Berbagi Cinta : DUA CINCIN

Berbagi Cinta : DUA CINCIN
Rumit (2)


__ADS_3

...Part ini sudah direvisi...


......***......


Celine sudah menunggunya di sana. Raka sedikit terkejut ketika wanita itu tiba-tiba saja menubruknya lalu memeluk erat tubuh Raka.


“Aku hamil,” ujarnya disertai isakan.


Sedangkan Raka yang mendengar hal itu sedikit terkejut. Dia bingung harus merespon apa, mulutnya terkunci rapat karena terlalu terkejut dengan perkataan wanita yang masih memeluk erat tubuhnya.


Sial. Umpat Raka dalam hati.


...***...


“Selamat pagi, Tuan Raka.”


“Selamat pagi, Tuan Endri.”


“Silakan, Tuan Raka.”


“Terima kasih, Tuan Endri.”


Keduanya kemudian membicarakan bisnis, kerjasama antara LAVIAS dan Royal Company. Saat kedua pimpinan perusahaan itu sedang membicarakan hal kerjasamanya, tiba-tiba saja asisten Endri Chou membisikkan sesuatu dan menyodorkan tablet ke hadapan atasannya.


Tak lama kemudian, raut wajahnya berubah. Dan menatap Raka. Belum sempat Raka bertanya, asistennya sendiri menyodorkan tablet ke arahnya. Dia kemudian membaca artikel berita yang menjadi headline dan menjadi trending topik. Baik di dunia bisnis, maupun intertaiment. Mau bagaimana lagi, karena orang yang terlibat dalam berita tersebut tak lain merupakan seorang desainer kenamaan. Celine Nathalia Young atau lebih dikenal dengan nama Celine Young.


“CEO LAVIAS MEMILIKI AFFAIR DENGAN DESAINER CELINE YOUNG?”


“CEO LAVIAS BERTEMU DI TEMPAT PRIVATE ROOM AGAR TIDAK KETAHUAN BERMAIN API”


“CEO LAVIAS MENGANTARKAN CELINE YOUNG KE DOKTER KANDUNGAN, APAKAH KARENA CELINE HAMIL?”


Dan masih banyak berita lainnya mengenai ia dan Celine dan kini Raka tahu arti tatapan Endri kepadanya.


“Maaf Tuan Raka, mungkin ini terdengar kurang sopan, apa anda bisa menjelaskan semuanya kepada saya, Tuan Raka?”


Raka sedikit menghela napasnya lalu tersenyum dan memberitahu apa yang terjadi kepada Endri. Sedangkan lawan bicaranya hanya diam menyimak dengan seksama tanpa ada niat untuk menyela atau memotong perkataan Raka.


Beberapa jam kemudian, Endri undur diri. Begitupun dengan Raka yang kembali ke kantornya, tapi di tengah jalan dia harus memutar mobilnya ke arah rumah sakit tempat di mana dulu istrinya melahirkan. Raka mendapatkan pesan dari Celine, jika wanita itu sedang dirawat di rumah sakit tersebut.


Sesampainya di sana, sudah ada Edgar dan Gerald.


Bugh!


Baru saja Raka sampai, dia sudah menerima sambutan berupa pukulan di pipinya. Kontan saja sudut bibirnya sedikit berdarah, sedangkan asisten Raka terpekik melihat atasannya jatuh tersungkur di lantai.


“Berengsek!” Umpat Gerald.


Gerald hendak melayangkan pukulan lagi, tapi Edgar segera mencegahnya. Sedangkan Raka dibantu oleh asistennya untuk berdiri.


Setelah Raka berdiri, dokter keluar dari ruangan tempat di mana Celine dirawat.


“Apakah ada saudara Raka?“”


“Saya, dokter.”


“Pasien ingin bertemu dengan Anda, silakan.”


Raka mengangukkan kepalanya, kemudian masuk. Sebelum masuk, Edgar mengatakan sesuatu kepadanya.


“Jaga adikku.”


Raka hanya mengehala napasnya, kemudian menghilang di balik pintu.


