
...Part ini sudah direvisi....
...***...
“Bagaimana kondisi adik saya dan bayi yang ada di dalam kandungannya, dokter?”
“Nyonya Ayu mengalami sedikit dehidrasi, kelelahan dan ada beberapa memar di tubuhnya. Yaitu pada wajah, kaki dan tangannya karena terkena pukulan benda tumpul. Sedangkan kondisi kandungan tidak dalam keadaan baik-baik saja, detak jantung dan kondisi lain bayinya.”
Raihan menyimak dengan serius.
“Tapi Tuan,” Dokter itu sedikit ragu mengatakannya.
“Ya, ada apa?” Perasaan Raihan tidak keruan setelah melihat ekspresi muram di wajah dokter tersebut.
“Mungkin ini yang akan memakan waktu lebih lama. Jika hal seperti yang Tuan ceritakan tadi, makan kondisi psikologis Nyonya Ayu yang perlu kita khawatirkan.”
“Maksud, dokter?”
“Nyonya pasti akan mengalami trauma atas kejadian yang menimpanya dan itu akan memakan waktu lebih lama. Jadi saya harap, setelah Nyonya sadar. Keluarganya harus tetap berada di sampingnya dan mencoba untuk tidak membicarakan hal yang sudah terjadi hingga membuat kondisi Nyonya semakin memburuk dan itu akan berdampak terhadap kondisi anak yang tengah dikandungnya.”
Raihan mengangukkan kepalanya pelan.
“Terima kasih, dokter.” Ujar Raihan.
Sedangkan Raka hanya diam membisu dengan wajah tanpa ekspresi apapun, tapi justru itu yang membuat Raihan semakin khawatir. Dia tahu, hal itu menandakan jika Raka tidak dalam kondisi yang baik-baik saja. Ketenangan sebelum badai datang dan badai itu akan memporak porandakan segala yang dilewati.
Raihan terlalu mengenal baik sahabatnya itu, karena sudah sedari SMA hingga sekarang keduanya bersahabat. Sialnya keluarga Prayoga memilih lawan yang salah untuk mencari masalah, terutama Caroline. Mungkin orang lain berpikir jika Raka sulit untuk bersosialisasi, karena pendiam atau terkesan dingin. Tapi orang lain tidak ada yang mengenal Raka seperti Raihan, bahkan mungkin bunda Lia pun tidak mengenal anaknya dengan baik.
Raka bukanlah orang yang gampang menggunakan tangannya demi membalas perbuatan orang yang sudah menyakitinya. Namun, ketika hal fatal terjadi kepada seseorang yang dia sayangi dan dicintainya. Raka tidak segan untuk melakukan hal yang membuat pelakunya tak berkutik atau bahkan lebih dari itu.
Terlebih Caroline, wanita gila itu sudah diperingatkan berkali-kali. Namun, obsesinya untuk memiliki Raka ternyata membuatnya lupa jika pria ini sama seperti singa yang mengincar mangsanya dalam diam. Karena jika sudah tertangkap, maka dia akan mencabik-cabik hingga daging mereka terkoyak.
Raihan sendiri sudah membayangkan hal apa yang akan terjadi kepada Prayoga Grup. Hancur. Itu salah satu kata yang tepat. Namun, Caroline. Entahlah, Raka tidak bisa berekspetasi karena hal itu membuatnya bergidik ngeri.
Raka mencintai Ayu. Sangat. Hal itu terlihat saat keduanya pertama kali bertemu, saat Ayu datang ke rumah Raihan. Itu terjadi saat Ayu baru saja masuk universitas yang sama dengan mereka. Hingga Raka sempat patah hati, karena Ayu menikah dengan orang lain.
__ADS_1
Namun tak berlangsung lama, rumah tangga Ayu kandas karena suaminya berkhianat dan sekarang, setelah semua yang mereka lalui untuk bersama hingga ke jenjang pernikahan serta kehamilan Ayu. Bencana ini datang.
