Berbagi Cinta : DUA CINCIN

Berbagi Cinta : DUA CINCIN
Ayu Melahirkan


__ADS_3

...Part ini sudah direvisi...


...***...


“Saya tidak menyangka sama sekali, jika Anda adalah pemilik LAVIAS. Mengingat yang saya temui saat di Yogyakarta adalah orang yang berbeda.”


Raka tersenyum kecil mendengar perkataan pria di hadapannya.


“Raihan adalah sahabat, sekaligus wakil saya di LAVIAS.”


Edgar menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


“Ini pertama kalinya kita bertemu secara resmi, atau mungkin kedua kalinya.”


Raka menaikkan alisnya sebelah.


“Oh ya, maaf saya tidak ingat.”


“Wajar jika Anda tidak mengingatnya, tapi mungkin pertemuan pertama kita di Yogyakarta memang tidak memberikan kesan yang menyenangkan bagi Anda.”


“Sekali lagi saya minta maaf atas kelancangan adik saya.”


Raka tersenyum. “Tidak masalah, saya bahkan sudah melupakan hal itu.”


“Saya juga sempat mendengar insiden yang terjadi yang menimpa keluarga anda dan turut prihatin atas peristiwa yang terjadi kepada Nyonya Ayu. Dan sungguh amat sangat disayangkan, ternyata Prayoga Grup harus berakhir seperti ini. Namun, saya setuju dengan tindakan Anda. Apa yang sudah menjadi milik kita, tidak boleh diganggu oleh orang lain. Bukankah benar begitu?”


Raka menjawab dengan senyuman tanda mengiyakan perkataan pria di hadapannya.


“Bagiamana kabar Nyonya sekarang? Maaf saya tidak menjenguk istri Anda, karena saya baru pulang dari Paris setelah menghadiri pernikahan adik sepupu saya.”


“Tidak apa-apa, saya bisa mengerti hal itu dan terima kasih sudah bertanya, istri saya baik-baik saja. Dia juga sudah pulang dari rumah sakit dua hari yang lalu.”


“Syukurlah, saya turut senang mendengarnya.”


“Baiklah Tuan Raka, bagaimana jika sekarang kita membicarakan pekerjaan. Saya sudah mengecek berkas tentang pengembangan mega project perumahan terbarunya di Kota Yogyakarta. Tema arsitektur saya sangat menyukainya. Jika bertanya kualitas bangunan, saya percaya jika LAVIAS tidak dapat diragukan lagi.”


“Terima kasih atas pujian dan kepercayaan Anda, Tuan Edgar.”


“Saya tidak sabar untuk melihat langsung rumah-rumah ini berdiri dan sebelum pembangunan ini dimulai. Saya sudah mengadakan pesta, saya harap Tuan Raka bisa hadir.”


“Terima kasih atas undangan Anda, tapi sepertinya jika dalam waktu dekat ini saya tidak bisa. Karena istri saya akan segera melahirkan.”


“Oh, tidak masalah. Masih ada kesempatan di lain waktu, saya berharap Anda dan Nyonya Ayu bisa hadir dan bisa makan malam.”


Keduanya kemudian membicarakan bisnis yang tengah berkembang dan juga hal-hal lain. Awalnya Raka menilai, jika Edgar adalah orang yang angkuh dan seenaknya. Mengingat kejadian ketika di Yogyakarta, bagaimana pria itu membela wanita yang sudah berlaku kurang ajar kepada Raka. Wanita yang tidak lain adalah adik dari Edgar.


Namun, setelah mengobrol beberapa saat. Penilaian Raka berubah, Edgar memang seorang yang perfeksionis jika menyangkut pekerjaan. Namun hangat jika hal yang berhubungan dengan keluarga. Beberapa kali Edgar juga menceritakan tunangannya, mereka berbicara perihal wanita dan hobi. Edgar juga begitu menyenangkan, dia tahu batasan di mana hal yang menyangkut privasi. Dan Raka sangat suka itu, natural tanpa dibuat-buat. Sama seperti saat da mengobrol dengan Raihan.


Saat keduanya tengah berbincang, ponsel Raka berbunyi. Raka mendapati nama ibunya tertera di layar ponsel.

__ADS_1


“Maaf, ada panggilan masuk. Saya permisi sebentar untuk menerima panggilan ini.”


“Silakan, Tuan”


“Mas, istrimu mau melahirkan. Ini bunda sudah di Rumah Sakit Vilton, tadi waktu di rumah Ayu ngeluh perutnya kontraksi. Nggak tahunya sampai rumah sakit sudah mulai pembukaan dua.” Ujar Bu Lia kepada Raka.


“Baik, Bund. Raka segera ke sana”


Raka kemudian mengakhiri panggilannya. Hatinya sedikit was-was dengan keadaan Ayu.


Edgar yang melihat perubahan Raka, kemudian bertanya.


“Tuan Raka, ada apa? Apakah ada sesuatu yang urgensi?”


Raka bangun dari kursinya.


“Maaf Tuan Edgar, saya harus segera pergi ke rumah sakit karena istri saya akan segera melahirkan.”


“Ah, iya. Tidak apa-apa, saya harap istri dan bayi Anda sehat dan selamat untuk Anda, sebentar lagi akan menjadi seorang ayah.” Edgar berkata dengan tulus.


“Terima kasih, saya permisi.”


Raka keluar dari restoran dan mengatakan kepada supirnya untuk segera ke rumah sakit tempat Ayu berada.


