
...Sudah mengalami tahap revisi....
..._____...
...Happy reading!...
...***...
Keduanya lalu mengobrol lagi, membahas apa saja. Seolah tak pernah kehabisan topik untuk dibahas.
“Hai, Ka. Ternyata benar itu kamu, aku kira kamu nggak datang, gimana kabar kamu sekarang?”
Baik Raka maupun Ayu memalingkan wajah mereka ke arah sumber suara.
Seketika membuat raut wajah Raka berubah dingin.
...***...
Ayu bertanya dalam hati, siapa wanita dihadapannya ini dan apa hubungan antara wanita itu dengan Raka?
Aduh, aku mikir apa sih? Mau keduanya punya hubungan pun bukan urusanku.
Ayu dapat melihat dengan matanya, jika wanita di hadapannya itu memberikan tatapan memuja terhadap Raka. Berbeda dengan Raka sendiri, entahlah. Nampak seperti seseorang yang tengah menahan amarah.
Please, deh, Ay. Jangan sok tahu.
Ayu terlalu fokus dengan pikirannya sendiri, hingga tidak menyadari jika tatapan wanita itu berpindah kepada dirinya.
“Dia siapa?” tanya wanita itu.
“Calon istriku.” Jawab Raka tegas.
Singkat. Padat. Jelas.
Mungkin tiga hal mewakili jawaban Raka. Sontak wajahnya berpaling ke arah pria di sampingnya, dia pun sama terkejutnya dengan wanita yang ada dihadapannya sekarang begitu mendengar ucapan Raka.
Namun, wanita itu dengan cepat kembali menampakkan raut wajah biasa saja. Berbeda dengan Ayu yang masih terpaku di tempatnya.
“Oh, masih calon, kan? Belum resmi. Jadi, aku masih ada kesempatan untuk miliki kamu.”
Kini mata Ayu mengerjap mendengar ucapan wanita itu, yang entah kapan mulai mendekatkan tubuhnya ke Raka, tapi sebelum langkahnya semakin dekat. Raihan dan Prita datang bergabung bersama mereka.
“Ngapain, sih, si ulat keket ini di sini?” Raihan berkata dengan blak-blakan serta menunjukkan ketidaksukaannya terhadap wanita itu.
__ADS_1
Sama halnya dengan wanita tersebut menampilkan raut sebal karena kehadiran Raihan di sana, tapi mencoba tersenyum dan menyapa Raihan dan Prita meskipun terpaksa.
“Eh, pengantin baru. Selamat ya, untuk pernikahan kalian. Maaf aku nggak bisa datang waktu itu.”
“Memang siapa juga yang ngundang lo ke nikahan gue.”
Kontan saja wajah wanita itu sekita memerah karena malu karena beberapa orang yang tak jauh dari mereka juga ikut mendengar ucapan Raihan dengan jelas. Terlebih di sana ada Ayu.
Prita menyenggol lengan suaminya dengan sikutnya. Tapi Raihan mengabaikan terguran sang istri.
“Aish! Nggak perlu basa basi, deh. Mending lo minggir dan jauh-jauh dari kami.”
Raihan mengusir wanita itu dengan kasar.
“Sayang.” Prita mengelus punggung suaminya.
Meskipun wanita itu merasa malu dan marah atas perlakuan Raihan kepadanya, tapi dia tetap mencoba tetap tersenyum.
“Uh, okey. Aku juga mau pergi kok, tadi cuma menyapa my love saja—” Ujarnya kepada Raihan lalu memalingkan wajahnya ke arah Raka, “—aku senang banget bisa ketemu dan ngobrol sama kamu, meskipun hanya sebentar karena ada gangguan. Sampai jumpa lagi ya, love. Bye.”
Setelah mengucapkan itu, ia meninggalkan mereka.
“Mimpi apa gue, ketemu sama tuh, si ulat keket.” Gerutu Raihan.
“Sayang, sudah.” Prita berusaha menenangkan suaminya.
“Iya, aku tahu. Tapi, kan, itu sudah lama. Jadi sudah ya.”
Ayu masih mengamati interaksi Raihan dan Prita mengenai wanita itu.
Tak tahan dengan rasa penasarannya, Ayu melontarkan sebuah pertanyaan.
“Dia siapa?” tanya Ayu yang sedari tadi seolah tak terlihat oleh mereka.
Prita, Raihan dan Raka menatap Ayu yang sedikit terlupakan oleh ketiganya.
“Oh, sorry Ay. Aku lupa kalau ada kamu di sini—” ujar Raihan. Panggilannya berubah jadi aku-kamu, jika terhadap Ayu.
“—Dia itu wanita gila. Namanya Caroline, si ulet keket itu bahaya. Jadi kamu jangan dekat-dekat sama dia.” imbuh Raihan.
“Oke. Terus?” tanya Ayu masih penasaran.
Raihan menatap ke arah Raka.
__ADS_1
“Bro, lo saja yang jelasin. Gue mau cabut dulu, jadi nggak mood lagi karena ketemu sama si ulat keket tadi.” Menepuk pundak Raka.
“Ay, Raka. Kami pamit dulu ya.” Prita yang mengerti akan perasaan suaminya, segera berpamitan.
Setelah mengatakan hal tersebut, Prita menyusul suaminya yang kini sendang berpamitan untuk pulang lebih dulu.
“Kita juga pulang yuk,” ajak Raka.
Ayu hendak bertanya, tapi melihat ekspresi wajah Raka yang suram, diurungkan niatnya itu. Jadi dia hanya menganggukkan kepalanya pasrah tanda mengiyakan.
Sepanjang perjalanan pulang Raka hanya terdiam membisu.
Sedahsyat itukah efek kehadiran wanita yang bernama Caroline tadi? Lalu apa hubungannya keduanya.
Pikiran Ayu bertanya-tanya tentang apa hubungan wanita itu dengan Raka.
Dia mengehala napasnya, lalu menoleh ke arah Raka yang tengah berkonsentrasi menyetir mobil.
“Mas.”
Panggil Ayu memecahkan keheningan.
“Hmh.” Raka menjawab dengan gumaman.
“Bisa kita mampir dulu untuk cari makan?”
Raka menepuk dahinya sendiri, tadi memang di acara reuni keduanya belum sempat makan. Hanya minum saja.
Ya ampun, Raka. Kenapa bisa kelupaan gini. Bodoh banget sih.
“Kita cari makan apa ya?”
Melihat mood Raka yang sudah kembali seperti semula, Ayu mengusulkan untuk makan ayam geprek di persimpangan lampu merah tak jauh dari tempat mereka sekarang berhenti. Raka menyetujui hal itu. Sesampainya di sana, Ayu dan Raka segera memesan ayam geprek level sepuluh.
Melihat bulir keringat membasahi dahi Raka, Ayu mengambil tissue untuk melapnya. Raka yang tengah asyik makan mengehentikan suapannya. Tak sengaja tatapan keduanya bertemu.
“Neng, ini es tehnya maaf tadi kelupaan.” ujar sang pemilik tempat makan.
Ayu tersadar segera menjauhkan tangannya dari Raka. Memalingkan wajahnya ke arah penjual tersebut untuk menyembunyikan kegugupannya.
“Terima kasih, pak.”
Setelah mengatakan hal itu, Ayu melanjutkan makannya. Entah perasaannya saja atau memang Raka masih terus menatapnya. Ayu tidak berani untuk mengangkat wajahnya. Detak jantungnya juga berdegup semakin kencang.
__ADS_1
Sepertinya aku harus benar-benar pergi ke dokter besok, ada yang nggak beres sama jantungku.
...****...