
...Part ini sudah direvisi...
...***...
Raka tampil rapi malam ini, berharap mendapatkan pujian dari istrinya. Namun hal itu hanya angannya saja, karena Ayu justru malah sibuk asyik bercerita tentang aktor Korea idolanya yang sedang bersiap memainkan drama terbaru dan juga penyanyi idolanya, yang baru saja putus dengan pacarnya.
Istrinya bahkan sibuk memuji dan memuja mereka, tampan, seksi, pintar, gemas dan lain sebagainya. Sampai-sampai telinga Raka merasa panas mendengar ucapan manis tentang pria lain dari mulutnya.
Sampai pada akhirnya Raka merasa kesal, ia mengabaikan Ayu. Lebih banyak diam saat mereka di dalam mobil yang melaju menuju tempat acara pesta berlangsung. Kemudian sesampainya di sana, Raka juga sengaja mengabaikan Ayu lagi. Mengobrol dengan tuan rumah dan beberapa orang yang memang dia kenal, meskipun Raka sendiri jarang sekali untuk basa basi mengobrol dan dia juga berpura-pura tidak melihat wajah kesal istrinya.
Kekanakan sekali memang sikapnya, tapi dia berpikir biar istrinya tahu kalau dia cemburu dengan pria-pria idolanya itu.
Hingga tiba-tiba ponsel Raka bergetar dan ada pesan masuk dari Raihan, mengatakan jika Raka dan Prita pulang lebih dulu, karena perut Prita terasa mulas karena kontraksi palsu yang dialaminya.
Raka hanya bisa mengehala napasnya gusar, karena dia tahu, istrinya pasti akan sangat kesal. Saat Raka hendak undur diri, tiba-tiba ada seseorang yang mengapit lengannya. Celine. Wanita super menyebalkan yang sempat membuat Ayu salah paham. Pertemuan pertama mereka memang kurang mengenakan untuk diingat, juga sikap Celine yang dulu sering menggodanya ketika Raka bertandang ke perusahaan memiliki Edgar.
“Lepas.” Perintah Raka dengan raut wajah datar.
“Jangan membuat keributan, Tuan. Ini pesta kakakku.”
See, bisa dilihat bukan, jika perkataan Raka bukanlah bualan mengatakan Celine adalah wanita yang menyebalkan. Seharusnya wanita itu yang merasa malu karena sembarangan mengandeng lengan pria lain, terutama pria yang berstatus sebagai suami orang lain.
Saat Raka hendak berusaha melepaskan lagi tangan Celine, wanita itu memegang semakin erat.
“Bantu aku sebentar saja, karena banyak pria bodoh yang tidak peka. Jangan protes, anggap saja sebagai bayaran karena telah membantumu waktu itu dengan Royal Company.” Bisiknya memohon.
Sialan. umpat Raka dalam hati.
Dirinya tidak bisa berkutik, jika sudah menyangkut hal itu. Celine memang sempat membantunya perihal kerjasama dengan perusahaan internasional, bukannya ada alasan lain yang dibuat-buat. Melainkan karena sebuah insiden tak terduga, asisten pribadi Raka meninggalkan berkas penting di atas meja kerjanya.
Untung saja dia bertemu dengan Celine di restoran tempat Raka mengadakan pertemuan, hingga Celine membantunya mengulur waktu agar file dan flashdisk yang tertinggal sempat diambil, selagi Celine mengobrol entah tentang apa dengan Pria itu.
Edgar berderhem untuk menghilangkan rasa canggung di antara mereka dan hal itu juga menyadarkan Raka dari lamunannya.
“Celine, lepaskan tangan Tuan Raka. Apa kau tidak lihat, jika istrinya sudah memperhatikanmu. Aku tidak mau wajahmu terpampang di media dengan penuh cakaran.” Edgar memperingatkan adiknya.
Celine langsung melepas rangkulan di tangan Raka lalu bergumam tak jelas dan pergi meninggalkan keduanya.
“Maafkan, kelancangan adik saya Tuan Raka. Sepertinya sikap kekanakannya belum berubah.”
“Tidak masalah.”
“Sepertinya akan terjadi maslaah, karena istri anda melihatnya. Jadi sebagai sesama pria, saya menyarankan sebaliknya anda segera menghampiri istri anda, karena Nyonya Ayu tidak sengaja melihat Celine merangkul mesra lengan snda. Saya hanya takut, jika Nyonya Ayu salah paham.”
“Baiklah, saya permisi.”
Dijawab dengan anggukan kepala oleh Edgar.
Raka melangkahkan kakinya mencari keberadaan Ayu. Namun yang dia dapati, Ayu tengah mengobrol dengan seorang pria yang entah siapa orang itu karena Raka hanya melihat punggungnya saja.
“Buat aku nggak ada?” ujarnya, kemudian tersenyum ke arah istrinya.
Ayu hanya melihatnya sebentar, kemudian menundukkan wajahnya lagi, mengunyah makanan di piringnya mengabaikan keberadaannya.
__ADS_1
Sial, semua gara-gara aktor dan penyanyi sialan itu. Umpat Raka dalam hati.
“Lapar banget ya? Maaf deh, tadi aku kelamaan ngobrolnya. Suapin dong, Ay.” ujarnya, kemudian menarik kursi lebih dekat dengan istrinya.
