
...Part ini sudah direvisi...
...***...
Raka melajukan mobil menuju rumahnya. Sedangkan asistennya diantarkan oleh supirnya. Sepanjang perjalanan ke rumahnya, Raka masih berpikir.
Di mana Caroline dan Dion bersembunyi? Jika mereka dengan mudah mengambil foto dirinya dan Celine. Dengan kata lain, mereka berdua cukup dekat untuk mengawasi gerak-gerik Raka dan keluarganya.
Karena melamun, tanpa ia sadari mobilnya ternyata sudah sampai di depan rumahnya. Security membukakan gerbang untuk Raka, setelah turun dari mobil keadaan rumah tampak sepi. Mungkin karena sudah malam.
Waktu menunjukkan pukul setengah sepuluh malam, karena urusannya di rumah sakit ditambah lagi dengan macet. Akhirnya Raka sampai jam segini.
Asisten rumah tangganya, membukakan pintu untuk Raka.
“Sudah pada tidur, Bi?”
“Anak-anak baru saja tidur, Tuan. Kebetulan tadi habis bermain, sama si bungsu.”
Raka mengernyit alisnya.
“Si bungsu?” Tanyanya heran.
“Nyonya Prita sekitar jam dua siang tadi melahirkan putrinya di sini.”
Raka terkejut mendengar jawaban asisten rumah tangganya itu.
“Di mana semuanya sekarang?”
”Nyonya Ayu dan Tuan Raihan ada di halaman belakang.”
“Baiklah, saya ganti pakaian dulu. Tolong siapkan kopi dan makanan ringan, kebetulan saya belum makan. Nanti taruh saja di belakang.”
“Baik, Tuan.”
Raka menaiki tangga menuju kamar, kemudian membersihkan dirinya dan berganti pakaian. Setelah itu Raka turun dan melangkah kakinya ke halaman belakang rumahnya, tempat Raihan dan Ayu berada.
Setelah tiba di sana Raka menghampiri keduanya.
“Sudah pulang, Mas.” Sapa istrinya dengan lembut.
“Ya,” jawab Raka kemudian mencium pelipis istrinya.
“Sudah makan?”
“Nanti saja, tadi aku minta tolong si Bibi untuk buatin kopi dan juga makanan ringan.”
“Masih ingat rumah, Pak?” sindir Raihan.
Raka terkekeh melihat ekspresi sahabatnya.
“Maaf dan selamat atas kelahiran anak kamu ya. Aku ikut senang, tapi kenapa lahiran di sini?”
“Oh, jadi nggak terima kalau istri gue lahiran di sini?”
“Bukan gitu maksudnya” Raka menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Raka mengehala napasnya. Sejujurnya dia benar-benar lelah sekarang, tapi mau bagaimana lagi? Ini juga karena salahnya tidak menjelaskan kepada Raihan dan istrinya.
“Mas,” Ayu mencoba melerai sebelum keduanya terlibat pertikaian.
“Cih! Untung suami adik gue. Kalau nggak sudah gue pukulin, itu muka.”
“Kalau dapat lima persen per pukulan seperti yang mereka kasih sebagai kompensasi, nggak apa-apa.” Raka mengendikkan bajunya.
Raihan tidak mengerti maksud dari ucapan Raka. Raka yang melihat raut wajah kebingungan keduanya lalu menceritakan semuanya kepada Raihan dan Ayu tanpa ada yang dilewatkan dan ditutupi.
“Terus, waktu gue telpon lo ke mana? Chat gue juga nggak dibalas.”
Raka menyesap kopinya sebelum menjawab pertanyaan Raihan.
“Ponselku ketinggalan di dalam mobil, begitu sadar waktu pulang. Pas mau dicek malah sudah lowbat, barusan aku charger. Ada notifikasi pesan dari kamu dan panggilan masuk juga, maaf kalau kesal dan khawatir. Si cantik deh, bayarannya. Sama tabungan buat si bayi, ngomong-ngomong sudah dikasih nama?”
“Belum, besok saja. Kepala gue lagi nggak konsen mikirin nama anak gara-gara wartawan yang sibuk datang ke kantor. Apa kabar saham?”
“Baik-baik saja, besok malah naik kok. Proyek juga semuanya sudah ditangani masalahnya. Malah sekarang nambah lagi, lima persen.” Raka berkata dengan pongah.
