Berbagi Cinta : DUA CINCIN

Berbagi Cinta : DUA CINCIN
Karma Rika


__ADS_3

...Part ini sudah direvisi....


...***...


Sudah dua bulan perceraian dengan Danu dan selama itu pula Rika hidup bersama dengan Daffa di apartemen milik pria itu.


Awalnya Rika masih terpuruk, karena tidak bisa menemui Raffi—putranya yang berusia kurang dari dua tahun. Setiap dia pergi ke rumah yang dulu ditinggali bersama Danu, rumah itu tampak begitu sepi. Rika mencoba mengamati dari kejauhan dan tetap saja tidak bisa bertemu anaknya, karena ternyata Danu tidak pernah pulang.


Rika pun berinisiatif mencoba datang ke rumah kediaman mantan mertuanya, dan hasilnya sama saja. Rika tidak mendapati keberadaan anaknya di sana, bahkan penjaga di sana mengusirnya dengan paksa atas perintah Danu.


Rika menangis setiap malam, karena begitu merindukan putra semata wayangnya tapi dirinya tidak bisa melakukan apapun.


“Rika!”


Tubuhnya terjengkit karena terkejut mendengar suara teriakan yang memanggil namanya, dengan tergopoh-gopoh mendatangi orang yang memanggil namanya itu.


“Ya, ada apa?”


“Tolong siapkan pakaianku, besok aku harus berangkat ke Bogor untuk urusan bisnis—” ujar pria itu dengan nada tegas saat memerintahkannya.


“—Dan jangan melakukan kesalahan, atau ada barang yang tertinggal. Jika tidak, jangan salahkan aku menghukummu.” Ancamnya.


“Ba-baik.” Rika menundukkan kepalanya karena takut, tubuhnya gemetar.


Setelah keperluan siap, Daffa pergi meninggalkan Rika seorang diri di sana. Wanita itu menghela napasnya lega, setidaknya selama satu minggu akan terbebas dari bayang-bayang Daffa.


Terkadang apa yang kita bayangkan, belum tentu bisa terjadi. Apa yang kita khayalan, tidak sesuai dengan kenyataan.


Mungkin kalimat tersebut sangatlah pas bagi Rika.


Dulu yang membuat Rika jatuh cinta kepada Daffa adalah pria itu merupakan sosok yang begitu romantis, memperlakukannya dengan sangat baik dan selalu bersikap manis.


Hingga dia mengkhianati pernikahan bersama Danu. Meskipun suaminya dulu memenuhi kebutuhan hidupnya, tapi awal-awal pernikahan mereka Danu selalu bersikap dingin kepadanya. Mungkin karena pria itu tidak mencintainya dan harus terpaksa menerima dirinya menjadi istri kedua karena pemaksaan dari ibu mertuanya.


Danu selalu bersikap masa bodo dan membiarkan Rika menghabiskan malam dingin seorang diri di dalam kamar. Terkadang membuatnya seolah tidak pernah ada dan hal itulah yang akhirnya membuat Rika tergoda untuk melakukan perselingkuhan dengan Danu.


Awalnya dia takut dan menyesal, tapi makin lama semakin tidak peduli. Rasa cintanya kepada Daffa semakin besar, kemudian dia merasa ada yang tidak beres pada tubuhnya setelah beberapa kali mual dan muntah beberapa waktu setelah melakukan hubungan itu beberapa kali bersama Daffa.


Hingga akhirnya dia memutuskan untuk membeli testpack. Dirinya positif hamil. Awalnya Rika begitu ketakutan dan ingin mengugurkan kandungannya. Namun dia berpikir ulang, bukankah Danu menikahinya karena ingin segera memiliki anak? Jadi dia memanfaatkan hal tersebut.


Mengatakan dirinya hamil kepada Danu dan yang terjadi berikutnya adalah segala perhatian Danu teralihkan sepenuhnya kepada Rika. Pria itu mengabaikan Ayu. Rika merasa senang. Namun dia terlalu serakah, hingga akhirnya apa yang dilakukan di masa lalu berbalik arah menyerangnya.


