Berbagi Cinta : DUA CINCIN

Berbagi Cinta : DUA CINCIN
Mantan Mertua (2)


__ADS_3

...Part ini sudah direvisi...


......***......


Sepanjang perjalanan dari rumah sakit, Raka hanya diam. Tanpa mengajak dirinya mengobrol.


Ayu sangat khawatir dengan keterdiaman suaminya itu. Dia menduga, Raka pasti marah kepadanya.


Begitu sampai di rumah mereka, keduanya masuk. Raka membantunya turun dan menuntunnya masuk ke dalam rumah.


“Bi, tolong siapakan air minum untuk saya dan Nyonya, juga camilan untuk Nyonya. Bawa ke ruang keluarga ya.”


“Baik, tuan.


Begitu sampai di ruang keluarga, Raka memijat kaki Ayu. Sedangkan Ayu sendiri masih mengamati suaminya dengan seksama.


Tak lama asisten rumah tangganya datang membawa minuman dan camilan.


“Terima kasih, Bi.” ujar Raka.


“Sama-sama Tuan, kalau begitu saya permisi dulu.”


Setelah kepergian asisten rumah tangganya.


“Ayu mengehala napasnya.”


“Diminum, Ay.”


“Gimana mau minum kalau hatiku nggak tenang, Mas.”


“Kenapa?”


“Tsk, kalau Mas marah wajar. Aku minta maaf,”


“Untuk apa kamu yang minta maaf? Kamu, kan, nggak salah.”


“Pokoknya aku minta maaf, karena ajak Mas Raka pergi ke sana.”


“Ya, Mas maafkan, tapi kalau bisa jangan lagi bertemu sama mereka. Bukan, apa-apa Ay. Kamu lihat sendiri, kan, bagaimana sikap kekanakan mantan mertua kamu. Sangat tidak patut dilakukan sebagai orang tua.”


“Iya, Mas.”


“Ayo, makan lagi. Buat isi tenaga sebelum nantinya terkuras.”


“Hah! Maksudnya gimana?”


Raka memandang istrinya dan tersenyum penuh arti.


...***...


Bu Wati


Ayu, ini ibu. Kalau ada waktu mampir ke rumah ya, ibu kangen.


Ayu membaca pesan yang masuk ke ponselnya. Semenjak pertemuan terakhirnya, beberapa waktu yang lalu, mantan ibu mertuanya terus menerus menghubunginya.


Terkadang menelpon atau sekedar berkirim pesan menanyakan kabar. Padahal dulu, saat Ayu masih menjadi menantunya. Bu Wati sangat jarang sekali melakukan hal itu.


Ayu hanya bisa mengehala napasnya. Sebenarnya dia tidak nyaman dengan keakraban dari mantan mertuanya, mengingat kejadian lalu saat pertemuan terakhir mereka.


Ibu mertuanya memang sudah meminta maaf, tapi sifatnya sama sekali tidak berubah. Masih sama seperti dulu.


“Kenapa, Sayang?”

__ADS_1


“Nggak apa-apa, Mas. Sudah selesai


mandinya? Rambutnya kenapa nggak dikeringkan? Hmh, kebiasaan ya. Nanti masuk angin.”


“Biarin, Mas sengaja. Soalnya biar Mas mau kamu yang keringkan.”


“Idih, manja banget.”


“Nggak apa-apa, mumpung bisa manja sekarang. Kalau nanti harus ngalah sama ini nih,”


Raka yang tengah memeluk istrinya dari belakang, mengelus perut Ayu.


“Kalau si jagoan sudah ada, mana bisa lagi mas manja sama kamu.”


Ayu terkekeh geli mendengar perkataan suaminya. Ya, jenis kelamin bayi yang di dalam kandungannya adalah laki-laki. Keduanya baru mengetahui hal itu kemarin saat USG.


“Sini Ayu bantu keringkan.”


Ayu mengambil handuk dan hairdryer untuk mengeringkan rambut suaminya.