“He-em deh, percaya. Sudahlah, gue mau tidur. Aqiqah si bayi tujuh hari lagi saja, kita kelarin dulu masalah ini.”
Raka mengangukkan kepalanya. Raihan kemudian pergi meninggalkan Raka dan Ayu berdua di gazebo itu.
Tidak ada percakapan di antara keduanya. Yang ada hanyalah keheningan. Raka juga tidak tahu harus mengatakan apa. Istrinya hanya terus diam dengan wajah tanpa ekspresi apapun.
Beberapa saat kemudian, barulah istrinya berbicara.
“Sudah malam, Mas. Kamu pasti juga lelah, aku juga sama. Aku tidur duluan ya.”
Setelah mengatakan hal itu Ayu melangkahkan kakinya, tapi baru beberapa kakinya melangkah. Ayu merasakan tangannya dicekal. Siapa lagi jika bukan suaminya. Raka kemudian merengkuh istrinya ke dalam pelukannya.
Menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Ayu. Dan menggumamkan kata maaf berkali-kali. Ayu membalas pelukan hangat suaminya, dia mengelus punggung Raka.
...***...
Semua orang pagi ini berkumpul bersama. Raka dan Raihan mengambil cuti selama sepuluh hari ke depan, selain mempersiapkan untuk acara selamatan anaknya, juga agar lebih leluasa bergerak menyelidiki kebenaran Caroline dan Dion.
Para orang tua dan kerabat dekat yang datang berkunjung hari ini, rumah menjadi sangat ramai. Suara tawa dan tangisan, juga omelan dari beberapa kaum ibu kepada anaknya.
__ADS_1
Menjelang malam hari, barulah semuanya pulang. Sedangkan para orang tua menginap di rumah Raihan yang baru, karena baru akan pulang keesokan harinya.
“Kamu tidur duluan, ya. Pasti lelah, kan, tadi heboh gitu anak-anak sama saudara kita.” ujar Raihan kepada istrinya.
“Iya, maaf aku beneran ngantuk.”
Prita menguap kecil, kemudian mengucek matanya yang memang sudah terasa begitu berat.
Setelah istrinya tertidur, Raihan ke ruang kerja Raka.
“Sudah pada tidur?”
Raka mengangukkan kepalanya.
“Terus, apa rencana Lo?”
Raka mengatakan jika rencananya sekarang adalah memperketat penjagaan keluarga mereka. Itu akan menjadi prioritas utama mereka, sedangkan masalahnya dan juga berita miring tentangnya sudah diredam. Pihak Celine sudah melakukan klarifikasi melalui jumpa pers, secara live di beberapa stasiun televisi. Serta mengumumkan pernikahan dan tanggal resepsi antara Celine dan juga Gerald.
Dan secara terbuka mereka melakukan permintaan maaf kepada pihak yang dirugikan, terutama kepada Raka. Serta mengucapkan terima kasih.
Raihan setuju, dia juga menunda kepindahannya ke rumah baru mereka. Meskipun rumah tersebut siap untuk ditempati, demi keamanan keluarganya.
“Lo sudah ketemu di mana keberadaan si duo kampret itu belum?”
“Belum, aku juga lagi tunggu laporan dari Detektif yang aku sewa dan orang suruhan ku. Kamu sendiri?”
“Sama, si duo kampret itu sebelas dua belas sama koruptor. Licin. Susah nangkepnya. Bikin emosi.”
Raka terkekeh mendengar perkataan Raihan. Ia akui, Dion dan Caroline pandai sekali bersembunyi. Entah di mana mereka sekarang. Keduanya tidak menggunakan kartu kredit ataupun transaksi digital yang menggunakan kartu, jadi tidak heran jika kedua orang itu susah dilacak.
“Kita tunggu kabar, kalau memang nantinya mereka masih melakukan hal yang lebih fatal. Baru kita laporkan ke pihak kepolisian.”
“Oke, gue mau tidur dulu. Seharian princess gue di sandera sama Omanya. Sekarang gue mau ke dia dulu sebelum tidur. Lo juga jangan begadang terus.”
Raihan kemudian keluar pergi meninggalkan Raka seorang diri di ruang kerjanya. Setelah mematikan laptop, Raka keluar. Ia berjalan memasuki kamarnya. Sesampainya di sana, ia mendapati istrinya tengah membaca buku.
