
...Part ini sudah direvisi....
...***...
Kehamilan Ayu tidak mengalami morning sicknes, nafsu makannya justru bertambah berkali kali lipat. Ayu sangat menyukai daging dan juga ikan sebagai lauk makan. Berbeda dengan Raka yang mengalami mual dan muntah. Nafsu makan Raka sendiri berkurang, hingga tubuhnya menjadi lemas.
Namun hal itu tidak berlangsung lama. Memasuki kehamilan trimester kedua istrinya, kondisi Raka kembali seperti semula. Dia dengan setia menemani kemampuan Ayu pergi dan checkup ke dokter kandungan.
Usia kehamilan Ayu sudah lima bulan. Saat ini keduanya tengah berada di pusat perbelanjaan sekedar jalan-jalan dan membeli buah-buahan dan camilan untuk Ayu..
Ayu mengambil makanan yang ada di rak, tapi ternyata tak sampai. Dia mencoba berjinjit tapi tetap saja mengalami kesulitan, hingga tiba-tiba Ayu dibantu oleh seseorang.
“Terima kasih sudah memban—”
Ayu tidak bisa melanjutkan kata-katanya lagi, karena terkejut melihat siapa yang telah membantunya barusan. Ternyata itu adalah Danu, mantan suaminya.
Begitu juga dengan Danu. Tak sengaja dirinya melihat ke arah perut wanita itu. Dirinya sempat syok melihat perut Ayu yang membesar, menandakan jika perempuan itu tengah hamil.
“Terima kasih, permisi.” Setelah mengatakan hal itu, Ayu meninggalkan Danu yang masih terdiam di tempatnya.
Danu masih terkejut dengan apa yang dia lihat.
__ADS_1
Dia memandangi punggung Ayu yang mulai menjauh. Dirinya mencoba mengikuti ke mana wanita itu pergi. Saat hendak melangkahkan kakinya ke tempat Ayu berada, Danu melihat ada seorang pria menghampiri perempuan itu. Danu terpaksa bersembunyi di balik rak penyimpanan makan dan juga mendengar obrolan antara Ayu dan pria itu.
“Maaf ya, Ay. Mas tadi kelamaan ambil dompetnya. Kamu sudah nunggu lama? Sudah dapat barangnya?” tanya Raka kepada Ayu.
“Nggak apa-apa kok, Mas. Sudah dapat, ini mau lanjut belanja lagi untuk keperluan yang lain.”
“Sini, biar Mas saja yang bawa troli belanjanya. Kamu jangan kerja yang berat-berat, Ay. Nanti kecapean, Mas nggak mau terjadi apa-apa sama kamu dan anak kita nantinya.” Raka mengambil alih troli belanja yang di bawa Ayu.
Hati Ayu menghangat mendapatkan perlakuan seperti itu dari suaminya.
“Mas ini berlebihan deh, tapi terima kasih sudah khawatir sama kami.” ujarnya tulus.
“Kenapa harus berterima kasih, ini semua tanggung jawab Mas. Pokoknya, kamu nggak boleh kerja yang berat-berat. Nanti Mas bisa dikutuk sama bunda.”
“Ya ampun, Ay. Masa Mas harus lompat dari Gedung Sate baru kamu percaya, kalau Mas itu beneran cinta sama kamu. Sama kalian berdua.”
Ayu terkikik melihat wajah suaminya yang murung lalu dia mengelus pipi Raka dengan lembut.
“Ayu percaya, kok. Jadi jangan lompat dari Gedung Sate ya, nanti siapa yang jagain aku dan anakku.”
“Anak kita, Ay.”
__ADS_1
Raka kemudian merangkul pinggang Ayu, berjalan beriringan melanjutkan acara belanja sore itu.
Danu yang sedari tadi bersembunyi di balik rak hanya menatap sendu kearah keduanya.
Danu berbalik badan, dengan langkah gontai meninggalkan supermarket tempat dirinya bertemu dengan Ayu.
Sepanjang perjalanan Danu bertanya-tanya, banyak sekali yang ia pikirkan.
“Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa dulu saat kita menikah kamu nggak kunjung hamil, Ay?”
Danu pulang ke rumahnya dengan pikiran kacau, saat di rumahnya dia tidak mendapati Rika dan anak mereka.
Dia bertanya kepada asisten rumah tangganya, melihat asisten rumah tangganya begitu ketakutan. Danu menebak pasti ada yang salah.
“Bi, tolong cerita semua yang bibi tahu tentang Ayu dan Rika. Tentang hal yang nggak aku ketahui selama ini. Tolong.” Pintanya dengan wajah putus asa.
Awalnya Bi Ijah terbata-bata karena takut dihukum oleh Rika. Hingga akhirnya Danu mengetahui semua hal dari mulut asisten rumah tangganya. Mulai dari perselingkuhan Rika, sifatnya Rika yang sebenarnya bahkan siapa sebenarnya anak yang Rika lahirkan.
Bola mata Danu terbelalak, karena terkejut mendengar perkataan Bu Ijah. Rahangnya mengeras. Tangannya terkepal erat tanda bahwa dirinya memang sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja.
Kurang ajar, brengsek!
__ADS_1
Dirinya merasa geram karena sudah ditipu mentah-mentah oleh istri keduanya.
...****...