
...Part ini sudah direvisi...
...***...
Raka pergi selama satu minggu ke luar kota, karena proyek akhir tahun yang akan segera dimulai membutuhkan kehadirannya secara langsung di rapat tersebut.
Sebenarnya Raka sendiri enggan pergi ke sana, tapi karena tidak bisa diwakilkan. Mau tidak mau, Raka harus datang.
Raka mengehala napasnya berat. Hari ini lelah sekali rasanya. Lelah berlipat lipat karena suasana hatinya sedang buruk. Dia melemparkan jas dan dasi secara asal lalu menjatuhkan dirinya di atas sofa. Kamar hotel yang sedemikian mewah tidak dapat membuatnya nyaman, tanpa kehadiran istrinya di sampingnya.
Saat berangkat kemarin, dia dan Ayu belum mengobrol satu katapun. Istrinya memang menyiapkan segala keperluan untuk pergi ke sini, tapi tidak mengatakan apapun kepadanya. Ayu hanya terus diam, jika bicara pun hanya sekedar mengingatkan agar supirnya berhati-hati saat berkendara.
Raka sebenarnya enggan berdiaman dengan Ayu dalam waktu yang lama, tapi dia juga sangat kecewa karena Ayu tidak mengatakan saat pergi ke rumah mantan mertuanya. Ayu memang izin, tapi tidak mengatakan hendak pergi ke sana.
Ayu dan supir mereka memang tidak mengatakan apapun kepadanya, tapi mobil yang dikendarai oleh Ayu menunjukkan ke mana istrinya pergi. Raka memang sengaja memasang GPS disetiap kendaraan yang dia miliki, bertujuan agar selalu dapat memantau jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Terlebih setelah dia menikah dan sekarang istrinya sedang hamil. Bukan tidak mungkin istri dan anaknya suatu saat mengalami hal yang dia alami seperti dulu.
Raka memijat pangkal hidungnya. Kepalanya seakan ditaruh beban yang begitu berat. Tak lama kemudian, Raka terlelap dalam tidurnya.
...***...
“Kamu sudah makan, Ay?”
“Belum, Bund. Lagi nggak nafsu makan.”
“Tapi harus tetap dikasih asupan, biar kamu nggak lemas. Apa kabar cucu bunda hari ini?”
“Baik, Bund. Aktif banget dia.”
Ayu kembali murung.
“Ayu kenapa? Apa ada masalah?”
“Nggak apa-apa, Bund. Bunda kapan pulang?” Ayu mengalihkan pembicaraan.
“Mungkin lusa, soalnyaTante Nadya lagi di isolasi. Jadi kami pun sama, tapi sudah dites swab dua minggu yang lalu, bunda Alhamdulillah negatif. Sebelum pulang ke Bandung, Bunda sengaja isolasi mandiri dulu di sini.”
“Ayu kangen.” Rengeknya seperti anak kecil.
__ADS_1
Ibu mertuanya terkekeh mendengar ucapan Ayu.
“Iya, sabar ya. Raka juga lagi ke Yogyakarta, ya?”
“Hmh.”
“Ayu lagi marahan sama Raka? Boleh, cerita ke Bunda?”
“Bunda, hiks ....”
“Eh, eh, kok nangis. Awas ya, si Mamas sudah buat menantu kesayangan Bunda nangis. Bunda jewer telinganya.”
Ayu tersenyum mendengar omelan mertuanya.
“Mas Raka nggak salah, tapi Ayu yang salah Bund.”
“Coba cerita sini ke, Bunda.”
Ayu kemudian menceritakan semua kejadian kemarin. Saat ia izin kepada Raka, dan saat di rumah mantan ibu mertuanya.
Bunda Lia—ibu mertuanya– mendengarkan dengan seksama cerita menantunya.
Bu Lia hanya tertawa setelah mendengar seluruh cerita menantunya.
“Mamas cemburu itu, Ay. Sudah, nanti Bunda yang nasihati. Ayu mungkin salah nggak kasih tahu mau pergi ke mana, tapi si Mamas juga seharusnya bilang baik-baik. Bukannya ngambek, ngalah-ngalahin ibu hamil ini. Ish, cowok kok ambekan. Jangan dikasih jatah, Ay. Kalau pulang nanti. Biar kapok dia.”
“Bunda.”
Pipi Ayu bersemu merah karena malu.
“Eh, udah baikan nih, ceritanya. Nggak nangis lagi." Terkekeh melihat menantunya yang sudah lebih baik.
Ayu tersenyum.
“Ya sudah, Bunda tutup dulu. Lusa insyaallah, Bunda pulang. Kamu makan ya, kalau nggak mau bisa minum jus atau ngemil buah.”
“Iya, Bund. Assalamualaikum.”
“Waallaikumsallam”
__ADS_1
Klik.
Ayu mematikan panggilan video dari ibu mertuanya. Kemudian ia berniat ke ruang makan, meminta tolong asisten rumah tangganya untuk membuatkan jus.
“Bi, tolong buatin Ayu jus strawberry dan kiwi ya. Sama siapin kue yang dibelikan, Mas Raka yang ada kulkas.”
“Baik, Nyonya.”
“Terima kasih, ya Bi.”
Ayu duduk di kursi menunggu camilan dan jus yang tengah disiapkan oleh asisten rumah tangganya, ketika hendak menuangkan air minum ke dalam gelas, ponselnya bergetar karena ada pesan yang masuk.
Ayu bersemangat mengambil ponselnya, karena dia pikir itu pasti Raka. Ayu mengernyitkan alisnya melihat nomor baru yang mengirimkan pesan dan isi pesan dari nomor itu.
Ayu kemudian meng-klik foto tersebut.
Prang!
Gelas yang tengah dipegangnya terjatuh ke lantai. Ayu menutup mulutnya, karena terkejut dengan foto yang baru saja dia lihat.
Tubuhnya sedikit limbung.
“Nyonya!”
Pekikan asisten rumah tangganya, melihat keadaan majikannya, asisten rumah tangganya begitu khawatir. Terlebih kemudian, Ayu menangis tersedu-sedu tanpa mengucapkan sepatah katapun.
...****...
...Kira-kira foto apa yang dikirim ya? Dan siapa yang kirim foto itu ke Ayu?...
...Penasaran? Komentar “Next” di bawah sini 👇...
...Jangan lupa untuk klik tombol LOVE dan LIKE ya~...
...Sampai jumpa di part selanjutnya ......
...Love ❤️...
...Zii...
__ADS_1