Berbagi Cinta : DUA CINCIN

Berbagi Cinta : DUA CINCIN
Kecemburuan Ayu


__ADS_3

...Part ini sudah direvisi...


...***...


“Sayang ya nggak ada Fenny.”


“Lagi keluar kota, kan, ikut dinas bareng Mas Danu.”


“Iya. Jadi kita cuma me time berdua.”


“Bertiga, Mbak.”


“Sama siapa?”


“Tuh, yang di perut”


Ayu menunjuk ke arah perut Prita yang membuncit.


“Oh, iya. Sampai lupa. Habis ini kita cari makan yuk, Ay. Mbak lapar.”


“He-em, sudah siang juga, kan. Habis dari salon, belanja, makan, terus pulang deh.”


“Tapi tadi supir sama asisten kamu suruh tunggu atau nggak?”


“Nggak lah, Mbak. Kasihan, aku suruh mereka pergi jalan-jalan. Tadi juga sudah dikasih uang buat mereka jajan.”


“Royal banget sih, Ay.”


“Mas Raka yang suruh, kata Mas Raka biar mereka juga merasa dihargai waktunya dan bisa merasakan juga seperti kita, jangan kita cuma enak-enak tapi mereka cuma lihat doang. Gitu katanya.”


“Pantesan suamiku juga gitu, sebelas dua belas mereka tuh.”


“Ay, maka. Di situ yuk.”


“Sushi?” tanya Ayu tidak yakin.


Prita menganggukkan kepalanya.


“Nggak boleh, Mbak Prita lagi hamil.”


“Ke tempat makan itu saja.”


Ayu menunjuk restoran Korea.


“Ya sudah deh,”


Keduanya melangkahkan kakinya ke dalam restoran yang hampir penuh. Mungkin karena jam makan siang.


Pramusaji menghampiri meja mereka dan menyerahkan buku menu.


“Tteokbokki Chicken Spicy Kimchi dua, Chicken Spicy Korean dua, untuk desert nya— Es salju coklat dua. Oh ya, air mineral dua botol ya, Kak.”


Pramusaji itu mencatat pesanan Ayu, kemudian pergi untuk mengambil pesanan mereka.


“Ay, besok malam datang ke pesta itu?”


“Yang mana?”

__ADS_1


“Ya ampun, istri bos bisa lupa.”


“Pesta pernikahan yang di adakan di InterContinental Hotel Dago.”


“Oh itu, datang. Soalnya Mas Raka sudah bilang mau datang katanya, kalau nggak datang karena nggak enak. Itu, kan, koleganya Mas Raka juga.”


“Iya juga sih, tapi Raka ada bilang apa gitu ke kamu, Ay?”


Ayu geleng-geleng kepala.


“Nggak ada, memangnya apaan Mbak?”


“Kalau Mas Raihan bilang ke aku, katanya nanti di sana kalau ketemu kunti suruh elus perut terus bilang amit-amit.”


Ayu yang mendengar itu tertawa.


“Ampun deh, ternyata semakin banyak juga spesies Kunti jadi jadian sekarang.”


Ayu terkikik geli mendengar gerutuan Prita.


“Hush, nggak usah bicarakan kunti terus. Sekarang makan dulu, makanan kita sudah datang.”


Kemudian keduanya menikmati makanan yang mereka pesan.


...***...


“Jagoan Mama jangan rewel ya, tidur sama Kak Nina.”


“Yes, Ma.”


Raka turun tangga dengan stelan tuxedo berwarna Navy. Melangkahkan kakinya mendekati anak dan istrinya.


“Papa sama Mama pergi dulu, Oma, sama Opa pulang besok katanya.” berkata kepada anaknya, kemudian menoleh ke arah pengasuh anaknya. “Nanti habis jam setengah delapan Oma dan Opa ya Naresh mau video call, tapi kalau misalnya Naresh sudah tidur. Tolong tidak perlu diangkat, kirim pesan saja. Bilang kalau cucunya sudah tidur.”


“Baik Tuan.”


“Mama pergi dulu ya, Assalamualaikum sayang.”


“Waallaikumsallam, Ma, Pa.”


Sesampainya di ballroom hotel, Ayu s


mengandeng erat lengan Raka.


“Mas, Mbak Prita katanya sudah di sini.”


“Hmmh,”


“Ih, kenapa coba? Mukanya kok cemberut gitu.”


Sejak di dalam mobil tadi, Raka memang lebih banyak diam dari biasanya. Entah apa yang membuat suaminya seperti itu.


“Nggak apa-apa, kita ke tuan rumahnya dulu. Habis itu baru cari Raihan sama Prita.”


