
...Part ini sudah direvisi...
...***...
Pagi ini setelah selesai rapat membahas mengenai kerjasama dengan perusahaan Danu, Raihan segera ke ruangan Danu untuk membicarakan hal yang mereka alami tadi malam.
“Gue nggak habis pikir, ngapain coba ada orang kurang kerjaan kirim paket isinya surat teror.” Raihan berujar dengan kesal.
“Kamu sudah dapat informasi dari penjaga di rumah?” tanya Raka.
Raihan menggelengkan kepalanya.
“Belum, sejauh ini mereka masih mencoba mencari tahu.” jawabnya.
Raka mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya.
“Rai, apa nggak sebaiknya kamu segera pindah ke rumah kalian yang baru atau tinggal lebih dulu di rumahku?” Usul Raka.
“Rencananya gue sama keluarga mau pindah setelah Prita lahiran gitu, tapi kalau dipikir-pikir. Kami lebih baik pindah sekarang, selain ruang lingkup perlindungan keamanan untuk istri dan anak-anak lebih aman. Juga biar gue bisa fokus untuk cari tahu siapa pelakunya, karena perasaan gue bilang. Pelakunya nggak akan berhenti di sini saja.”
“Aku juga berpikir seperti itu. Ini bukan iseng, karena pelakunya sempat terekam kamera CCTV. Mereka sepertinya sudah merencanakan ini–” Menopang dagu dengan kedua tangannya.
“—Aku sudah memerintahkan kepada beberapa penjaga untuk mengawasi Ayah dan Ibu mertuaku. Kamu pun seharusnya sama, Rai.” Lanjut Raka.
“Sudah gue lakukan waktu dapat teror paket itu.”
Drttt ... drttt ....
Ponsel milik Raka bergetar karena ada panggilan masuk.
“Halo, Tuan.” suara diseberang sana menyapa.
“Ya?”
“Barusan ada kurir yang mengirimkan paket, kami sudah mengeceknya dan sini tertulis atas nama Nyonya Ayu sebagai penerima, tapi saya belum melakukan konfirmasi kepada Nyonya. Hanya saja paketnya agak sedikit mencurigakan, Tuan. Rudolf menggonggong ketika kurir tadi mengirimkan paket ini.” jelasnya.
Rudolf merupakan anjing penjaga yang sengaja dipelihara oleh Raka setahun yang lalu semenjak kejadian penculikan Ayu terjadi.
“Lalu, apa sudah kalian lihat apa isinya?”
“Belum, Tuan. Kami ingin meminta izin Anda lebih dulu.”
“Buka saja, jika memang ada yang aneh. Kamu foto dan kirimkan ke saya, jangan sampai Nyonya tahu.” Perintah Raka.
“Baik Tuan, selamat siang.”
Klik.
Raka mengakhiri panggilannya.
“Kenapa, paket lagi?” tanya Raihan.
Raka mengangukkan kepalanya mengiyakan pertanyaan Raihan.
Raka menunggu pesan dari security-nya. Tak lama kemudian ponselnya kembali bergetar karena ada pesan yang masuk.
Scurity
Tuan, paket tersebut berisikan bangkai kelinci.
Raka menggenggam erat ponsel di tangannya. Tanpa membalas pesan yang masuk, Raka melihat ke arah Raihan.
“Rai, sebaiknya malam ini kamu dan keluargamu pindah. Untuk urusan barang kalian, kita berdua saja yang urus dibantu pelayan.”
Raihan langsung mengerti maksud Raka dan menganggukkan kepalanya.
...***...
Ayu tengah bermain bersama dengan anaknya di taman komplek sore hari. Kebetulan besok weekend. Cuaca hari ini bagus, ada beberapa anak-anak yang juga ikut bermain bersama para pengasuh mereka.
Kebetulan taman komplek memang dibuka untuk umum, jadi ada beberapa anak yang memang dari perumahan KPR yang baru dibangun tepat berbatasan dengan perumahan tempat Ayu tinggal bermain di sana.
Ayu pun sejak tadi mengawasi anaknya yang tengah asyik bermain perosotan lalu ada mobil es krim keliling. Semua anak berlarian untuk membelinya, termasuk anaknya Ayu.
Namun saat hendak menyeberang bersama dengan pengasuhnya, ada pengendara sepeda yang melaju sangat kencang dan hampir saja menabrak anak-anak yang lewat.