“Enaknya, Ay.” ujarnya lalu terkekeh.


Ayu hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Raka.


Setelah mengeringkan rambut suaminya, keduanya naik ke tempat tidur. Seperti biasa, sebelum tidur. Baik Ayu maupun Raka memiliki kebiasaan melakukan pillow talk.


Raka memijat kaki istrinya. Mengamati setiap inci tubuh dan wajah Ayu. Wanita yang ada di hadapannya yang kini tengah mengandung anaknya. Raka melihat perubahan yang signifikan. Pipi Ayu yang tampak semakin membulat saat kehamilan sudah memasuki trimester kedua. Entah berapa kg berat badan Ayu bertambah. Ayu juga sering merasakan lapar, maka dari itu camilan selalu tersedia untuk istrinya.


Meskipun Ayu sempat mengalami morning sicknes yang cukup parah selama dua minggu ketika kehamilannya memasuki usia tiga bulan. Tubuhnya sempat kurus, karena menolak makanan yang masuk ke perutnya, tapi hanya berlangsung dua minggu saja. Kalau lebih dari itu, Raka tidak bisa membayangkan.


Raka melihat kaki istrinya yang mulai membengkak. Memijatnya secara hati-hati agar Ayu merasa nyaman. Raka juga sering membaca berbagai buku dan artikel tentang kehamilan. Agar dia juga lebih paham tentang hal tersebut.


“Capek ya, Sayang? Maaf ya, sudah buat kamu begini. Sudah buat kamu hamil anak ini dan terima kasih juga sudah berjuang untuk menjaganya. Mas nggak bisa merasakan kepayahan dan kesakitan kamu saat melahirkan dia nanti, tapi Mas janji. Mas akan berusaha melakukan yang terbaik untuk kalian, menjaga dan mencintai kalian.”


“Terima kasih ya, Mas. Mas juga sudah jaga dan berikan yang terbaik untuk kami.” Mengecup pipi suaminya. “Oh ya, Mas. Mas, sudah siapkan nama untuk bayi ini?”


“Sudah dong, jagoannya kan ganteng seperti Papinya, jadi mas sudah siapkan nama yang nggak kalah ganteng.”


“Ihh, Mas Raka narsisnya kebangetan.”


“Kan, memang ganteng.”


Keduanya tertawa bersamaan.


...***...


Bu Wati


Ayu, bisa tolong ibu. Kepala ibu pusing dari pagi. Danu dan bapak susah dihubungi dari tadi, mungkin karena sedang bertemu klien penting.


Sebenarnya Ayu hendak mengacuhkan pesan dari Bu Wati, tapi hati nuraninya merasa tidak tega. Dia akhirnya minta izin kepada Raka untuk keluar rumah diantar oleh supir, tapi tidak mengatakan jika ingin ke rumah Bu Wati.


Sesampainya di sana, Ayu mendapati rumah Bu Wati sedikit ramai karena kedatangan tamu. Ayu masuk ke dalam rumah, di sana dia mendapati keadaan Bu Wati yang tampak baik-baik saja.


“Eh, Yu. Kamu sudah datang.” sapa Bu Wati kepadanya.


“Wah, ini mantan menantunya jeng?” tanya salah seorang tamu wanita seumuran dengan mantan ibu mertuanya.


“Iya, ini Ayu istrinya Danu.” ujar Bu Wati dengan semringah.


Ayu mengernyitkan alisnya heran.


“Sini, Yu.”

__ADS_1


Bu Wati menariknya untuk duduk di sofa bersamanya.


“Wah, lagi hamil. Berapa bulan?”


“Sudah enam bulan.” Jawab Ayu, kemudian tersenyum.


“Padahal dulu sama Danu lama ya, tapi sekarang cepat.”


