
...Hai, malam. Cie, yang penasaran sama fotonya. Zii, kasih tahu deh ......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...***...
Ayu kemudian meng-klik foto tersebut.
Prang!
*fotonya guys
Gelas yang tengah dipegangnya terjatuh ke lantai. Ayu menutup mulutnya, karena terkejut dengan foto yang baru saja dia lihat.
Tubuhnya sedikit limbung.
“Nyonya!”
Pekikan asisten rumah tangganya, melihat keadaan majikannya, asisten rumah tangganya begitu khawatir. Terlebih kemudian, Ayu menangis tersedu-sedu tanpa mengucapkan sepatah katapun.
...***...
Ayu sudah merasa lebih tenang. Dia kini tengah berada di kamarnya, duduk di sofa di hadapan jendela besar yang sedikit terbuka.
Pintu kamarnya diketuk.
“Nyonya, ini bibi.”
“Masuk, Bi. Pintunya nggak dikunci.”
“Nyonya, ini bibi bawakan coklat panas dan biskuit untuk camilan. Soalnya dari pagi Nyonya belum makan, bibi khawatir sama Nyonya dan si bayi juga.”
Ayu merasa tersentuh dengan kepekaan dan rasa khawatir asisten rumah tangganya itu. Dia memaksakan tersenyum meskipun keadaan hatinya yang tengah kacau.
“Terima kasih ya, Bi.”
“Kalau gitu, bibi ke dapur dulu ya. Mau siapkan makan malam, takutnya nanti Nyonya lapar. Jadi tinggal bibi hangatkan.”
Ayu mengangukkan kepalanya. Diminumnya coklat panas sedikit demi sedikit, agar perutnya tidak terlalu kosong. Jika saja keadaannya tidak sedang hamil, mungkin saja dia akan lebih abai. Namun keadaannya berbeda, dia tengah hamil. Ada makhluk hidup yang tak berdosa di dalam rahimnya.
Ayu mengigit biskuit dan air mata yang sedari tadi mengenang, jatuh mengalir di pipinya.
Mengapa?
Itu hal yang sedari tadi berputar di kepalanya.
Mengapa hal ini harus terulang lagi. Dulu Danu pun seperti itu, sekarang Raka. Padahal ia tengah hamil anak mereka. Buah cinta yang selama ini ia idamkan. Mengapa Raka setega itu kepadanya? Bagaimana dengan janji pria itu yang akan selalu mencintainya? Apakah Raka sudah melupakannya?
__ADS_1
Ayu kembali terisak di dalam kamar sendirian.
...***...
Raka sedang bersantai menikmati matahari tenggelam di pinggir kolam renang. Angin sore itu nampak begitu sejuk. Sepoi-sepoi angin yang berhembus membuat dirinya terbuai, hingga perlahan menutup mata.
Raka bahkan mulai bermimpi, Ayu yang tengah tersenyum kepadanya. Merayu dan bermanja, lalu menggoda Raka dengan duduk di atas pangkuannya.
Raka rindu sekali dengan wanita ini. Dipeluknya tubuh Ayu, kemudian dia menghidu aroma tubuh yang membuatnya melupakan kepenatan ketika berkerja seharian. Namun, saat dia sedang menikmati aroma tubuh istrinya. Perut Raka tiba-tiba mual. Bukan aroma manis berry, melainkan parfum yang menyengat.
Raka membuka matanya. Dia melihat seorang wanita tengah berada di atas pangkuannya dengan senyum dan tatapan menggoda. Seketika Raka mendorong tubuh wanita itu hingga jatuh terjerembab mencium lantai marmer yang sudah dingin.
Brengsek! Kenapa selalu ada orang gila di mana-mana. Batinnya mengumpat.
Wanita itu meringis kesakitan. Menjulurkan tangannya, dengan wajah memelas berharap Raka menolongnya tapi pria itu justru menatapnya dengan pandangan tajam, jijik dan raut wajah dingin.
“Nona! Apakah Anda tidak apa-apa?”
Seorang wanita muda tak kalah jauh usianya dengan wanita yang Raka dorong, menghampiri wanita itu. Wanita itu mengenakan pakaian maid.
“Anda begitu kasar, Tuan! Bahkan tidak menolong Nona saya.”
Maid tadi berkata dengan suara keras kepada Raka. Sedangkan Raka masih berekspresi dengan wajah datar.
“Ada apa ini ribut-ribut, Merry?”
Pria dengan tubuh tegap, tak jauh seperti penampilan Raka, bertanya kepada maid tersebut.
“Dia, Tuan. Pria ini sudah berlaku kasar karena mendorong tubuh Nona Celine.” ujarnya sambil menunjukkan jarinya ke arah Raka.
“Maaf, apakah benar begitu? Tuan—”
“Maaf Tuan Raka, saya tadi pergi ke kamar kecil.” Tiba-tiba seorang pria muda, menyela dan sedikit membungkukkan kepalanya ke arah Raka.
“Ada apakah, Tuan?” Tanya pria itu kepada Raka dengan berbisik karena melihat situasi yang aneh.
“A-ap?”
“Kamu nggak percaya padaku, Toni?”