__ADS_1
Semua orang yang melihat menjerit bersamaan, karena terkejut beberapa anak ada yang menangis. Tanpa meminta maaf, pengendara sepeda tadi pergi begitu saja.
Ayu yang melihat hal itu langsung berlari menghampiri anaknya.
“Jagoan Mama ada yang sakit? Kaget, ya. Kak Nina, tolong telpon supir untuk jemput ya. Kak Nina juga pasti kaget, kita ke sana dulu ya.” Ujar Ayu menunjuk kursi taman di bawah pohon.
Pengasuh anaknya hanya menganggukkan kepalanya. Wanita muda itu juga tampak masih syok dengan apa yang terjadi barusan.
Ayu menggendong anaknya. Mengelus punggung Naresh perlahan.
Tak lama supir mereka datang menjemput. Ayu menyuruh Nina untuk duduk di kursi penumpang di samping supir, sedangkan Ayu di belakang bersama dengan anaknya.
Saat tengah membelai kepala anaknya, ponsel Ayu bergetar karena ada pesan yang masuk dari nomor baru.
+62 896-3650-xxxx
Hari ini mungkin hanya kejutan dengan sepeda, kalau besok mungkin kejutannya dengan mobil. Jadi, hati-hati saat menyeberang jalan.
Ayu mengeryit terheran, karena tidak mengerti maksud dari pesan itu. Dia berpikir siapa pengirim pesan iseng ini? Pikirannya terus diliputi pertanyaan itu hingga mereka pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, Ayu memerintahkan kepada pengasuh anaknya untuk membersihkan diri dan Ayu sendiri yang akan mengganti pakai anaknya. Selesai berganti pakaian, Ayu memerintahkan agar anak duduk menonton televisi saja. Sedangan dia sendiri pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya sendiri.
Setelah berganti pakaian, Ayu mendengar suara ribut-ribut di halaman depan rumahnya. ia segera berlari ke luar kamar, karena teringat dengan anaknya yang tadi berada di ruang keluarga. Perasaannya tidak enak, meskipun anaknya bersama pengasuhnya.
“Kak Nina ada apa? kok di depan ada ribut-ribut.”
Ayu bisa melihat ketakutan di mata pengasuh anaknya. Nina juga memeluk erat tubuh Naresh.
“I-itu Nyonya, ada yang lempar batu. Terus kena lampu taman depan, jadi pecah. Tadi pelakunya lagi di kejar, sekarang nggak tahu.”
Ayu langsung memerintahkan kepada Nina, agar membawa anaknya ke dalam kamar. Ayu melangkahkan kakinya ke teras depan.
Baru saja Ayu hendak melangkahkan kakinya ke depan rumah. Pintu gerbang di buka, ada mobil masuk. Raka suaminya dan juga mobil Raihan, sepupunya.
Begitu Raka turun, Ayu menyambut kedatangan suaminya. Menyalimi dan mengambil tas Raka. dia juga melihat Raihan, Prita dan juga keponakannya.
Ayu tidak bertanya apapun, dia hanya mempersilakan masuk. Raka memerintahkan kepada dua asisten rumah tangga di sana untuk menyiapkan kamar dan Ayu menyiapkan makan malam dibantu asisten rumah tangga lainnya.
Saat makan malam tidak ada obrolan di antara mereka, hanya sesekali para orang dewasa itu meladeni pertanyaan dari anak-anak mereka. Setelah selesai makan, Raka dan Raihan memerintahkan kepada para pengasuh membawa anak-anak mereka untuk bermain bersama di ruang bermain.
Kini tinggal mereka bertiga saja yang kini duduk di ruang keluarga, sedangkan Raka sedang menerima telepon.
“Iya, apa kehamilan Mbak Prita ada masalah?” Ayu bertanya dengan wajah cemas ke arah Prita, kemudian dijawab dengan gelengan kepala oleh Prita.
“Alhamdulillah sih, nggak ada apa-apa sama mereka berdua ini, Ay. Cuma memang ada masalah lain.”
“Apa masalah teror, Mas?” Ayu mencoba menebak.
“Kamu tahu? Berarti Raka sudah cerita sama kamu perihal teror itu.”
“Mas Raka belum cerita apa-apa sama Ayu, Mas.” jawab Ayu.