Raihan hanya berharap agar sahabat dan adik sepupunya bisa melewati ini semua. Terutama Raka, pria itu pasti tidak hentinya menyalahkan dirinya sendiri dengan apa yang terjadi kepada Ayu dan bayi mereka.
“Gue ke luar dulu, untuk urus semua administrasi. Sama beli minum, lo juga harus makan. Kalau Ayu sudah bangun, pasti dia juga bakalan ngomel-ngomel karena gue ngebiarin suaminya kelaparan.”
Raka tersenyum. Ajaib, bukan. Raihan bahkan sampai mengucek matanya karena tidak percaya dengan apa yang dia lihat barusan. Namun senyum itu tidak lama, wajahnya berubah menjadi kemuraman.
“Aku harap begitu.” Ujarnya lirih
Kemudian berubah menjadi datar.
“Biarkan mereka merasakan lebih dari ini dan untuk wanita itu biar aku sendiri yang mengurusnya. Kamu tahu maksudku kan, Rai.” Dengan senyum terulas di bibirnya, tapi berbeda dengan senyum yang pertama tadi.
Sial! Kenapa gue harus lihat senyum dia yang ini lagi sih?
“Baiklah.”
Raihan pasrah. Mungkin bagi orang lain saat melihat Raka tersenyum seperti tadi merupakan hal yang mereka tunggu, karena ketampanannya akan bertambah. Para wanita akan langsung terpesona, tapi tidak bagi Raihan. Hal itu justru membuat tengkuk lehernya tiba-tiba dingin.
...***...
Jagat hiburan dan dunia bisnis begitu gempar, dana gelap serta korupsi yang dilakukan oleh Prayoga Grup mencuat kepermukaan. Seluruh orang yang terlibat di dalamnya ditangkap polisi, kasus lain seperti pelecehan seksual terhadap pegawai dan kekerasan yang dialami beberapa orang diusut kembali, meski sempat ditutupi dan lebih membuat masyarakat mual serta jijik anak dan keponakan Tua Roy, terlibat skandal yaitu pesta ****, pesta narkoba. Perselingkuhan dengan pengusaha lain serta affair yang dilakukan sesama saudara ipar.
Terlebih sorotan kamera yang terus menyoroti perihal keterlibatan Caroline, dia merupakan dalang utama penculikan dan perencanaan pembunuhan terhadap istri dari CEO LAVIAS, menjadi trending topik. Baik di televisi dan kolom pencarian di media sosial.
Caroline dianggap memiliki kelainan mental atau gila, maka dari itu. Wanita tersebut dirawat di rumah sakit jiwa ternama di Amerika.
Hancur, kata yang tepat untuk seluruh anggota Prayoga Grup. Dan Raihan tahu siapa dibalik itu semua. Raka, Sahabatnya.
Seluruh keluarga besar Ayu dan Raihan, bahwa terkejut. Meskipun mereka tahu apa yang sudah terjadi, tapi tidak menyangka akan melihat dan mendengar kehancuran Prayoga Grup secepat itu.
Ayu sudah sadar, dia menjalani serangkaian tes untuk keadaan psikologisnya. Meskipun wanita itu berkata, baik-baik saja. Namun, hampir dua minggu selalu bangun di tengah malam karena bermimpi buruk. Raka lebih overprotektif, tapi tak begitu kentara. Ke manapun Ayu pergi, diam-diam orang suruhan Raka selalu mengikutinya. Karena Raka tahu, Ayu tidak akan menyukai hal itu.
Raka mengundang Prita dan beberapa pegawai yang dekat Ayu serta anak-anak panti asuhan untuk membuat Ayu lebih cepat melupakan kejadian yang menimpanya. Bunda Lia—mertuanya– hampir dua puluh empat jam berapa di samping Ayu. Supir dan seluruh pekerja rumah pun tak kalah ikut serta mengawasi Nyonya mereka.
__ADS_1
...***...
