Berbagi Cinta : DUA CINCIN

Berbagi Cinta : DUA CINCIN
Will You Marry Me?


__ADS_3

...Part ini sudah direvisi....


...***...


Proyek wisata yang berkerjasama dengan grup Shinhwa benar-benar luar biasa. Letaknya sangat strategis. Banyak sekali turis mancanegara yang berkunjung ke tempat di mana mereka akan melakukan pembangunan hotel tersebut. Wajar saja jika banyak sekali perusahaan besar yang mengincar tender proyek pembangunan itu. Namun Raka berhasil memenangkannya.


Awalnya satu minggu dirasa cukup untuk mengurusi semua berkas dan segala macam yang berhubungan dengan pembangunan. Tapi, tiba-tiba saja ada hal yang membuatnya harus diundur. Istri Presdir grup Shinhwa sakit dan dirawat karena terjatuh dari tangga.


Raka memutuskan untuk tinggal lebih lama lagi, karena mengingat kebaikan hati Mr. Lee. Ia jadi merasa tidak enak mendengar kemalangan yang menimpa istri dari Presdir tersebut.


...***...


“Kamu mau pergi kemana, Ay?”


“Mas Raka, ini beneran boleh jalan-jalan?”


“Memangnya kamu mau tiga hari ke depan diam di sini saja?”


Ayu nyengir mendengar pertanyaan Raka.


“Boleh, ke istana tempat yang syuting-syuting Drakor itu nggak Mas?”


“Boleh, terus ke mana lagi?”


“Mungkin cari oleh-oleh sama jajanan khas negara ini, Mas. Tapi nanti aku coba cari info, deh, jajanan halal di mana.”


“Ya sudah, kamu siap-siap. Jam sepuluh nanti kita pergi keluar.”


“Beneran, Mas?”


“Iya”


“Gratis, kan, ya? Hehehe ....”


Raka hanya terkekeh sambil geleng-geleng kepala.


Kemudian masuk ke dalam kamarnya.


Sekitar pukul sepuluh, Raka dan Ayu pergi mengunjungi Gyeongbok Palace. Istana terbesar di dinasti Joseon yang terletak di Utara kota Seoul.


Karena sedang musim semi, bunga-bunga yang ada disekitar istana sedang bermekaran dan hal itu membuat Ayu menatap takjub sekelilingnya.


Wah, beneran bagus banget. Persis di film-film Drakor yang pernah aku tonton.


Ayu memandangi turis-turis lokal dan mancanegara yang datang ke sana. Ada juga dari mereka yang menggenakan pakaian tradisional Korea, yaitu Hanbok.


Seakan tahu apa yang tengah dipikirkan oleh wanita di sampingnya, Raka memutuskan untuk membawa Ayu ke salah satu tempat penjual dan penyewaan pakai tersebut.


“Mas Raka, kita ngapain di sini?”


“Beli pakaian.”


“Buat apaan?”


“Buat kita pakai, Ay. Masa buat makan.”


“Tsk, Ayu juga tahu. Maksud Ayu, buat apa kita beli pakaian di sini.”


“Sudah sana kamu pilih. Pilih lebih dari satu juga boleh, anggap saja ini hadiahku.”


“Hah! Beneran?”


“Nggak mau?”


“Mau lah, siapa yang nolak kalau dikasih gratis.”


Ayu mengamati setiap pakaian yang digantung di sana, decakan kekaguman keluar dari mulutnya.


Mimpi apa aku, bisa pakai dan punya beginian. Berasa banget jadi Putri zaman kerajaan dulu. Ayu terkikik sendiri mendengar ucapannya.


“Sudah dapat?”


“Sudah, Mas Raka sendiri gimana?”


“Sudah juga.”

__ADS_1


Setelah membayar dan berganti pakaian dibantu pegawai toko, Ayu dan Raka kembali lagi ke Gyeongbok Palace.


Ternyata semakin sore, semakin ramai dan keduanya sangat beruntung karena malam itu juga di sana tengah mengadakan pesta lampion.


Para turis disuguhi dengan berbagai aksi pertunjukan, mulai dari tari tradisional, pesta kembang api, dan juga penerbangan lampion.


Ayu sangat menikmati itu semua.


“Gimana? Senang.”


“Banget, Mas. Nggak pernah sekalipun bermimpi untuk ke sini tapi sekarang malah bisa ke sini dan juga pakai pakaian ini. Terima kasih ya, Mas.”