Raihan mengeryit keheranan, jika bukan Raka lalu siapa yang memberitahu adik sepupunya ini. Bukankah para penjaga sudah diperintahkan untuk merahasiakan hal ini dari Ayu.
Baru saja hendak hendak bertanya, Raka datang bergabung dengan mereka.
“Orang-orang itu buat teror lagi, tadi sore sebelum kita datang ada yang lempar batu dan kena lampu taman. Waktu mau dikejar, mereka kehilangan jejak karena lampu merah.” Jelas Raka.
“Sial, mereka sengaja buat orang rumah cemas.” Umpat Raihan.
“Itu sebenarnya nggak jadi masalah buat aku, tapi kejadian sore tadi waktu di taman yang benar-benar buat aku takut.” ujar Ayu.
Ayu kemudian menceritakan kejadian di taman sore tadi, tentang pengendara sepeda yang hampir menabrak anak-anak yang hendak menyeberang. Termasuk Naresh, anak mereka serta teror pesan singkat yang Ayu terima di ponselnya.
Ayu menunjukkan isi pesan itu kepada Raka, awalnya Ayu mengira jika itu hanya perbuatan orang iseng tapi setelah tahu ada teror lain sebelum itu, berarti semuanya memang bukan hanya keisengan semata.
“Mas Raihan rencananya akan pindah besok, kebetulan weekend juga, kan. Cuma pindahin beberapa barang dan pakaian. Kalau yang lainnya, kan, memang sudah. Begitu waktu Mbak kamu minta belikan rumah itu. Sementara, pindah di sini dulu jadinya.” Ujar Raihan.
“Mbak juga, kan, minggu ini ya HPL-nya.”
“Iya, malah ada beginian.” Keluh Prita.
“Nggak apa-apa, kamu jangan mikirin yang begini. Aku sama Raka juga pasti jagain kalian, sekarang anak-anak juga dijaga ketat. Orang tua kita juga, makanya jangan terlalu dipikirin. Ingat, kamu nggak boleh terlalu stres karena ada si baby.” Raihan mengelus perut istrinya.
Prita mengangukkan kepalanya.
__ADS_1
“Ya sudah kalau gitu, waktunya istirahat. Sudah jam sepuluh, Mbak juga pasti lelah. Anak-anak juga pastinya sudah pada tidur juga.”
Mereka pergi ke kamar masing-masing untuk tidur.
Ayu dan Raka sudah berganti pakaian dengan piyama, keduanya tengah berangkulan di atas tempat tidur. Saling bercerita tentang hari ini sebelum tidur adalah kebiasaan mereka sejak dulu. Tak lama setelahnya, Ayu terlelap lebih dulu.
Raka memandangi wajah istrinya yang tengah terpejam, napasnya beraturan menandakan bahwa istrinya sudah tertidur pulas. Ia kemudian memeluk tubuh Ayu.
“I love you, Ay.” ujar Raka membisikkan kata manis yang setiap malam ia lakukan sebelum tidur.
...***...
Ada beberapa pekerja proyek di Lembang mengalami kecelakaan kerja dan juga lembaga organisasi masyarakat yang berdemo di sana. Beberapa preman juga sempat membuat keributan dan mengancam pekerja yang masih melakukan aktivitas. Bukan hanya itu saja, proyek pembangunan perumahan di wilayah lain pun sama.
Asisten pribadi Raka menyampaikan laporan bulanan tersebut saat tengah rapat di hadapan para pegawai lainnya.
“Apakah ada yang ingin menyampaikan solusi untuk masalah kita saat ini?”
“Saya, Pak.” Seorang pegawai berusia lebih muda darinya mengangkat tangan.
Raka kemudian mempersilakan untuk pria itu berbicara.
“Jika untuk pekerja proyek sudah jelas ada jaminannya, yang saya akan sampaikan adalah para preman dan lembaga organisasi masyarakat ini. Pertama kita lakukan mediasi, bukankah seharusnya hal ini sudah beres. Sebelum kita membangun suatu tempat atau melakukan pembangunan di wilayah tersebut, selain terkait surat perizinan dan juga kelestarian lingkungan. Kita sebelumnya juga sudah meminta izin mereka bukan? Tapi entah mengapa beberapa wilayah di Bandung, sepertinya secara serempak tidak berjalan dengan baik. Pertama kita lakukan mediasi lagi, untuk bertanya apa keinginan mereka sebenarnya. Sedangkan sejak awal mereka sudah melakukan persetujuan.