“Hai, Sayang. Pasti lelah ya, mau aku pijat?” tanya Ayu disertai kerlingan mata, untuk menggoda Raka.
Melihat tingkah istrinya, terbit senyum di bibir Raka.
“Pijat plus plus, boleh?”
“Boleh, service-nya mau yang gaya apa Tuan.”
“Gaya apa saja pasti puas kok.”
Keduanya kemudian tertawa dan berlanjut dengan sesuatu yang manis.
...***...
Ayu menepuk dahinya. Dia benar-benar lupa jika hari ini adalah ulang tahun anak tetangganya.
“Maaf sayang, Mama beneran lupa. Kalau gitu, Mama minta tolong sama supir kita ya, buat beli kado untuk Darrell.”
“Iya, Mama.”
Raihan dan Prita sedang ke rumah sakit melakukan check up, Gavin sedang berada di rumah orang tua Raihan. Sedangkan Raka sedang pergi ke kantornya, karena ada sedikit masalah dan harus rapat yang tiba-tiba diadakan pagi tadi.
Jadilah hanya Ayu dan Naresh yang berada di rumah. Meskipun ada beberapa asisten rumah tangga, pengasuh dan juga security.
Tak lama supir mereka datang membawakan kado yang sudah dibungkus rapi. Ayu pun sudah siap pergi ke rumah tetangganya. Kebetulan pesta ulang tahun itu diadakan di rumah, bukan di luar. Mengingat wabah covid-19 masih ada. Tuan rumah tidak ingin mengambil resiko.
Pestanya menggunakan pakaian santai. Ayu bersyukur, dia tak perlu repot-repot menyiapkan kostum untuk pesta tersebut. Anaknya begitu bahagia bertemu dengan teman-temannya. Bulan depan, giliran anaknya yang berulang tahun keempat.
Sekitar jam tiga sore, Ayu dan anaknya serta pengasuhnya pulang ke rumah. Ketiganya berjalan beriringan.
“Jagoan Mama senang banget.”
“Iya, Ma. Seru. Tadi ada Om Badut yang bisa sulap.”
Ponselnya berbunyi, ada panggilan masuk dari nomor baru.
“Mbak nina, duluan ya. Saya mau terima telepon dulu.”
“Baik, Nyonya. Ayo Tuan Kecil.”
Ayu menggeser tombol ke kanan.
“Well, well ... Gimana acara ulang tahunnya?”
Deg.
Wajah Ayu pias seketika begitu mendengar suara di seberang sana.
“Tidak perlu terkejut. Senyuman Anda juga ternyata manis ya,”
“Siapa kamu dan mau apa?”
“Tebak siapa?”
“Berhenti berbicara berputar-putar.”
Saat Ayu hendak berbicara lagi, sebuah mobil Avanza hitam memotong jalannya. Di sana seorang pria seusia tak jauh dari suaminya tersenyum penuh arti.
Ayu dipaksa masuk ke dalam mobil. Sedangkan beberapa orang di dala keluar untuk menghalangi beberapa bodyguard yang sudah hampir mendekati mobil tersebut.
__ADS_1
Setelah Ayu masuk dan pintu terkunci, mobil itu melaju kencang.
...***...
Raka sudah selesai rapat, seharusnya ia tidak datang. Tapi karena hal yang sangat krusial terjadi, mau tidak mau ia harus hadir.
Tapi entah mengapa perasaannya sejak pagi tidak enak.
Ponselnya berdering, karena ada panggilan masuk.
Raka menjawab panggilan itu.
“Halo, Tuan Raka yang terhormat. Akhirnya kita bisa berbicara sekarang, ah, ada seseorang yang juga ingin mengatakan sesuatu kepada Anda.”
“Mas,”
Deg.
Itu suara istrinya. Raka seketika menegakkan punggungnya. Tangannya terkepal kuat. Raka kemudian melangkah kakinya keluar dari ruangan. Ia turun menggunakan lift.
“Katakan apa yang kamu inginkan!”
“Santai. Aku hanya ingin kamu merasakan apa yang aku rasakan. Rasa kehilangan, misalnya.” kemudian terdengar suara tawa di seberang sana.
“Lepaskan istriku! Aku akan memberikan apapun yang kamu inginkan.”
“Wah, wah, penawaran yang menarik. Tapi Tuan, saya menginginkan istri Anda ini. Bagaimana?”