Raihan yang berada di kantornya sejak tadi menghubungi ponsel Raka, tapi tidak ada angkat dan pesannya juga tidak diangkat. Seluruh kantor bahkan sudah sangat heboh atas berita yang baru saja muncul.


Raihan mondar-mandir dengan gelisah.


Kemudian Raihan menghubungi nomor sekretaris, sekaligus asisten pribadi Raka.

__ADS_1


Dari sana Raihan mengetahui jika Sahabatnya sedang berada di rumah sakit. Namun, ketika Raihan hendak ke sana. Dia menerima panggilan di ponselnya. Ayu. Nama adik sepupunya.


“Assalamualaikum, Mas.” suara Ayu terdengar begitu cemas.


“Waallaikumsallam. Ada apa, Ay? Kok suara kamu terdengar khawatir gitu.”


Apa karena berita itu, pikir Raka.


“Mbak Prita mau melahirkan, tapi Ayu nggak bisa ninggalin anak-anak. Ini permintaan Mbak Prita sendiri, dia juga nggak mau diantar oleh supir.”


Detak jantung Raihan berpacu dua kali lebih cepat. Tanpa memberikan salam, dia mengakhiri panggilan telepon tersebut dan memacu kendaraannya untuk pulang ke rumah Raka.


Begitu sampai di sana, ternyata sudah ada tenaga medis yang menangani istrinya. Bidan Saras dan Dokter Riri, Bidan yang praktek tak jauh dari perumahan KPR yang letaknya bersebelahan dengan perumahan elit tempat di mana rumah mereka berada dan juga Dokter Riri, dokter yang biasa menangani kandungan Prita saat checkup ke rumah sakit. Beliau sebenarnya hari ini sedang izin cuti karena ada kerabatnya yang sedang mengadakan pesta pernikahan, tapi begitu mendapat panggilan telepon kalau Prita akan melahirkan. Dokter Riri segera berpamitan kepada keluarganya.


Beberapa asisten rumah tangga di sana tengah sibuk ikut membantu mempersiapkan persalinan Prita, Ayu memerintahkan kepada para pengasuh anak-anak untuk membawa mereka bermain di halaman belakang.


Ayu sengaja mengundang beberapa anak lain, teman-teman Gavin dan Naresh untuk mengalihkan mereka dan membuat mereka lebih tenang.


Raihan memperhatikan semua itu. Dia sempat dibuat melongo dengan sikap tenang adik sepupunya. Saat Raihan hendak mengatakan sesuatu, Ayu lebih dulu menyela.


“Aku tahu mas Raihan mau bicara apa, tapi nanti dulu ya. Itu nggak penting, sekarang prioritas utama kita Mbak Prita dan bayinya. Mas ke dalam dulu, tadi sudah cuci tangan dan minum? Kalau sudah, Mas masuk dulu. Aku cuma bisa di sini, takutnya nanti anak-anak nyari. Oke.”


Raihan tak bisa menjawab perkataan Ayu, dia masuk ke dalam kamar. Tempat istrinya tengah berjuang antara hidup dan mati.


...***...


Beberapa jam kemudian....


“Selamat ya, Mas, Mbak. Atas kelahiran putri kalian, Ayu ikutan bahagia.” Ujar Ayu.


Prita melahirkan di rumah, karena rasa khawatirnya atas teror yang sempat terjadi. Dia tidak ingin meninggalkan anak dan keponakan serta Ayu di rumah. Meskipun dia tahu ada bodyguard yang menjaga mereka, tapi entah mengapa firasatnya mengatakan. Jika dia pergi ke rumah sakit, akan terjadi sesuatu yang tidak baik kepada mereka.


Bukan tanpa alasan dia juga berani mengambil resiko tersebut, Prita sudah bertanya kepada dokter spesialis kandungan. Kalau dirinya bisa melahirkan dengan normal dan tidak ada masalah dengan kehamilannya. Bayi itu sehat, juga dengan dirinya. Jadi Prita sempat bertanya, seandainya jika dia melahirkan di rumah apakah bisa? Dan dokter menjawab bisa.


Maka dari itu Prita bertekad untuk melahirkan di rumah saja. Dibantu seorang Bidan dan juga Dokter yang biasa menangani pemeriksaan kandungannya.