Ternyata Daffa tidak yang sebaiknya dia kira.


Mungkin dua minggu hidup bersama dengan Daffa, Rika sangat bahagia. Pria itu masih sama seperti yang dia kenal dulu, tapi hari berikutnya Daffa selalu pulang dalam keadaan mabuk dan terkadang membawa wanita ke apartemen miliknya. Pria itu selalu bergonta-ganti pasangan untuk memuaskan kebutuhan ranjangnya.


Memperlakukan Rika seperti pembantu dan jika Rika melakukan kesalahan, pria itu tak segan-segan akan memukulnya.


Pernah Rika marah dan menegurnya, yang dia dapatkan adalah tamparan keras di wajahnya yang diberikan oleh pria itu.


Kata-kata makin meluncur keluar dari mulut Daffa kepadanya. Bahkan tak segan Daffa menguncinya di kamar mandi semalaman tanpa memberikan makan dan minum, serta mencambuk tubuhnya menggunakan ikat pinggang.


Mengingat hal itu Rika sangat amat takut dan sedih. Bagaimana bisa hal itu terjadi kepadanya?


Apakah ini hukuman karena telah menyakiti Ayu dulu?


Apakah ini karmanya?

__ADS_1


Rika terus tergugu memeluk lututnya.


...***...


Rika terbangun dari tidurnya, setelahnya langsung merapikan dan membersihkan apartemen milik Daffa. Meskipun pria itu tidak ada di sini, tapi dia tetap melaksanakan tugas yang diperintahkan oleh pria itu karena jika tidak. Bisa dipastikan Daffa akan menghukumnya lagi.


Setelah selesai merapikan tempat tidur dan membersihkan apartemen, Rika ke dapur. Memeriksa kulkas, mempersiapkan bahan makanan untuk dimasak tapi tidak banyak yang tersisa. Rika mendesah.


“Sepertinya hari ini aku harus ke supermarket untuk belanja persediaan bahan makanan.”


Dirinya kembali menutup kulkas. Untungnya meskipun Daffa sering memperlakukan Rika tidak baik, setidaknya pria itu tidak membuatnya mati kelaparan di apartemennya karena Daffa selalu memberinya uang. Meskipun tidak sebanyak yang Danu berikan, setidaknya Rika bisa berbelanja kebutuhan sehari-hari.


Karena hanya ada telur dan mie instan, Rika memutuskan untuk memasak itu saja sebagai sarapan.


Setelah menghabiskan sarapan dan mandi, dia pergi ke supermarket terdekat di sana. Berbelanja sayur, bumbu dapur dan makanan kalengan.


“Ugh, berat.”


Dia melangkahkan kakinya pulang menuju apartemen Daffa.


Jika diingat lagi, hidupnya dari dulu selalu tidak beruntung. Memiliki keluarga yang gila akan uang dan rela melakukan apapun demi uang. Menyiksa Rika yang sudah menjadi yatim piatu karena ibunya sudah meninggal dunia sejak dia duduk di bangku SMA. Ayahnya yang entah di mana rimbanya.


Bibi dan pamannya selalu berlaku tidak adil. Pernah Rika akan dinikahkan dengan pria tua bau tanah, sebagai istri keempat. Untung saja dia bisa kabur. Meskipun hasilnya, dia harus menerima hukuman yaitu dipukuli habis-habisan karena membuat malu keduanya.


Untung saja saat itu dia bertemu dengan Bu Wati, wanita yang pernah menjadi ibu mertuanya itu tak sengaja bertemu dengan Rika. Hingga membuat hidupnya menjadi lebih baik, awal pertemuannya dengan mantan mertuanya itu adalah karena dia menolong Bu Wati ketika hampir kecopetan. Dari sanalah dia mengenal dan berhasil mengambil hati ibu mertuanya.


Ditawari menikah dengan anak laki-lakinya. Rika bahkan sempat terkejut, karena ternyata anaknya adalah pria beristri dan parahnya itu adalah suami dari kakak senior semasa kuliah dulu yang begitu dibenci oleh Rika. Ayu. Wanita yang selalu dianggap beruntung dan selalu menimbulkan rasa iri. Rika tidak mau melewatkan kesempatan itu, maka dengan senang hati ia menerima tawaran Bu Wati.