...***...


“Bagaimana keadaan Ayu, Bund?”


“Iya, Bund.”


“Mas, kamu sudah telpon mertuamu?”


“Sudah, tadi saat dijalan menuju ke sini Raka sudah mengabari Ayah dan ibu. Raihan juga, jadi mungkin sebentar lagi mereka akan.”


“Bagus, sekarang tinggal kamu yang beri dukungan sama istrimu. Sana gih, masuk. Ayu pasti juga nungguin, tadi dokter bilang kalau sudah pembukaan enam.”


“Kalau gitu, Raka masuk dulu ya Bund. Raka minta doanya untuk Ayu dan anak Raka.”


“Iya, Bunda berdoa semoga keduanya sehat dan selamat.”


Raka kemudian mengecup pipi Bu Lia. Saat di dalam ia melihat istrinya yang tengah gelisah dan menahan sakit.


“Hei, sayang. Maaf ya, tadi aku nggak di rumah.” Raka membelai lembut rambut Ayu dan mengecup keningnya.


“Nggak apa-apa, Mas. Sebentar lagi kita ketemu sama dia.” Ayu tersenyum meskipun sedang kesakitan.


Raka melihat dokter dan tim persalinan yang menangani Ayu ada di sana sedang menyiapkan beberapa perangkat medis serta obat-obatan dan keperluan melahirkan.


Sesekali Ayu meringis, karena menahan sakit. Keringat membasahi dahinya, Raka dengan telaten menyeka keringat istrinya. Kemudian Ayu merasa haus dan meminta minum, dokter mendekat untuk memeriksa keadaan Ayu.

__ADS_1


“Saya cek dulu ya, Nyonya.”


Dokter mengecek detak jantung bayi dan tensi darah Ayu serta jalan lahir. Setelah mengecek, ternyata sudah pembukaan sempurna, Ayu siap melahirkan dan dokter memberikan aba-aba kepada Ayu untuk mengejan.


meskipun sempat hampir kehabisan tenaga, Ayu berusaha untuk mengatur napasnya. Ia bersemangat karena sebentar lagi akan bisa memegang bayinya. Raka yang melihat hal itu merasa ngilu, ia tidak tahu jika ternyata melahirkan benar-benar bagaikan diantara ambang hidup dan mati.


Melihat Ayu yang tengah kesakitan, Raka berjanji kepada dirinya sendiri. Akan terus mencintai Ayu dan berdoa semoga mereka selalu bersama selamanya.


Hampir tiga puluh menit berlalu, kemudian tangis suara bayi terdengar. Bayi berjenis kelamin laki-laki, dengan berat 3,2 kg serta panjang 52cm memiliki rambut yang lebat. Raka pertama kali melihatnya langsung menetes air mata bahagia.


“Terima kasih, sayang. Terima kasih sudah berjuang demi putra kita.” Raka mengecup kening dan pipi Ayu.


Bayi itu kemudian ditaruh di atas dada Ayu agar bisa melakukan inisiasi menyusui dini (IMD).


Setelah IMD selesai, serta serangkaian pemeriksaan lainnya. Ayu dan bayinya di pindahkan ke dalam kamar pasien. Ketika keluar dari ruangan bersalin, Raka dan Ayu disambut oleh keluarga mereka.


Semua langsung antusias begitu melihat Raka dan Ayu keluar dari ruangan bersalin, Bu Lia tersenyum melihat keduanya. Bu Ningrum sempat khawatir dengan keadaan putrinya kini merasa lega begitu melihat Ayu yang tengah tersenyum ke arahnya.


“Wah, Gavin ada teman main sekarang ya.” ujar Raihan.


“Sudah ada namanya, Ay?”


“Sudah mbak, Papinya yang kasih nama.”


“Duh, panggilan beda. Papi, mami, sekarang...” goda Raihan.


“Mas, jangan mulai deh ....”


Raihan nyengir mendapatkan teguran istrinya.


Sedangkan Raka dan Ayu hanya geleng-geleng, keduanya sudah terbiasa dengan kejahilan Raihan.


“Aduh cucu Oma ganteng banget sih,” Bu Lia merasa gemas dengan cucunya.


“Ayu ngantuk? Istirahat dulu ya, pasti capek. Ibu sama Ayah juga pulang dulu, besok ke sini lagi. Soalnya nggak baik kalau rame-rame gini, kasihan Ayu juga.” ujar Bu Ningrum.


“Mas, jagain istri dan anakmu ya. Nanti cari baby sitter untuk bantu-bantu, sementara sebelum Ayu pulih. Nggak boleh kecapean, pokoknya.”


“Iya Bund, Raka ngerti.”


Setelah kepergian ketiga orang tuanya dan juga Raihan beserta istrinya, Ayu dan Raka kini tinggal bertiga saja di ruangan itu.


“Sayang kamu istirahat dulu, ya. Pasti capek banget kan, kalau mau apa-apa kasih tahu aku ya."


“Iya Mas. Mas juga sama, harus istirahat. Kalau nanti capek nggak ada yang jagain aku dan Naresh.”


“Iya, selamat malam Sayang. I love you.”


“Malam, love you too.”

__ADS_1


Tak lama Ayu terlelap. Raka memperhatikan wajah istrinya, kemudian melihat ke arah anaknya yang begitu nyenyak dalam tidurnya. Raka begitu bahagia, dia berharap semoga kebahagiaan selalu menyertai keluarga kecilnya.


...****...


__ADS_2