Berbagi Cinta : DUA CINCIN

Berbagi Cinta : DUA CINCIN
Kenyataan Yang Menyakitkan


__ADS_3

...Part ini sudah direvisi....


...***...


Raka bukannya tidak melihat bagaimana Ayu yang akhir-akhir ini sering terlihat tidak fokus saat bekerja.


Dan juga Raka baru sadar, jika dirinya sudah jarang sekali melihat Ayu tersenyum. Ingin sekali dia bertanya, tapi sungkan. Karena takut jika dirinya dianggap terlalu ikut campur dalam urusan rumah tangga orang lain.


Apa aku hubungi Raihan saja ya? Tapi kalau Raihan sendiri tidak tahu, malah nanti makin runyam urusannya.


Jadilah dia hanya melihat atau sesekali mengajak Ayu mengobrol dengan sedikit dibumbui gurauan. Meskipun ditanggapi oleh Ayu, tapi Raka dapat melihat tawa atau senyum yang wanita itu berikan tidak sampai ke matanya.


Bisa gila kalau gini terus.


Raka mengacak-acak rambutnya.


Mas Raka kenapa?


Raka terkejut karena mendapati Ayu yang kini berdiri di hadapannya.


Ka—kamu kok di sini, Ay. Kapan masuknya?


“Dari tadi Ayu tuh, panggil Mas Raka. Mau ngabarin, sepuluh menit lagi rapat dimulai. Mas Raka malah cuma diam dan sekarang malah mengacak-ngacak rambut. Ada apa? Apa ada sesuatu yang buat mas Raka pusing?


“Ada.”


“Masalah apa? Kalau nggak keberatan, Mas Raka boleh cerita ke Ayu, siapa tahu mungkin Ayu bisa bantu cari solusinya.”


“Kamu.”


“Hah! Maksudnya gimana?”


Masalah aku itu kamu, Ay. Kenapa kamu sering murung?

__ADS_1


Kenapa kamu selalu terlihat sedih?


Apa pernikahan kalian nggak bahagia?


Apa pria itu menyakiti kamu?


Andai semua pertanyaan yang ada di dalam benaknya bisa dia utarakan, tapi hal itu tidak mungkin. Raka hanya diam memandangi wajah Ayu saja.


“Mas, malah melamun. Aku, kenapa? Hubungannya apa coba?”


“Nggak, nggak apa-apa. Kita sekarang ke ruang rapat saja, aku nggak sabar mau nyiksa anak buahku.”


Sontak saja gurauan yang dilontarkan oleh Raka membuat Ayu tergelak. Keduanya berjalan beriringan menuju ruang rapat.


...***...


Ayu masuk ke dalam kamar, menuju walk in closet. Dirinya hendak berganti pakaian karena dress rumahan yang dia pakai terkena tumpahan teh.


Setelah berganti pakaian, dia melihat pakaian milik Danu yang berserakan.


Ayu mengumpulkan pakaian kotor milik suaminya satu persatu dan saat merogoh saku celana Danu, Ayu menemukan ponsel milik suaminya masih berada di saku tersebut.


“Ya ampun, Mas Danu kebiasaan, deh. Untung aku selalu periksa sakunya, coba kalau nggak. Dijamin ikutan kecuci ponselnya.”


Tepat saat hendak menaruh ponsel itu di atas meja rias, ponsel itu bergetar karena ada sebuah pesan masuk dari nomor ibu mertuanya.


Ibu Wati


Ini ibu kirim video kalian yang kemarin.


Ayu dapat membaca isi pesan dari pop up tersebut.


Ayu mengerutkan dahinya karena penasaran.

__ADS_1


Video? Kalian siapa maksudnya?


Ayu bertanya-tanya, karena rasa penasaran jarinya mengklik pesan masuk itu dan menekan tombol download agar video itu bisa dilihat lalu setelah itu mengklik tombol play untuk menonton video tersebut.


Ayu dapat melihat jika video itu berisikan sebuah pesta pernikahan.


“Wah, siapa yang menikah ya?” Gumamnya.


Perasaan sebulan ini baik dia maupun Danu belum pernah pergi ke pesta pernikahan atau mendapatkan undangan pernikahan. Ayu masih terheran-heran.


Dia terus menonton video itu dengan seksama, tapi beberapa saat kemudian jantungnya seakan dicabut paksa oleh tangan tak kasat mata. Matanya membola menyaksikan siapa mempelai pria di video itu.


“Bagaimana para saksi, sah?”


“Sah!”


Seiring suara yang menggemakan kata itu, air mata Ayu terjatuh membasahi pipinya. Dia begitu terkejut dengan apa yang baru saja dia lihat.


Klek.


Pintu kamarnya terbuka, Ayu memalingkan wajahnya ke arah pintu itu.


“Sayang, kenapa lama? Mas sudah nungguin dari tadi di bawah,” ujar Danu saat memasuki kamar mereka.


Tapi dirinya melihat istrinya tergugu dengan air mata yang membasahi pipi. Lantas dia bertanya apa yang membuat istrinya itu menangis.


“Sayang, kamu kenapa?” bertanya dengan nada khawatir, kaki Danu melangkah mendekati Ayu.


Sebelum dia mendekap tubuh istrinya, Ayu lebih dulu memberikan ponsel itu kepada Danu, begitu Danu membaca pesan dan melihat video yang dikirim oleh ibunya. Wajah Danu berubah pucat.


“Kamu bisa mulai menjelaskannya, Mas.” Ujarnya dengan suara bergetar.


Ayu menghapus air mata di pipinya, meskipun hatinya begitu hancur setelah melihat video itu. Terlebih siapa yang menjadi madunya, dia tetap ingin mendengar penjelasan suaminya.

__ADS_1


...****...


__ADS_2