“Anggap saja rehat sebelum besok kembali lagi ke Indonesia dan berkutat sama berkas laporan.”


Baik Ayu maupun Raka sama-sama tertawa.


“Tapi, Ay. Aku beneran minta maaf sama kamu, tentang kejadian sebelum ke sini.” Raka berujar dengan tulus.


“Nggak apa-apa, Mas. Toh, sudah berlalu dan Mas Raka juga sudah minta maaf sama aku.”


Keduanya saling melempar senyum lalu memandangi langit malam yang bertabur bintang, seolah melengkapi kebahagiaan keduanya.


...***...


Jika kemarin lusa Ayu dan Raka pergi mengunjungi Gyeongbok Palace, pagi tadi baik Ayu maupun Raka kembali berkutat dengan laporan karena Raka yang harus tiba-tiba melakukan rapat secara daring.


Ada kesalahan teknis yang terjadi saat hendak melakukan peluncuran iklan, jadilah kedua orang ini membatalkan rencana untuk jalan-jalan menikmati destinasi wisata kuliner.


Sebagai gantinya, besok malam Raka mengajak Ayu untuk pergi ke suatu tempat yang katanya masih rahasia.


Sekitar pukul tujuh malam keduanya baru selesai menyelesaikan pekerjaan mereka. Selesai mandi Ayu memasak di dapur dan Raka mandi.


“Wanginya enak banget, Ay. Kamu masak apa?”


“Aku masak nasi putih saja, Mas. terus sama chiken wings instan dan olahan ayam lainnya. Seperti memang sengaja disediakan di sini untuk kita. Kebetulan lebel halal semua.”


“Wah, aku makin lapar. Sudah matang belum?” tanya Raka yang baru saja selesai mandi.


“Sebentar lagi, ya. Masih aku siapkan dulu, Mas Raka tunggu di situ saja dulu.”


“Oke, deh.”


Wanita itu tampak semakin menawan di matanya, Raka menopang dagu dan terus memandangi Ayu.


Sebentar lagi ya, Ay. Sebentar lagi.


Setelah masakan selesai, keduanya makan dengan sangat khidmat. Raka bahwa menambah beberapa kali, karena dia benar-benar kelaparan. Ayu yang melihat itu tertawa kecil. Dirinya juga menikmati makan malam ini, selain makanan yang memang enak. Juga karena kehadiran pria di depannya, yang saat ini sudah memiliki tempat sendiri di hati Ayu.


Seandainya bisa selalu seperti ini.


Ayu kemudian mengalihkan pandangannya dari Raka sebelum pria itu tahu jika tengah dipandangi dengan tatapan memuja oleh dirinya. Dia menyantap kembali ayam goreng dengan bumbu khas Korea itu.


...***...


Hari ini merupakan hari terakhir mereka di Seoul. Raka mengajak Ayu makan malam di Pierre Gagnaire à Séoul. Setelah seharian berkutat dengan pekerjaan dan sore hari sebelum ke sini, mereka menjenguk keadaan istri Presdir Grup Shinhwa dan untuk sekadar berpamitan juga.


Melihat keindahan kota Seoul sembari menikmati sajian yang menggugah selera. Pikir Ayu.


Hati Ayu benar-benar bahagia begitu bersemangat.


Namun makan malam yang tadinya akan biasa saja, seketika berubah menjadi makan malam romantis. Meja dengan lampu meja dan lampu ruangan di dalam restoran dengan cahaya temaram, mawar putih di dalam vas kecil di atas meja.


Meja dan kursi yang letaknya sedikit jauh dari tempat pengunjung restoran yang lain. Namun begitu dekat dengan dua jendela besar. Menyajikan pemandangan kota Seoul di malam hari.


Ayu merasa gugup. Dia memang begitu menikmati makan malam yang disajikan, tapi tidak dalam artian sebenarnya. Mungkin karena Ayu lapar setelah seharian ini berkutat dengan laporan yang dikirim via email dan membatalkan beberapa rapat penting serta janji penting lainnya. Jadi dia menghabiskan makanannya.


Namun sedari tadi pikirannya bertanya-tanya.


Ini hanya perasaannya saja atau memang suasananya dibuat romantis?


Tapi jika dipikir-pikir, memangnya mengapa Raka melakukan ini?


Sepertinya memang hanya Ayu saja yang terlalu memikirkan banyak hal, mungkin karena restoran mahal jadi konsepnya memang begini.


Iya, itu pasti benar. Kau ini, Ay. Terlalu banyak nonton Drakor jadi ikutan halu.