Sedangkan di sudut kamar yang gelap seorang wanita meringkuk. Setiap hari dirinya diliputi rasa takut dan penyesalan yang teramat sangat.
Terdengar langkah kaki yang semakin mendekat, kemudian pintu kamarnya dibuka.
“Tuan,” pria dengan pakai putih membungkukkan tubuhnya kepada seorang yang mengenakan jas hitam di depannya.
Tubuh wanita itu beringsut semakin rapat dengan tembok, ketika pria di hadapannya semakin mendekat.
Iblis. Sosok yang tepat untuk menggambarkan pria yang ada di hadapannya. Entah apa yang pria itu perintahkan kepada orang-orang yang berada di sana, hingga hampir setiap hari tubuhnya menerima suntikan obat-obatan yang entah apa gunanya, tapi yang dia tahu adalah setiap hari pikirannya semakin kacau. Dia seringkali mengalami gangguan tidur, melihat hal-hal aneh dan tidak masuk akal. Seperti monster-monster atau hal-hal mengerikan lainnya.
“Aku sudah memperingatkannu, tapi wanita sepertimu memang bebal. Kamu sudah menyakiti wanita yang aku cintai dan bayiku. Kamu sudah lihat bagaimana caraku menghancurkan keluargamu dan juga dirimu, jadi nikmatilah sisa hidupmu di sini.” Ujarnya disertai seringai yang terlihat semakin mengerikan.
Tubuh Caroline bergetar, dia begitu menyesali perbuatannya dan berpikir mengapa obsesinya untuk memiliki pria itu membuatnya lupa.
Sosoknya adalah iblis bertopeng manusia yang berwajah tampan. Caroline menangis terisak, karena mengingat perkataan pria tadi. Entah apa yang sudah terjadi kepada keluarganya, dan bagaimana nasibnya nanti. Dia sendiri sudah putus asa, meskipun beberapa sempat ingin mengakhiri hidupnya. Caroline selalu gagal, karena selama dua puluh empat jam orang-orang suruhan pria tadi selalu mengawasinya.
“Jangan biarkan wanita itu tenang dan jaga dia. Jika sampai dia kabur, maka kalian yang akan menanggung akibatnya.”
Setelah mengatakan hal itu, pria tersebut menjauh. Meninggalkan Caroline di sudut kamar yang gelap dengan tubuh yang masih gemetar.
Raihan masih mengurusi segala macam pekerjaan di kantor utama Raka, untuk sementara Raihan lah yang menggantikan Raka. Mengambil alih semua pekerjaan itu, hingga dia hampir melupakan insiden yang terjadi. Kabar terakhir yang Raihan dengar mengenai Prayoga Grup adalah perusahaan utama dan anak perusahaan yang dinaungi oleh Prayoga Grup telah diakuisisi oleh LAVIAS, Tuan Roy masuk rumah sakit karena mengalami serangan jantung dan stroke.
Sedangkan mengenai Caroline yang berada di rumah sakit jiwa, jika wanita itu semakin menggila. Setiap hari tertawa sendiri, kemudian berteriak untuk memohon ampun. Entah kepada siapa. Raihan tidak ingin mencari tahu lebih dalam, karena dia sendiri sudah tahu siapa yang membuat wanita gila itu tampak begitu menyedihkan.
...****...
...Gimana, gimana? Kurang seru ya? tenang, masih panjang kok. Ada beberapa part lagi sebelum cerita ini tamat dan aku akan berfokus untuk cerita berikutnya, maaf jika ceritaku terkesan membosankan. Aku cuma nggak suka menulis cerita yang hampir nggak masuk akal dan mengandung calog alias cacat logika....
...Jika ada kritik serta saran dari para pembaca, aku akan terima karena masukkan dari kalian juga sangat penting bagiku untuk membuat karyaku berikutnya semakin lebih baik....
...Jangan lupa untuk klik tombol LIKE dan LOVE ya~...
...Love ❤️...
__ADS_1
...Zii...