Sialnya lagi, Ayu justru menjawabnya dengan wajah galak dan nada ketus.
“Punya tangan, kan, ambil saja sendiri.”
“Jangan nyerah Raka.” Ujarnya menyemangati diri sendiri.
“Maunya disuapin, Ay.” ujarnya dengan manja. Meskipun ia sendiri sebenarnya geli, mendengarkan suaranya sendiri saat ini. Untungnya saja Raihan sudah pulang lebih dulu, jika tidak. Maka sahabatnya akan dengan senang hati menjadi kompor di antara mereka.
Dia melihat istrinya menghela napas dan mengambil tissue, kemudian melap mulutnya.
“Mas bisa minta suapin ke dia, ngapain minta sama aku.”
Wajah istrinya masih terlihat begitu kesal.
Raka mengernyit tidak mengerti mendengar perkataan istrinya.
“Dia siapa maksudnya?”
Ayu tidak menjawab, melainkan bangun dari tempat duduknya.
“Mau ke mana, Ay?”
“Aku sudah nggak mood untuk makan, kalau Mas mau. Silakan makan sendiri. Aku mau pulang.” Kemudian meninggalkan Raka seorang diri.
“Aduh pakai lupa, pasti Celine maksudnya, kan?” Raka bertanya pada dirinya sendiri.
Di dalam mobil Ayu sama sekali tidak bersuara. Ia bahkan membuang wajahnya, lebih memilih untuk melihat ke arah jendela daripada menatap suaminya sendiri.
“Ay, sudah dong. Mas minta maaf ya, kalau buat salah”
“Memangnya Mas tahu, kesalahan Mas Raka apa?”
Raka menggelengkan kepalanya.
“Kalau nggak tahu, ngapain minta maaf.”
Raka terkekeh mendengar protesan Ayu.
“Bercanda, Ay. Iya Mas tahu kok”
Ayu memalingkan wajahnya ke arah Raka.
“Apa?”
“Tadi Celine merangkul Mas. Terus kamu marah.”
“Tumben peka. Kamu keenakan ya, makanya sengaja.”
“Nggak Ay, serius. Tadi dia minta tolong, Mas nggak tahu alasannya apa.”
__ADS_1
“Alasan saja, memang Mas Raka suka kalau si kunti itu yang merangkul. Pantesan saja Ayu diacuhin terus, mau ngobrol lama-lama sama Edgar.”
“Kalau itu, Mas memang sengaja. Mas cemburu waktu kamu muji aktor Korea sama penyanyi idola kamu si Shawn Mendes itu. Mas sudah tampil rapi dan ganteng gini saja, belum kamu puji sekalipun malam ini. Siapa yang nggak kesal coba.”
“Hah? Maksudnya gimana? Mas cemburu sama mereka, ya ampun Mas. ”
“Jadi impas ya,” goda Raka.
“Nggak, nggak ada impas-impas. Malam ini tidur di sofa.”
“Tega, Ay.”
“Biarin, suruh siapa nempel sama kunti. Aku nggak mau ketularan bau menyan.”
Raka hanya bisa pasrah dengan keputusan istrinya.
Ponsel Raka bergetar, nama kepala bodyguard terpampang di layar ponselnya. Kemudian ia mengmatikan panggilan tersebut.
“Kenapa nggak diangkat?”
“Mas lagi nyetir, Ay.”
“Siapa tahu penting.”
“Nggak apa-apa, nanti sampai rumah bisa ketemu. Biasanya terkait laporan mingguan saja.”
Ayu mengangukkan kepalanya. Sedangkan Raka memikirkan hal lain, ada apa kepala keamanan di rumahnya sampai menelponnya. Bukannya mengirim pesan, melainkan langsung menelponnya, sepertinya memang telah terjadi sesuatu hal yang amat penting.
...***...
“Ini Tuan.”
Pak David meletakkan sebuah paket di atas meja kerja Raka.
Raka membuka dan menerimanya. Di dalamnya ada sebuah boneka berlumuran darah dan juga surat ancaman.
“Sudah kamu selidiki?”
“Sudah, anak buah saya melihat melalui CCTV. ada dua pengendara sepeda motor, tidak menggunakan plat asli. Mereka menggunakan helm agar wajahnya tidak dapat dikenali, tapi kami masih mencoba mencarinya melalui CCTV sekitar kediaman Tuan Raka.”
“Perketat pengawasan kepada anak dan istri saya. Juga kepada orang tua kami, satu lagi. Saya harap kalian tetap waspada. Apa Raihan sudah mengetahui hal ini?”
“Tuan Raihan juga sudah tahu dan saya mendapatkan kabar dari kepala pengamanan di sana. Jika surat yang sama juga dikirim kepada Tuan Raihan.”
“Baiklah, biar saya yang akan berbicara kepada Raihan.”
“Baik, Tuan. Saya permisi.”
“Terima kasih, Pak David.”
“Sama-sama, Tuan. Ini sudah menjadi tugas saya.”
Setelah Pak David undur diri, Raka termenung menatap langit-langit ruangannya. Kemudian ia memutuskan untuk pergi tidur. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Raka menyusul istrinya yang sudah lebih dulu terlelap. Memeluk tubuh istrinya, membuatnya lebih tenang dan mulai ikut terbuai dalam tidurnya.
__ADS_1
...****...