“Eh, jeng. Jangan salah, Ayu ini sampai sekarang masih jadi menantu idamanku dan juga masih mencintai Danu. Aku sudah bilang mereka akan kembali bersama. Meskipun bayi ini nantinya lahir dan bukan anak Danu, anakku itu bakalan tetap terima bayi ini. Aku juga sudah bilang kok ke Danu dan Ayu. Ya, kan, Yu?”


Ayu terkejut dengan perkataan Bu Wati.


Sedangkan tamu-tamu Bu Wati menunjukkan raut wajah yang tak kalah sama dengannya.


“Kok gitu?” bisik salah satu tamu tersebut.


“Maksudnya bagaimana jeng?” tanya tamu itu tidak mengerti.


“Iya, suaminya dia yang sekarang itu kan, orang ketiga diantara Danu dan Ayu. Karena Ayu hamil, makanya belum bisa kembali sekarang. Tunggu dia melahirkan dulu, baru cerai.”


Ayu tidak bisa menahan amarahnya, dia tidak terima jika suaminya dijelek-jelekkan oleh orang lain. Apalagi difitnah.


“Maksud ibu apa? Kenapa ibu berbicara seperti itu tentang suamiku?”


“Loh, bener kan, Yu. Kamu masih mencintai dan akan kembali bersama Danu. Buktinya kamu ke sini, lagi pula suami kamu kan, memang orang ketiga—”


“Cukup! Ibu tidak berhak mengatakan hal itu.”


Ayu bangkit dari tempat duduknya.


Suasananya menjadi hening.


“Kamu sudah berani meninggikan suara sama orang yang lebih tua? Oh, suami kamu memang membawa pengaruh bu—”


“Saya bilang cukup, Bu Wati!”


Mata Bu Wati terbelalak tak percaya, mulutnya menganga mendengar ucapan Ayu yang memanggil namanya secara langsung.


“Saya ke sini karena anda mengatakan, jika anda sedang sakit. Karena tidak bisa menghubungi suami dan anak anda, makanya anda meminta tolong kepada saya. Ternyata anda justru membohongi saya.” Ayu mengehala napasnya. Dia mengatur emosinya agar tidak terlalu meluap-luap.


“Suami saya mencintai dan menjaga saya dengan baik, bahkan saya tidak kekurangan satu apapun. Dia bukan orang ketiga, saya dan dia menikah setelah Danu—anak ibu–menceraikan saya dan memilih istri keduanya. Tadinya saya hanya ingin jalinan silaturahmi antara saya dan anda tetap terjalin dengan baik, tapi kebaikan yang saya berikan salah diartikan. Anda bahkan berkata seenaknya tentang suami saya. Bahkan sampai memfitnah juga, saya benar-benar kecewa karena sifat anda yang tidak berubah sama sekali. Mulai sekarang tolong jangan hubungi saya lagi. Saya permisi.”


Ayu meninggalkan Bu Wati dan tamu-tamunya begitu saja. Masa bodo dengan etika kesopanan. Ayu bahkan sudah hilang rasa peduli dan segan kepada mantan mertuanya itu. Bisa-bisa Bu Wati memfitnah suaminya dan mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal.


...***...


“Apa benar kamu ke rumah mantan mertua kamu, Ay?”


Ayu sedikit terkejut dengan pertanyaan suaminya. Pasalnya dia sendiri belum menceritakan hal itu. Jadi suaminya tahu dari mana? Apakah supir mereka?


“Emh, itu mas—”


“Jadi benar?”


Ayu mengangukkan lemah.


“Untuk apa kamu ke sana? Apa sebegitu pedulinya kamu sama mantan mertua kamu, atau ada alasan lain agar bisa bertemu dengan mantan suami kamu.”


Raka mengehala napasnya.


“Mas ke ruang kerja dulu, ada kerjaan yang nggak bisa ditunda. Harus diselesaikan secepatnya.”


Baru saja Ayu ingin mengatakan semuanya, tapi Raka sudah melangkah ke luar kamar dan menutup pintu.Padahal Ayu belum sempat menceritakan kejadian sebenarnya.

__ADS_1


...****...


__ADS_2