__ADS_1


Saat Ayu tengah asyik menyantap hidangan pembuka itu, Raka berderhem.


“Ay, kamu kenapa?”


“Eh, aku nggak apa-apa kok, Mas”


“Nggak apa-apa, tapi dari tadi melamun terus. Badanmu mungkin di sini, tapi pikiran kamu entah di mana.”


Duh, ketahuan ya?


“Masa sih?” kilahnya.


“Hhm.”


“Mas, boleh aku tanya?” karena aku beneran penasaran banget.


“Silakan.”


Sebenarnya Ayu sendiri ragu, tapi daripada dia berasumsi sendiri. Lebih baik dia bertanya langsung kepada Raka.


Ayu berderhem untuk menetralkan rasa gugupnya.


“Sebelumnya aku minta maaf, mungkin pertanyaan ini buat Mas Raka nggak nyaman.”


“Jadi?”


“Kenapa kita makan di sini dan suasananya” melihat sekeliling.


Raka mengerti maksud Ayu.


“Kamu nggak nyaman?


“Eh, bu-bukan gitu mas. Tapi, seperti berasa mau di lamar.” ujar Ayu dengan suara lirih pada bagian kalimat terakhirnya. Dia menundukkan kepalanya karena malu.


“Memang.”


“Hah! Gimana?” Ayu seketika mengangkat wajahnya, menatap mata Raka.


Raka menghela napasnya. Merogoh saku celananya lalu menaruh kotak berwarna biru di atas meja. Kemudian tangan Raka menggenggam tangan Ayu.


“Sukma Ayu Rengganis maukah kamu menghabiskan waktu bersamaku hingga rambut kita memutih? Sampai salah satu dari kita dipisahkan oleh maut. Ay, aku memang bukan pria idamanmu dan tidak bisa menjanjikan selalu membahagiakan atau membuatmu tidak meneteskan air mata. Namun aku berjanji akan tetap bertahan di saat semua tidak baik-baik saja, sampai kamu sendiri yang meminta aku untuk pergi.


Oke, ralat. Meskipun kamu menyuruh aku untuk pergi, aku akan kekeuh dan bertahan di sampingmu. Jadi apakah kamu mau menjadi bagian dari hidupku? Sebagai pasangan, sebagai istriku. Sebagai ibu dari anak-anakku nantinya. Apakah kamu bersedia?”


Ayu menutup mulut yang ternganga dengan sebelah tangannya, matanya membola mendengar pengakuan dan pertanyaan Raka.


Tiba-tiba Ayu jadi mengingatkan obrolannya bersama Raihan sebelum keberangkatan mereka ke Seoul.


“Dia itu pria baik, Ay. Mas dukung kalau kamu dia, kalau kamu sampai nolak. Pasti dia patah hati untuk yang kesekian kalinya.”


“Maksud mas?”


“Dia itu sudah suka sama kamu, sebelum kamu menikah sama si kampret itu.”


“Ish, mas Raihan.” Memukul lengan sepupunya.


“Aku serius loh, Ay. Dulu dia nggak berani bilang. Kamu pikir waktu dia pergi beberapa bulan ke luar buat apa coba?”


Ayu menggelengkan kepalanya.


“Ngobatin hatinya yang lagi sakit, karena kamu nikah.”


Mulut Ayu ternganga mendengar perkataan Raihan.


“Serius, Mas?”


Raihan menganggukkan kepalanya.


“Malah tadinya mau keluar negeri, tapi berhubung bundanya Raka melarang. Jadi hanya keluar kota doang. Karena kamu sudah tahu hal ini, mas harap untuk kali ini terima dia. Kamu juga berhak bahagia. Oke.”


Ayu tersadar dari lamunan dan melihat pria di depannya masih memegang erat sebelah tangannya. Pria itu masih menatapnya lekat, tatapan mata itu juga begitu mendamba dan penuh harap.


Ayu mengangukkan kepalanya dengan mantap. Wajah Raka berubah cerah, pria itu membuka kotak beludru berwarna biru dan memakaikan cincin tersebut ke jari manis Ayu.


“Terima kasih, Ay. Pulang dari sini aku langsung menghadap kedua orang tua kamu ya. Kita langsung menikah.”

__ADS_1


Jika saja cahaya lampu tidak temaram, mungkin semua pengunjung dapat melihat wajah Ayu yang sudah berubah menjadi merah.


...****...


__ADS_2