan mendarat di pipi Ayu.


“Geli ih, Mas sudah selesai ngobrolnya? Yang lain sudah pada tidur?”


“Sudah.”


Ayu memutar tubuhnya menghadap Raka.


“Jadi kerja sama dengan perusahaan Mas Danu?”


“Iya, rencananya mau bangun tempat wisata khusus keluarga di Lembang.”


“Keren. Kapan projeknya dimulai?”


“Akhir bulan ini.”


“Cepat banget, memangnya sudah dapat lokasinya?”


Raka mengangukkan kepalanya.


“Mau aku buatin kopi lagi nggak?”


Raka menggelengkan kepalanya. Sedangkan tangannya menelusup masuk ke dalam piyama yang dipakai istrinya.


“Mas geli, ih.”


“Jagoan aku sudah tidur?”


“Sudah, tadi tidur lebih awal. Kecapaian karena main sama Gavin. Untungnya nggak rewel. Jadi aku bisa tidur nyenyak deh, sekarang. Mas, geli tahu.”


“Kangen, Ay.” Rengek Raka.


Ayu salah. Dirinya berpikir bisa tidur nyenyak malam ini, tapi sepertinya itu hanya angannya saja. Melihat kelakuan suaminya begini.


“Main yuk, Ay.” bisik Raka di telinga istrinya.


Tentu Ayu tahu maksud kata ‘main’ yang diucapkan Raka.


“Lima ronde ya, Ay.”


Ucapan Raka dihadiahi pelototan mata oleh Ayu, sedangkan Raka hanya terkekeh.


“Ya sudah, enam deh kalau gitu.”


“Malah nambah, nggak jadi.” Ayu melangkah pergi meninggalkan Raka.


“Ay, tungguin.” Menyusul istrinya.


“Biar cepat jadi adiknya Naresh, Ay.”


“Aku capek loh, Mas.”


“Mas yang gerak, kamu pasrah saja di bawah.”

__ADS_1


Ayu geleng-geleng mendengar ucapan frontal suaminya.


...****...


__ADS_2