“Mereka aman kok dan anteng. Sekarang malah sudah tidur, padahal ini sudah sore.”


“Ay,” suara Raihan terdengar lirih.


Ayu yang sedari tadi menahan tangisannya kemudian memeluk Raihan. Dia menumpahkan semuanya. Setelah beberapa saat, barulah tangisannya berhenti.


“Mbak jangan gitu lagi, aku beneran takut terjadi apa-apa sama kalian berdua. Aku sebenarnya marah, karena Mbak seolah nggak percaya sama aku untuk jaga Gavin.”


Prita meringis.


“Mbak minta maaf ya, karena ketakutan terjadi sesuatu sama kalian malah buat kamu jadi salah paham. Padahal kita saling mengkhawatirkan satu sama lain.”


Keduanya kemudian tertawa bersamaan.


“Kamu sudah lebih baik.” tanya Raihan dengan wajah yang masih tampak begitu khawatir.


Ayu terkekeh geli mendengar pertanyaan dan melihat raut wajah Kakak sepupunya.


“Aku tuh, nggak apa-apa Mas. Please deh, jangan melihatku dengan tampang begitu. Kamu lebih baik ganti baju, bau asem. Habis itu makan, Mbak Prita juga mau pasti istirahat. Nanti kita bicara lagi, oke.”


Setelah mengatakan hal tersebut, Ayu melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu.


Di rumah sakit Edgar dan Gerald tengah duduk menatap Raka. Raka seolah menjadi seorang terdakwa yang tengah dihadapkan dengan hakim.


Dengan tidak sabaran Gerald hendak melayangkan pukulan lagi kepada Raka, karena pria itu masih saja diam membisu tapi Edgar menahannya.


“Tsk, merepotkan. Untung saja imbalannya setimpal.” Raka berujar dengan nada santai.


Edgar yang mendengar hal itu keheranan.


“Apa maksud kamu?”


“Anda mungkin pembisnis handal, tapi seorang kakak yang gagal menjaga adiknya. Lebih baik, turunkan ego anda sedikit agar adik anda bisa lebih terbuka.” Raka mencemooh Edgar.

__ADS_1


Edgar mengepalkan tangannya.


“Tidak perlu tersinggung, bukankah Anda mengerti apa maksud saya, Tuan Edgar Young? Dan satu lagi, mengenai bayi yang tengah dikandung Celine. Itu bukan bayi saya, silakan tanyakan sendiri kepada pria yang berstatus sebagai tunangannya, yang sekarang duduk di samping anda.”


Baik Edgar maupun Gerald terkejut mendengar perkataan Raka, karena hubungan antara Celine dan Gerald belum diketahui oleh Edgar. Terlebih status yang sudah menjadi tunangan adiknya.


“Anda bahkan belum menjadi suaminya, tapi sudah gagal menjaga wanita yang anda cintai. Bukankah bodoh.” Raka berujar dengan nada mengejek.


“Jaga ucapanmu!”


“Lima persen.”


Edgar memandangi Raka dengan raut wajah kebingungan.


“Saya bilang lima persen saham di perusahaan anda, sebagai bayaran atas pukulan dari adik ipar Anda.”


Gerald bangkit dari duduknya lalu memegang kerah kemeja Raka, tapi Raka justru tersenyum sinis.


“Gerald.” Suara Edgar menginterupsi Gerald.


Pria itu melepaskan cekalannya dan kembali duduk.


“Tuan Raka, tolong ceritakan yang sebenarnya.”


Mendengarkan suara Edgar yang putus asa, Raka menceritakan semuanya.


Dua hari lalu Celine memintanya untuk datang ke restoran untuk bertemu. Dia ingin meminta solusi atas masalahnya. Celine memohon karena tidak tidak ad orang lain yang bisa dia percayai selain Raka.


Seseorang mengirimkan foto ketika dirinya keluar dari dokter kandungan. Dan mengancam akan memberitahukan kepada Edgar—kakaknya– sedangkan Celine tahu betul, bagaimana sifat Edgar yang kolot dan tegas. Celine tidak ingin jika kehamilannya nanti, disuruh digugurkan karena Celine hamil diluar nikah.