Kedua, tidak ada asap kalau tidak ada api. Kita cari akar sumber masalahnya, ini menurut pendapat pribadi saya. Sepertinya bukan perihal lingkungan saja, Pak. Karena tidak masuk akal, seperti yang saya bilang sebelumnya. Mereka sudah menyetujui, tapi sekarang membuat alasan yang sama, kan, aneh namanya. Janggal. Jadi menurut saya perlu kita selidiki, apa sebenarnya yang membuat mereka berulah dan mempersulit kita.
Untuk preman, hal ini juga sama. Setiap wilayah pasti ada saja orang-orang semacam ini, mengambil keuntungan untuk diri mereka sendiri dan mereka juga tidak mungkin bergerak, kecuali ada yang memang dengan sengaja memerintahkan kepada mereka. Saran saya sebelum mereka nekat, kita bisa lakukan mediasi juga, tapi saat mereka menolak. Lebih baik kita langsung saja melaporkan kepada pihak yang berwajib, sebelum hal ini lebih serius dan ada korban.”
Raka dan beberapa pegawai lain mengangukkan kepala, tanda menyetujui usulan dari pria muda tadi.
Setelahnya laporan lain berlanjut seperti adanya proyek baru, perihal investor dan laporan keuangan serta kinerja karyawan dan lainnya.
Rapat selesai menjelang pukul dua siang, makan siang yang sudah terlewat. Pegawai yang ikut rapat tadi diperbolehkan untuk makan terlebih dahulu dan diberikan waktu untuk istirahat seperti biasanya.
Sedangkan Raka sendiri sudah berada di dalam ruangannya.
Ketika dia tengah tenggelam dalam pikirannya, ponselnya berdering nyaring.
Celine. Nama yang terpampang di layar ponsel miliknya. Raka segera menggeser tombol ke arah kanan.
“Ada apa?” tanya Raka malas.
“Bisa kita bertemu?” dengan suara lirih.
“Ada keperluan apa?”
“Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan. Penting, please ....” Celine berkata dengan nada memohon.
Raka menghela napasnya.
“Baiklah, di mana?”
“Aku akan kirim alamatnya nanti, terima kasih.”
Raka mengakhiri panggilannya. Tak lama ada pesan masuk ke ponselnya. Celine mengirimkan alamat tempat pertemuan mereka. Raka memijat pangkal hidungnya, karena rasa pening yang tiba-tiba saja muncul. Raka menghela napasnya, entah masalah apa lagi sekarang. Perihal teror dan kantornya saja belum selesai, sekarang ada masalah lain yang datang menghampirinya.
Mau tidak mau Raka terpaksa menemui Celine, sebelum wanita itu membuat masalah semakin bertambah menjadi semakin rumit. Raka menekan tombol interkom.
“Ya, Tuan?”
“Apa jadwal saya sore ini?” tanya Raka kepada asisten pribadinya.
“Tidak ada, Tuan. Untuk rapat sudah selesai dan lusa baru ada pertemuan lagi dengan Royal Company.” jelas asistennya.
“Baiklah, saya ada keperluan. Jika ada yang bertanya, bilang saja urusan pribadi. Baik Tuan.”
“Baik, Tuan Raka.”
Raka mematikan interkom dan kemudian pergi ke tempat di mana Celine sudah menunggunya. Sesampainya di sana, pelayan mengantarkan Raka memasuki ruangan tempat Celine berada. Mereka bertemu di restoran bergaya Jepang, hingga lebih privasi. Pelayan itu menggeser pintu ruangan tersebut, kemudian menutupnya kembali setelah Raka masuk.
Celine sudah menunggunya di sana. Raka sedikit terkejut ketika wanita itu tiba-tiba saja menubruknya, kemudian memeluk erat Raka.
“Aku hamil,” ujarnya disertai isakan.
Sedangkan Raka yang mendengar hal itu sedikit terkejut. Dia bingung harus merespon apa, mulutnya terkunci rapat karena terlalu terkejut dengan perkataan wanita yang masih memeluk erat tubuhnya.
__ADS_1
Sial. Umpat Raka dalam hati.
...****...