“Berengsek!”
Terdengar tawa karena mendengar umpatan Raka.
“Mas, aku nggak apa-apa. Kamu jangan terlalu khawatir, tolong jaga Naresh da—”
“Hei, hei, manis. Jangan katakan apapun oke ... Hei! Kau gila, ya—”
Suaranya menjadi tidak jelas, tapi Raka dapat mendengar sesuatu yang buruk telah terjadi.
Dia berlari sekuat tenaga begitu keluar dari lift, tapi langkah kakinya terhenti ketika mendengar suara benturan yang amat keras di seberang sana.
“S-sayang, Ay. Jawab Mas, Ay.”
Air matanya menetes, tubuhnya luruh terduduk di lantai lobby kantornya. Hal itu menarik perhatian semua pegawainya. Mereka bertanya-tanya apa yang terjadi pada atasannya.
...***...
“Maaf, Tuan. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi karena kecelakaan itu kandungan Nyonya tidak bisa diselamatkan. Nyonya masih dalam keadaan koma, karena syok yang dialaminya.”
Raka tampak begitu terpukul mendengar ucapan Dokter, istrinya hamil. Namun, harus kehilangan anak mereka yang masih berusia tiga minggu dan sekarang Ayu masih terbaring dalam keadaan koma.
Semua keluarga yang ada di sana ikut merasakan sedih dan kehilangan. Bu Lia memeluk erat tubuh anaknya.
Kabar mengenai kecelakaan tunggal istri CEO LAVIAS menjadi headline di media cetak dan elektronik.
Dion meninggal karena terjepit badan mobil, mobil yang dikendarai mereka menabrak pembatas jalan saat mobil itu tengah melaju kencang.
Dan baru diketahui, jika Caroline meninggal dunia karena bunuh diri paska keluar dari rumah sakit jiwa setelah tahun yang lalu. Semua karena Dion sendiri, Caroline semakin menjadi depresi saat Dion memaksanya untuk menikah. Caroline mengakhiri hidupnya, dengan memotong urat nadinya.
Dan orang-orang suruhan Dion yang sempat membantunya melakukan teror, serta menjadi provokator antara organisasi masyarakat dengan pihak Raka juga ditangkap polisi.
Beberapa bulan kemudian ...
“Ay, biar si bibi saja. Kamu nggak boleh kelelahan.”
“Mas, jangan mulai. Aku cuma ambil nasi ke piring ini buat kamu.”
Setelah mengatakan hal itu Ayu memberikan piring berisi nasi dan lauk serta sayur kepada suaminya.
“Jagoan Mama juga, makan yang banyak ya.”
“Siap, Ma.”
Keduanya kemudian mengobrol, lebih tepatnya Ayu yang selalu menanggapi celotehan anaknya.
Raka yang melihat hal itu sangat bersyukur, karena bisa tetap bersama dengan istrinya sekarang. Dia berharap satu minggu di beberapa bulan lalu tidak pernah dia alami lagi. Ketakutan yang begitu mencekam dirinya, saat jantung Ayu dinyatakan berhenti berdetak sementar. Waktu seolah terhenti dan tubuhnya limbung tak bertenaga, tapi untunglah istrinya bisa melewati masa kritisnya. Raka sangat bersyukur akan hal itu.
Setelah istrinya tersadar dari koma, meskipun sempat merasakan kehilangan dan terpukul karena janin yang dia kandung tidak dapat diselamatkan. Ayu kembali pulih dengan cepat, mengingat putranya masih membutuhkan dirinya.
Terlebih saat melihat kondisi suaminya yang benar-benar kacau.
Dan disinilah mereka sekarang.
Raka memandangi keduanya dengan senyum bahagia dan berdoa semoga keluarga kecilnya tetap seperti ini. Bersama dan berbahagia selama.
...****...
...Sebelumnya terima kasih kepada para pembaca yang sudah bersedia meluangkan waktu untuk membaca karyaku. Aku juga mengucapkan terima kasih banyak untuk LIKE dan LOVE dari kalian....
...Aku sadar kok, cerita ini masih jauh dari kata layak dan bagus. Aku akan terus belajar ke depannya, semoga bisa menyajikan cerita yang lebih baik lagi....
...Sekali lagi, terima kasih....
...Love ❤️...
...Zii....
__ADS_1
...Sampai jumpa di karyaku berikutnya~...