“Ti-tidak, maksudny—”
“Hei! Anda tidak sopan mengabaikan kami.”
“Merry.,”
“Ma-maaf, Tuan Edgar. Tapi pria itu tidak sopan, dia sudah berlaku kasar dan menyakiti Nona lalu sekarang mengabaikan Tuan yang bertanya.”
Maid itu menundukkan kepalanya.
“Sepertinya di sini ada salah paham, maaf. Tetapi tidak mungkin Tuan Raka berlaku demikian tanpa sebab.” Ujar Toni mencoba menjadi penengah.
“Celine bisa kau jelaskan?” Edgar melihat ke arah wanita di sampingnya.
Wanita berambut blonde itu malah menampakkan wajah sedih seperti hendak menangis.
Raka berdecak, berbalik badan meninggalkan mereka. Dia benci melihat wanita yang persis seperti Caroline. Wanita licik. Bahkan nama mereka sama berawalan C.
Menyebalkan.
Wanita itu merusak mimpinya saat bersama Ayu.
“Bukankah Anda sangat tidak sopan dan keterlaluan meninggalkan seseorang yang bertanya baik-baik kepada anda, Tuan Raka?”
Kaki Raka berhenti di depan pintu. Dia kemudian memutar tubuhnya.
__ADS_1
“Ajari adik Anda berlaku sopan dan tidak menjadi seperti anjing liar, saya masih memaafkannya meskipun dia berlaku tidak sopan dan melecehkan saya.”
Setelah mengatakan hal itu Raka dan Asistennya—Toni– meninggalkan mereka.
Mereka tidak menyadari ada seseorang yang tengah tersenyum melihat drama yang baru saja terjadi. Tidak sia-sia dia pergi ke luar dari pesta yang membosankan ke private area khusus untuk tamu-tamu VVIP hotel ini.
...***...
“Bagaimana keadaan menantu saya dokter?”
“Nyonya Ayu perlu beristirahat, tidak boleh memikirkan hal yang berat-berat. Dan harus makan dengan teratur, serta minum vitamin yang sudah saya resepkan. Ini semua demi kebaikan Nyonya dan janinnya. Kalau seperti ini terus, saya khawatir akan terjadi hal yang tidak baik pada keduanya.”
“Baik, dokter. Saya akan mengingat semuanya.”
“Kalau begitu saya permisi dulu, semoga Nyonya Ayu segera pulih kembali.”
“Bi, tolong antarkan dokter Januar ke depan.”
“Baik, Nyonya besar.”
Setelah kepergian dokter dan asisten rumah tangganya, Bu Lia melihat ke arah menantunya. Kemarin ketika Bu Lia pulang, dia nampak begitu syok melihat keadaan Ayu. Wajahnya pucat dan melamun. Bahkan pagi tadi sempat pingsan karena ternyata Ayu tidak makan dengan baik. Hanya minum air putih dan makan biskuit saja.
Bu Lia segera menghubungi dokter keluarga mereka. Dan sekarang menantunya tertidur setelah diperiksa dokter. Infus juga dipasang. Bu Lia mengambil ponsel di tasnya. Menekan angka untuk menelpon seseorang.
Setelah tersambung Bu Lia langsung memarahi seseorang yang berada di seberang sana.
“Bunda kecewa sama kamu. Tidak pernah sekalipun Bunda mendidik kamu menjadi laki-laki pengecut, bahkan berani mengkhianati istri kamu. Pulang sekarang, sebelum kamu menyesali perbuatan kamu. Karena kamu, bunda hampir kehilangan menantu dan cucu Bunda.”
Klik.
Bu Lia langsung memutuskan hubungan telepon tanpa menunggu jawaban dari lawan bicaranya. Ia memijat pangkal hidungnya yang sedikit berdenyut.
“Untungnya aku tidak punya penyakit jantung. Maafkan bunda ya, Ay. Kamu pasti syok melihat melihat hal ini, kamu yang kuat ya. Demi bayi kamu.”
Bu Lia mengelus kepala Ayu lembut.
...***...
“Toni, tolong pesankan tiket penerbangan malam ini juga.”
“Tap-tapi Tuan, bagaimana rapat dengan klien kita besok.”
“Saya tidak peduli dengan mereka! Kita sudah menunggu tiga hari di sini, tapi mereka malah mengubah jadwal seenaknya.”
“Tuan—”
“Keadaan istri saya lebih penting dari klien itu, TONI.”
Toni terkejut dan ikut khawatir jika hal itu menyangkut istri Tuannya, dia tahu bagaimana Raka sangat mencintai istrinya.
“Maaf Tuan, apakah Nyonya dalam keadaan baik-baik saja?”
“Saya nggak tahu, tadi bunda yang menelpon. Untuk rapat besok, saya sudah menghubungi Raihan. Dia akan kemari besok. Kamu dampingi dia di sini, karena mungkin sahabat saya akan sedikit gila besok.”
Toni menelan ludahnya.
“Baik, Tuan.”
...****...
...Terima kasih sudah mampir, jangan lupa untuk komentar, LIKE dan LOVE ya~...
...Sampai jumpa di part berikutnya....
...Love ❤️...
__ADS_1
...Zii...