
...Part ini sudah direvisi...
...***...
Setelah serangkaian hal yang terjadi di rumah tangganya bersama Rika, Danu dan istri keduanya itu akhirnya resmi bercerai.
Meskipun awalnya Rika menolak dan terus memohon kepadanya untuk mempertahankan rumah tangga mereka, terlebih tentang Raffi. Danu tetap teguh pada keputusannya.
Pria itu bahkan tidak hadir saat sidang cerai sidang pertama dan kedua, Danu hanya hadir saat pembacaan ikrar talak dilakukan.
Rika dipaksa untuk pergi dari rumah itu dan tidak diizinkan untuk bertemu dengan Raffi meskipun dirinya memohon kepada Danu.
Saat dia datang kembali, rumah tersebut sudah terlihat begitu sepi pun begitu dengan kediaman mertuanya.
Pada akhirnya Rika hanya bisa pasrah menerima semuanya.
...***...
Kabar mulai menyebar, bahkan media massa ikut terlibat. Saham perusahaan anjlok, meskipun hanya kurang lebih dua bulan Danu bisa mengatasinya. Selama dua bulan, Danu layaknya robot. Bekerjasama siang dan malam. Hingga kurang tidur. Penampilannya bagai mayat hidup. Lingkaran hitam di bawah matanya, tubuhnya semakin kurus, bulu halus yang menghiasi rahang karena sang pemilik tidak mencukurnya.
Asisten pribadi Danu masuk ke ruangan.
“Maaf saya masuk tanpa izin, Pak. Dari tadi saya mengetuk, tapi bapak tidak kunjung menjawab, saya pikir terjadi sesuatu.”
Danu menegakkan punggungnya.
“Maaf, saya tidak dengar. Tidak masalah, Fen. Kamu sudah lama menjadi asisten saya, hal seperti ini tidak akan membuat saya marah.” ujar Danu mencoba memaksa tersenyum.
Fenny—asisten pribadinya– menghela napas.
“Sampai kapan anda akan seperti ini?”
“Maksudnya?”
“Pak, mungkin saya sedikit lancang dan tidak sopan mengatakan ini, tapi saya prihatin terhadap kondisi anda. Tubuh anda bukanlah robot, jadi tolong beristirahatlah sejenak. Saya bawakan makanan untuk anda dan saya mau, anda memakannya sekarang juga.”
__ADS_1
Danu terkekeh melihat ekspresi wajah Fenny dan juga cara bicaranya yang tegas. Tidak heran jika banyak pekerjaan yang dilakukan dilakukan dengan cepat dan akurat.
“Rasanya sudah lama sekali saya tidak mendengar omelan kamu, bahkan bisa dikatakan saya merindukan omelan ini.”
Danu memutar kursinya menghadap ke arah jendela besar di belakangnya. Dia menatap nanar pemandangan di depannya.
“Dulu dia pun sama, selalu protes jika saya bekerja hingga lupa waktu.” ujar Danu dengan suara lirih.
“Mas, makan dulu.”
“Mas, awas jangan kebanyakan minum kopi. Nanti asam lambungnya kumat.”
“Mas, kerja jangan seperti robot. kamu juga butuh istirahat.”
Begitulah omelan-omelan setiap kali yang Danu dengar dari Ayu.
Fenny tahu siapa yang dimaksud oleh atasannya. Meskipun Danu memunggunginya, ia sangat tahu jika atasan sangat sedih.
Atasan itu memutar kursi menghadap kembali ke arahnya. Menatapnya dengan tatapan teduh.
“Terima kasih, kamu masih tetap bertahan selama ini. Dalam kondisi saya dan perusahaan yang sempat mengalami penurunan.” Ujar Danu tulus.
“Hal itu sudah menjadi tugas saya, jadi ... Tidak ada alasan untuk bapak melewatkan jam makan siang, karena kalau anda berharap bisa mengalihkan pembicaraan. Maka hal itu tidak akan terjadi.”
Danu tergelak tawa mendengar kalimat terakhirnya Fenny.
“Baiklah, saya akan makan.”
...***...
Sudah satu minggu Danu tidak pulang ke rumahnya. Hanya Bi Ijah dan beberapa pekerja saja yang ada di sana, mungkin sebentar lagi dia akan menjual rumah itu karena seluruh sudut rumah ini mengingatkan Danu akan sosok Ayu. Semua kenangan indah bersama dengan istrinya dulu.
Setiap pulang dari kantor, Ayu yang lebih dulu sampai akan mempersiapkan semua keperluan Danu. Menyambutnya dengan senyuman di depan pintu. Mencium tangannya dan membawakan tasnya. Tanpa sedikitpun mengeluh lelah, padahal Ayu sendiri pun sibuk bekerja.
Danu memasuki rumahnya, tas yang tadi di tangannya sudah berpindah ke tangan Bi Ijah.
__ADS_1
“Air panasnya sudah saya siapkan, Tuan.”
Danu hanya menjawab dengan anggukan kepala. Melepaskan dasi yang melilit di lehernya. Kemudian menjatuhkan dirinya di sofa ruang keluarga yang empuk. Dia mengusap wajahnya pelan, padangan matanya menyapu seluruh ruangan.
Dulu rumah ini selalu dipenuhi dengan tawa dan kebahagiaan, tapi kini terlihat begitu sunyi. Dia bangkit, dengan langkah gontai menuju ke kamarnya, kamar yang dulu dia dan Ayu tempati.
Semenjak pernikahan dengan Ayu gagal, sudah lama sekali dia tidak memasuki kamar ini. Perlahan kini kakinya melangkah masuk, matanya mengamati setiap inci sudut kamar yang dulu biasanya menjadi tempatnya melepas penat, melakukan hal-hal indah bersama Ayu.
Menghabiskan malam-malam indah bersama Ayu. Saling bercerita tentang kegiatan hari yang mereka lewati.
“Mas, air sudah aku siapkan. Kamu mandi dulu ya.”
“Mas, makan dulu.”
“Mas, kamu pasti capek. Sini Aku pijat.”
Semuanya tinggal kenangan, menguap bagai embun pagi yang terkena sinar matahari.
Danu menghapus sudut matanya yang terasa basah.
“Mas, Ayu kangen.”
Istrinya pernah mengatakan hal itu dulu, tapi dia hanya menganggapnya sebagai candaan. Merasa hal itu sedikit berlebihan.
Membayangkan Ayu menghabiskan malam dingin di kamar ini sendiri membuat Danu tergugu.
Hatinya kembali sakit saat sia mengingat tatapan mata istrinya, ada raut kecewa dan sedih ketika Danu menuduhnya berselingkuh.
“Tapi, aku tidak melakukannya. Aku mohon percayalah padaku.”
Tapi Danu yang dikuasai amarah tidak ingin tahu semua itu. Tidak memercayai perkataan istrinya, hanya perkataan Rika yang dia dengar. Padahal Ayu-lah yang terluka sebenarnya.
“Akh, bodoh, bodoh!”
Runtuh sudah pertahannya. Danu menangis, dan murka atas ketololannya yang telah salah menilai sosok istrinya sendiri dulu.
__ADS_1
“Aku benar-benar bodoh! Maafkan aku, maaf ....” ujarnya dengan suara lirih
...****...