Raka menyampaikan, Celine harus mengatakan kepada ayah dari anak itu. Namun, Celine menggelengkan kepalanya tanda menolak. wanita itu bercerita, jika Gerald ketahuan berselingkuh dengan seorang wanita. Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri Gerald memasuki hotel, membopong tubuh wanita yang tidak sadarkan diri.


Raka bertanya, apakah benar hal itu terjadi?Atau hanya sekedar yang terlihat saja. Ketika keduanya tengah berbicara, Celine tiba-tiba mengalami keram di perutnya. Karena takut terjadi apa-apa pada keduanya, Raka mengantarkan Celine ke rumah sakit. Dokter mengatakan Celine terlalu banyak pikiran, hingga berpengaruh terhadap kehamilannya.


Dari sanalah semua berawal, berita kehamilan Celine yang menyebar dan juga foto Raka yang beredar.


“Hotel, wanita?” Gerald mencoba mengingat sesuatu.


“—Aku ingat, hari itu aku mau membelikan kue yang diminta oleh Celine. Namun, di saat di parkiran ada seorang wanita yang terlihat hendak jatuh pingsan. Aku mau menawarkan bantuan kepadanya, untuk pergi ke rumah sakit terdekat. Namun wanita itu bilang, dia minta tolong diantar ke hotel tempatnya menginap yang tidak jauh dari sana. Setelah aku mengantarnya, aku pergi ke apartemen Celine tapi dia tidak ada di sana. Ponselnya juga tidak bisa dihubungi.” lanjutnya.


“Celine menginap di rumah temannya. Itu yang dikatakan kepadaku.”


“Jadi maksudnya bagaimana, berarti kami hanya salah paham?”


“Lebih tepatnya sengaja dibuat seperti itu, karena tujuannya bukan kalian. Melainkan aku dan keluargaku.” Raka menginterupsi obrolan antara Edgar dan Gerald.


Kedua pria dihadapan Raka salin memandang satu sama lain.


“Prayoga Grup. Caroline. Dan anak diluar nikah yang terobsesi dengan Caroline yang melakukannya. Namanya Dion, dia mencintai adiknya sendiri. Meskipun adik tiri, tapi tetap saja dia adiknya. Tiga tahun lalu, aku memasukkan Caroline ke rumah sakit jiwa di Amerika. Setengah tahun yang lalu, seseorang mengeluarkannya dari sana. Mereka sudah sejak lama mengawasi kita dan sekaranglah mereka menjalankan rencananya.”


“Aku mengerti semuanya, tapi— aku sangat kecewa kepada adikku. Jika dia berpikir, bahwa aku akan melakukan hal yang menyakiti keponakanku sendiri.”


Raka tersenyum mendengar pertanyaan Edgar.


“Mungkin sifat kolot anda tiga tahun lalu, masih membekas di dalam ingatannya.”


Mendengar jawaban Raka, mau tidak mau Edgar mengiyakan ucapan Raka. Bahkan wajahnya memerah karena malu.


“Sekarang urusanku sudah selesai di sini, tinggal urusan kalian berdua.” Raka bangkit dari kursinya, “kau bisa menemui tunanganmu. Dan jangan lupa, lima persen sebagai bayaranku.” Raka tersenyum penuh kemenangan.


Setelah mengatakan itu, Raka melenggang pergi diikuti asistennya.


Sedangkan Edgar dan Gerald mendengkus melihat tingkahnya yang menyebalkan. Namun mereka mengakui kepintaran otak pria itu, wajar saja jika LAVIAS merupakan perusahaan yang masuk dalam deretan lima perusahaan terbesar di Indonesia dan Asia. Melihat otak pemimpinnya yang unik seperti Raka.


...****...


...Siapa yang sudah mere-mere dan sebel sama CELINE? 😂...


...1 part lagi tamatnya ya, aku sudah nggak bisa nerusin lagi. Idenya sudah hilang entah ke mana, maaf juga kalau ceritaku ini membosankan....

__ADS_1


__ADS_2