Ayu mengikuti suaminya untuk memberikan ucapan selamat kepada Edgar dan istrinya. Mengobrol perihal bisnis, politik dan lainnya. Ayu meskipun sudah terbiasa dengan obrolan semacam itu, tetap saja merasa bosan. Karena menurutnya, ini bukanlah pesta pernikahan. Tapi rapat bisnis berselubung pesta.


Ayu pamit untuk ke kamar kecil. Saat tengah mencuci tangannya di wastafel, ponselnya bergetar karena ada pesan yang masuk.

__ADS_1


Prita


Ay, Mbak pulang duluan ya. Dari tadi kontraksi terus, sepertinya kecapean. Salam sama Raka juga, maaf tadi nggak sempat ketemu.


Ayu mengehala napasnya. Kesal pastinya. Bukan hanya perihal sikap Raka seolah acuh, tapi juga karena dirinya tidak dapat bertemu dengan Prita karena ulah suaminya itu yang nampak begitu betah mengobrol berlama-lama dari biasanya.


^^^Ayu^^^


^^^Nggak apa-apa, Mbak. Istirahat dulu, biar enakan. Mungkin karena sebentar lagi mau HPL.^^^


Setelah membalas pesan dari Prita, Ayu memasukkan ponsel ke dalam clutch coklat miliknya.


Setelah itu Ayu keluar dari toilet, melangkahkan kakinya menuju tempat suaminya. Tapi langkah kakinya terhenti begitu saja, Ayu melihat seorang wanita merangkul mesra lengan suaminya.


Ayu mendengkus, karena dia tahu siapa wanita itu. Dia adalah adik dari Edgar, wanita yang sempat tertarik dengan Raka dan juga wanita yang fotonya sempat dikirim ke ponselnya oleh Caroline.


Merasa kesal, Ayu memutar arah melangkah pergi ke meja-meja tempat di mana makanan dihidangkan. Sesampainya di sana, Ayu bisa melihat ada berbagai macam jenis menu makanan, mulai dari Crispy Chicken Kathi Roll, Beef Shortrib Sliders, Sushi & Sashimi Station, King Prawn Vol au Vent, martabak manis coklat dan keju, pisang goreng, pisang penyet, kue putu bumbung, bubur injin, tape goreng dan aneka jajan pasar, serta masih banyak lainnya.


Untuk minumannya ada cocktail buah, air mineral, champagne dan red wine.


Ayu mengambil Roti Pretzel, Cupcake, Fortune Cookies, Stroberi Cheese Cake, serta kombinasi Granola, Yogurt dan stroberi. Ia benar butuh semua itu untuk tetap waras dan menuntaskan rasa kesalnya.


“Makanan memang adalah pilihan yang tepat untuk melampiaskan kekesalan.”


Ayu menoleh ke samping kirinya. Ada seorang tersenyum ke arahnya.


“Gerald.” Pria itu memperkenalkan dirinya.


Ayu masih merasa heran dengan pria di hadapannya.


“Tenang saja Nyonya, saya tidak bermaksud menggoda atau hal lainnya. Silakan dinikmati makanan Anda, Nyonya. Saya permisi.” Setelah mengatakan hal itu, pria tadi segera berlalu meninggalkan Ayu yang masih merasa keheranan.


Saat Ayu tengah menikmati makanannya, Raka menghampiri istrinya.


“Buat aku nggak ada?”


Ayu mendongakkan wajahnya. Kemudian menundukkan wajahnya lagi, mengunyah makanan di piringnya mengabaikan keberadaan Raka.


“Lapar banget ya? Maaf deh, tadi aku kelamaan ngobrolnya. Suapin dong, Ay.”


“Punya tangan, kan, ambil saja sendiri.” jawab Ayu dengan nada ketus.


“Maunya disuapin, Ay.”


Ayu mengehala napasnya. Mengambil tissue dan melap mulutnya.


“Mas bisa minta suapin ke dia, ngapain minta sama aku.”


Raka mengernyit tidak mengerti mendengar perkataan istrinya.


“Dia siapa maksudnya?”


Ayu tidak menjawab, melainkan bangun dari tempat duduknya.


“Mau ke mana, Ay?”


“Aku sudah nggak mood untuk makan, kalau Mas mau. Silakan makan sendiri. Aku mau pulang.” Kemudian meninggalkan Raka seorang diri. Raka kemudian memutuskan untuk menyusul istrinya, sebelum pergi ia berpamitan kepada Edgar.

__ADS_1


Tanpa keduanya ketahui seseorang merasa senang dan puas melihat pertengkaran kecil yang terjadi antara Raka dan Ayu.


...****...


__ADS_2