Rika kembali menghela napasnya. Menghapus keringat yang membasahi dahinya. Kemudian memasuki lift menuju lantai apartemen tempatnya tinggal.


Dari kejauhan Rika melihat seorang wanita berdiri di depan pintu apartemennya. Ia mengernyitkan alisnya.


Langkah kakinya semakin mendekat dan jika diperhatikan, wanita itu hampir seumuran dengannya. Dari raut wajahnya, Rika bisa melihat jika wanita itu merasa gelisah. Berjalan mondar-mandir di depan pintu apartemennya.


“Maaf, anda mencari siapa?” tanya Rika kepada wanita tersebut.


Wanita itu mengangkat wajahnya.


“Sa-saya mencari Daffa. Apakah Daffa ada?”


“Maaf, ada keperluan apa? Karena dia sedang tidak ada, Daffa sedang pergi ke luar kota.”


“Bohong! Kamu pasti bohong, Daffa pasti ada di dalam. Benar, kan?” wanita itu berkata dengan nada tinggi.


Rika sedikit terkejut mendengarnya.


“Saya tidak berbohong.” Rika mulai tersulut emosi.


“Daffa pasti ada di dalam. Dia pasti bersembunyi.”


Wanita itu masih keras kepala dan menganggap bahwa Rika berbohong.


“Saya tidak bohong, Daffa memang tidak ada di sini. Daffa keluar kota selama satu minggu.”


Tiba-tiba wanita itu jatuh terduduk dan menangis. Rika jadi semakin bingung.


“Hey, kamu kenapa?”

__ADS_1


“Bagaimana ini?” Wanita itu bertanya pada dirinya sendiri dan terlihat kebingungan, bahwa mulai terisak.


“Maksudnya gimana? Apakah ada yang bisa saya bantu?” Rika duduk berjongkok.


“Daffa, sa-saya harus ketemu sama dia. D-dia harus bertanggung jawab, karena sekarang saya hamil anak.” Ujarnya masih disertai isakan.


Jderrr!


Tubuh Rika lunglai tak bertenaga, dia jatuh terduduk. Tatapan matanya seketika kosong mendengar ucapan wanita di hadapannya.


...***...


Ceklek.


Daffa memasuki apartemennya, gelap. Tidak ada satupun lampu yang menyala.


“Sialan!” umpatnya.


Suasana hatinya sedang buruk, karena kedua orang tuanya terus berusaha menjodohkan dia dengan anak koleganya. Jika tidak mau, maka semua fasilitasnya akan dicabut dan saat sampai ke apartemennya, Rika semakin membuatnya kesal.


“Rika, Rika!”


Sunyi tak ada jawaban. Daffa mencoba meraba untuk mencari saklar.


Klik.


Lampu hidup, begitu dirinya berbalik dia mendapati Rika yang tengah duduk di sofa ruang tamu.


“Rika! kamu apa-apaan? Lampu mati dan aku panggil malah nggak jawab! Dasar sialan!”


Rika bangkit dari duduknya.


Plak!


“Brengsek! Sudah berani melawan rupanya.”


Tangan Daffa mencengangkan erat dagu Rika.


“Kamu adalah pria yang brengsek, Daff.” ujarnya dengan air mata yang meleleh.


“Kenapa? Apa salahku, nggak cukup kamu tidur dengan banyak wanita. Dan sekarang kamu menghamili wanita lain!” ujar Rika berteriak.


“Diam sialan!”


Plak!


Brukk!


“Argh...”


Rika tidak sadarkan diri, kepalanya menghantam pinggiran meja yang tajam.


Kemarahan Daffa hilang, begitu melihat Rika tidak sadarkan diri dan darah mengalir deras dari kepalanya.


“Rika, Rika bangun. Sial, sial, sial. Benar-benar sial!”


Daffa mengangkat tubuh Rika, dan segera membawanya ke rumah sakit.

__ADS_1


...****...


__ADS_2